• Review
  • About Us
Review Pasolini dan Abu Gramsci

Pasolini dan Abu Gramsci

-

Bukan sebuah kebetulan jika tulisan pertama saya di Zine ini adalah tentang Pasolini, seorang penyair multitafsir yang dibunuh karena filmnya dianggap terlalu tajam mengkritik sisi gelap fasisme, hingga sang penulis/sutradara yang kemudian dicap terlalu komunis itu, mati digilas mobilnya sendiri berkali-kali. Kematiannya, sebagai mana film terakhirnya, sangat anti-puisi. Sebuah eksploitasi kekerasan tanpa tedeng aling-aling yang efek horornya lebih menakutkan dari film hantu manapun. Salo, lantas dilarang diputar di berbagai negara – wajar, karena manusia selalu berada pada posisi penyangkalan. Terlepas dari segala kontroversi karya-karyanya, puisi Pasolini adalah sebuah sanctuari. Atas kekaguman berlebihan saya pada puisi-puisinyalah, Pasolini sebagai salah satu penyair penting (terutama dalam hidup saya), saya angkat sebagai tulisan pembuka pada Zine ini.

Pasolini pada mulanya dikenal sebagai penyair, penulis essay, dan redaktur surat kabar. Baru belakangan kemudian ia menggeluti film dengan segala aspek neo-realisme didalamnya. Saya akui, belum semua puisinya berhasil saya kumpulkan, dikarenakan kendala bahasa dan lain sebagainya, namun diantara seluruh tulisannya, terdapat sebuah memoar panjang tentang Gramsci dan gagasan-gagasannya yang ia tulis dengan sangat magis. Gramsci belum pernah terdengar begitu puitis sebelumnya, dan puisi Pasolini berhasil menangkap kegelisahan sang pemikir terpenjara itu dalam baris-baris yang mirip mimpi – Mimpi bulan Mei dimana langit jadi buta karena mendung, dan orang-orang yang terdiam, basah dan tetap terdiam selamanya– adalah bait pembuka puisinya. Ia mendekati Gramsci bukan sebagai murid yang meletakkan buku di meja dan menulis segara gagasan yang dilontarkan sang Guru, tapi sebagai seorang anak yang menangis di kuburan ayahnya, tersedak duka dan meminta penjelasan mengapa dunia yang ditinggalkannya tidak lebih baik, bahkan tetap merupakan pengulangan kebobrokan, sebuah awal yang sekaligus menjadi akhir.

Here’s to certify the seed not yet dispersed the ancient domain, these deaths attached to a possession sinking over the centuries its abomination and his greatness, and together, possessed, that vibration of anvils, on the sly, choked and grieving – resigned from the ward – to certify the end

Beban sejarah ini, yang ditinggalkan ayah untuk generasi selanjutnya, digambarkan Pasolini dalam karyanya yang berjudul the Lutheran Letters, sebuah gugatan bagi mitos-mitos Yunani (dan agama, pada akhirnya) yang memberi beban terlalu berat bagi manusia sejak usia dini – Pasolini mengeluhkannya dalam The Unhappy Youths. Namun, sebagaimana anak yang beranjak dewasa, dalam Abu Gramsci, gugatan ia ubah menjadi sebuah nyanyian. Ia lantas bernyanyi bersama orang-orang miskin yang terasing dari gairah duniawi, orang-orang yang paling merasakan bobroknya dunia, untuk yang menangis dari kejauhan, untuk yang membisu dalam kekentalan cahaya lilin.

Abandoned in the heat the morning sun – that man, now, shaving the yards, on the fixtures, heated – desperate vibration scrape the silence who knows hopelessly old milk, of empty squares, of innocence.

The Ashes of Gramsci terdiri dari rangkaian sajak dalam beberapa bagian yang ditulis pada rentang tahun 1954 – 1957. Selain dalam buku ini, pengaruh Gramsci terlihat jelas dalam berbagai tema yang ia geluti. Dalam film, Accatone sebagai contohnya, Pasolini mengkritik berbagai bentuk konsumerisme masyarakat Italia paska perang. Sedangkan film documenter La Rabbia (the Rage), merupakan upayanya untuk memahami masyarakat yang kecanduan perang dan kekerasan, mengantarkan pada sebuah kesimpulan bahwa kekerasan, adalah efek samping dari matinya kecantikan yang dibunuh perlahan-lahan oleh borjuis dan ide-idenya tentang masyarakat industri. Sebuah kesimpulan yang ia sajikan dengan berbagai cara yang kontroversial. Rasanya, Pasolini mencintai sekaligus membenci kehidupan dengan caranya sendiri.

I hate the world – in his misery contemptuous and lost – a dark scandal of consciousness …

Pasolini dan Abu Gramsci 1 puisi pasolini
Aliyuna Pratisti
moderasi via editor@antimateri.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ali ibn Nafi: Superstar Musik Andalusia

Ibnu Khaldun, dalam Muqaddima (1377)–pada bab berjudul the craft of singing (and music)–mengisahkan keberadaan seorang musisi multitalenta bernama Ziryab...

Puisi Nasib Buruk: Pascual Duarte

Butuh waktu lama bagi saya untuk mengatasi trauma selepas membaca novel Camilo Jose Cela yang tersohor: La Familia de...

Menara Babel dan Shams Tabrizi Abad 21

“Apa yang kamu baca?” Shams Tabrizi berkata pada Rumi yang tengah asik membaca buku – Rumi, yang pada awalnya...

Mumia Abu-Jamal: Api dari Lokap

Sekalipun mulut disumpal, tangan diborgol, membaca dilarang, makanan diracuni, hingga tidur pun kerap dirongrong sipir, tak menjadi kendala bagi...

Kaum Arab Hadrami di Indonesia: Sejarah dan Dinamika Diasporanya #2

Sambungan dari Bagian #1 Dinamika Asimilasi Arab Hadrami: Eksklusifme Kaum Sayyid Kaum Arab Hadrami yang datang ke Nusantara sebelum abad...

Pseudo Nationalism dan Kisah Tentang Joao Soares

Namanya Joao Manuel Soares. Saat ini ia tinggal di Bandung bersama istri dan anak-anaknya. Ia dilahirkan di Maubisse Villa,...

Must read

Tiga Bingkai Hujan

Terdapat dua maestro seni cetak dan lukisan yang mengangkat...

Legion Blues Inggris: dari Idealist hingga Post-Impresionist

Ketika Alexis Korner, musisi sekaligus penyiar BBC, mempopulerkan blues...

You might also likeRELATED
Recommended to you