Bacchus and Ariadne (Titian, 1522–1523)

Dalam pembuka esay singkatnya yang berjudul Die Dionysische Weltanschauung (The Dionysian Vision of the World), Nietzsche memberikan ungkapan menarik tentang cara pandang seseorang terhadap sebuah karya seni–ujarnya, ketika keterpukauan telah hilang, efek pathologis muncul; mimpi tidak lagi menyegarkan dan kekuatan menyembuhkan dari keindahanpun terhenti. Tapi kita semua tahu bahwa Nietzsche menyukai tragedi, sehingga versinya tentang keindahan pastilah tidak sehidup dan semeriah lukisan-lukisan Klimt. Pada tulisan-tulisannya kita menemu jejak kejayaan sekaligus kehancuran umat manusia, Die Dionysische Weltanschauung tidak terkecuali. Esay ini merupakan salah satu tulisan pertamanya yang digarap pada kisaran Juli-Agustus 1870. Disini Nietzsche berbicara tentang seni dan keindahan, namun terdapat satu hal yang membuatnya menjadi istimewa: bahwa jelaslah sudah siapa sosok yang paling bertanggung jawab atas pandangan-pandangan kritis Nietzsche. Sosok itu tidak lain sang dewa mabuk sendiri, Dionysus.

Die Dionysische Weltanschauung terdiri dari empat bagian yang mencakup dualisme seni Yunani Kuno, gagasan tentang kehidupan, sublimitas seni Dionysus, dan presentasi seni. Untuk memahami konteks seni yang dibicarakan sang filsuf, terdapat pijakan dasar estetika yang harus dikemukakan di awal pembahasan esay ini–yaitu istilah Nietzsche yang terkenal: nature is an artist. Menurutnya alam adalah artis yang mampu melahirkan energi, tanpa manusia sebagai media. Energi ini muncul dalam dua sifat yang bersebrangan: Apollo yang mempesona dan Dionysus yang memabukkan. Terdapat konsepsi lain dari essay ini yang juga sangat khas Nietzsche. Sebagaimana dalam buku-buku sesudahnya, ia menarik standar paling tinggi dari capaian (atau tragedi) manusia. Dalam perkara estetika Nietzsche menempatkan Hellenisme di puncak capaian tersebut. Mengapa Hellenisme? Karena Hellenisme dibangun atas pencampuran (atau bisa juga disebut pertarungan) yang seimbang antar Apollo dan Dionysus.

Dalam mitologi Yunani, Apollo dan Dionysus adalah kutub bersebrangan. Apollo mencerminkan energi mimpi yang ingin dicapai manusia, sedangkan Dionysus adalah kemabukan yang tidak menawarkan apa-apa kecuali keriangan. Apollo adalah seni adiluhung, Dionysus adalah milik rakyat jelata. Seni Apollo bersifat stasis (dalam arti diam, tak lekang waktu), seni Dionysus adalah eks-stasis (keluar dari keadaan stasis, temporal dan sejenak). Energi Apollo dapat ditemukan dalam seni materil (yang mewujud), seperti lukisan, patung, atau mural, sedangkan energi Dionysus ditemukan dalam seni non-material yaitu musik, nyanyian rakyat, juga puisi. Dua kekuatan alam inilah yang membangun gairah seni Hellenisme. Dalam penciptaan seni Apollonian yang agung, kita menemukan kemabukan fana ala Dionysian. Nietzsche menyebutnya “primordial unity”–kesatuan yang hakiki dari alam. Namun, jika memang campuran keduanya adalah formula paling tepat, mengapa Nietzsche memihak Dionysus dengan menjadikannya tokoh utama dalam banyak alusinya? Penjelasan akan hal ini (menurut saya, bukan menurut Nietzsche), setidaknya ada dua: pilihan subjektif sang filsuf yang lebih meresapi tragedi daripada akhir yang bahagia, dan karena konsepsi seni Dionysus mampu mematahkan pertanyaan krusial pada paragraf pembuka–jika keterpukauan akan keindahan telah sirna, lalu apa?.

Dalam Die Dionysische Weltanschauung, secara khusus Nietzsche mengungkapkan tentang bagaimana visi Dionysian mampu melampaui batasan keindahan. Gagasan tersebut berbunyi sebagai berikut (Nietzsche, terj. Allen, 2013: 32):

“Terdapat dua kekuatan yang mampu mengembalikan kenaifan alamiah manusia: musim semi dan anggur yang memabukkan. Keduanya adalah simbol dari figur Dionysus. Melalui keduanya, principium individuationis (yang mengacu pada eksistensi estetis Apollo) melebur, dan memunculkan kekuatan utama manusia yang berasal, tidak lain dari alam. Festival-festival Dionysus bukan hanya membentuk kesatuan antar manusia, tapi mendamaikan kembali manusia dengan alam. Mabuk (pada alam ataupun pada anggur) telah membuat manusia melupakan aturan baku: naskah pidato berganti menjadi lirik lagu, dan langkah kaki yang berjalan berubah menjadi tarian. Dalam kondisi ini, apa arti keindahan lukisan dan patung? Tidak ada. Mabuk telah mengubah manusia dari media seni (dan penikmat seni), menjadi seni itu sendiri.”

Ketika manusia menjadi seni, tidak ada lagi pemisahan antara dirinya (sebagai penikmat) dengan konsepsi keindahan. Dengan kata lain, dalam visi Dionysian, seorang penari gypsy yang mabuk akan musik dan tariannya sama indahnya dengan Pieta karya Michaelangelo. Sifatnya yang temporal menjadi kekuatan utama seni versi Dionysus. Ia akan berhenti sebelum keterpukauan hilang. Sebagaimana diungkapkan Silenus, pendamping setia Dionysus, “Best is not to be, second-best to die quickly”.

Penjelasan Nietzsche tidak berhenti disitu. Ia menambahkan satu lagi kekuatan utama dari visi sang dewa mabuk, yaitu penderitaan. Dalam gagasan Dionysian, penderitaan adalah bagian integral dari dunia, bahkan dinyatakan sebagai “the heart of nature”. Ia adalah kesatuan yang hakiki dengan kesenangan, sehingga dalam penderitaan pun dapat terdengar gema dari konsepsi alamiah tentang keindahan. Tragedi sendiri, dalam pandangan Nietzsche, merupakan perayaan dari penderitaan–a higher grolification of suffering. Penerimaan akan oposisi (pain and pleasure) inilah yang dapat menyelamatkan manusia dari kutukan “tidak lagi mampu merasakan keindahan” yang rentan terjadi pada seni Apollonian. Bersebrangan dengan perayaan tragedi Dionysus, tradisi Apollo cenderung memalingkan muka dari penderitaan sehingga yang nampak adalah sebuah mimpi indah akan gambaran ideal tentang dunia. Apollo berpijak pada kemapanan dan standarisasi. Kejelasan langkah dan visi ideal adalah kekuatan utama dari seorang Apollonian. Prinsip inilah yang menjadikan Apollo dikenal sebagai Dewa bagi para idealist–Principium Individuationis (sebuah prinsip yang menekankan bahwa setiap entitas harus membuka diri dan tidak menjadi subjek pada pemikiran lain). Dalam praktiknya cara ini lebih digemari para penguasa daripada visi Dionysian yang sukar ditebak. Namun, secara alamiah, masyarakat yang dibangun diatas mimpi, tentu akan bertemu dengan realita ketika ia bangun di pagi hari.

Lalu bentuk presentasi seni apa yang menjadi esensi Dionysian? Tanpa disangka-sangka, Nietzsche menjawab: teriakan–sebuah pesan sublim yang didalamnya terangkum kebahagian sekaligus kepedihan. Karena sifatnya yang bersebrangan dari standar baku seni, penganut Apollo pada masa Hellenisme mengubur dalam-dalam visi Dionysus, walau secara diam-diam mereka tetap mengadakan ritual Dionysian dengan mabuk-mabukkan dan pesta-pesta terlarang agar dorongan liar mereka dapat tersalurkan. Namun lambat laun, sang dewa semakin populer, bahkan para peramal Dhelpi yang terkenal menolak tegas pada gagasan baru, pada akhirnya memberikan ruang bagi ritual Dionysus untuk bersandingan dengan pemujaan bagi Apollo. Pengakuan atas ritual tersebut semakin memperkuat pengkultusan Dionysus, bahkan melampaui ketenaran Apollo sendiri. Ia beralih nama menjadi Bacchus dalam mitologi Romawi, pengaruhnya pun dapat dilacak hingga seni modern. Mungkin karena visi radikalnya, atau karena berpijak pada dua kekuatan (temporalnya dan tragedi), maka visi Dionysian lebih terasa alamiah dan manusiawi. Heraclitus (Art and Thought of Heraclitus, 1979), mengungkapkan bahwa kekuatan visi Dionysus terletak pada definisinya yang janggal tentang harmoni “yang merangkum keseluruhan ataupun yang partial, konvergen ataupun divergen, konsonan ataupun dissonan, harmoni yang menyatukan atau tidak sama sekali”. Visi harmoni inilah, yang menurut Nietzsche, mampu memunculkan kesatuan primordial dari kehendak dan menjadi penangkal dari kebosanan akut yang melanda umat manusia.

Sumber Bacaan:
Kahn, C. 1979. The Art and Thought of Heraclitus: An Edition of the Fragments with Translation and Commentary. Cambridge: Cambridge University Press
Nietzsche, F. 1928. Die Dionysische Weltanschauung, Leipzig: Richard Hadl  (diterjemahkan oleh Allen, I. J. 2013. The Dionysian Vision of the World, Minneapolis: Univocal Publishing)
Cox, C. 1977. A Companion to Nietzsche (Ed. Keith Ansell Pearson). Nietzsche, Dionysus, and the Ontology of Music. Oxford: Blackwell Publishing

5 COMMENTS

  1. Gambaran Nietzsche dalam esaynya hanya membahas dualisme seni. Tentu banyak hal lain yg dapat digali dari era ini, namun esay ini membatasi diri hanya pada ranah seni.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?