Bukan Herder yang dimaksud

Medio 2010, sebuah Essay yang berjudul, On the Origin of Language dari Johann Gottfried Herder[1] (1722/1966), memantik penelusuran saya terhadap literatur tertua yang ditulis oleh manusia. Sebagai tokoh penting filsuf romantis dan teolog, Herder terkenal karena memberikan pengaruh besar terhadap penulisan dan penelusuran sejarah intelektual (intellectual history/history of ideas). Menurutnya, apabila ditelusuri terus ke belakang, pada akhirnya manusia akan menemukan sebuah ‘arsip surgawi’ yang berisi tulisan pertama, dalam Bahasa pertama dan oleh orang yang merupakan warga dari negara pertama di dunia. Meski yakin akan pernyataannya tersebut, namun sebenarnya Herder-pun meragukan arsip tersebut dapat ditemukan oleh manusia sekarang[2]. Satu poin yang melekat dalam benak dari pembacaan Herder (terpisah dari isi essay-nya tersebut yang kebanyakan saya sendiri tidak setuju)[3], adalah kenyataan bahwa sesuatu pasti berawal dari suatu tempat (bisa plural) dan pada suatu masa (bisa plural juga). Dalam kerangka ini, apapun yang ada disekeliling kita adalah hasil dari berbagai perubahan jangka-panjang yang terjadi secara perlahan.

Keinginan tersebut oleh karenanya sempat terpendam beberapa lama, setidaknya sampai saya mendengar tentang cerita Epik Gilgameš[4]. Cerita tersebut mendapatkan porsi besar dalam serial documenter pseudo-saintifik berjudul Ancient Aliens (History Channel). Dari documenter tersebutlah ketertarikan saya akan literatur kuno manusia semakin tak tertahankan. Manusia berasal dari aliens? Siapa coba yang tak tertarik?

Berbicara benih jelek yang menumbuhkan hasil yang jelek, pendalaman terus saya lakukan di waktu yang senggang. Bacaan seperti Erich von Däniken’s Chariots of Gods? (1969), Graham Hancock’s Fingerprints of the Gods: The Evidence of Earth’s Lost Civilization (1995), dan apapun dari Zecharia Sitchin menjadi santapan wajib para pengikut aliens pemula seperti saya ketika itu[5]. Menerawang ke belakang, tema Ancient Aliens dan Atlantis menghabiskan sebagian dari sekitar dua tahun hidup saya[6] (fuck!). Adalah video dari Chris White’s ancientaliensdebunked.com (2012), seorang Kristen fundamentalis yang menyadarkan akan kesalahan interpretasi dan pilah-pilih bukti dari serial tersebut. Meski White sendiri-pun pada akhirnya ketahuan memiliki narasi yang ingin ia sebarkan. Namun bagi saya setidaknya video 3 jam-an darinya tersebut sementara mampu memutus kanker yang disebarkan ketiga orang sebelumnya.

Setelah kecele beberapa kali oleh orang-orang yang meletakan Descartes di depan pelacur, dua documenter yang baru saya temukan setelahnya, yaitu BBC Horizon’s The Case of Ancient Astronauts (1977)[7] dan BBC Horizon’s Atlantis Reborn (1999)[8] membenarkan arah tiang pancang pencarian saya akan literatur tertua manusia. Tidak lama setelahnya, saya mendapatkan beberapa copy dari The Epic Gilgameš yang telah diubah menjadi prosa bebas oleh Nancy Sandar (1972), versi terjemahan terikat David Ferry (1992), serta versi terjemahan dan versi untuk filolog dari Andrew George (1999; 2003)[9]. Dari yang terakhirlah saya menemukan berbagai Salinan tangan dari berbagai lempengan tanah liat (disebut tablet) yang digurati berbagai guratan seperti cakar ayam (cuneiform – huruf paku). Berbagai salinan tangan tersebut sangat memungkinkan untuk dibaca jika dibandingkan dengan berbagai foto tablet yang beredar.

Seberapa tua kah Epik Gilgameš? Jika dibandingkan dengan Literatur tertua Yunani Kuno seperti Homer’s Illiad (-710), Odyssey (-700) dan Hesiod’s Theogony (-700), versi tertua Gilgameš (ditulis dBilgameš dalam Bahasa Sumeria)[10] yang masih dalam bentuk puisi terpisah telah muncul sekitar 1400-an tahun sebelumnya, tepatnya pada Dinasti Ke-3 Ur (Ur III atau Urim III) di Sumeria (-2112/-2004)[11]. Sebagai Ilustrasi dan perbandingan jauhnya era tersebut, Cleopatra, firaun Mesir terakhir (-50an) melihat era Ur III, sama seperti saat ini kita memandang era Cleopatra. Epik Gilgameš sendiri diilhami oleh berbagai cerita di sekitar dBilgameš[12], yang apabila percaya pada Sumerian King List[13] (yang tentunya jangan sepenuhnya), adalah penguasa[14] ke lima dari dinasti pertama Unug (Uruk) paska banjir bandang. Unug sendiri sekarang dianggap sebagai kota pertama sekaligus negara pertama di dunia[15].

Sejak translasi modern dari epic ini diterbitkan lebih dari seratus tahun yang lalu, Gilgamesh langsung dikenal sebagai salah satu masterpiece literatur dunia. Rainer Maria Rilke mengatakan bahwa perjumpaannya dengan epic tersebut merupakan yang terbaik yang bisa terjadi pada seseorang. Baginya epic tersebut mewakili tema abadi yang selalu ada dalam kehidupan manusia; ketakutan akan kematian (Moran, 1980; JCS 32). Sebuah perjuangan herois Gilgamesh (2/3 tuhan, 1/3 manusia)[16] melawan kematian (Enkidu), kesedihannya ketika berhadapan dengan kegagalan dan kesadaran yang datang akan keterbatasan manusia. Epik Gilgamesh terasa personal karena berbicara tentang kehidupan, antara berbagai pilihan yang datang selama hidup dan keputusan apa yang diambil. Detail dari subplot Gilgamesh memberikan ilustrasi atas berbagai kondisi manusia. Perjalanan manusia menemukan kebijaksanaan yang ditempa oleh keberhasilan dan kegagalan. Keseimbangan antara nature dan nurture, kedudukan dan tanggung-jawab seseorang, pengagungan akan perjuangan herois dan peninggalan yang abadi. Meski pada akhirnya penemuan akan akan kenyataan bahwa semua orang bermain dalam sebuah permainan yang berakhir sama, kematian[17]. Sebelum itu? Mari Bermain!

Cerita dBilgameš itulah pada akhirnya mengantarkan saya pada sebuah dunia yang menakjubkan sekaligus menjengkelkan, dunia Assyriology. Lima puisi dBilgameš sendiri bukanlah yang tertua, tradisi literatur masih bisa ditelusuri ke belakang sebelum era Ur III. Tebakan saya ketika itu, jika memang akan ditemukan sebuah literatur tertua kemungkinan besar ada dalam tulisan tertua Cuneiform yang dipelajari oleh para Assyriolog tadi. Assyriology sendiri di Indonesia masih berupa kata yang jarang bahkan belum pernah terdengar, oleh karena itu ketika mencari bantuan professional, yang paling dekat adalah dunia yang lebih besar yaitu filologi (interpretasi teks kuno). Sebagai orang yang lugu, polos dan tak berdosa akan Cuneiform, anggapan pertama yang terlintas dalam pikiran adalah: apa sih susahnya? Jika ada huruf latin ‘a’ ya dibaca /a/, jika ada huruf ‘m’ dibaca /m/, atau abjad arab jika ada abjad ‘alif’ dibaca /a/, /i/ atau /u/, dst. Setelah itu cari kamus, beres!.

Pada bagian selanjutnya, untuk bisa menikmati kepuasan orgasmik maksimal dari Cuneiform, disarankan mendownload font Akkadian dari George Douros , menginstalnya dan me-refresh halaman ini.

Sebagai ilustrasi, tanda 𒅗, mempunyai nama utama (primary name) KA, tanda tersebut bisa dibaca /ka/ (mulut), /kiri/ (hidung), /zú/ (gigi), /inim/ (ucapan), dst. Sifat polivalensi (satu tanda banyak arti) dan sistem rebus (pemakaian tanda sesuai asosiasi bunyi dan atau arti) yang dipakai Cuneiform meski mengurangi jumlah tanda yang digunakan, namun menyulitkan orang yang kurang mengenal kehidupan sehari-hari masyarakat penggunanya. Misal, urutan tanda 𒀭𒂗𒆤, AN.EN.KID, dibaca /den-lil2/ (Tuhan Enlil), tanda pertama merupakan tanda determinatif divinitas, tanda kedua tetap dibaca /en/, tanda ketiga dibaca /lil2/, salah satu alternatif pembacaan tanda KID. Dua tanda terakhir bisa berubah pengucapan apabila diiringi oleh tanda determinatif tempat, KI. 𒂗𒆤𒆠, EN.KID.KI dibaca /Nibru/ (Kota tempat Tuhan Enlil menjadi patron), sesuatu yang tidak akan bisa terbaca tanpa mengetahui reliji kota-kota Sumer.

Setelah dua bulan terperosok jurang Cuneiform, rasa pesimisme yang dibarengi dengan cucuran air mata (lelah menatap layar computer), insomnia (ribuan huruf yang menghantui setiap malam) dan depresi berat terus mengintai[18]. Tapi beberapa hal yang membuat saya terus menatap berbagai glyph Mesopotamia. Pertama, ada orang di berbagai penjuru dunia yang mampu membacanya, atau dengan kata lain tulisan cuneiform ini masih berada dalam batas jangkauan intelejensi manusia normal dimanapun mereka berada. Kedua, harapan akan bisa membaca literatur tertua manusia dalam tulisan dan Bahasa aslinya. Ketiga, sifat studi yang membutuhkan pemahaman berbagai disiplin keilmuan yang ada. Jadi ketika bosan terhadap satu sisi kehidupan Sumer, bisa meloncat ke disiplin ilmu lainnya yang membantu juga pemahaman akan tulisan tersebut. Keempat, sebagai tulisan yang mampu bertahan sekitar setengah dari keseluruhan peradaban tulisan manusia (3000 tahun-an), Cuneiform menyediakan korpus yang banyak sekali bahkan lebih banyak apabila keseluruhan tulisan kuno yang lain digabungkan (Yunani Kuno, Mesir, Maya, dll). Kelima, tidak ada hal kelima. Keenam, hal-hal lain yang apabila dituliskan akan semakin menjauhkan dari tujuan awal penulisan cerita ini.

 

Contoh teks latihan belajar Sumeria dari Ur III, Salinan tangan dari sebuah soket pintu (Hayes,1990):
dEn-lil2, lugal-kur-kur-ra, lugal-ki-aĝ2-ĝa2-ni-ir, damar-dzuen, den-lil2-le, Nibruki-a, mu-pad3-da, saĝ-us2, e2den-lil2-ka, lugal-kalag-ga, lugal-urim5ki-ma, lugal-an-ub-da-limmu2-ba-ke4, e2-lal3 i3-nun, u3 ĝestin, ki-siskur2-ra-ka-na, nu-šilig-ge, mu-na-an-du3.
Un-tuk dEn-lil, ra-az-za ne-eg-ri. Ra-az-za ke-es-sa3-ay-ya-aĝ2-ĝa2-an-n(y)a, dAmar-dSin, di du-uk3-uĝ ol-le-eh dEn-lil di Nippur. Pa-at-ru-un[19] da-ri kuil En-lil. Ra-az-za yaĝ ga-ag-ga-ah, Ra-az-za Urim5, Ra-az-za empat pe-en3-zu-ru3, te-la-ah me4-em-ba3-aĝ-ĝu3-un kuil di ma-an-na ma3-du, kac-aĝ dan aĝ4-gu-ur, di te-em2-pa-at pe-er3-se2-em-ba3-ah-ha-an te2-er-se3-eb-bu-ut ti-dak ak-ka2-an pu-un3-na2-ah.

Sekitar beberapa saat berlatih membaca royal inscriptions (terutama Ur III) dan beberapa literature Sumeria periode OB (Old Babylonia)[20], keberanian akhirnya muncul. Dua literatur (dalam arti penuh) yang dikatakan paling tua yang ditemukan manusia sekarang mulai saya lirik kembali, za3-mi2 (𒍠𒊩) atas Kuil Keš (Keš Temple Hymn, kadang disebut juga sebagai Liturgi untuk Nintud) dan Instruksi Šurrupag (Instructions of Šurrupak) yang versi paling tua keduanya diperkirakan ditulis pada Periode ED II (Early Dynastic II) Sumer -2600an. Versi Archaic Keš Temple Hymn (AbS-Tv) ditemukan di Tell Abu Salabikh, yang dihuni sampai akhir periode ED III (-2350). Sampai saat ini, identifikasi baik terhadap kota Keš (bukan kota Kiš)[21] ataupun nama kuno atas tell tersebut belum bisa dilakukan. Sedangkan Instruksi Šurrupag versi ter-archaic ditemukan di kota Fara (Šurrupag Kuno). Seperti literatur tertua pada umumnya, keduanya berbentuk puisi, memiliki ritma tertentu, atau setidaknya terdapat punning.

Sebagaimana teks tua lainnya, teks ini biasanya berupa bagian dari rubbish dump (Ini menyulitkan penentuan absolut dating dari sebuah tablet). Kebiasaan Sumer, pengalih-fungsian tablet tanah liat yang telah di tulis ulang menjadi bahan bangunan. Pembacaan atas dua teks terkuno tersebut sulit dilakukan dan hanya dapat terbaca setelah edisi teks versi OB (OBv) dihasilkan. Ortografi (cara penulisan) periode ED (UD.GAL.NUN(?)) berbeda dalam hal sedikit sekali elemen gramatika yang dituliskan. Tulisan Sumeria bersifat mnemonic, yaitu tidak ditujukan sebagai representasi tepat suara atau pembicaraan (speech), tetapi lebih pada pemicu ingatan para penulis dan pembacanya. Terlebih lagi, pada era awal perkembangan tulisan cuneiform yang bermula dari pencatatan akuntansi (Nissen, 1998).

 

Salin tangan dari pecahan Hymne Kuil Keš, AbS-Tv (AbS-T 284; Biggs, 1971: 196), disertai doodle dari moi. Dibaca dari kotak kiri, atas ke bawah. Urutan dalam satu kotak tidak menentu.

Secara umum, Keš Temple Hymn menggambarkan pengagungan terhadap kota Keš dan Kuil Nintud (tuhan yang bertanggung jawab atas kelahiran). Komposisi ini merupakan bagian dari Decad, 10 literatur kurikulum sekolah baca tulis (é-dub-ba-a = sekolah tulisan a) di Nibru (Nippur) pada masa OB. Versi lengkap OB berjumlah sekitar 138 baris, diawali dengan pemujaan terhadap salah satu tuhan tertinggi dalam pantheon Sumeria, dEnlil dan tuhan yang menganugrahkan tulisan, dNidaba. Bagian utama dari himne ini adalah pujian dEnlil atas Keš dan Kuilnya. Perbandingan antara versi Archaic dari Tell Abu Salabikh dan versi OB memperlihatkan sedikit sekali perbedaan diantara keduanya. Mungkin karena berbentuk lagu yang memiliki ritmik tertentu, sehingga sulit membuat versi yang lebih terelaborasi tanpa merubah keindahannya. Kecuali berbagai perbedaan umun seperti yang biasa ditemukan pada teks Early Dynastic (-2900/-2350an) yaitu omisi berbagai affiks dan infiks.

1. OBv 𒉇𒉣𒂊 𒉇𒉣𒂊 𒂍𒋫 𒉆𒋫𒀊𒌓𒁺 
NAM2.NUN.E NAM2.NUN.E E2.TA NAM.TA.AB.UD.DU
nam2-nun-e nam2-nun-e e2-ta nam-ta-ab-e3
namnun.e namnun.e e.ta nam.ta.b.e
AbS-Tv

(OB render)

[… …] 𒉌 / [𒉆]𒉣𒉌 / [𒂍]𒋫 / [𒉆]𒋫𒌓𒁺
[x x] NI / [N]AM.NUN.NI / [E2].TA / [N]AM.TA.UD.DU
[x x]-ne2 / [n]am-nun-ne2 / [e2]-ta / [n]am-ta-e3
namnun.e namnun.e e.ta nam.ta.e
2. OBv 𒀭𒂗𒆤 𒉇𒉣𒂊 𒂍𒋫 𒉆𒋫𒀊𒌓𒁺 
AN.EN.KID NAM2.NUN.E E2.TA NAM.TA.AB.UD.DU,
den-lil2 nam2-nun-e e2-ta nam-ta-ab-e3
AbS-Tv

(OB render)

[𒀭𒂗]𒆤 / [𒉆]𒉣𒉌 / [𒂍]𒋫 / [𒉆𒋫𒌓𒁺 ]
[AN.EN].KID / [N]AM.NUN.NI / [E2].TA / [NAM.TA.UD.DU]
[de]n-lil2 / [n]am-nun-ne2  / [e2]-ta / [nam-ta-e3]

Contoh Transkripsi dari AbS-Tv, kolom kiri dari atas  ke bawah. Pertama dilakukan alih aksara (TRANSLITERASI), setelah itu transkripsi (bunyi), setelahnya transkripsi lagi (grammar), baru bisa dihasilkan terjemahan yang tepat. Versi OB mengikutsertakan lebih banyak unsur gramatika sumer. Namnun berarti agung/gagah. ‘e’ dalam namnun.e adalah penanda ergatif agen (pelaku). ‘e’ dalam e.ta berarti rumah atau kuil dan ‘ta’ merupakan ablative instrumental (dari, ke). ‘nam’ dalam nam.ta.b.e, adalah abstrak nominal. ‘ta’ dalam nam.ta.b.e adalah ablative dimensional prefix cross-referenced patient (mengacu ke e dalam e.ta). ‘’b’ adalah possessive suffix untuk 3rd person inanimate (mengacu ke e2-kur?). Sedangkan e’ terakhir yang merupakan gabungan dua tanda yaitu: UD.DU (tanda matahari dan kaki) berarti keluar.

nam2-nun-e nam2-nun-e e2-ta nam-ta-ab-e3
den-lil2 nam2-nun-e e2-ta nam-ta-ab-e3

Sang Agung Sang Agung keluar dari kuilnya
Enlil Sang Agung keluar dari kuilnya

Komposisi dilanjutkan dengan penggambaran kemewahan dan kegemilangan kuil Nintud, persembahan yang diterimanya, para penghuninya dan keunggulan para pemujanya. Komposisi diakhiri  dengan penggambaran fisik kuil ini yang dikatakan akan memicu kekaguman dan kegamangan bagi siapapun yang melihatnya[22]. Undangan untuk mendekati kota dan kuilnya harus diikuti rasa hormat dan kegamangan atas keduanya.

uru-še é-keš-še lú-ti-a nu-ti
dtu diĝir ti-a nu-ti

Ke kota, ke kuil Keš, Hai manusia, Mendekatlah! Jangan Mendekat!
Pada tuhan Tu (Nintu), Mendekatlah! Jangan Mendekat!

Liturgi (bagian dari ritual) tersebut memberikan banyak informasi tentang kehidupan keagaamaan masyarakat kota Keš pada periode Early Dynastic Sumeria. Tentang bagaimana prosesi keagamaan dijalankan, spesialisasi kependetaan, dll. Setidaknya sampai periode Ur III, kuil Nintud masih berjalan, meski kehidupan kota-nya telah mati. Ditengah masyarakat dengan angka kematian bayi yang tinggi (sebagaimana masyarakat pra-modern medicine), pemujaan terhadap tuhan yang esensial bagi kelangsungan kehidupan sangat sentral di Mesopotamia. Meski pada millennium ketiga BCE, dengan semakin maraknya peperangan antar negara-kota, tuhan-tuhan tersebut menjadi sedikit tersisihkan oleh tuhan-tuhan heroik yang memberi keuntungan dalam peperangan.

Komposisi lainnya yaitu Instruksi Šurrupag bergenre literatur sekular. Isinya menggambarkan pengetahuan dan kebijakan sebagai sesuatu yang diturunkan dari ayah ke anak, tidak bersumber dari deity(s) tertentu, hanya berupa tradisi saja. Šurrupag sendiri terkenal dalam literatur Sumeria lainnya sebagai ayah orang satu-satunya orang yang selamat dari banjir primordial yang diturunkan oleh dAn, dEnlil, dkk, yaitu Zi-ud-sura. Šurrupag adalah anak Ubara-tutu, penguasa Šurrupag (nama kota yang sama dengan nama anaknya) terakhir antediluvian (sebelum banjir). Nasihat Šurrupag tersebut disampaikan pada Zi-ud-sura yang nantinya akan selamat dari banjir dengan membuat perahu yang diisi berbagai binatang dan tanaman. Cerita Zi-ud-sura yang selamat ditemukan juga dalam literatur Akkadia, dengan nama lain Ut-napištim[23]. Tidak ada tema yang jelas dalam berbagai instruksi tersebut (komposisi versi OB terdiri dari 271 baris); nasihat menjaga hubungan dengan orang lain, perumpamaan, dll. Nasihat seperti; jangan membuat kebun di tengah jalan (baris 15), jangan mendekati tempat keributan (22), jangan bermain sex dengan budakmu (49), jangan menggiring kambingmu ke daerah yang tidak dikenal (44), jangan membeli pelacur (154), etc. Instruksi Šurrupag juga seperti komposisi za3-mi2 sebelumnya sangat banyak disalin di sekolah tulisan OB Nippur.

Kedua literatur tertua yang dapat ditemukan pada zaman sekarang tersebut, apabila diukur dari pertama kali penggunaan tulisan sebagai teknologi pembantu penyimpanan memori manusia di Unug (Uruk) berjarak sekitar 600-700 tahun-an[24]. Oleh karena itu, kita tidak mengetahui apakah memang keduanya merupakan literatur tertua atau bukan. Bisa disimpulkan, berbagai narasi yang (bisa) dihidupkan kembali bukanlah milik seseorang dimasa kini seperti yang Herder prediksi. Pembacaan terhadap berbagai literatur yang diekskapasi oleh para arkeolog di Iraq Modern dan sekitarnya membangkitkan kembali setengah dari usia budaya literasi yang sempat terlupakan. Sumeria oleh karenanya adalah gambaran sebuah masa lalu yang tidak seorangpun ingat, terkubur dalam ribuan bukit artifisial (tell) dan teks yang sukar dimengerti. Sayangnya berbagai perang dan situasi regional Mesopotamia Besar yang berlangsung sejak tahun 1980an menghentikan berbagai ekskapasi arkeologi di kawasan tersebut.


 

[1] Ebook ini saya temukan ketika memindahkan katalog dari excel ke calibre awalnya tertarik membaca karena ada essay dari si anak nakal pencerahan. Tulisan Herder (orang yang baru saya dengar) merupakan bagian kedua dari buku tersebut dan merupakan essays reaksi atas tulisan Rousseau.  

[2] Sebenarnya ingin memberikan detil lebih jauh mengenai tulisan Herder dan para pengkritiknya, namun situasi politik saat ini sepertinya belum memungkinkan tanpa membangkitkan rasa tidak nyaman.

[3] Ini bisa dimaklumi, karena pada tahun 1722 belum ada pembacaan berbagai tulisan kuno yang baik. Dawkin & Wood baru menerbitkan tulisan dari Ruins of Palmyra tahun (1753), Grotefend terhadap nama penguasa dalam tulisan Cuneifrom Achemenid (1802), Champollion mengenai tulisan Hieroglyph (1822).

[4] Dalam TRANSLITERASI (alih aksara, biasanya dalam huruf besar) dan transkripsi (alih tulisan) cuneiform, Akkadian dimiringkan dan Sumeria ditulis normal, š dibaca /sh/, ĝ = /ng/, ḫ = /kh/, dll. Semua subskrip (Sx) dan superskrip (Sx) tidak dibunyikan.

[5] Alasan penyebutan penyebutan para penulis dan serial tersebut, karena pada waktu bersamaan saya juga memberikan kopian terhadap beberapa orang yang juga memiliki ketertarikan sama, untuk itu saya meminta maaf. Dan bagi orang yang belum, hindarilah seperti wabah. Kecuali membaca dengan tujuan cekakak-cekikik, sangat dianjurkan.

[6] Bukan dalam arti percaya percaya, namun apabila kita mempertimbangkan penulisan sejarah masa lalu yang bisa dikatakan spotty, saya dulu melihat hipotesis2 tersebut sebagai interpretasi yang katakanlah bisa-bisa aja mungkin. Sekarang dengan semakin bertambahnya informasi tentang era tersebut, apa yang mereka utarakan bisa dikategorikan sebagai flat-out lies.

[7] Season 14 ep. 27. Untuk yang satu ini, dengan begitu popularnya buku von Däniken, sampai-sampai Carl Sagan turun tangan.

[8] Season 36 ep. 2. Menyaksikan muka Graham Hancock yang memerah mendengar berbagai argumen dan bukti dari Teori Atlantis-nya gugur ditengah bukti-bukti yang diberikan, memberikan kepuasan tersendiri.

[9] Awalnya saya hanya tertarik pada aspek evolusi sebuah narasi sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan—apa yang dikurangi (omisi), apa yang ditambahkan (adisi), perubahan nama tokoh dan cerita (transmisi), dll—namun karena kepalang tanggung, akhirnya diputuskan kenapa tidak secara keseluruhan dari akar tulisannya langsung?

[10] Sedangkan versi terlengkap yang sampai pada kita ditulis dalam Bahasa Akkadia sekitar -1300an oleh Sin-liqi-uninni.

[11] Tanda (-) atau minus digunakan dalam tulisan ini menandai tahun sebelum era umum (BCE=Before Common Era), BCE semakin banyak digunakan untuk menggantikan istilah seperti SM (Sblm Masehi) atau BC (Before Christ). Sebenarnya ada penanggalan lain yang lebih saintifik yaitu, bp (before present), dihitung ke belakang dari 1950, sejak penggunaan carbon dating oleh Willard F. Libby. Setelah ditulis, sistem minus ternyata menyulitkan ketika akan menyebutkan sebuah periode antara tahun sekitar sampai tahun sekitar, wkwkk. Now you learn! Satu-satunya cara efektif mempelajari dunia adalah mengencingi kabel listrik, begitu kata pepatah mengatakan hal tersebut seperti itu.

[12] Inilah pendapat umum para filolog. Untuk pandangan berbeda bisa dilihat di Rubio (2012; JCS 64). Ia menyatakan bahwa pembacaan 𒄑𒉋𒂵𒈩  (GIŠ.NEšešig.GA.MEŠ3) sama seperti 𒄑𒂆𒈦  (GIŠ.DUN3gunû.MAŠ), yaitu dibaca gilgameš juga, dan karenanya hanya berupa alternatif penulisan saja.

[13] Sumerian King List mengacu pada daftar para penguasa yang di Mesopotamia. Tradisi ini dimulai dari periode Ur III (-2100). Untuk mengetahui kronikel raja-raja Mesopotamia, bisa membaca Glassner’s Mesopotamian Chronicles (2004) dan Jacobsen’s Sumerian King List (1939).

[14] Ada tiga sebutan terhadap puncak dari penguasa di Sumeria, lugal (𒈗), en (𒂗) dan ensi (𒉺𒋼𒋛). Perbedaan tersebut sepertinya penting bagi masyarakat Sumeria, namun sekarang belum dapat dijelaskan secara pasti (Westenholz, 2002). Untuk pandangan beda diutarakan oleh Steinkeller “On Rulers, Priests and Sacred Marriage” (1999). Sebutan Raja (Ra-az-za) hanya penyederhanaan istilah yang dilakukan secara serampangan saja.

[15] Yoffee (2015), Algaze (2008), Liverani (1998).

[16] Tidak dijelaskan cara penghitungannya. Biasanya diilustrasikan sebagai cowo berjenggot lebat yang diuntun, dan mengapit singa di tangannya.

[17] Ada berbagai penelitian modern yang dilakukan secara saintifik, seperti melakukan perpanjangan waktu hidup dari sel biologis yang cukup menjanjikan. Beberapa futurolog memprediksi dalam beberapa waktu kedepan imortalitas mungkin dapat tercapai.

[18] Untungnya ada beberapa suplemen yang membantu.

[19] Patron, akan ditulis patrun dalam cuneiform (setidaknya perkiraan, tidak diketahui pasti). Tidak ada /o/ dalam sumeria, atau setidaknya Bahasa satu-satunya perantara untuk membongkarnya (Akkadia) tidak memiliki bunyi tersebut, ada kecurigaan bahwa Sumeria sendiri memiliki bunyi /o/, namun tidak dapat dibuktikan secara pasti.

[20] Seperti semua orang yang baru belajar pertama kali Sumeria, dua periode tersebut dikatakan yang terbaik. Ur III dan Lagaš terutama pemerintahan Gudea, meninggalkan banyak sekali royal inscription yang memiliki bentuk huruf-huruf yang indah dan jelas.

[21] Dari pembacaan teks yang ditemukan kota tersebut ditulis sebagai GU2.A.KI; UR4.KI atau AŠ2.DI.KI; namun pembacaannya (perlafalan) dari berbagai tanda tersebut belum dapat ditentukan (Biggs, 1966), sampai saat ini.

[22] Jika pembaca mengharap edisi teks lengkap terkuno seluruhnya, saat ini saya belum serajin itu. Untuk versi terkuno Keš temple Hymn lengkap di edisi oleh Biggs (1971) “An Archaic Sumerian Version of the Kesh Temple Hymn from Teil Abu Saläbikh”. Untuk Instructions of Šurrupag tertua bisa dilihat dalam Deimel (1923) “Schultexte aus Fara”. Versi lengkap Keš temple Hymn dan Instructions of Šurrupag (versi OB) bisa dibaca di website etcsl atau dalam Black, et al (2004) “The Literature of Ancient Sumer”.

[23] Dalam Gilgameš versi Sin-leqi-unini, cerita banjir tersebut disisipkan dalam tablet tanah liat terakhir (12).

[24] Englund bahkan mengatakan bahwa diantara lexical list yang ditemukan di Uruk level stratigrafi IV (Periode Late Uruk) ada kemungkinan terdapat contoh tertua dari literatur (Englund, 2004). Namun sampai saat ini berbagai tanda yang ditemukan belum dapat diartikan semuanya.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here