musikalitas Talking Heads
Talking Heads in 1977 (Photograph-Gus Stewart)

Ketika Ramones tengah berada di puncak kejayaannya, sebuah band ganjil dipasang sebagai aksi pembuka pertunjukan CBGB mereka pada pertengahan 1975. Talking Heads, nama band ganjil tersebut, dipandang terlalu “clear-cut” untuk selera para punker New York saat itu yang lalu menghujaninya dengan caci maki. Namun bukan industri musik namanya jika tanpa ironi – karena tiga tahun setelahnya justru musikalitas Talking Heads inilah yang menjungkirbalikkan skena punk New York dengan membangkitkan spirit post-punk dan membuka jalan bagi new wave. Bagi para personilnya sendiri, Talking Heads merupakan eksperimen “untuk melihat sejauh mana musik bisa membungkam orang-orang banyak omong”. Penggagas utamanya adalah David Byrne, seorang antisosial canggung yang memiliki ramuan ajaib untuk musik: dia mencampurkan teori seni, kecanggungan nilai sosial, sedikit funk, lalu dilengkapi rasa minimalisme yang membuat musikalitas Talking Heads tidak dapat dikategorikan dengan mudah pada genre manapun. Pendekatan inilah yang menghantarkan Byrne pada posisi The Renaisance Man of Rock Music. Bak Da Vinci yang mengakhiri abad kegelapan, Byrne menghadirkan sedikit penawar bagi simplifikasi musik yang berujung pada pengabaian (maksudnya tahu sendiri, bisa berarti pengabaian bakat ataupun tujuan dari gagasan musik itu sendiri). Gelagat eksperimental ini terendus oleh dua orang mahasiswa seni lainnya, Chris Frantz dan Tina Weymouth – pasangan yang kemudian mengisi drum dan bass. Masuknya Jerry Harrison melengkapi formasi Talking Heads, ia di daulat memainkan keyboard dan guitar, sekaligus backing vocals. Debut album mereka, berjudul Talking Heads: 77, memberikan kejutan dalam dua perkara. Pertama, album Talking Heads: 77 menjadi anti-thesis pada simbolisasi punk akan ketidakmapanan musik yang menjadi trend di era 1970an. Byrne dkk. menggunakan logika terbalik dari trend tersebut melalui eksposisi keahlian bermusik dan mengangkat atmosfer “intelek dan artistik” dalam karyanya. Secara sekilas saja kita bisa tahu bahwa musik mereka (yang bisa jadi hanya menggunakan kord sederhana seperti para pendahulunya dalam skena punk) memiliki lapisan multimakna. Album debut Talking Heads: 77 merupakan contoh bagaimana standar (baku) punk dipelintir sedemikian rupa sehingga memunculkan “musik punk” yang tidak biasa – lagu berjudul Psycho Killer merupakan hasil dari “pemelitiran” tersebut. Perkara kedua terkait dengan pengaruh musikalitas Talking Heads yang semakin lama semakin menjauh dari standar industri musik. Alhasil, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mendapatkan perhatian dari sesama musisi ganjil lainnya (baca: eksperimentalist). Hadirlah Brian Eno – kala itu baru merampungkan Berlin Project bersama Robert Fripp dan David Bowie – menawarkan diri untuk menjadi produser rekaman untuk album Talking Heads selanjutnya. Kolaborasi tersebut menghasilkan tiga album legendaris Talking Heads di awal era post-punk/new wave. Pengaruh Eno cukup vital karena ia kemudian memperkenalkan konsep poliritmik yang menurut New Harvard Dictionary of Music (1986) merupakan: a simultaneous use of two or more conflicting rhythms, that are not readily perceived as deriving from one another, or as simple manifestations of the same meter. Ritme khas musik Afrika ini dapat ditemukan pada album More Songs About Buildings and Food (1978), Fear of Music (1979) dan Remain in Light (1980). Eno jugalah yang memperkenalkan Talking Heads dengan jajaran musisi lain, termasuk gitaris Adrian Belew dan keyboardis Bernie Worrell, yang juga memberikan kontribusi pada musik artistik-eksperimental-setengah punk-setengah post-punk-plus funk dan new wave ala Talking Heads. Luasnya wilayah eksperimen memunculkan debat remeh temeh di kalangan kritikus musik tentang genre Talking Heads. Mereka diundang kembali di CBGB (kali ini tanpa caci maki), yang merupakan sebuah pengakuan akan keberadaan mereka di skena punk/post-punk New York. Di saat yang sama, musik mereka pun diputar di klab-klab new wave (juga diputar sebagai lagu favorit di klab-klab disko). Atas kegaduhan ini Byrne hanya berucap: This ain’t no party, this ain’t no disco (lirik dalam lagu Life During Wartime). Terlepas dari apa genre dan label apa yang melekat pada Talking Heads, satu hal yang pasti: band ini merupakan satu dari sedikit yang mampu mengalahkan tendensi imitasi akut yang diidap para oleh musisi. Dalam Psycho Killer terdapat penggalan lirik “Fa-fa-fa-fa-fa-fa-fa-fa-fa-far better. Run, run, run, run, run, run, run, away” yang ditujukan bagi siapa saja yang bertemu dengan sang psikopat pembunuh. Namun analogi ini juga berlaku dalam industri musik – bahwa kehadiran sebuah band yang sangat mumpuni, adalah pembunuh berdarah dingin bagi para musisi lain. Pengaruh (atau bisa jadi trauma) terkhusus dirasakan pada genre punk – warnanya menjadi lebih beragam: mulai dari kehadiran post-punk, art punk, hingga pada akhirya berevolusi menjadi new wave. Tanpa dimulai oleh The Renaisance Man, perubahan ini rasanya tidak dapat dibayangkan.

(Talking Head – Psycho Killer)

(Talking Heads, Cities)

Sumber Bacaan:
Randel, D.M. (1986). New Harvard Dictionary of Music. Harvard University Press Reference Library: Belknap Press.
Green, A. (2013). Talking Heads Perform ‘Psycho Killer’ at CBGB in 1975. The Rolling Stone

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?