• Ideas
  • About Us
Ideas Puisi Gabriela Mistral

Puisi Gabriela Mistral

-

Nama Gabriela Mistral tidak dapat dipisahkan dari dunia kepenyairan mengingat kiprahnya sebagai penyair Latin pertama yang memenangkan nobel sastra pada tahun 1945. Pengakuan dunia atas puisi-puisi Gabriela Mistral datang bersama surat tertanda HJ. Gulberg, sorang perwakilan dewan Nobel, yang menggambarkan karya Mistral sebagai: ‘Air mata seorang ibu yang diremehkan oleh masyarakat, bersuara kembali melalui kekuatan puisi untuk meraih kembali kemuliaan’. Gambaran inilah yang kemudian terpatri di benak masyarakat Chile (dan banyak negara lain yang pernah bersentuhan dengan pemikiran Mistral). Ia adalah figur ibu: penyayang dan pendidik–yang mana sebagian besar puisi, esay dan prosanya didedikasikan untuk cinta dan pendidikan. Sayangnya (seperti banyak pujangga besar lainnya), cinta bagi Mistral adalah salib yang harus dipikul. Bahkan ketika menerima penghargaan nobel, Mistral tengah berduka atas tragedi yang menimpa anak angkatnya–Juan Miguel Godoy, bunuh diri dengan menenggak arsenik (Fiol-Matta, 2002), sebuah cara bunuh diri paling dramatis dari abad 19 (dipopulerkan oleh Emma Bovary, heroin dalam karya Gustave Flaubert). Namun suasana duka bukanlah hal baru bagi Mistral–ia telah tenggelam sejak lama. Kumpulan puisi pertamanya berjudul Sonetos de la Muerte (Soneta Kematian, 1914) terbit setahun setelah Romelio Ureta, pacar pertama Mistral, mengakhiri hidupnya sendiri dengan menembakkan pistol ke kepala. Hughes (1957) merangkum dua tragedi tersebut dalam sebuah pernyataan: Out of love, her personal tragedy “lost its private character and became a part of world literature”. Puisi Mistral menjadi begitu kuat karena bersentuhan dengan subjek paling universal, yaitu kehilangan. Dan walaupun tidak memiliki anak, Mistral tahu betul bahwa tidak ada duka yang lebih getir dari seorang ibu yang kehilangan anaknya–sehingga alusi inilah yang kerap ia gunakan dalam puisi dan prosanya. Adapun tulisan ini akan memberi bobot lebih pada pijakan kedua dalam kehidupan Mistral, yaitu pendidikan. Pemilihan tema ini bukan berarti sisi kepenyairan Mistral kurang menarik perhatian, tapi karena gagasan Mistral begitu menggelitik, menurutnya: mengajar, adalah praktis puitik paling tinggi.

Atas perannya sebagai pendidik jugalah, seorang gadis bernama Lucila Godoy y Alcayaga, mengambil nama pena Gabriela Mistral dari dua penyair favoritnya, Gabriele D’Annunzio and Frédéric Mistral. Dalam pikiran Lucia muda, tidaklah pantas seorang pendidik mengemukakan emosi secara terbuka (Hughes, 1957). Namun upayanya untuk bersembunyi dibalik nama pena ternyata sia-sia–kiprahnya dalam menyuarakan akses pendidikan kepada seluruh masyarakat Chile telah memberinya tempat terkemuka di Kementrian Pendidikan. Karirnya dalam dunia pendidikan semakin terbuka ketika tahun 1922, Mistral diundang pemerintah Meksiko untuk menjadi konsultan dalam reformasi pendidikan–pada kesempatan ini Mistral diminta untuk mendaftar buku yang layak (dan seharusnya) dibaca oleh anak-anak sekolah. Dari pengalamannya di Meksiko lahir prosa terkenalnya, Lecturas para Mujeres (Readings for Women). Tulisan ini lantas menempatkan Mistral berada di tengah diskursus gender, namun ternyata pandangan Mistral tidak terbatas pada pendidikan berbasis gender semata, tapi pedagodi pendidikan secara luas. Puncak karirnya dalam dunia kependidikan terjadi pada tahun 1926 ketika Mistral ditunjuk sebagai sekretaris Liga Bangsa-Bangsa pada komite kerjasama intelektual. Namun setinggi apapun jabatannya, seorang Mistral adalah sosok yang melampaui aktivisme politik dan memilih untuk mengabdikan diri sebagai seorang pendidik. Melalui karya-karyanya, Mistral memberikan perhatian pada literasi dan pendidikan dasar. Fiol-Matta (2002) dan Valentinuzzi (2018) berhasil merangkum kiprah Mistral dalam dunia pendidikan melalui uraian tentang pedagogi, literasi, juga tentang puisi dan pendidikan. Berikut sekilas gambaran Mistral dalam praktis puitik tertingginya.

Gabriela Mistral: Obrolan tentang Pedagogi

Pandangan utama Mistral terkait pedagogi terletak pada pentingnya pemisahan pendidikan secara usia, namun pemisahan ini harus berkesinambungan–dalam arti, pendidikan dasar dan pendidikan tinggi saling tergantung satu sama lain dan tidak terpisahkan. Pemikiran Mistral juga menyasar kurikulum dasar yang harus diringkas dan melengkapi diri dengan studi tentang humaniora. Dalam hal ini ia menyarankan buku pendidikan dasar yang “menarik” dengan memadatkan aspek estetika melalui materi visual. Menurut Mistral: materi ajar yang buruk tidak akan memberi apapun, buatlah buku ajar yang menarik, jika perlu setara dengan lukisan Vermeer (pelukis Belanda pada abad 17). Estika, dalam gagasan Mistral, akan memberi jarak pada cetakan pendidikan yang homogen (dimana pendidikan hanya menjadi siklus pencetak tenaga kerja). Mistral juga menekankan pentingnya cerita rakyat dalam kurikulum–pengenalan cerita rakyat pada anak-anak dapat memberikan kekuatan metafora dan penguasaan bahasa yang baik. Dalam tulisan berjudul Children’s poetry and folklore (1935), gagasan Mistral tentang pengajaran cerita rakyat bersinggungan dengan narasi identitas dan nasionalisme.

Gabriela Mistral: Literasi, Benci tapi Rindu

Sebagai pendidik, Mistral tahu betul sulitnya menumbuhkan kesenangan membaca pada murid-muridnya. Satu hal yang kemudian ia sarankan adalah membuat buku ajar dengan banyak gambar untuk menumbuhkan ketertarikan pada buku sejak dini. Mistral juga mendorong untuk membuat berbagai bentuk visual tentang materi ajar melalui penceritaan atau film pendek. Dalam catatannya: “I have recollections that date as far back as my first years as a schoolteacher. Since then, I always regarded the image as an entity vastly superior to the word”.  Namun gagasan ini ditentangnya sendiri ketika ia beranjak tua melalui tulisan berjudul The Library and the School, 1947. Dalam buku tersebut Mistral memaparkan konsekuensi buruk atas penggantian kata-kata, prosa dan esay dengan gambar. Dalam kata-kata Mistral sendiri, it characterizes as “another realm”–sehingga esensi dari artikel, prosa, esay ataupun puisi, tidak dapat dituangkan dalam bentuk lain.

Gabriela Mistral: Puisi dan Pendidikan

Valentinuzzi (2018) menyatakan, bahwa sangat jarang adanya kehadiran baris puisi mampu mengubah sudut pandang masyarakat seperti yang berhasil dilakukan Mistral. Pada tahun 1919 (yang diterbitkan kembali tahun 1924), Mistral menghentak dunia pendidikan melalui sebuah karya berjudul Oración de la maestra (The Teacher’s Prayer). Prosa ini memberi sebuah gambaran tentang seorang guru yang menjadi acuan ideal bagi pendidik dimanapun. Selanjutnya di tahun 1924, Mistral membuat komposisi berjudul Ternura (Tenderness) yang berisi tentang relasi antara keluarga. Tenura adalah kumpulan puisi liris yang didedikasikan untuk ibu dan kakaknya, namun diluar ekspetasi, komposisi ini berhasil membuka diskursus tentang pentingnya pendidikan dalam keluarga. Adapun antologi puisi Mistral berjudul Tala (Longing, 1938) memberi sindiran kuat pada isu pendidikan pada masyarakat marginal. Pendidikan masyarakat adat (khususnya di Amerika Latin) yang awalnya terbengkalai mulai mendapat perhatian. Paska kematiannya, esai-esai pendidikan Mistral berhasil disusun dan diterbitkan pada tahun 1982 dengan judul Magisterio y Niño (Schoolteaching and children). Buku ini menjadi rangkuman atas legasi panjang Mistral dalam dunia pendidikan.

Melalui uraian diatas, agaknya memang tidak ada sekat yang jelas antara dunia kepenyairan dan pendidikan bagi seorang Gabriela Mistral. Puisi dan gagasan tentang pendidikan hadir dalam bentuk yang berkelindan–ia berpuisi ketika tengah mendidik murid-muridnya; tapi juga sebaliknya, ia mengajarkan puisi kepada anak muridnya. Sebagai penutup atas tulisan singkat ini, penggalan puisi/prosa Mistral berjudul The Teacher’s Prayer nampaknya mampu menjadi penegas peran Mistral dalam dua dunia yang digelutinya. Di bait penutupnya Mistral seakan mengungkapkan cinta sekaligus menahan duka: “let me remember, from the paleness of the painting by Velasquez, that to teach and to love intensely upon earth means to come to the last day with the spear of Longinus piercing’ one’s side that is glowing with love” (The Teacher’s Prayer, 1924).

Sumber Bacaan:
Fiol-Matta, L. 2002. A Queer Mother for the Nation: The State and Gabriela Mistral. Minneapolis: University of Minnesota Press

Hughes, Langston. 1957. Selected Poems of Gabriela Mistral. Bloomington: Indiana University Press.
Mistral, G. 1924. The Teacher’s Prayer. Journal of Education.    
Valentinuzzi, ME. 2018. Gabriela Mistral: Who She Was and What She Did for Education. IEEE Pulse, 9(2): 32-33. 

Puisi Gabriela Mistral 2 puisi gabriela mistral
Aliyuna Pratistihttps://antimateri.com
aliyunapratisti@antimateri.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Lukisan Mitos Picasso (Ovid Bagian 3)

Epilog Kehadiran jajaran lukisan mitos Picasso bukanlah sebuah kejutan besar dalam dunia seni lukis. Ia tidak asing dengan gagasan Yunani...

Syair Epik Metamorphosis (Ovid Bagian 2)

(syair yang terbit sebelum pengasingan) Bagi seseorang yang tumbuh besar membaca mitos-mitos Yunani dan Romawi, menemukan syair epik metamorphosis karya...

The Anarchy of Silence

Terdapat segitiga sakral dalam musik yang membuat musik memiliki makna namun di saat yang sama, kerap memunculkan perdebatan tidak...

Adoration pour Jean-Jacques Rousseau

Setidaknya, ada dua cara untuk jatuh cinta. Pertama, Coup de foudre – seperti tersambar petir, dan kedua comme un...

Pseudo Nationalism dan Kisah Tentang Joao Soares

Namanya Joao Manuel Soares. Saat ini ia tinggal di Bandung bersama istri dan anak-anaknya. Ia dilahirkan di Maubisse Villa,...

Jejak Melquíades di Negeri tanpa Batas

Gabriel Garcia Marquez membuat sebuah lanskap magis bernama Macondo dalam novel terbaiknya: One Hundred Years of Solitude. Novel...

Must read

Suatu Hari di Vodkubuzia

Buku berjudul Culture, Identity, and Politics (diterbitkan 1987 oleh...

Pasolini dan Abu Gramsci

Bukan sebuah kebetulan jika tulisan pertama saya di Zine...

You might also likeRELATED
Recommended to you