menara babel besar

Masa lalu selalu datang dalam bentuk mosaik—potongan imej dari berbagai material dan ide—tesserae. Menggoda—dan kadang menjerat serta mengurung kita dengan bayangan dan imajinasi realitas yang selalu tidak lengkap—membentangkan jurang antara masa lalu dan ingatan kita. Namun begitu, dari tesserae tersebutlah kita membangun sebuah bangun bayangan yang kaya dengan makna. Kisah Menara Babel Babylonia (Tower of Babel) dan kotanya sendiri selama dua ribu tahun terakhir merupakan salah satu mitos yang mengisi kehidupan manusia—dengan berbagai imajinasi, cerita dan stereotipe tentangnya. Sebelum penemuan kembali reruntuhan menara babel dan Cuneiform dapat terbaca kembali, sumber mengenai peradaban Mesopotamia hanya datang dari imajinasi dan stereotip bangsa lain. Kepentingan politik dan religius membuat kawasan ini (dan reruntuhannya) dan arti menara babel selalu diidentikkan dengan nilai dan kebiasaan buruk manusia masa lampau. Kemewahan, ketidaksopanan, kebejatan seksual, kekejaman, kebodohan, yang digabung dengan atmosfer sihir dan paganisme sering menjadi gambar dan inspirasi imajiner hiburan bangsa lain.

Menara Babel Menurut Tradisi Yunani Kuno

Herodotus (449-448 BCE) yang sering dipandang sebagai bapak sejarah peradaban barat[1], merupakan orang yang paling bertanggung jawab dalam menyebarkan stereotype antithesis antara barat dan timur—tak heran jika banyak orang menyebut Dia sekaligus sebagai bapak orientalisme. Herodotus ketika itu melihat negara-kota Yunani Kuno sebagai negara yang secara kuantitas material dan sumber daya manusia kalah apabila dibandingkan dengan kekuatan besar dari timur, Persia. Sebagai penyeimbang, Ia melihat bahwa kualitas kemanusiaan dan bukan kuantitas sebagai faktor yang lebih menentukan kemenangan dalam peperangan melawan Xerxes[2] dari Persia. Gambaran Herodotus atas Perang Persia mengembangkan pemikiran Aeschylus dalam Persians, yang menganggap wilayah di sebelah timur Yunani Kuno sebagai tempat bercokol ‘the empire of evil”. Penggambarannya mengenai ‘sejarah’ Perang Persia didasarkan pada sebuah narasi literal dan metafora yang memperlihatkan adanya pertarungan antara para pejuang kebebasan (negara-kota Yunani Kuno) melawan raja despot dari timur (Persia dkk). Selanjutnya ‘Timur’ sering dipakai sebagai antithesis dari ‘Barat’, sehingga berbagai mitologi tentang kebudayaan Timur Dekat Kuno sering identik dengan: despotisme bangsa-bangsa di Timur (berbeda dengan Yunani Kuno yang demokratis), immobilitas teknologi dan kultur (berlawanan dengan barat yang mengejar kemajuan), dan berbagai pemikiran magis yang merupakan sumber bagi kehidupannya (berbeda dengan barat yang rasional).

Menara Babel Menurut Tradisi Yahudi dan Kristen

Sumber lain yang menyimpan ingatan historis tentang mitologi menara Babel Babylonia adalah Old Testament (OT) atau Hebrew Bible,merupakan sekumpulan tulisan kompleks baik dari tipe maupun tanggal penulisannya[3]. OT yang ditulis selama berabad-abad lalu dikompilasi dan ditulis dengan gaya beragam sesuai dengan intensi ideologi para editornya (Liverani, 2014: 3; Finkelstein, 2002: 24). Tulisan-tulisan tersebut dianggap sumber yang sangat dipercaya—baik oleh Judeo-Christian dan dalam beberapa tingkat, para penulis Islam—sehingga menyebar melalui berbagai batasan spasial dan kronologis awal penyebarannya. Setidaknya sampai pada pertengahan abad 19 di Eropa, OT—bersama Herodotus—menjadi sumber utama mengenai Babylonia dan menaranya.

Dalam OT (Genesis[4]; Isaiah[5] 13, 21, 47; Jeremiah[6] 25:8-13, 50, 51:34-58), etimologi kata Bâbel memiliki arti kebingungan. Disini, kebingungan diasosisasikan dengan Babel sebagai hasil dari intervensi tuhan untuk menghukum manusia yang menginginkan keagungan diri dengan membangun sebuah kota dan sebuah menara yang mencapai langit, bahasa ataupun penyebaran bahasa, urbanisme (kota yang perama kali disebut dalam bible), ataupun arsitektur monumental dan ingatan sejarah. Selanjutnya babel atau Babylon dan rajanya dianggap musuh yang berperang melawan Judah (Leick, 2007:1).

Ingatan biblical akan kerajaan Mesopotamia baik Assyria ataupun Babylonia selalu ditandai oleh implikasi moral dan teologis. Baik Yahudi dan Kristen—maupun Islam setelahnya—menganggap Babylonia sebagai sebuah symbol dan prinsip nilai yang dibangun diatas kekejaman, ketidakimanan dan pengingkaran akan tuhan. Jika Assyria dipandang bersalah karena menghancurkan kerajaan Israel (yang katanya menyebabkan ‘hilangnya’ 10 suku Israel) dan pengepungan Jerusalem oleh Sennacherib, maka Babylonia dipandang bersalah karena menghancurkan Jerusalem dan “first temple-nya” ditangan Nebuchadnezzar[7] II—serta  konsekuensinya—pengungsian dan penahanan kaum elit Yahudi di Babylonia (Liverani, 2016: 2).

Pada akhir era Hellenistik, setelah kejatuhan Babylonia di tangan Alexander the Great (331 BCE), seorang eks-pendeta Belos (Bēl/Marduk) bernama Berossos (Bēl-re’ušunu)[8] menulis Babyloniaca, sejarah Babylonia untuk pembaca Yunani Kuno. Buku tersebut sayangnya sekarang musnah, hanya tersisa berbagai fragmennya saja. Alexander Polyhistor (abad pertama bce) membuat singkatan dari karya Berossos tersebut, dan selanjutnya singkatan tersebut kembali dikutip oleh Flavius Josephus (37-100 CE)[9] dan Eusebius of Caesarea (265-340 CE)[10]. Dengan jalan yang panjang dan rumit tersebut, tidak diketahui seberapa besar karya asli Berossos yang selamat. Menurut De Bruecker (2011: 642), karya salinan dan kutipan Berossos dari ketiga orang tersebut memperlihatkan bias dan korup. Hal ini dapat terlihat dari kecenderungan beberapa pengarang Jewish dan Christian yang banyak mengutip Babyloniaca hanya untuk membuktikan kebenaran OT dan kronologinya. Oleh karenanya tidak heran ketika fragmen kutipan kebanyakan yang ada hanya berbicara mengenai banjir bandang (the Flood), raja Assyria dan Babylonia seperti Sennacherib dan Nebuchadnezzar II, serta mengenai penawanan Yahudi di Babylonia. Selektivitas dan manipulasi tersebut terlihat pula ketika berbagai kutipan tersebut dibandingkan dengan kutipan pengarang pagan seperti Athenaeus (abad 2 CE)—yang memberikan ilustrasi berbeda mengenai sebuah festival di Babylonia. Ada beberapa koreksi Berossos atas para pengarang Yunani Kuno. Ia membantah Ctesias (sejaman dengan Herodotus) yang menyatakan bahwa Semiramis yang mendirikan dan membangun kejayaan Babylonia. Menurutnya (sesuai dengan Enuma Elish), tuhan Bel/Marduk-lah yang membangun Babylonia, dan raja Nebuchadnezzar II—bukan Semiramis—yang melengkapi Babylonia dengan berbagai bangunan megahnya. Ia juga menambahkan bahwa raja tersebutlah yang membangun dinding sungai Euphrate agar musuh-musuhnya tidak bisa memindahkah saluran air dari kanal Babylonia. Pernyataan terakhir merupakan bantahan terhadap Herodotus dan Xenophon yang mengatakan bahwa raja Cyrus dari Persia mengalahkan Babylonia dengan memindahkan aliran airnya[11].

Menara Babel Menurut Tradisi Islam

Dengan berkembangnya Islam di Jazirah, para ilmuan muslim meneruskan berbagai cerita kaum Yahudi (cerita Israliat) tersebut dan tentunya mengenai sejarah Arab Kuno. Hisham ibn al-Kalbi (737-819 CE) selain mengandalkan tradisi lisan Arab, juga memiliki akses terhadap sumber biblikal dan Palmyra. Bukunya “Djamharat al-Nasab” (“The Abundance of Kinship“) membangun sebuah hubungan geneologis antara Muhammad dan Ismail. Adapun buku Wahab ibn Munabbih (644-737 CE), berjudul “Qisas al-Anbiya” (Kisah Nabi2) dan “Kitab al-Isra’iliyat” banyak menyinggung berbagai narasi mengenai tokoh-tokoh dan kejadian yang bersumber dari cerita Israiliat—dengan warna Islam. Meski buku yang terakhir disebut sekarang hilang, namun isinya banyak dikutip dan dijadikan sumber utama oleh para sejarawan setelahnya seperti Ibn Jarir al-Tabari[12] (839–923 CE) dan al-Mas’udi ( 896–956 CE). “Tarikh al-Rusul wa al-Muluk;4” (Kisah Rasul dan Raja;4) dari Ibn Jarir al-Tabari membahas mengenai hubungan pelik antara penguasa Israel dengan Mesopotamia (Daud, Sulaiman, Sennacherib, Nebuchadnezzar II, etc). Tradisi Islam mengenal daerah Timur Dekat Kuno dengan dua tokoh simbolis, Firaun dan Namrud (Nimrod). Kesamaan sumber mengenai Babylonia—dan Mesopotamia secara keseluruhan—dikalangan sejarawan dan seniman Muslim dengan tradisi Judeo-Kristiani, mengakibatkan kesamaan narasi dan tentunya sikap mereka terhadap peradaban tua sebelumnya tersebut—baik itu Assyria maupun Babylonia—dan oleh karenanya tidak akan dibahas lagi secara khusus dalam tulisan ini.

Menurut Caroline Janssen (1995: 30-3) para sejarawan muslim (Ibn Hawqal, al-Istakhri dan al-Mas’udi) sebenarnya telah mengetahui letak pasti dari desa Babil yang dibawahnya terkubur kota kuno Babylon. Sebuah kota kuno yang dianggap sebagai sumber para penyihir dan minuman keras, peninggalan para raja lalim seperti Nimrud. Sikap anti dan ‘otherness’ tersebut memutus hubungan antara penghuni saat itu—sampai sekarang—dan para pendahulunya. Bahkan kadang ada semacam rasa benci terhadap kebudayaan pra-Islam di kawasan tersebut dan memandangnya sebagai sebagai warisan budaya jahiliyah yang belum diterangi oleh cahaya Islam. Imej Islam mengenai peradaban tua ini mengimplikasikan bahwa tempat tersebut harus tetap seperti itu, sebagai peringatan dan penanda kutukan atas penentangan kehendak tuhan. Membangkitkan kota tersebut dianggap tidak menguntungkan dan sebaiknya dibiarkan saja berupa tumpukan puing-puing. Mistisisme dan stereotipe inilah yang membuat berbagai reruntuhan di Mesopotamia berbentuk Tell (bukit gundukan tanah) tidak terganggu. Inilah salah satu penyebab seni Islam dan pre-Islam memiliki gaya dan estetika yang begitu berbeda.

Ibn Khaldun (1332-1406 CE), seorang sejarawan dan sosiolog awal modern, melihat kenyataan bahwa kebanyakan para penulis sejarah sebelumnya dipenuhi dengan kesalahan dan asumsi yang tak mendasar. Para sejarawan, komentator Al-Qur’an dan para penyampai sering mempertahankan cerita dan peristiwa yang penuh kekeliruan dan bumbu-bumbu. Mereka begitu saja menerima berbagai cerita tersebut sebagai fakta yang tidak di cek kembali kebenarannya baik dari logika umum maupun dari sumber lainnya. Sebagai contoh dalam mukadimah Kitab al-‘Ibar, Dia menyindir al-Mas’udi yang melaporkan adanya monster laut yang mencegah Alexander the Great untuk membangun Alexandria[13]. Atau al-Bakri yang menceritakan sebuah kota mustahil yang memiliki 10 ribu gerbang (Gate City) dengan keliling benteng yang harus ditempuh selama 30 hari[14]. Menurut Ibn Khaldun sejarah harus dilihat dalam keragaman argument tentang berbagai aspek peradaban, dari mulai para penguasai sampai rakyatnya, yang terbebas dari keraguan dan prasangka.

Menara Babel pada era Renaissance

menara babel kecil
Pieter Brueghel. The (Little) Tower of Babel (1563)

Semangat Ibn Khaldun akan saintifikasi sejarah Babylonia tidak begitu saja dapat terlaksana. Setidaknya 400 tahun setelahnya, sumber baru tentang menara Babel Babylonia baru mulai dapat dibaca dan pengetahuan material (melalui arkeologi) ikut berbicara mengenai dirinya sendiri. Oleh karenanya, mitos yang bermula sejak era Herodotus tadi, tetap bertahan sampai Cuneiform dapat kembali dibaca (pertengahan abad 19 CE). Ini diperparah dengan kenyataan bahwa berbagai informasi tersebut sering tidak akurat dan penuh bias serta dibumbui berabagai imajinasi dan stereotype terhadap kebudayaan timur. Sebagai contoh pada era pasca Renaissance Eropa, ketika ingin memberikan ilustrasi mengenai menara babel, lukisan Tower of Babel (1565) dari Pieter Brueghel—yang memiliki pengikut di Low Countries—menjadi acuan para muridnya (Maerten van Vlackenborch, Lucas van Valckenborch, Brueghel the Younger, dll). Sebuah menara megah kerucut yang menjulang tinggi dan tidak selesai—karena tuhan tidak merestui. Pelukis lain, Athanasius Kircher (1679) menggambarkan sebuah menara silindris—mungkin diilhami setelah melihat bangunan Islam dan menara masjid Samara—yang jauh dari model arsitektur Babylonia.

menara babel kircher
Athanasious Kircher – Turris Babel (1679)

Munculnya gerakan Romantis Eropa semakin membangkitkan kembali ketertarikan terhadap Timur yang eksotis. Adalah Diodorus Siculus (terutama buku kedua Bibliothecae Historicae) yang banyak menjadi sumber inspirasi imajinasi periode Romantic tersebut. Tulisan Diodorus sendiri menyandarkan tulisannya dari Ctesias of Cnidus (yang sering tidak akurat), tokoh yang sering menjadi acuan pengetahuan mengenai Babylonia—dan Assyria. Meski sekarang hanya ditemukan fragmen tulisan Ctesias (melalui Diodorus), namun tulisannya banyak dikutip sejarawan dan seniman era ini. Pada era inilah, muncul kembali berbagai narasi mengenai para penguasa despot dan dekaden dari timur. Sardanapalus (terinspirasi Ashurbanipal), Semiramis (terinspirasi Shammuramat) dan Nabucco (terinspirasi Nebuchadnezzar II), menjadi inspirasi dan kutipan para seniman romantic Eropa, mulai dari lukisan, drama, opera dan bahkan berbagai novel—diantaranya; Drama Byron (Sardanapalus, 1821), Lukisan Eugene Delacroic (Death of Sardanapalus, 1827), Berlioz (Death of Sardanapalus), Tragedi Goethe Faust II (Sardanapalus), opera Rossini (Semiramis, 1823), dan opera Verdi (Nabucco, 1842), Novel A Tale of Two Cities Dickens (Sardanapalus’ luxury), Hislop (Semiramis, the whore of Babylon dalam The Two Babylon, 1853).

Tahun 1843 ekskapasi pertama di Irak berlangsung. Pada awalnya berupa penggalian amatir, baru pada pergantian abad 20, standar pendekatan saintifik mulai meningkat. Bersamaan dengan itu, keberhasilan pembacaan berbagai tulisan kuno ikut meningkatkan ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan ekskapasi. Setelah tulisan di Palmyra berhasil dibaca oleh Dawkins & Woods (1753), cuneiform menyusul dengan keberhasilan pembacaan tulisan Achemenid Persia ditangan Grotefend (1802), serta Hieroglyph oleh Champollion (1822). Pembacaan tulisan tersebut menambah 2000 tahun lebih kebelakang rentang pembacaan tulisan manusia. Lompatan penemuan juga datang dengan penemuan berbagai teknik ‘absolut dating’, yang bisa mendudukan kronologi sejarah lebih akurat.

***Catatan Tengah***

Sejarah peradaban manusia menggambarkan rentetan peristiwa yang saling berhubungan. Manusia yang terus berkembang, berevolusi dari sesuatu yang sederhana menjadi lebih kompleks. Kita sebagai produk terakhir dari rentetan peristiwa sejarah tersebut selalu terikat masa lalu. Sayangnya, ingatan kita akan masa lalu selalu terfragmentasi, terbungkus serta tersaring oleh preferensi dan konstruksi sosial lingkungan kita. Meski begitu, selalu ada keinginan manusia melihat gambaran yang lengkap akan masa lalu tersebut. Agregasi sumber masa lalu merupakan sebuah aktivitas memberikan makna yang tidak secara otomatis dimiliki. Semua bentuk representasi masa lalu memiliki ‘data’, sebuah pecahan yang terisolasi dari masa lalu. Imajinasi kadang dipakai untuk menambal pecahan ‘data’, tentunya apabila sumber arkeologi dan tekstual tidak ditemukan. Oleh karena itu, rekonstruksi sejarah selalu mengandung elemen fakta dan fiksi secara bersamaan (Bernbeck, 2005: 98-99). Representasi tersebut tentunya tidak membawa ‘sejarah’ dengan sendirinya, dengan mitos kita membuatnya menjadi sesuatu yang berarti.

Mircea Eliade menulis bahwa mitos adalah recital dari sebuah penciptaan; mengurai apa yang telah dicapai, bermula. Mitos, hanya berbicara tentang realitas, apa yang telah terjadi, apa yang terwujud. Mitos ini bukan hanya fondasi dari sebuah kepercayaan kuno atau folklore, tetapi juga bergerak dibelakang perkembangan sains modern. Dalam sosilogi sains, mitos ini sering melibatkan mitos tentang individu genius atau seseorang dengan kualitas personalitas yang mampu membangkitkan sebuah pengetahuan didapatkan (Novick, 1988: 3-4). Misalnya Freud dalam psikologi secara heroik menaklukan kecemasan dengan menganalisis mimpi, atau klaim epistemology Malinowski dalam antropologi budaya, yang memiliki kemampuan magis dalam menempatkan dirinya sendiri dalam sebuah budaya ‘dari dalam’, sedangkan von Ranke menganggap sejarah sebagai pengetahuan yang didapat melalui investigasi bebas nilai. Novick melihat bahwa tanpa mitos seperti diatas, sebuah bangun pengetahuan akan kekurangan fondasi dan otoritas. Setidaknya penyebutan figur otoritas tertentu memberikan para praktisinya sebuah dorongan moral dan superioritas atas orang yang tidak mengutip mereka.

Malinowski melihat bahwa mitos tidak hanya berurusan dengan masa lalu, tapi tetap bergerak dan berfungsi dalam kehidupan saat ini. Mitos bukan hanya sebuah cerita tetapi sebuah realitas yang terjadi; mengekspresikan, mempertebal dan mengkodifikasi keyakinan. Menjaga dan menegakan moralitas, memberikan kesahan pada sebuah ritual atau aturan praktis bagi orang-orang yang terbimbing (Malinowski, 1926: 76-79). Durkheim berbicara mengenai fungsi dari mitos bagi organisasi sosial; memastikan adanya solidaritas dan menjaga dari kekacauan. Sedangkan Sorel menekankan bahwa fungsi mitos bukan hanya menjaga, namun juga memberikan kerangka mobilitas masa depan. Senada dengan Sorel, Levi Straus melihat bahwa mitos memberikan model logis yang mampu mengatasi kontradiksi, atau setidaknya menekan atau menutupinya, dan memberikan sebuah kesatuan konvergen narasi yang bersumber dari satu kejadian di masa lampau (Levi Strauss, 1963: 225).

Meski mitos sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak berubah sepanjang jaman. Pada kenyataanya mitos selalu berubah, dipertanyakan, atau kadang ditinggalkan, sesuai dengan perubahan kebutuhan dan kegunaan para aktornya. Mitos yang berada dalam bahaya—jika prediksinya gagal termaterialisasikan—memerlukan revisi. Setiap budaya merubah dan merevisi mitos-nya sesuai dengan bergantinya keadaan dan persepsi[15]. Pavel Tychkin (2015: 461) menyatakan bahwa sekarang telah terjadi perubahan pandangan dalam studi mitos. Mitos yang dulu dianggap hanya sebagai reproduksi monoton cara pandang kuno, sekarang sudah ditinggalkan.

Satu hal yang pasti, memegang secara literal pada klaim terhadap mitos tertentu merupakan kesalahan besar. Mencampurkan antara nilai mitos dengan interpretasi literal mengantar pada religiusitas dan pengetahuan yang paling buruk. Literalisme seperti itu hanya akan membelah keyakinan kita dan bukannya mempersatukan kesadaran kita. Sebuah mitos yang statik dan tak berubah, hanya akan membuat sebuah mitos yang menggambarkan sebuah dunia yang asing dan tidak relevan dengan dunia kontemporer. Para pengikutnya menjadi orang asing terhadap modernitas dan kemajuan zaman. Kepercayaan buta tersebut akan memaksa seseorang mengorbankan intelektualitas dan emosi mereka. Kejujuran keduanya dikorbankan demi keamanan pengertian kurang tepat akan kredo mereka. Dan literalisme semacam ini, menurut Sproul (1991) lebih dekat pada pemujaan sebuah tafsir atau aliran pemikiran tertentu, ketimbang kejujuran yang tulus akan kredo mereka sendiri.

Pengetahuan kita mengenai masa lalu (i.e. sejarah) merupakan permainan ingatan. Dengan menyelami kedalaman sebuah peristiwa dan memotong rangkaian kejadian, para penulis sejarah selalu memanipulasi fakta dalam proses pembentukan narasinya. Atau dengan kata lain, hanya fakta yang menurut penulis penting, yang layak untuk diingat, dicatat dan diekspresikan (Glassner, 2004). Sebuah budaya selalu menggunakan fakta sebagaimana mereka memahaminya dalam lingkup temporal dan spasial. Selain perbedaan bangun metafora dalam mengekspresikan nilai-nilai budaya, kadang kita juga harus memaklumi tingkat pengetahuan sains dan metode yang tersedia bagi sebuah masyarakat atau pembuat mitos. Mitos merupakan bagian integral dari semua sistem kepercayaan—baik religi, tradisi maupun sains—dan memberikan fondasi realitas yang terpusat. Selanjutnya fondasi realitas tersebut membangun sebuah struktur penilaian dan hubungan disekelilingnya. Dengan adanya sebuah mitos, sebuah sikap atas realitas membuat sebuah sistem kepercayaan dapat memahami masa lalu sebagai sesuatu yang masuk akal, masa ini sebagai masa yang berarti dan masa depan menjadi mungkin. Melalui pemusatan penilaian, sebuah mitos membangun kehidupannya sendiri.

Sering terjadi kegagalan atau perbedaan dalam memahami metafora sebuah mitos. Salah satunya penyebabnya adalah banyak mitos yang kita pegang berasal dari ekspresi kultur yang berbeda—baik itu tempat maupun waktu. Berbagai materi budaya dari budaya lain yang tidak memiliki kesamaan sejarah atau perspektif. Oleh karenanya sangat mudah terjadi kesalahan dalam memahami metafora sebuah mitos dan menganggapnya sebagai pernyataan yang literal. Lebih salah lagi apabila kita memiliki mentalitas parokial yang melihat metafora, symbol dan penilaian kita sendiri sebagai titik akhir dan penentu kriteria dalam menilai mitos budaya lain. Memahami symbol metafora—melihat arti dari dalam sistem mitos itu sendiri—dapat menghilangkan kesalahan dalam membaca dan memahaminya. Namun, ada bahaya ketika sebuah mitologi yang kita pahami sebagai satu-satunya kebenaran. Mitologi seperti itu hanya akan mengarah pada perpecahan. Untuk dapat memahami berbagai mitos yang ada, kita harus dapat memberikan mitos budaya lain dengan kebebasan yang sama dengan yang kita miliki. Dengan cara itu, mitos dapat menjadi sebuah sistem abadi yang terbebas dari ekspresi particular dan temporalnya—atau setidaknya kita lebih toleran terhadap ekspresi partikularnya yang berbeda dengan mitologi kita.

Pemikiran mengenai masa lalu atau sistem pengetahuan sebagai sebuah mitologi diharapkan dapat meredakan ketegangan antar berbagai ekstrim. Perbedaan pencatatan dan ingatan manusia akan sebuah peristiwa yang sama mengindikasikan bangun mitologis yang berbeda. Dengan mengarungi berbagai perbedaan tersebut, kita diharap mampu memberikan penjelasan dan pengertian yang lebih lengkap. Harus ada kesadaran dikalangan penuntut ilmu, bahwa semua penjelasan tentang realitas selalu bersifat sementara dan parsial. Banyak yang kita pahami saat ini akan kelihatan lemah dan kekanak-kanakan dalam beberapa abad kedepan—sebagaimana kita melihat berbagai mitologi sebelum kita. Tidak pernah ada hanya benar dan salah, karena gambaran yang sempurna akan realitas akan selalu tak tercapai. Kepercayaan diri yang terlalu tinggi sangat tidak diperlukan bahkan terlalu berbahaya bagi manusia yang selalu ingin belajar. Akan ada satu titik dimana kita harus mengakui bahwa kita kehabisan pengetahuan untuk menjelaskan sebuah fenomena. Dan dititik itulah manusia harus terinspirasi dan secara fleksibel melakukan dobrakan dengan mengembangkan imajinasinya—tentunya berpijak pada realitas—dalam mengembangkan sebuah pengetahuan yang berguna—untuk tujuan kemaanusiaan. Namun kadang, kita stuck pada satu titik, tanpa bisa berbuat apa-apa! Perlu kejujuran untuk mengakui kenyataan seperti itu. Pada akhirnya, sistem pengetahuan manusia selalu merupakan negosiasi dan perpaduan antara realisme, fleksibilitas, kegunaan dan inspirasi. Tidak ada satu teori atau narasi apapun yang bisa mengklaim sebuah kebenaran absolut. Pandangan tersebut diharap dapat menghasilkan sebuah mitologi baru yang tidak hanya berupa mitos yang menjelma menjadi dogma yang statis dan mati, tetapi mampu membebaskan kita dari belenggu-belenggu konstruksi masa lalu yang tidak perlu.

***

Salah satu mosaic masa lalu yang mengalami perombakan dan penambahan besar tesserae—potongan mosaik—dalam 200 tahun terakhir adalah mitos menara babel Babylonia. Bertambahnya pengetahuan kita mengenai Babylonia—dan secara umum Timur Dekat Kuno— selain sebagai hasil berbagai ekskapasi baru dan penelitian filologi terhadap cuneiform, juga didukung oleh perkembangan berbagai disiplin ilmu lainnya (diantaranya; historical sociology, cultural anthropology, historical linguistics, etc). Perkembangan tersebut mengarah pada perubahan perspektif dan revisi radikal terhadap berbagai sumber luar yang sebelumnya tersedia. Menurut Liverani (2014: 5), penulisan sejarah Timur Dekat Kuno perlu direvisi setidaknya 20 tahun sekali, dengan membludaknya bukti dan pembacaan cuneiform yang semakin lebih baik dan kemajuan dalam arkeologi. Sumbangsih Babylonia masih terasa dan berperan penting dalam kehidupan modern saat ini. Sebagai contoh, penanda waktu esensial yang masih kita pakai bersumber pada sistem sexagesimal Babylonia (pembagian jam dalam 60 menit, dan menit dalam 60 detik), 360 derajat dalam lingkaran, pendanda zodiac menjadi 12 tanda, dan munculnya dokumen saintifik terawal terutama dalam prediksi astronomi matematis. Tapi bukan itu yang membuat sejarah dunia kuno harus dipahami. Era sejarah ini harus dinormalisasi dan diperlakukan sama sebagaimana kita menganalisis fase dan budaya yang lainnya. Proses normalisasi ini mengharuskan kita menanggalkan model yang simplistis dan mengedepankan variasi perspektif yang memungkinkan konstruksi sejarah yang lebih menyeluruh. Karena keterbatasan ruang, pembahasan kali ini direduksi hanya pada kondisi politik saja, yang tentu saja sangat tidak mencukupi. Selain itu berbagai perubahan jangka panjang dan jangka menengah, serta perdebatan tidak terbahas dan oleh karena itu hanya pandangan popular yang dituliskan.

Sejarah Menara Babel dan Babylonia

Apabila sebelumnya konstruksi menara Babel Babylonia mengandalkan sumber luar, sekarang sumber materil dan tulisan—dari dalam—mengenainya bisa berbicara dan melakukan pembelaan mengenai dirinya sendiri. Sejarah Timur dekat Kuno secara ex novo dari sumber primer yang tidak termediasi—oleh sejarawan setelahnya—memberikan nuansa baru yang berbeda dari berbagai perspektif sebelumnya. Selain itu, munculnya berbagai bukti baru juga memberikan tambahan informasi dan perbandingan terhadap berbagai budaya yang ikut berinterksi dengan Babylonia dan Mesopotamia secara keseluruhan. Salah satu kelebihan dari budaya Mesopotamia adalah kronologi yang paling detil dan lebih dapat diandalkan daripada sumber lain. Sehingga sinkronisme dari budaya Mesopotamia secara langsung bisa memperkaya pemahaman kita mengenai budaya lain disekitarnya. Tapi sebagaimana diuraikan sebelumnya, penjelasan sains modern ini pun masih dapat dikatakan sebagai mitos juga—mitos modern.

Oposisi konseptual antara barat yang otonom dan autokrasi timur yang pertama kali di sebarkan oleh Tragedian Yunani Kuno, Aeschylus dan Sejarawannya Herodotus—mengakibatkan ide dan realitas kebebasan (Freedom) warganya sulit tercapai bahkan sampai masa sekarang. Alasan membebaskan penduduknya dari tirani sering dijadikan retorika imperialisme (terutama Amerika) sering menghambat kemampuan daerah ini untuk menentukan nasibnya sendiri. Padahal dalam kenyataannya, berbagai sumber-sumber sejarah Timur Dekat Kuno memberikan bukti bahwa ide akan hak dan kebebasan merupakan arsitektur konseptual dari masyarakat dan negara yang telah ada bahkan jauh sebelum berbagai teori mengenai kebebasan politik dan individu muncul di Yunani Kuno (Von Dassow, 2011: 200).

Selama periode sejarah Timur Dekat Kuno, mayoritas populasi setiap komunitasnya merupakan warga yang bebas—dan bukan hanya budak dari penguasa. Ide kebebasan sebagai pembebasan dari belenggu opresi secara regular telah muncul sebagai bagian dari tindakan seorang raja. Salah satu hukum tertua yang muncul yaitu Teks Reformasi Urukagina (24th bce) menyebutkan konsep Sumeria “ama(r)-gi”, secara literal ‘mengembalikan pada ibunya’ ataupun kata padanan andurārum (Akkadian), keduanya mempunyai arti konotasi emansipasi atau kemerdekaan. Konsep hak yang dikembalikan yaitu mīšarum (níg-si-sá) ataupun keadilan, kittum (níg-ni-na) telah menjadi kosa-kata yang biasa dilontarkan oleh para penguasa di kawasan ini. Sekumpulan edik raja ataupun kode hukum Mesopotamia sedikitnya ikut membantu terlaksananya hak warga dan berjalannya pemerintahan yang berdasarkan hukum; Dekrit enmetena, Reformasi Urukagina, Hukum Ešnunna, Codex Ur-Nammu, dan Codex Ḫammurāpi, dll. Memang, penduduknya—seperti penduduk Yunani Kuno dan Romawi—bisa jatuh dalam perbudakan; melalui tawanan perang, jatuh kedalam utang, ataupun karena kriminalitas. Namun kebebasan, secara umum merupakan kondisi awal dan basis bagi partisipasi dalam kehidupan kota.

Sejarah Bangsa Amorite dan kota Babylonia

Kuantitas arsip dokumen dari Timur Dekat Kuno secara kuantitas tidak ada yang menandinginya—sekitar setengah juta arsip, dimana catatan mengenai Babylonia lebih dari setengahnya. Babylonia sendiri mulai muncul dalam literatur ketika seorang raja dari Dinasti Akkad bernama Šar-kali-šarri (2217-2193 BCE)[16] membuat sebuah reverensi terhadap kuil kota tersebut[17]. Babylon sekarang terletak sekitar 90 Km Selatan Modern Baghdad, mengikuti aliran Euphrate. Babel secara etimologis memiliki akar non-semitik, yang tertulis oleh para penulis cuneiform sebagai bab-il (𒆍𒀭𒊏𒆠, KA2.AN.RA.KI, ka2-diĝir-ra-ki), gerbang tuhan. Selama pemerintahan Dinasti Ur III (2100 BCE), kota kuil tersebut berkembang menjadi sebuah ibukota provinsi, dan beberapa ratus tahun setelahnya, menjadi sebuah negara kecil dibawah seorang pemimpin Amorite, bernama Sūmû-abum (𒈬𒀀𒁍𒌝). Sebutan Amorite sendiri berasal dari kata dari bahasa Sumeria; mar.tu atau MAR.DUki (𒈥𒌅𒆠), yang berarti ‘barat’, atau kata Tidnum atau amurrum (dari kata aburru, Akkadian) yang berarti ‘padang rumput’. Kelompok dari mar.tu ini memiliki bahasa tersendiri yang termasuk kedalam kelompok bahasa west semitic yang berbeda baik dengan Akkadian (east semitic) ataupun Sumeria (lum bisa dipastikan keluarganya). Harus diperhatikan pula bahwa pada masa ini, Martu atau Amurru tidak selalu mengacu pada Amorite dalam pengertian bahasa saja. Kata tersebut juga dipakai sebagai sebutan umum bagi kelompok yang memiliki gaya hidup atau pola migratori. Bahkan bisa dikatakan bahwa sebutan Martu merupakan sebutan orang di luar kelompok tersebut—baik Sumeria maupun Akkadia, kata lain juga sering digunakan sebagai synonym atau demonym kata tersebut diantaranya tertulis dalam berbagai sumber cuneiform; Tidnu, Tidanum, Tidnum, Tidan, Ditan, Ditanu dan Ditana. Menurut Van de Mieroop (2016), para filolog dan linguist hanya bisa melihat adanya bahasa Amorite melalui analisis grammar nama orang-orang, karena tidak ada satu kalimat lengkap dalam literature yang merekam bahasa ini sampai ke kita. Dari sini jelas terlihat bahwa, jauh sebelum adanya menara Babel Babylon, bahasa di Mesopotamia sudah beragam. Berbagai penemuan arkeologi: pengaturan pencarian makanan musiman, hiasan, perpindahan material yang jauh, dan alat-alat yang lebih canggih sekitar 75–160 kya memberikan bukti yang mendukung kemunculan kapasitas linguistik dan kognisi modern terutama pada manusia modern setidaknya 75kya dan ada kemungkinan jauh sebelumnya (Hickok & Small, 2016).

Minna Lönnqvist yang mengepalai SYGIS (sebuah proyek survey arkeologi dan pemetaan Finlandia di Jabal Bishri—wilayah sekitar Syiria, daerah yang dicurigai kuat sebagai asal orang-orang mar.tu) melihat bahwa kontak budaya Amorite dengan Mesopotamia telah terjadi sejak periode Ubaid dan Uruk (5th-4th milenia bce). Kontak ini ditandai dengan adanya peninggalan keramik chalcolithic bergaya Ubaid dan Uruk. Berdasarkan interpretasi atas berbagai peninggalan arkeologis, terdapat perubahan gradual kelompok penghuni daerah tersebut dari gaya hidup ekonomi mobile dan semi mobile, dari pemburu-peramu ke pastoral nomad. Pada level stratigrafi ini, tidak ada bukti adanya ketegangan antara kaum nomad jabal bishri (level kompleksitas chiefdom) dengan budaya Ubaid maupun urban Uruk setelahnya (Lönnqvist, 2010).

Memasuki milenia ke tiga bce, Amorite telah menghuni Emar (Meskené), Tuttul (Tell Bi’a) dan MAR.DUki. Letak MAR.DUki, tempat kerajaan awal Amorite tersebut sampai sekarang masih belum ditemukan, meski dicurigai di sekitar Jabal Bi ri. Bukti tertulis tertua mengenai Mardu, datang dari sebuah tablet dari Fara mengenai pembayaran gaji dari seorang petani (Archi, 2015: 353). Setelahnya teks dari Ebla (24th bce) menyebutkan kekalahan beberapa kelompok Amorite dari Emar, menandai adanya tekanan kelompok nomad tersebut terhadap kehidupan urban. Identifikasi ba-sa-ar KUR (gunung dimana Šarkali-šarri mengalahkan orang mar-tu-am) dengan Jabal Bi ri. Namun secara keseluruhan hubungan Ebla, Sumer, dan Amorite pada milenia ini relatif aman; ada pertukaran diplomatic, perdagangan dan aliansi.

Terjadinya aridifikasi pada 4,2 kbp (2200 bc, berlangsung sekitar 100 tahun) mengakibatkan menyempitnya lahan pastoral nomad dan daerah pertanian urban. Efek jangka pendek dari peristiwa iklim tersebut mendorong berakhirnya imperium dinasti Akkad, sedangkan secara jangka panjang mendorong kaum pastoral nomad lainnya untuk beradaptasi dengan kehidupan urban. Dengan kontak yang semakin meningkat, situasi berubah menjelang akhir milinium ketiga bce, hubungan antara Sumer dan Amorite memburuk.

Pada masa pengusasaan Ur III, Babylon menjadi salah satu provinsi dengan ensi (gubernur) Akkadian. Gubernur terakhir Babylon sebelum diambilalih kaum Amorite, Puzur dTutu (dibawah lindungan Tutu), yang tadinya gubernur Borsippa, membawa tuhan sembahannya dTutu (nama awal dMarduk) ke Babylon. Selanjutnya Nabû menggantikan dTutu di Borsippa. Dinasti Ur III yang mencoba membangkitkan kembali kejayaan budaya Sumeria pasca penguasaan Akkadia, menyebutkan adanya harta rampasan dari Jabal Bishri dan adanya ancaman di gerbang Ur yang memaksa lugal mereka, Šu Sîn untuk membangun tembok—murîq Tidnim, yang berarti sesuatu yang menjaga jarak dengan Tidnumuntuk menghalau kaum nomad Amorite. Dengan perubahan hubungan tersebut, kata ‘amorite’ mengalami perubahan arti dan stereotype dimata orang Sumer dan Akkad. Sebuah komposisi Ur III yang sekarang dikenal dengan nama “pernikahan Martu (The Marriage of Martu)” memandang rendah kelompok Amorite tersebut dan memperlihatkan bias masyarakat kota terhadap kaum pastoral nomad.

The days have multiplied, no decision has yet been made. (Adjar-kidug’s girlfriend speaks to her:) “Now listen, their hands (the Amorite) are destructive and their features are those of monkeys; he is one who eats what Nanna forbids and does not show reverence. They never stop roaming about ……, they are an abomination to the gods’ dwellings. Their ideas are confused; they cause only disturbance. He is clothed in sack-leather ……, lives in a tent, exposed to wind and rain, and cannot properly recite prayers. He lives in the mountains and ignores the places of gods, digs up truffles in the foothills, does not know how to bend the knee, and eats raw flesh. He has no house during his life, and when he dies he will not be carried to a burial-place. My girlfriend, why would you marry Martu?” Adjar-kidug replies to her girlfriend: “I will marry Martu!” (ETCSL)

Pada pergantian millennium kedua, terjadi peningkatan jumlah penduduk Amorite di kota-kota Mesopotamia. Seperti Adjar-kidug, Sumer dan Akkad akhirnya menyerah terhadap Martu. Antara tahun 2100 -1809 Amorite telah memasuki berbagai kota di Mesopotamia Selatan dan Levant—baik dengan damai ataupun kekerasan. Arsip negara Mari menyebutkan adanya dua kelompok besar; Benjaminites (Bene Yamina “anak2 kanan”, suku selatan) dan Bensim’alites (Bene Sim’al “anak2 kiri”, suku utara). Yahdun Lim (1815-1798 bce) berhasil merebut kekuasaan Mari sampai pada pemerintahan Zimri-Lim (1776-1762 bce); Šamši-Adad I mengambil alih kekuasaan Old Assyrian dari Erišum; dan Sūmû-abum berkuasa di Babylonia dari tahun 1894 bce.

Sūmû-abum (1894–1881) mendirikan dinasti pertama Babylonia yang berkuasa selama 300 tahun. Pendiri pemimpin Amorite dari dinasti pertama merupakan kelompok Semit yang bermigrasi ke Mesopotamia dari barat dalam pencarian tanah subur dan strategi baru dalam bertahan hidup. Selanjutnya mereka menetap dan mengadopsi kehidupan perkotaan, berakulturasi dengan budaya Babylonia. Bahasa mereka Amorite meski digunakan dalam bahasa sehari-hari, namun secara resmi dalam tulisan mereka menggunakan bahasa Old Babylonia (turunan dari Akkadian) yang telah menggantikan Sumeria. Pada masa ini bahasa Sumeria hanya dikuasai oleh orang-orang terpelajar saja. Cucu Sūmû-abum yang bernama Ḫammurāpi[18], berhasil menyatukan seluruh Mesopotamia selatan, dan sebagian wilayah Euphrate tengah. Pada awal kekuasaaanya, Babylonia hanya mengontrol daerah sekitarnya; Dilbat, Sippar, Kiš dan Borsippa. Kata Amorite pada masa pemerintahannya telah berubah makna dan dipakai sebagai julukan kebanggaan.

Menara Babel pada masa Old Babylonia (Ḫammurāpi)

Selama abad 18 bce—ditangan Ḫammurāpi—Babylonia berubah menjadi superpower di Syro-Mesopotamia. Dinamika hubungan konflik dan diplomasi dengan tetangganya (Mesopotamia atas, Larsa, Eshnunna, Mari dan Elam) menandakan fluktuasi dan memberikan ilustrasi koalisi yang tidak stabil. Meski begitu, Babylonia pada akhirnya mampu menghancurkan lawan-lawannya. Tahun 1761, Ḫammurāpi berhasil menundukkan Ešnunna, mewarisi jalur perdagangan dan daerah kaya secara ekonomi. Tahun setelahnya, Ia menghancurkan Assyria dan Mari. Ḫammurāpi mengumpulkan pecahan Sumer dan Akkad di tahun ke tiga puluh kekuasaannya dengan terebutnya Larsa (dalam Kode Ḫammurāpi). Dengan jatuhnya Larsa, kota-kota selatan jatuh ketangannya; Nippur, Ur, Uruk dan Isin (Podany, 2010: 65). Selama 32 tahun kekuasaannya, wilayah Babylonia merentang dari Teluk Persia ke Mari, Aššur di utara dan Ešnunna di timur. Dengan keberhasilan tersebut, Ḫammurāpi mengamankan jalur perdagangan Euphrate, dan aliansinya dengan Yamhad sangat penting dalam mengamankan arteri tersebut.

Pada masa kekuasaan Ḫammurāpi-lah (1792-1750 bce) Menara Babel Babylonia diperkirakan dibangun pertama kali[19]. Menara ini merupakan bangunan khas kuil tower Mesopotamia bernama Ziggurat (zi-qu-ra-at), sebuah arsitektur khas yang telah ada bahkan sejak munculnya chiefdom di desa-desa kecil masa Ubaid (5th millennium bce)—yang tertua di Eridug. Selama Babylonia melakukan perluasan dan penaklukan, Ḫammurāpi membangun dan merestorasi berbagai kuil dan ziggurat, tidak hanya kota-kota besar, tetapi juga kota-kota kecilnya; Qatara, Aššur, Sippar, Kiš, Borsippa, Nippur, Uruk, Larsa, Ur dan Eridu. Dengan asumsi tersebut, serasa tidak mungkin apabila ibukota dan kota utamanya tidak memiliki Ziggurat juga. Mitos penciptaan Babylonia, Enuma Eliš menceritakan tentang pembangunan kuil Esaĝila[20] (esangila), dengan pembangunan tersebut—meski tidak secara langsung disebut—otomatis ziggurat-nya pun akan ada. Setiap ziggurat memiliki nama dalam Bahasa Sumeria, dan untuk Babylonia, menara tersebut bernama E-temen-anki (rumah fondasi langit dan bumi).

Sepanjang milenia kedua bce, catatan mengenai e-temen-anki hampir dikatakan tidak tersisa. Selain situasi arkeologi yang tidak memungkinkan dilaksanakan dengan baik menembus stratigrafi millennium tersebut, alasan lain adalah penggunaan “esaĝila” merupakan referensi menyeluruh atas pusat religi Babylonia—termasuk etemenanki didalamnya (George, 2005: 29). Setelah kekuasaan dinasti pertama Babylonia berakhir dengan serangan Raja Mursili I dari Hittite, kelompok Kassite—tentara bayaran Šamšu-iluna (anak Ḫammurāpi) untuk mengamankan jalur perdaganan di Mari—mengambil alih kekuasaan.

Kekuatan asimilatif kebudayaan Babylonia, kembali terjadi ketika kelompok Kassite yang datang dari timur, menguasainya. Raja-raja pertama yang memiliki nama Kassite, pada generasi selanjutnya (seperti Amorite sebelumnya) tergantikan dengan berbagai nama dan julukan Babylonia. Babylonia pada pertengahan millennium kedua BCE ini, menjadi bahasa diplomasi internasional yang digunakan oleh berbagai kekuatan besar regional; Babylon, Mesir, Hittite, Mitanni dan berbagai negara di daerah Levant. Tidak seperti kekuasaan besar lainnya, Babylonia lebih memilih menghindari diri dari berbagai konflik militer yang terjadi di Timur Dekat. Namun berbagai gelombang kekerasan dan gangguan yang terjadi pada bagian barat, pada akhirnya memicu perpindahan populasi besar-besaran yang mendestabilisai Babylonia pada abad 13 BCE. Berbagai kelompok suku bertarung menguasai berbagai kota-kota utamanya.

Setelah masa Kassite berakhir, Timur Dekat Kuno jatuh kedalam abad kegelapan (13th-10th bce), berbagai negara-negara kecil bermunculan dan saling memperebutkan wilayah yang kecil. Assyria—yang bersaing dengan Babylonia—semakin menyurut dan hanya menguasai beberapa kota di dekat Aššur[21]. Nasib dan peruntungan Babylonia setelah pergantian milenia pertama bce, sangat tergantung pada Assyria yang mampu keluar dari kemelut ini. Assyria mulai menampakkan tajinya ketika Aššur-dān II (934-912 BC) berhasil merebut kembali berbagai wilayah yang selama lebih dari satu abad dikuasai Aramea. Untuk mengamankan—kadang mengekspansi— wilayahnya, Assyria meninggalkan kebiasan razia sporadic dan menggantinya dengan kampanye militer regular. Adad-nārārī II (911-891 BC) yang meneruskan kekuasaan, membersihkan daerah perbatasan dari pengaruh Aramea di Barat, Ḫabḫu di utara, dan Babylonia di selatan. Penguatan melalui kampanye militer ini terus berlangsung sampai pada kekuasaan Aššurnasipal II (883-859 bce). Namun dari pemerintahan Šalmaneser III (858-24 bce), Šamši-Adad V (823-811 bce), Adad-nārārī III (810-783 bce), sampai Aššur-nārārī V (754-745 bce) pemberontakan muncul. Ini menahan Assyria meraih supremasi atas penguasaan daerah yang lainnya (Grayson, 1991, 1996; Tadmor & Yamada, 2011). Sebelum Adad-nārārī III dewasa, selama lima tahun, kepemimpinan Assyria dipegang oleh Ibunya, Janda dari Šamši-Adad V yang bernama Shammamurat (810-805 bce). Seorang perempuan yang secara sukses menstabilkan dan memperkuat Assyria pada saat kekacauan ini menjadi legenda ketika berhasil kampanyenya melawan Yunani Kuno dan Medes (Median). Dari musuhnyalah mitos mengenai kebejatan Shammamurat muncul dengan nama Semiramis oleh Diodorus Siculus.

Menara Babel pada masa Neo-Assyria dan Neo-Babylonia

Setelah Tiglath-pileser III[22] (744-727 bce) berkuasa, baru (Neo-)Assyria menjadi imperium yang tersentralisasi. Selama bertahta, tidak ada satu kotapun di Timur Dekat Kuno yang tidak terpengaruh oleh kebijakan ekspansionismenya. Selama dua abad penaklukan Neo-Assyria ini, kota-kota di kawasan Babylonia, Anatolia, Assyria, Mesir dan Nubia dibikin kebakaran jenggot—dan mungkin anggota tubuh lainnya juga. Pada tahun 732, Raja Judah bernama meminta bantuan Tiglath-pileser III karena Kerajaan Israel dan Aramea mengancam Jerusalem, ibukota Judah. Tiglath-pileser III, datang menggasak Israel dan Damaskus, menganeksasi Aram, dan membuat penguasa Israel untuk memberikan upeti regular. Deportasi besar-besaran dilakukan Tiglath-pileser III terhadap kedua penduduk kerajaan tersebut, namun sebagian mengungsi ke Judah dan mewariskan berbagai narasi yang nantinya muncul kemudian dan dituliskan dalam berbagai literatur. Di saat inilah—terutama masa kekuasaan Sennacherib—muncul berbagai literature perlawanan (resistance literatur) koloni terhadap imperium Assyria.

Menara Babel Babylonia 7 menara babel,sejarah menara babel,menara babylon,tower of babelSituasi yang tidak stabil, penuh konflik dan deportasi masal yang dilakukan oleh Assyria dan Babylonia pada akhirnya menimbulkan kesadaran sejarah dan tercerabutnya identitas structural ribuan komunitas colonial. Tradisi baru literature yang hadir oleh karena itu dibentuk dalam situasi atmosfir emosional yang tengah meninggi. Literatur tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap inskripsi analistik dan monumental yang disombongkan oleh para rajanya. Gambaran kekejaman pasukan Assyria muncul tidak hanya dalam OT, tetapi juga dalam berbagai tulisan Aramaik, Mesir, Yunani Kuno dan Latin. Kemudian pada milenia pertama era umum (CE) merebak ke Syriac, Latin dan Arab. Selanjutnya melalui kisah Ahiqar, literature tersebut menyebar ke Armenia, Slavonik, Georgia, Romania, Turki, Russia, Ethiopia, Serbia dan Persia (Beaulieu, 2018: 198; Richardson, 2014: 437-9).

Menara Babel Babylonia 8 menara babel,sejarah menara babel,menara babylon,tower of babel

Gambaran tersebut tidak muncul begitu saja, karena Inskripsi Assyria yang merupakan sumber kronologis sejarah Timur Dekat Kuno, sangat menekankan imej tersebut. Inskripsi tersebut biasanya berupa berbagai Annals dari raja disertai dengan berbagai peristiwa dan pencapaian terutama dalam bidang militer. Genre ini sangat berharga bagi para sejarawan, meski dipenuhi dengan bias-bias dan bualan politik. Dalam periode apapun, jika ada daftar orang-orang yang tidak bisa dipercaya omongannya, politisi pasti menghuni daftar teratas. Propaganda Assyria melalui inskripsi ini terutama ditujukan pada audiens luar—raja negara tetangga atau provinsi bawahan—yang harus dibujuk ataupun diintimidasi. Relief-relief dari kota-kota besar Assyria menunjukkan ilustrasi yang vulgar, penuh pesan-pesan politik akan ideology imperialistik yang dianutnya.

Menara Babel Babylonia 9 menara babel,sejarah menara babel,menara babylon,tower of babelMenurut Selz (2007: 277), Imej ini tidak begitu saja diciptakan oleh seorang raja ataupun administrasinya, namun memiliki akar dalam tradisi lama sebuah masyarakat. Tradisi ini selanjutnya dimodifikasi dan diadaptasi sesuai kebutuhan pragmatis. Imej tersebut disebarkan dengan berbagai cara yang sering kita sebut sebagai propaganda—dan kebanyakan yang disebut sebagai sumber historis pada kenyataannya adalah propaganda. Oleh karena itu ketika kita membaca berbagai sumber kuno dan melihat gambaran yang tersisa dari sebuah kebudayaan, kita harus mempertanyakan nilai historis mereka. Surat-surat, teks administratif, keputusan legal, dan berbagai peninggalan budaya material, membantu menyeimbangkan nilai historisnya. Namun, faktor propaganda dan distorsi ideologis dari realitas sosial sendiri sangat penting untuk didalami. Setiap penguasa dan kelompok elitnya terikat pada imej yang ingin mereka sebarkan atau ciptakan. Assyria dalam melakukan berbagai kampanye militer dan penaklukan, selalu dilandasi alasan mendapatkan perintah tuhan (dAššur). Sebagai contoh gambaran Sennacherib ketika melawan Elam dan Babylonia dalam Annalsnya mengatakan, “Dengan perintah tuhan dAššur, Aku lemparkan musuhku ke depan dan ke samping dengan gempuran prahara kekerasan“. Imej menakutkan ini mungkin dianggap perlu oleh Assyria yang dikelilingi oleh berbagai bangsa yang relatif agresif di seluruh perbatasannya. Imej menakutkan ini juga didukung oleh pengusasaan terhadap teknologi logam besi (menggantikan perunggu) yang lebih kuat dalam peralatan militer serta teknologi logistik yang lebih baik (penggunaan “packed animal” yang lebih besar) yang dilakukan oleh Assyria membuat bangsa ini unggul dan membuat kemampuan jangkauan ekspansinya yang lebih besar.

Inskripsi kerajaan Babylonia memang memiliki bualan egosentris seperti Assyria, namun alasan religious dan kultural memberikan batasan yang lebih besar terutama terhadap pencapaian militer. Perbedaan ini didasarkan pada tradisi politik local Babylonia yang relative non-imperialistik. Inskripsi Babylonia lebih mengutamakan pada kualitas moral penguasa, ketaatan, kerendahan hati di depan tuhan, peduli pada warganya dan taat pada ritual keagamaan. Dipandang dari sisi ini, pembangunan etemenanki bukan didasarkan pada keangkuhan melawan tuhan, tetapi sebagai perwujudan pengagungan atas kebesaran tuhan mereka. Bias religi ini meski tidak berguna sebagai sumber kronologis, namun sangat berguna untuk meneliti struktur pemikiran sebuah kebudayaan dan pola pemikiran penduduknya (Beaulieu, 2018).

Karena pengaruh budaya dan religiusnya, bangsa Assyria tidak memperlakukan Babylonia sebagaimana kota lainnya. Perlakuan istimewa tersebut terlihat dengan diperbolehkannya Babylonia memiliki raja tersendiri—berbeda dengan yang lain hanya berupa gubernur. Penguasa Babylonia pada masa Tiglath-pileser III bernama Raja Pulu Babylonia (nama asli Tiglath-pileser III). Setelah kematian Tiglath-pileser III (727), anaknya Shalmaneser V meneruskan tampuk kekuasaan Babylon (bernama Ululayu—lahir dibulan Ululu). Babylonia sepanjang millennium pertama sangat bergantung bangkitnya Assyria sebagai kekuatan regional terkuat. Ironisnya, dengan meningkatnya kekuasaan politik dan militer Assyria, pengaruh kebudayaan Babylonia semakin menguat. Raja-raja Assyria mengakui status keagamaan dan pengetahuan Babylonia, namun mereka juga tidak segan memaksakan kekuasaanya secara langsung selama dua abad yang penuh perlawanan.

Teks cuneiform yang membahas sejarah etemenanki datang dari abad tujuh dan enam bce. Berbagai catatan ini—baik annals, surat-surat, maupun rencana pembangunan—ditinggalkan oleh tiga raja dinasti Sargonid; Sennacherib, Esarhaddon dan Aššurbanipal. Naiknya Sargon II[23], sebagai usurper terhadap Tiglath-pileser, memulai kekuasaan dinasti ini.

Kematian Tiglath-pileser III mendorong beberapa daerah menolak untuk memberikan upeti, salah satunya kerajaan Israel (Samaria). Pada tahun 722, Shalmaneser V segera mengepung Samaria, namun mendadak meninggal. Pengepungan tersebut dilanjutkan oleh jendral pasukannya—yang kemudian melakukan kudeta—bernama Sargon II (722-706 bce). Meski Sargon II adalah orang Aramea, namun Ia meneruskan tradisi Assyria dalam pemerintahannya. Di bawah komando Sargon II, kerajaan Samaria Israel berhasil dihancurkan. Tiga bulan sebelum Sargon II berhasil melakukan kudeta di Assyria, Marduk‐apla‐iddina II memberontak dan menyatakan bahwa tuhan Marduk telah memberikan tahta Babylonia kepada dirinya. Sargon II yang menghadapi pemberontakan dimana-mana memutuskan untuk bertindak cepat. Babylon segera diserang, namun Babylonia—dengan bantuan dari Elam—gagal dikuasai kembali. Sebagai pemecahan Sargon II melakukan détente dengan Babylon dan Elam.

Dengan adanya gencatan senjata di selatan, Sargon II memusatkan perhatiannya ke barat dan utara. Di barat, Assyria berhasil menaklukan Cyprus (Yadnana) dan pada kampanye ke delapan di utara (714 bce), Sargon II merebut Mannaean, menghukum Rusa dan aliansinya, kemudian menggasak Musasis dan akhirnya membawa rampasan besar ketika pulang. Pada tahun 705 bce, Sargon II terbunuh dalam sebuah pertempuran kecil, dan tubuhnya tidak terkuburkan, sehingga dianggap terkena kutukan akibat melakukan kudeta. Sang pewaris tahta, Sennacherib[24] (anaknya) meninggalkan kota yang dibangun ayahnya, Dur Sharrukin, dalam usahanya memutus kutukan yang menimpa ayahnya.

Menara Babel Babylonia 10 menara babel,sejarah menara babel,menara babylon,tower of babel
imperium neo-assyria

Penyebutan kuil tower babel secara terpisah muncul ketika Sennacherib (704-681 bce) dari Assyria menyobongkan diri telah menghancurkan ziqqurrat bata dan tanah—seiring dengan bangunan suci lainnya—selama penggasakan Babylon (689 bce). Sennacherib bertindak kejam terhadap oposisi dan permberontakan karena anaknya, Aššur-nadin-šumi terbunuh ketika Babylonia yang dibantu Elam melakukan serangan balik terhadap Assyria. Setelah 15 bulan melakukan pengepungan, akhirnya Babylonia jatuh. Ia mengalihkan aliran air sungai agar benteng bata Babylonia terkikis, kemudian menjarah Esaĝila (kuil Marduk), meratakan Etemenanki, dan merampas kekayaannya ke Assyria. Kampanye Sennacherib yang membuatnya terkenal jauh setelah dia meninggal adalah pengepungan Jerusalem, Ibukota Judah (701 bce). Pengepungan ini berakhir ketika Hezekiah, raja Judah yang didukung Mesir menyerah dan menjadi penguasa provinsi dibawah Assyria (Grayson & Novotny, 2012: 14-5). Jerusalem abad tujuh bce hanya seluas 60 hektar, dengan populasi sekitar 15 ribu orang, tidak lebih dari sebuah desa pasar kecil. Bahkan populasi inipun, sebagai hasil hancurnya kerajaan Israel di utara pada masa Tiglath-pileser dan Sargon II yang melakukan deportasi penghuninya. Akibatnya, pembengkakan populasi Jerusalem dipenuhi, oleh para pengungsi, pendeta, nabi dan rakyat jelata (Finkelstein & Silberman, 2002; 2013).

Sennacherib dalam satu annal-nya menceritakan,” [Aku menghancurkan, membinasakan, (dan) membak]ar [dengan api kotanya, dan gedungnya, dari fondasinya ke] dindingnya. [Aku menyingkirkan bata] dan tanahnya sampai tak tersisia, [dari] dinding dalam (dan) dinding luarnya, [kuil, (dan) ziggurat, dan aku lemparkan ke dalam [sungai] Araḥtu. Aku menggali kanal [ke dalam pusat kota] dan karenanya [meratakannya dengan air. Aku menghancurkan] batasan fondasinya [dan (karenanya) membuat] kerusakan tersebut [jauh melebihi] banjir Nuh. [Agar di masa depan], kota tersebut [dan kuilnya] tidak akan terkenali, Aku menghilangkan Babylon [dengan air] dan menghancurkannya), membuatnya seperti padang rumput”

Sennacherib dibunuh (681 bce) oleh salah satu (atau lebih) anaknya. Esarhaddon[25] bergerak cepat dan menguasai tahta Assyria. Esarhaddon sewaktu kecil sering sakit-sakitan dan dicurigai memiliki penyakit genetis. Kenyataan tersebut ditambah dengan para pendahulunya yang selalu mengalami nasib buruk—Sargon II mayatnya tidak ditemukan dan Sennacherib mati dibunuh anaknya—membuat Esarhaddon yakin akan adanya kutukan dalam keluarganya. Dia dilanda kecemasan dan selalu merasa nyawanya terancam, dalam surat pribadinya dia selalu memohon pada tuhan agar memberitahukan apa dosa-nya dan mengapa nasib buruk selalu menimpanya. Hubungan buruk dengan saudaranya, karena dia sebagai anak termuda diangkat sebagai putra mahkota. Pada tahun 681 bce, pertikaian terjadi yang membuat dirinya merasa terancam dan mengungsi ke Haran, kota asal ibunya. Situasi ini menambah buruk kepanikan kakak-kakaknya, yang pada akhirnya memutuskan untuk merebut kekuasaan dengan membunuh Sennacherib. Mendengar berita tersebut, Esarhaddon bergerak kembali menuju Aššur. Ketika kedua pasukan bertemu ditengah jalan, pasukan kudeta kakaknya ternyata malah berpihak pada Esarhaddon. Pada bulan 12, tahun 681 bce, Esarhaddon berhasil mengamankan kekuasaannya di Aššur.

Esarhaddon aktif baik secara militer maupun pembangunan. Inskripsi kerajaaannya tidak tersusun secara kronologis, oleh karena itu memerlukan kronikel Mesopotamia untuk memetakannya. Untuk memutuskan rantai kutukan yang menghinggapi keluarganya, Esarhaddon (680-669) memperbolehkan penduduk Babylonia untuk memperbaiki dan merestorasi berbagai bangunan suci mereka. Ia melakukan berbagai proyek pembangunan besar di seluruh daerah kekuasaannya, salah satunya restorasi Babylonia yang dihancurkan oleh Sennacherib, ayahnya. Para ahli arkeolog yang melakukan penggalian di Babylonia meragukan kebenaran akan annals Sennacherib yang mengatakan tempat tersebut telah rata dengan tanah (Grayson & Novotny, 2012: 203). Esarhaddon memulai rekonstruksi pada tahun ke sembilan kekuasaanya, proyek tersebut dilaporkan melalui beberapa surat yang mengabarkan kemajuannya. Dari berbagai inskripsi, proyek di Babylonia tersebut tidak menempatkan etemenanki sebagai proyek utama. Pembangunan benteng kota dan pembangunan ulang berbagai kuil terutama Esaĝila, sebagai persiapan mengembalikan patung dMarduk yang diangkut ke Aššur. Pembangunan Esarhaddon terhadap Etemenanki hanya sampai pada tahap fondasinya saja menggunakan bata tanah (mud bricks), dengan luas serupa dengan pembangunan akhirnya (George, 2005: 10).

Akhirnya restorasi Esaĝila selesai ketika kekuasaan berganti ketangan Aššurbanipal[26], namun seperti ayahnya proyek besar Etemenanki tidak dapat diselesaikan juga. Esarhaddon membagi dua kekuasaan, Assyria ditangan anak bungsunya Aššurbanipal dan Babylonia ditangan anak tertuanya Šamaš-šuma-ukīn. Babylonia kembali memberontak dibawah Šamaš-šuma-ukīn, Aššurbanipal merebutnya kembali tahun 648 bce, dan menjarah istananya. Kali ini, ketimbang menghancurkan berbagai bangunan sucinya, Aššurbanipal malah melakukan perbaikan terhadap kuil dan ziggurat sebagaimana ayahnya. Aššurbanipal ini muncul dalam literature Romantik di Eropa dengan nama Sardanapalus. Sardanapalus digambarkan sebagai orang yang hidup hanya untuk bersenang-senang dan orgy. Ini sangat jauh dari tokoh aslinya yang terpelajar, kompeten dan ambisius. Bahkan 📚 perpustakaan Aššurbanipal merupakan salah satu tempat banyaknya informasi mengenai Mesopotamia berasal. Kematian Sardanapalus (La Mort de Sardanapale, 1827) yang digambarkan oleh Eugène Delacroix lebih tepat dialamatkan ke Šamaš-šuma-ukīn.

Sardanapalus di Babylon

Setelah sekitar 900 tahun dibawah bayang-bayang Assyria, akhirnya Babylonia—dibantu Elam, Medes, Persia, Schytia dan Cimmea—berhasil membebaskan diri. Pada tahun 612, pasukan Nabopolassar[27] yang dibantu raja Cyaxares (Umakištar) dari Median berhasil menggasak Nineveh, dan hasil rampasannya dibawa ke Babylonia. Jatuhnya Nineveh tadi menandai akhir dari Imperium (Neo-) Assyria, dan dimulainya era (Neo-) Babylonia (Grayson & Novotny, 2014). Proyek besar etemenanki yang dimulai dari Esarhaddon dan diteruskan oleh Aššurbanipal masih belum selesai. Nabopolassar yang meninjau perkembangan proyek menyebutkan bahwa cuaca mengakibatkan rusaknya fondasi etemenanki. Ia menyebutkan bahwa Marduk menugaskannya untuk menancapkan fondasinya di dasar bumi dan atasnya bertemu langit. Frase yang sering kali dipakai metafora sebagai jembatan antara bumi dan langit. Nabopolassar kemudian membersihkan bata-bata yang rusak dari fondasinya dan menggantinya dengan bata bakar. Kemudian diteruskan dengan menempatkan barang-barang berharga pada fondasinya, membasuhnya dengan minyak dan resin, dan yang terakhir, figurin sebagai representasi raja ditempatkan. Nabopolassar pun tidak menyelesaikan proyek ini, Nebuchadnezzar II penggantinya menyebutkan bahwa ayahnya hanya menambah ketinggian fondasinya setinggi sekitar 15 meter. Nebuchadnezzar[28] kemudian menambah lagi ketinggian fondasinya sejauh 15 meter.

Menara Babel Babylonia 11 menara babel,sejarah menara babel,menara babylon,tower of babel

Selama 43 tahun pemerintahannya, Nebuchadnezzar II memfokuskan pada isu-isu keagamaan: restorasi berbagai kuil dan ziggurat, pelaksanaan festival, pengembalian patung dMarduk dari Aššur dan pendalaman pengetahuan mengenai interpretasi ‘tanda’. Babylonia yang ketika itu mengalami kekurangan penduduk dan kelelahan dengan berbagai perang membutuhkan tambahan tenaga kerja untuk proyek-proyek besar Ibukota. Kampanye yang dilangsungkannya selain berusaha mengamankan wilayahnya juga mengamankan pasokan sumber-sumber yang penting bagi pembangunan tersebut. Babylonia setelah mengepung Jerusalem dan memaksa mundur pasukan Mesir yang mempunyai ambisi sama, menguasai Levant. Dia menguasa Lebanon yang terkenal dengan hutan cedarnya, dan melakukan deportasi dan eksploitas penduduk Levant yang mengakibatkan level populasi terendah. Penduduk elit Judah yang ditawan, digiring ke Babylonia.

Ekskapasi Menara Babel pada masa sekarang

Teks cuneiform menyebutkan bahwa terjadi mobilisasi pekerja dari segala penjuru negeri yang berada dibawah kekuasaan Babylonia untuk menuntaskannya. Selain itu ditemukan juga rencana pembangunan dan proses rekonstruksi tersebut, sebuah dokumen cuneiform yang disalin oleh seorang penulis pelajar bernama Anu-bēlšunu di tahun 229 BC. Tablet tersebut ditemukan melalui ekskapasi fondasi sebuah Ziggurat (zi-ku-ra-at) pada tahun 1913 (George, 2005). Berkumpulnya puluhan ribu pekerja dengan bahasa yang berbeda membuat kebingungan dan kesulitan komunikasi, sehingga proyek tersebut berlangsung secara total selama 90 tahun (hampir satu abad), dari penyerangan Sennacherib (680 bce) sampai pada proyek selesai pada 590 bce, atau 43 tahun sepanjang pemerintahan Nebuchadnezzar II. Etemenanki berfondasi kotak dengan menggunakan bata bakar sepanjang 91 meter[29] (lebar, panjang dan tinggi), memiliki tujuh tingkat dengan kuil diatasnya. Restorasi dan perluasan Etemenanki tersebut dibanggakan Nebuchadnezzar II, “I Completed It Raising Its top to the Heaven, making it Gleam Bright as the Sun”. Pada kenyataanya, menara tersebut tidak tinggi-tinggi amat, terutama jika dibandingkan dengan bangunan lain, piramida Giza saja yang dibangun sekitar 2000 tahun sebelumnya sudah setinggi 146, 7 meter.

Menara Babel Babylonia 12 menara babel,sejarah menara babel,menara babylon,tower of babelDalam Tower of Babel Stele (MS 2063, Schøyen Collection) tertulis:
“Etemenanki, zikkurat babili (rumah fondasi langit dan bumi, ziggurat di Babylon);
Nebuchadnezzar, Akulah Raja Babylon. Untuk menyelesaikan E-temen-anki dan E-ur –me-imin-anki, Aku memobilisasi semua negri, semua penguasa yang telah diangkat unggul atas manusia di dunia; -Dicintai Marduk, dari laut atas ke laut bawah, negri yang jauh, negri yang padat, raja-raja dari gunung terpencil dan pulau terjauh- Fondasi yang dibangun untuk membuat teras tinggi, Aku bangun dengan bitumen dan bata bakar seluruhnya. Aku tuntaskan puncaknya mencapai langit, membuatnya berkilap seperti matahari.(trans dari George, 2011)

Nebuchadnezzar II yang menginspirasi drama Nabucco dari Verdi. Penggambaran Nabucco sangat berbeda jauh dengan figure historis aslinya. Nabucco yang digambarkan gila pada akhirnya sebelum berpindah ke Judaisme, lebih tepat jika dialamatkan ke Nabonidus. Kekuasaan raja terakhir Babylonia Nabonidus berakhir di tangan Persia. Menurut cerita Claudius Aelianus (175-235 CE), Xerxes menggali fondasi etemenanki yang menyangka ziggurat serupa dengan Pyramid Mesir tempat raja dan kekayaannya dikubur. Agar tidak digunakan lagi sebagai tempat pemberontak, tangganya dihancurkan dan dibiarkan begitu saja. Menara tersebut kehilangan fungsinya dan secara gradual rusak. Alexander the Great yang kemudian berhasil mengalahkan Persia kemudian membersihkan dan meratakan reruntuhan Esaĝil dan Etemenanki, untuk melakukan restorasi, namun tidak terjadi sampai akhir kekuasaan Alexander. Reruntuhan tersebut dipakai sebagai dinding artifisial dalam pembuatan teater Yunani Kuno di Babylonia.


[1] Pertama kali diungkapkan oleh Cicero.
[2] Xshayārshā (486-465 BCE) anak dari Darayavahaush (Darius), Persia Haxamanishiya (Achemenid).
[3] Meski para penganutnya menganggap bahwa OT ditulis Moses, namun mayoritas para penstudi OT modern berpendapat lain. Lima buku pertama dari OT (Taurat atau Pentateuch) dikumpulkan dan diedit selama lima abad oleh empat kelompok editor. Setiap kelompok ini memiliki karakteristik yang terlihat. 1). Kelompok P (Priestly School), sebagaimana dalam Genesis 1, menggunakan kata Elohim, aleim (kata generic untuk penanda tuhan), memiliki ketertarikan pada geneologis atau list tertentu, memiliki perspektif pandangan tuhan dengan sedikit ketertarikan terhadap personalitas manusia, memiliki nada yang secara umum datar dan miskin prosa. Para penstudi kebanyakan menempatkan tradisi ini setelah pengungsian di Babylon (400 BCE), kemungkinan oleh beberapa orang editor. Pembuka OT disebut sebagai Genesis oleh penterjemah Yunani Kuno, editor Septuagint pada abad ketiga BCE, nama aslinya adalah Bereshit, sesuai dengan ayat pertama, sebagaimana tradisi Mesopotamia (B.rashit bra aleim ath e.shmin u.ath e.artz, in the beginning he created, Elohim/aleim, the heavens and the earth). 2). Kelompok J (Jehovah, Yahweh, ieue), merupakan kelompok yang paling jelas memiliki gaya tulisan yang hidup, tegas dan ekonomis. Kemungkinan ditulis oleh seseorang dan bukan kelompok. Genesis 11, memiliki karakteristik gaya ini (u.ird ieue l.rath ath e.oir u.ath-e.mgdl ashr bnu bni e.adm, and he is descending, Yahweh/ieue, the city and the tower which they built sons of the human). 3). kelompok E (Elohistic), memperlihatkan tuhan yang jauh, memiliki jarak antara manusia dan tuhan, memerlukan malaikat atau mimpi sebagai penyampai pesan. 4). Kelompok D (Deuteronomist), karena hampir secara keseluruhan berkaitan dengan Deuteronomy, ditulis sekitar akhir abad 8 atau 7 BCE. (Coogan, 2008; Sproul, 1991).
[4] Genesis (11: 1) And the whole earth was of one language, and of one speech. (11: 2) And it came to pass, as they journeyed from the east, that they found a plain in the land of Shinar(Sumeria); and they dwelt there. (11: 3) And they said one to another, Go to, let us make brick, and burn them throughly. And they had brick for stone, and slime had they for morter. (11: 4) And they said, Go to, let us build us a city and a tower, whose top [may reach] unto heaven; and let us make us a name, lest we be scattered abroad upon the face of the whole earth. (11: 5) And the LORD came down to see the city and the tower, which the children of men builded. (11: 6) And the LORD said, Behold, the people [is] one, and they have all one language; and this they begin to do: and now nothing will be restrained from them, which they have imagined to do. (11: 7) Go to, let us go down, and there confound their language, that they may not understand one another’s speech. (11: 8) So the LORD scattered them abroad from thence upon the face of all the earth: and they left off to build the city. (11: 9) Therefore, is the name of it called Babel; because the LORD did there confound the language of all the earth: and from thence did the LORD scatter them abroad upon the face of all the earth.
[5] Isaiah (13:6) Howl ye; for the day of the LORD [is] at hand; it shall come as a destruction from the Almighty. (13: 19) And Babylon, the glory of kingdoms, the beauty of the Chaldees’ excellency, shall be as when God overthrew Sodom and Gomorrah. (13: 19) It shall never be inhabited, neither shall it be dwelt in from generation to generation: neither shall the Arabian pitch tent there; neither shall the shepherds make their fold there. (21: 9) And, behold, here cometh a chariot of men, [with] a couple of horsemen. And he answered and said, Babylon is fallen, is fallen; and all the graven images of her gods he hath broken unto the ground. (47: 14) Behold, they shall be as stubble; the fire shall burn them; they shall not deliver themselves from the power of the flame: [there shall] not [be] a coal to warm at, [nor] fire to sit before it.
[6] Jeremiah (25:8) Therefore thus saith the LORD of hosts; Because ye have not heard my words, (25: 9) Behold, I will send and take all the families of the north, saith the LORD, and Nebuchadrezzar the king of Babylon, my servant, and will bring them against this land, and against the inhabitants thereof, and against all these nations round about, and will utterly destroy them, and make them an astonishment, and an hissing, and perpetual desolations. (25:10) Moreover I will take from them the voice of mirth, and the voice of gladness, the voice of the bridegroom, and the voice of the bride, the sound of the millstones, and the light of the candle. (25:11) And this whole land shall be a desolation, [and] an astonishment; and these nations shall serve the king of Babylon seventy years. (25:12) And it shall come to pass, when seventy years are accomplished, [that] I will punish the king of Babylon, and that nation, saith the LORD, for their iniquity, and the land of the Chaldeans, and will make it perpetual desolations. (25:13) And I will bring upon that land all my words which I have pronounced against it, [even] all that is written in this book, which Jeremiah hath prophesied against all the nations. (50: 1) The word that the LORD spake against Babylon [and] against the land of the Chaldeans by Jeremiah the prophet. (50: 2) Declare ye among the nations, and publish, and set up a standard; publish, [and] conceal not: say, Babylon is taken, Bel is confounded, Merodach is broken in pieces; her idols are confounded, her images are broken in pieces. (50: 9) For, lo, I will raise and cause to come up against Babylon an assembly of great nations from the north country: and they shall set themselves in array against her; from thence she shall be taken: their arrows [shall be] as of a mighty expert man; none shall return in vain. (51: 33) For thus saith the LORD of hosts, the God of Israel; The daughter of Babylon [is] like a threshingfloor, [it is] time to thresh her: yet a little while, and the time of her harvest shall come. (51: 34) Nebuchadrezzar the king of Babylon hath devoured me, he hath crushed me, he hath made me an empty vessel, he hath swallowed me up like a dragon, he hath filled his belly with my delicates, he hath cast me out. (51: 35) The violence done to me and to my flesh [be] upon Babylon, shall the inhabitant of Zion say; and my blood upon the inhabitants of Chaldea, shall Jerusalem say. (51: 36) Therefore thus saith the LORD; Behold, I will plead thy cause, and take vengeance for thee; and I will dry up her sea, and make her springs dry. (51: 37) And Babylon shall become heaps, a dwelling place for dragons, an astonishment, and an hissing, without an inhabitant. (51: 38) They shall roar together like lions: they shall yell as lions’whelps. (51: 39) In their heat I will make their feasts, and I will make them drunken, that they may rejoice, and sleep a perpetual sleep, and not wake, saith the LORD. (51: 40) I will bring them down like lambs to the slaughter, like rams with the goats. (51: 41) How is Sheshach taken! and how is the praise of the whole earth surprised! How is Babylon become an astonishment among the nations! (51: 42) The sea is come up upon Babylon: she is covered with the multitude of the waves thereof. (51: 43) Her cities are a desolation, a dry land, and a wilderness, a land wherein no man dwelleth, neither doth [any] son of man pass thereby. (51: 44) And I will punish Bel in Babylon, and I will bring forth out of his mouth that which he hath swallowed up: and the nations shall not flow together any more unto him: yea, the wall of Babylon shall fall. (51: 45) My people, go ye out of the midst of her, and deliver ye every man his soul from the fierce anger of the LORD. (51: 46) And lest your heart faint, and ye fear for the rumour that shall be heard in the land; a rumour shall both come [one] year, and after that in [another] year [shall come] a rumour, and violence in the land, ruler against ruler. (51: 47) Therefore, behold, the days come, that I will do judgment upon the graven images of Babylon: and her whole land shall be confounded, and all her slain shall fall in the midst of her. (51: 48) Then the heaven and the earth, and all that [is] therein, shall sing for Babylon: for the spoilers shall come unto her from the north, saith the LORD. (51: 49) As Babylon [hath caused] the slain of Israel to fall, so at Babylon shall fall the slain of all the earth. (51: 50) Ye that have escaped the sword, go away, stand not still: remember the LORD afar off, and let Jerusalem come into your mind. (51: 51) We are confounded, because we have heard reproach: shame hath covered our faces: for strangers are come into the sanctuaries of the LORD’S house. (51: 52) Wherefore, behold, the days come, saith the LORD, that I will do judgment upon her graven images: and through all her land the wounded shall groan. (51: 53) Though Babylon should mount up to heaven, and though she should fortify the height of her strength, [yet] from me shall spoilers come unto her, saith the LORD. (51: 54) A sound of a cry [cometh] from Babylon, and great destruction from the land of the Chaldeans: (51: 55) Because the LORD hath spoiled Babylon, and destroyed out of her the great voice; when her waves do roar like great waters, a noise of their voice is uttered: (51: 56) Because the spoiler is come upon her, [even] upon Babylon, and her mighty men are taken, every one of their bows is broken: for the LORD God of recompences shall surely requite. (51: 57) And I will make drunk her princes, and her wise [men], her captains, and her rulers, and her mighty men: and they shall sleep a perpetual sleep, and not wake, saith the King, whose name [is] the LORD of hosts. (51: 58) Thus saith the LORD of hosts; The broad walls of Babylon shall be utterly broken, and her high gates shall be burned with fire; and the people shall labour in vain, and the folk in the fire, and they shall be weary.
[7] 𒀭𒀝𒆪𒁺𒌨𒊑𒋀, dNabû-kudurri-ușur, berarti “Ya Tuhan Nabu, Lindungi Anak Pertamaku”.

[8] Bel-re’ušunu, berarti ‘Bel adalah gembalanya’
[9] Antiquitates Judaicae & Contra Apionem
[10] Chronicle of Eusebius of Caesarea
[11] Penaklukan Babylonia melalui pemindahan jaluran air terjadi pada masa sebelum Nebuchadnezzar II, ketika Sennacherib (Neo-Assyria) melakukan kampanye ke Selatan.
[12] Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah para Nabi dan Raja).
[13] Cerita penyingkiran monster itu yang menurut Ibn Khaldun menggelikan.
[14] Ibn Khaldun berkomentar, buat apa membuat sebuah kota yang terlalu luas dengan benteng dan tembok tanpa penjagaan?
[15] Revisi tersebut akan terjadi dengan mudah apabila perubahan terjadi pada arti dan bukan perubahan kata. Ketika kata dan arti berubah, para pemeluknya selalu lebih enggan.
[16] 𒊬𒂵𒉌𒊬𒌷, šarka3li2šarri2, (SKL), atau 𒊬𒂵𒉌 𒈗𒌷, šarka3li2 LUGAL-ri2 (Royal Inscriptions). Šar-kali-šarri adalah anak dari Narām-Sîn, 𒈾𒊏𒄠𒀭𒂗𒍪 ‘kesayangan tuhan Sîn’.
[17] Paul-Alain Beaulieu (2018: 40-1) berpendapat lain, menurutnya ada kemungkinan bahwa Babylon telah ada sejak era ED IIIa (paleografik relative dating), dari sebuah limestone plaque yang ada di koleksi Yale. Teks tersebut berupa inskripsi Akkadia awal, yang terbaca:” […], ruller of Babbir, son of Ahu-ilum, man of Ilum-beli, man of Ur-kubi, builder of temple of Marduk, the one who set up [this votive …]. Sekuensi logogram ENSI.BAR.KI.BAR, seharusnya dibaca sebagai isshiakkum babbirki (penguasa babbir). Dan babbir inilah nama asli dari Babil (terjadi perubahan phonem /r/ ke /l/), tempat kuil Marduk berada. Namun identifikasi BAR.KI.BAR=Babylon, tidak mendapat penerimaan yang luas. Perbedaan pendapat ini sebenarnya bisa dipecahkan dengan ekskapasi, namun karena lapisan ED Babylonia (awal millennium 3 bce) berada dibawah permukaan air tanah, ekskapasi tidak bisa dilakukan. Saya sendiri belum melihat sendiri foto limestone plaque ini (karena belum mencari juga), tar lah kalo inget lagi.
[18] 𒄩𒄠𒈬𒊏𒁉, a-am-mu-ra-pí, dari kata dalam Bahasa Amorite ʻAmmurāpi (saudara penyembuh), dari kata ʻAmmu (saudara/pelindung) and Rāpi (penyembuh). Bukan Hammurabi, karena dalam cuneiform, kata agung diwakili dengan memakai huruf 𒃲, GAL, /rabû/ yang berarti ‘besar’, ‘agung’ seperti dalam kata e-gal (rumah besar/istana), lugal (orang besar/raja). Alasan penamaan namanya adalah karena ayahnya, Sîn-mubalit sakit-sakitan.
[19] Jadi bukan oleh Semiramis ataupun Nimrod (Namrud).
[20] E2-saĝ-il2 (𒂍𒊕𒅍), “berarti rumah tuhan kepala”, Kuil Babylon untuk tuhan dMarduk, AN.AMAR.UD (𒀭𒀫𒌓, lembu muda matahari), patron deity kota Babylon.
[21] dAššur, tuhan dari negara Assyria, selain itu juga nama dari sebuah kota. Dengan kontak yang semakin intens dengan wilayah selatan, Aššur diasimiliasikan dengan pantheon Sumero-Akkadia. Pada tahun 1300, ada jejak untuk mengidentifikasikan dengan Enlil. Dibawah Sargon II, Aššur diidentikan dengan Anšar (bapaknya dAnu), dalam Enuma Eliš. Pada masa Sennacherib, ada usaha reatributasi dMarduk atas dAššur, dan ritual festival tahun baru di Babylon dialihkan untuknya. Inilah salah satu pemicu pemberontakan Babylonia yang tidak berhenti.
[22] Tukultī-apil-Ešarra, Aku percaya pada anak Ešarra (Ninurta)
[23] Sargon, ditulis sar-ru-GI, SAR.RU.KI.IN, SAR.UM.GI, atau SAR.RU.GI, berarti “the king is legitimate”, menandakan kekuasaanya berasal dari kudeta.
[24] 𒀭𒂗𒍪𒋀𒎌𒌷𒁀, mdSîn-ŠEŠ.MEŠ-eri-ba, Sîn-aḫḫē-erība (arab, Sinaharib). “Tuhan Sîn telah mengganti saudaranya”
[25] Aššur-aa-iddina, tuhan Ashur telah memberikan saudara. Dia adalah anak bungsu Sennacherib dari Naqi’a, orang Aramea. Naqi’a atau Zakūtu dalam Akkadia, memiliki pengaruh besar. Sennacherib memilih Esarhaddon sebagai pewaris tahtanya (689 bce), karena anak tertuanya Aššur-nadin-šumi terbunuh oleh aliansi Elam dan Babylon.
[26] Aššur-bani-apli, Aššur adalah pencipta penerus tahta.
[27] 𒀭𒀝𒌉𒍑𒌶 dAG.IBILA.URU3, dNabû-apla-uur
[28] 𒀭𒀝𒆪𒁺𒌨𒊑𒋀 dNabû-kudurri-uur, “Ya tuhan dNabu lindungi anak pertamaku”

[29] Survey yang lebih detail oleh Schmidt pada tahun 1962 (Schmidt, 1973:165) memberikan hasil yang mengkoreksi ekskapasi Koldewey dan Wetzel sebelumnya. Survey tersebut memperlihatkan ada peninggalan 3 fondasi bangunan Menara Babel Babylonia; a). 65 m2 bata tanah liat (mud bricks) merupakan yang tertua, b). 73 m2 fondasi bata tanah liat, c). 91 m2 fondasi bata bakar (baked bricks).


Abu Ja’far Muhammad b. Jarir al-Tabari (839-923). The History of al-Tabari: An Annotated Translation, Volume 4: The Ancient Kingdoms [Ta’rikh al-rusul wa’l-muluk] p. 134 (terj. Moshe Perlmann)
Abū Zayd ‘Abd ar-Raḥmān ibn Muḥammad ibn Khaldūn al-Ḥaḍramī (1332-1406 CE). Muqaddimah Kitab al ‘Ibar (terj. Franz Rosenthal).
Archi, Alfonso. 2015. Ebla and Its Archives: Texts, History, and Society. Studies in Ancient Near Eastern Records [7]. Boston: De Gruyter.
Beaulieu, Paul-Alain. 2018. A History of Babylon, 2200 BC – AD 75. Blackwell History of the Ancient World. Chichester: John Wiley & Sons, Inc.
Bernbeck, Reinhardt. 2005. ‘The Past as Fact and Fiction: From Historical Novels to Novel Histories’, dalam Pollock, Susan & Reinhard Bernbeck (ed). Archaeologies of the Middle East: Critical Prespectives. Blackwell Studies in Global Archaeology [4]. Cornwall: Blackwell Publishing.
Coogan, Michael. 2008. The Old Testament: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.
De Bruecker, Geert. 2011. “Berossos Between Tradition and Innovation” dalam, Karen Radner & Eleanor Robson (eds). The Oxford Handbook of Cuneiform Culture. Oxford: Oxford University Press.
Finkelstein, Israel & Neil Asher Silberman. 2002. The Bible Unearthed: Archeology’s New Vision of Ancient Israel & the Origins of Its Sacred Texts. New York: Simon & Schuster, Inc.
Finkelstein, Israel. 2013. Forgotten Kingdom: The Archaeology and History of Northern Israel. Ancient Near Eastern Monographs [5]. Atlanta: Society of Biblical Literature.
Frayne, Douglas R. 1990. Old Babylonian period (2003-1595 BC). The Royal Inscriptions of Mesopotamia. Early Periods [4]. London: University of Toronto Press.
George, Andrew. 2005. “Tower of Babylon: Archaeology, History and Cuneiform Texts”. Archiv für Orientforschung
Glassner, Jean-Jacques. Mesopotamian Chronicles. Writing from the Ancient World [19]. Atlanta: Society of Biblical Literature.
Grayson, A. Kirk. 1991. Assyrian Rulers of the Early First Millennium BC I (1114-859 BC). The Royal inscriptions of Mesopotamia: Assyrian Periods [2]. Toronto: University of Toronto Press.
Grayson, A. Kirk. 1996. Assyrian Rulers of the Early First Millennium BC II (858-745 BC). The Royal inscriptions of Mesopotamia: Assyrian Periods [3]. Toronto: University of Toronto Press.
Grayson, A. Kirk & James Novotny. 2012. The Royal Inscriptions of Sennacherib, King of Assyria (704-681 BC), Part 1. The Royal Inscriptions of the Neo-Assyrian Period vol. [3/1]. Winona Lake: Eisenbrauns.
Grayson, A. Kirk & James Novotny. 2014. The Royal Inscriptions of Sennacherib, King of Assyria (704-681 BC), Part 2. The Royal Inscriptions of the Neo-Assyrian Period vol. [3/2]. Winona Lake: Eisenbrauns.
Hickok, Gregory & Steven L. Small. 2016. Neurobiology of Language. London: Elsevier.
Janssen, Caroline. 1995. Babil, The City of Witchcraft and Wine. The Name and Fame of Babylon in Medieval Arabic Geographical Texts. Ghent:
Layard, Austen Henry. 1867. Nineveh & Its Remains. London: John Murray.
Layard, Austen Henry. 1897. Discoveries Among the Ruins of Nineveh and Babylon. London: John Murray.
Leichty, Erle. 2011. The Royal Inscriptions of Esarhaddon, King of Assyria (680–669 BC). The Royal Inscription of the Neo-Assyrian Period [4]. Winona Lake: Eisenbrauns.
Leick, Gwendolyn (ed.). 2007. The Babylonian World. New York: Routledge.
Lévi-Strauss, Claude. 1963. Structural Anthropology. New York: Basic Books, Inc.
Liverani, Mario. 2014. The Ancient Near East: History, Society and Economy (terj. Eng. Soraia Tabatabai). New York: Routledge.
Liverani, Mario. 2016. Imagining Babylon: The Modern Story of an Ancient City (Studies in Ancient Near Eastern Records 11). Berlin: Walter de Gruyter.
Lönnqvist, Minna. 2010. “How to Control Nomads? A Case Study Associated with Jebel Bishri in Central Syria. West Semitic Nomads in Relation to the Urban World”, dalam L. Kogan, N. Koslova, S. Loesov, & S. Tishchenko (eds.) City Administration in the Ancient Near East. Babel & Bibel [5]: Annual of Ancient Near Eastern, Old Testament, and Semitic Studies. Winona Lake: Eisenbrauns.
Malinowski, Bronislaw. 1948. “Myth in Primitive Psychology”, dalam Magic, Science and Religion and Other Essays. Glencoe: The Free Press.
Novick, Peter. 1988. That Noble Dream: The “Objectivity Question” and the American Historical Profession. New York: Cambridge University Press.
Podany, Amanda H. 2010. Brotherhood of Kings: How International Relations Shaped the Ancient Near East. New York: Oxford Univeristy Press.
Richarson, Seth. 2007. “The World of Babylonian Countrysides”, dalam Gwendolin Leick (ed.), The Babylonian World. New York: Routledge.
Richardson, Seth. “The First “World Event”: Sennacherib at Jerusalem”, dalam Isaac Kalimi dan Seth Richardson (eds), Sennacherib at the Gates of Jerusalem: Story, History and Historiography. Leiden: Brill. 437
Selz, Gebhard. 2007. “Power, Economy, and Social Organisation in Babyloni”, dalam Gwendolin Leick (ed.), The Babylonian World. New York: Routledge.
Sproul, Barbara C. 1991. Primal Myths: Creation Myths Around the World. New York: Harper Collins.
Tadmor, Hayim & Shigeo Yamada. 2011. The Royal Inscriptions of Tiglath-pileser III (744–727 BC), and Shalmaneser V (726–722 BC), Kings of Assyria. The Royal Inscription of the Neo-Assyrian Period [1]. Winona Lake: Eisenbrauns
Tychkin, Pavel. 2015. “Myth as an Anthropological Phenomenon in the Context of Modern Cognitive Process”. Procedia: Social and Behavioral Sciences 166.
Van de Mieroop, Marc. 2016. A History of the Ancient Near East ca. 3000-33 BC, 3rd. Blackwell History of the Ancient World. Chichester: John Wiley & Sons, Inc.
Von Dassow, Eva. 2011. “Freedom in Ancient Near Eastern Societies”, dalam, Karen Radner & Eleanor Robson (eds). The Oxford Handbook of Cuneiform Culture. Oxford: Oxford University Press.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?