• Review
  • About Us
Review Musik Musik Minimalism: Repetisi, Transenden dan Teknologi

Musik Minimalism: Repetisi, Transenden dan Teknologi

-

Ada kalanya, kami, para editor pada web antah berantah ini, sekilas mengkhawatirkan tentang arah pembahasan musik yang semakin menjauh dari genre popular. Namun kekhawatiran ini hilang begitu saja–bahkan menjadi tidak signifikan–ketika kami (sebagai pendengar dan bukan kritikus atau semacamnya) berhadapan dengan karya para maestro yang memaksa untuk tunduk terkagum-kagum pada keajaiban seni suara yang dihasilkan. Seperti halnya kali ini: musik minimalism[1] kembali hadir dalam perbincangan (sebelumnya telah diulas sekilas pada artikel musik minimal) dan kembali memaksa kami untuk tunduk terkagum-kagum. Pemicunya adalah minimalism itu sendiri–bukan trend atau permintaan–tapi karena ulasan sekilas yang telah kami buat sebelumnya masih menyisakan ruang (dengan besaran luas signifikan) dalam pembahasan genre minimalism. Kali ini minimalism akan kami bahas melalui empat karya maestro yang berbagi visi; empat karya yang dinobatkan para kritikus sebagai tonggak revolusi musik[2]; empat karya yang menterjemahkan apa sebenarnya musik minimalism[3]; empat karya yang menggugah pemaknaan baru akan musik[4]; empat karya musik yang mendefinisikan ulang waktu dan ritmik[5]; empat karya tentang bunyi dan seni; empat karya puncak musik minimalism; empat karya harmonisasi dari sebuah proses bermusik; empat karya musik yang berbentuk repetisi dan bukan sekuensi; empat karya musik transenden dengan akar tradisi[6]; empat karya eksperimen musik yang bersinergi dengan kehidupan dan menaklukan teknologi; empat karya La Monte Young[7], Terry Riley[8], Philip Glass[9], dan Steve Reich[10]; empat karya dalam repetisi, transendens, dan teknologi[11]; empat karya yang memberi pengaruh kuat pada perkembangan musik masa kini[12].

Repetisi, Transenden, dan Teknologi

(La Monte Young, The Fire is a Mirror)

(Terry Riley, In C)

(Steve Reich, Come Out)

(Philip Glass, Two Pages)

Sumber:
Carl, Robert. 2010. Terry Riley’s In C. Oxford: Oxford University Press
Bernard, Jonathan W. 1993. “The Minimalist Aesthetic in the Plastic Arts and in Music”. Perspectives of New Music, 31(1): 86–132
Hazlewood, Charles. 2018. Tones, Drones and Apreggios: The Magic of Minimalism. BBC Four
LaBelle, Brandon. 2006. Background Noise: Perspectives on Sound Art. New York and London: Continuum International Publishing
Reich, Steve. 1968. Music as Gradual Process. on Steve Reich Essays
Watson, Steven. 2003. Factory Made: Warhol and the Sixties. New York: Pantheon

Keterangan:
[1] Istilah musik minimalism dikemukakan (entah) oleh kritikus Michael Nyman, Jonathan Bernard, Dan Warburton, atau Tom Johnson (hingga kini masih dalam perdebatan). Penggunaannya sendiri menjadi penciri musik dengan gaya repetisi dan penggunaan teknologi rekaman yang berkembang pada akhir kisaran tahun 1960 di California dan New York. Dalam perkembangan musik, minimalism kental dipengaruhi oleh para futurist italia (1910), musik concret yang berkembang di Perancis dan Jerman (1950), eksperimen ekstrim John Cage melalui karya 3’44 dan mengambil pengaruh ritme dan tempo repetitif-transendens dari musik tradisi.    

[2] Dalam pembuka film dokumenter BBC berjudul “Tones, Drones and Apreggios: The Magic of Minimalism”, Charles Hazlewood memaparkan sebuah gagasan menarik tentang perkembangan musik di abad 20–menurutnya minimalism adalah musik klasik yang lahir paska perang dunia. Hazlewood juga memaparkan bahwa kehadiran musik minimalism tidak dapat dipisahkan dari perkembangan musik sebelumnya–minimalism lahir dengan gagasan pendobrakan akan pakem musik klasik yang didasarkan pada sekuensi (ia menyebutkan, seakan-akan setiap musik harus ada “awal” da nada “akhir”), dalam minimalism, logika ini dihilangkan.
[3] Para musisinya sendiri keberatan akan penggunaan istilah minimalism; Steve Reich menyarankan: “coba tanya Debussy apakah dia mau disebut impressionist?”. Oleh karena itu, apa arti sebenarnya dari musik minimalism….siapa yang peduli?
[4] Minimalism melahirkan berbagai gagasan baru dalam seni suara: seperti  penggunaan dengung (pengembangan dari musik tradisi india atau pengembangan dari hasil eksperimen surreal Stockhaussen), noise, looping, pemaksimalan “delay” (jeda antara nada yang dihasilkan) dalam rekaman multitrack, hingga teknik rekaman yang dikenal dengan process music.
[5] Tempo dalam musik klasik harus merupakan harmoni yang dihasilkan melalui “struktur” yang disebut serialisasi dan mengarah ke (masa) depan, maka dalam minimalism, pandangan monolitik akan tempo ini ditentang dengan kehadiran repetisi.
[6] Akar tradisi musik minimalism (menurut La Monte Young) antara lain: nyanyian Greogorian, musik india, musik tradisi Gagaku dari Jepang, dan Gamelan dari Indonesia.
[7] Karya yang menjadikan La Monte Young dikenal sebagai salah seorang revolusioner musik adalah Compositions (1960). Dalam komposisinya, Young menggabungkan musik dengan seni pertunjukkan, sebagai sampel adalah komposisinya yang berjudul #2 (“Build a fire”): “Instructions: Build a fire in front of the audience. Preferably, use wood although other combustibles may be used as necessary for starting the fire or controlling the kind of smoke. The fire may be of any size, but it should not be the kind which is associated with another object, such as a candle or a cigarette lighter. The lights may be turned out. After the fire is burning, the builder(s) may sit by and watch it for the duration of the composition; however, he (they) should not sit between the fire and the audience in order that its members will be able to see and enjoy the fire. The performance may be of any duration. In the event that the performance is broadcast, the microphone may be brought up close to the fire”. Sebuah musik yang dihasilkan dari suara percikan api, tidak lebih. Karya fenomenal lain dari Young adalah Theatre of Eternal Music, sebuah karya musik dengan konsep drone (degung), yang diputar 24 jam dalam sebuah ruangan, yang memungkinkan setiap sudut ruangan mampu menghailkan dengung yang berbeda. Theatre of Eternal Music atau dikenal juga dengan sebutan Dream House, masih dibuka hingga saat ini.
[8] Terry Riley menggubah salah satu karya minimalism paling berpengaruh, berjudul In C. Sebuah komposisi anarki dengan struktur sederhana, semua dimainkan dalam kunci C Mayor. Yang menjadikannya berbobot adalah: multi layer suara yang dihasilkan dengan tempo “suka-suka” para musisi. Robert Carl (2010) menyebutnya: musik hakiki, setelah mendengarnya, kita tidak memerlukan apa-apa lagi.
[9] Dalam berbagai sumber, nama Philip Glass selalu ditempatkan setelah Steve Reich berdasarkan pada kronologi waktu, namun dalam tulisan ini pengecualian didasarkan pada susunan rima kalimat. Adapun pembahasan lebih lengkap tentang Phillip Glass dapat dilihat pada tulisan Sekilas tentang Musik Minimal
[10] Dalam kata-kata Reich sendiri (dalam esay berjudul Music as Gradual Process): “I am interested in perceptible process, the process is happening throughout the sounding music, to facilitate closely detail in listening, musical process should happen extremely gradually” – dalam pernyataan tersebut, tercantum dogma music gradual Steve Reich, yaitu perubahan gradual dalam membentuk harmonisasi musik. Eksperimen terkenal Reich lainnya adalah Piano Phase dan Come Out.
[11] Esensi dari musik minimalism: repetisi, transenden, dan teknologi.
[12] Pengaruh musik minimal dapat ditemukan secara nyata pada karya-karya The Velvet Underground (akhir 1960an), pada band Krautrock (diantaranya Can, Kraftwerk hingga NEU! di era 1970an), space rock dan musik disko yang berkembang di era 1980an, noise rock pada kisaran 1990an di skena bawah tanah New York, dan post-rock yang berkembang paska 2000an.

Musik Minimalism: Repetisi, Transenden dan Teknologi 1 revolusi musik,musik steve reich,musik la monte young,musik philip glass,musik terry riley
Aliyuna Pratistihttps://antimateri.com
aliyunapratisti@antimateri.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Lukisan Mitos Picasso (Ovid Bagian 3)

Epilog Kehadiran jajaran lukisan mitos Picasso bukanlah sebuah kejutan besar dalam dunia seni lukis. Ia tidak asing dengan gagasan Yunani...

Syair Epik Metamorphosis (Ovid Bagian 2)

(syair yang terbit sebelum pengasingan) Bagi seseorang yang tumbuh besar membaca mitos-mitos Yunani dan Romawi, menemukan syair epik metamorphosis karya...

Menertawakan Banalitas

Pada suatu hari saya mengunjungi radio RRI Bandung dalam rangka menyelenggarakan acara komunitas yang concern terhadap bidang politik. Seperti...

Imajinasi Lintas Budaya

Tidak banyak yang saya tahu tentang literatur Afrika. Benua itu terasa begitu jauh walaupun saya tinggal di Bandung –...

Kenangan Terakhir Bersama (Aki) Achdiat Karta Mihardja

Mungkin generasi muda sekarang tidak banyak yang mengenal siapa itu Achdiat Karta Mihardja (6 Maret 1911-8 Juli 2010). Aki,...

Philogelos (Antologi Tawa)

Mengapa manusia berkelakar? Tiba-tiba saja pertanyaan tersebut muncul ketika tengah menonton film El Angel Exterminador karya sutradara kenamaan Spanyol,...

Must read

Jean-Léon Gérôme: Melampaui Orientalisme

Di akhir abad ke-19, terdapat lonjakan permintaan atas lukisan...

HB Jassin dan Tifa Penyair

Kamis lalu sebungkus paket tiba, isinya tiga buah buku,...

You might also likeRELATED
Recommended to you