Mengapa manusia berkelakar? Tiba-tiba saja pertanyaan tersebut muncul ketika tengah menonton film El Angel Exterminador karya sutradara kenamaan Spanyol, Luis Bunuel. Adegan makan malam tentu selalu ada dalam setiap film berlatar kehidupan aristrokat, tidak terkecuali dalam film Bunuel satu ini (bahkan plot mencekam dalam sebuah perjamuan makan malam bisa dilacak dari drama Shakespeare hingga epos karya Homer). Ketegangan yang hadir–biasanya karena kumpulan para aristrokrat tidak lain dari musuh dalam selimut–mengharuskan tuan rumah siap dengan berbagai lelucon ditangan. Humor dalam bentuk ungkapan verbal memang terbukti telah menjadi obat penangkal bagi tekanan sosial (dan konon berlaku juga untuk tekanan ekonomi hingga politik). Ketika permasalahan sudah tidak mampu lagi dihadapi secara rasional, manusia dihadapkan pada dua pilihan: menjadi gila atau tertawa. King Lear salah satu tokoh dalam tragedi Shakespeare memilih menjadi gila, namun para pembuat meme di Indonesia memilih cara yang lebih sehat: membuat lelucon dan menertawakan diri sendiri. Dosis penangkal ini hadir dalam lakon pewayangan di Jawa melalui penokohan Punakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong). Ketika kekacauan tidak lagi dapat dihindarkan–dalam istilah Jawa dikenal sebagai Gara-gara–para Punakawan beraksi untuk meredam ketegangan. Fungsi humor ternyata tidak berhenti disana, dalam kajian antropologi humor digunakan untuk menentukan usia Homo Sapien–O’Connell dan Allen (1998) mengukur usia Aborigin di Australia dengan merunut jejak kemampuan membuat lelucon dalam genetiknya hingga 35.000 tahun kebelakang. Fakta ini memberikan gambaran bahwa humor dan lelucon tidak terpisahkan dari evolusi manusia (wajar saja, masyarakat yang tidak biasa berkelakar dan terlalu serius dalam menanggapi berbagai permasalahan, biasanya memiliki relasi yang rapuh dan rentan konflik). Dengan kata lain, salah satu kunci survival adalah humor dan lelucon. O’Connell dan Allen memang tidak memberikan urutan sejarah tentang kapan dan dimana humor dan lelucon pertama di produksi manusia, namun berbagai sumber menyatakan bahwa muasal segala kelakar adalah lelucon kuno dari Sumeria yang ditulis pada abad 19 sebelum masehi–uniknya, lelucon pertama yang ditulis manusia adalah lelucon tentang kentut yang berbunyi “Sesuatu yang tidak pernah terjadi sejak jaman dahulu; seorang wanita muda tidak kentut di pangkuan suaminya”. Lelucon ini memang tidak memiliki punchline ala sarkasme Inggris abad Victoria, namun tidak dinafikkan bahwa “kentut” adalah abadi dalam dunia per-lelucon-an (keberadaannya hampir dapat ditemukan dalam berbagai humor rakyat di seluruh dunia). Dari lelucon (kentut) pertama tersebut, entah berapa jumlah lelucon yang dihasilkan manusia dalam sejarah perjalanan evolusinya. Kebanyakan hilang jejak tanpa terekam dalam bentuk tulisan. Namun Yunani Klasik memberikan tempat khusus bagi humor dan lelucon. Dalam buku berjudul Philogelos (Laughter Lover), terekam lebih dari 200 lelucon dari abad keempat dan kelima masehi. Mungkin buku seperti ini merupakan referensi tepat bagi para aristrokat agar tidak kehabisan kelakar di meja makan. Atau bagi para penggiat politik, agar dapat memaknai kehidupan lebih lucu dan santai. Berikut beberapa diantaranya, selamat tertawa.

Seorang intelek mengunjungi temannya
“Seorang intelektual datang untuk memeriksa seorang teman yang sakit parah. Ketika istri pria itu mengatakan bahwa dia telah” pergi, “intelektual menjawab: ‘Ketika dia tiba kembali, apakah kamu akan mengatakan kepadanya bahwa saya mampir?'”

Wasiat seorang kikir
“Seorang kikir menulis surat wasiatnya dan menyebut dirinya sebagai ahli waris”

Penonton yang pintar
“Seorang penonton pintar mengamati seorang pelari yang lambat: ‘Saya tahu apa yang dibutuhkan pria itu.’ ‘Apa itu?’ kata sang pengelola lomba. ‘Dia membutuhkan kuda, kalau tidak, dia tidak bisa memenangkan kompetisi!'”

Penjaga bar yang mabuk
“Seorang pemabuk membuka sebuah bar, dan menaruh beruang yang dirantai di luar”

 

Si pembenci istri
“Seorang pembenci istri sedang menghadiri penguburan istrinya, yang baru saja meninggal. Ketika seseorang bertanya, ‘Siapa yang beristirahat dengan damai di sini?’, Dia menjawab, ‘Aku, sekarang aku menyingkirkannya!'”

 

Kasim yang tidak beruntung
“Seorang kasim yang tidak beruntung menderita hernia”

 

Terlalu lelah untuk peduli
“Dua orang pemalas tertidur pulas. Seorang pencuri masuk, menarik selimut mereka dari tempat tidur, dan mengambilnya. Salah satunya menyadari apa yang terjadi dan berkata kepada yang lain, ‘Bangunlah! Ada pria yang mencuri selimut kita! ‘ Yang lain menjawab, ‘Sudah lupakan saja. Ketika dia kembali untuk mengambil kasur, mari saat itu kita tangkap dia'”

Keterangan:
Sumber tentang lelucon pertama saya dapat dari obrolan dengan direktur konten antimateri, Aang Sudrajat

Sumber Bacaan:
O’Connell, J.F., and Allen, J. (1998). When did humans first arrive in greater Australia and why is it important to know? Evolutionary Anthropology: Issues, News and Review, 6, 132-146.
Van Rheenen, E. (2018). 15 Jokes From the World’s Oldest Jokebook.

Sumber Gambar:
The New York Public Library, Art And Picture Collection, Public Domain

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here