• Review
  • About Us
Review Musik The Last Word on First Blues

The Last Word on First Blues

-

Album bertajuk The Last Word on First Blues (Omnivore, 2016) merupakan rilis ulang dari salah satu artifak musik modern karya penyair Allen Ginsberg, First Blues. Melewati tiga dekade setelah dirilis pada tahun 1983, First Blues menjadi legenda – bukan hanya karena lirik puisi Ginsberg – tapi juga karena album ini merupakan sebuah “melting pot” atau tungku panas yang mencairkan besi pembatas antara seni musik dan puisi. Album rilis ulangnya – tentu berupa box set seperti album rilisan ulang pada umumnya – menambahkan jam session panjang antara Ginsberg dan Bob Dylan antara tahun 1971-1985. Ginsberg (yang menurut berbagai sumber adalah penggemar lirik puitis Dylan dengan setia mengikuti tour sang musisi di era Rolling Thunder Revue), membuka ruang imajinasi dalam puisi melalui sentuhan “setengah folk-setengah blues-setengah meracau” yang mengingatkan kita pada band berisi kumpulan penyair lainnya, The Fugs. Hal ini diperkuat dengan keterlibatan Steven Taylor, yang memang berada di belakang lirik/syair The Fugs yang dipimpin oleh penyair anarkis Tuli Kupferberg. Dalam First Blues sendiri terdapat beberapa karya seperti “Vomit Express”,  “CIA Dope Calypso”, “Guru Blues” dan “Father Death Blues” yang kadar estetikanya disandingkan dengan puisi Ginsberg terdahulu: Howl and other poems. Dalam lagu-lagu tersebut, Ginsberg menjelma menjadi bluesman/folkman aneh dengan suara parau mengganggu namun sulit untuk dilupakan. Bagaimana tidak, didalamnya terdapat lirik tajam seperti: “I’m going down on the Vomit Express, I’m going down with my suitcase of pain” atau “O I cant find anyone to blow me in the grass. Yeah I cant find anyone, fuck me in the ass” dalam balad Guru Blues. Lalu apa peran Dylan dalam album ini?. Sederhana, ia memainkan bass dan backing vokal. Namun menurut Ginsberg, posisi Dylan adalah vital: sebagai pahlawan tersembunyi yang berfungsi sebagai penghubung antara desakan libidinal penyair dengan gairah ekspresif seorang musisi – Ginsberg menyatakan bahwa jam session bersama Dylan adalah a kind of intellectual calisthenic ritual. Diluar proses pembuatan album yang memiliki cerita tersendiri, First Blues memiliki tempat unik dalam sejarah musik modern, yaitu sebagai missing link yang menghubungkan dua dunia: dunia kata-kata penyair dan dunia melodious musisi. Dua dunia tersebut (yaitu syair dan musik) yang pada era yunani klasik merupakan kesatuan, terpisah atas dasar praktikalitas dan dekadensi rasa estetis manusia. Keduanya lantas memiliki ruang dan aturan baku masing-masing, hingga era beat mempersatukan dua orang iseng (baca: Ginsberg dan Dylan), yang mencoba untuk menyatukannya kembali – dengan cara mereka sendiri.

Previous article[ill]usion
Next articleCollage: Underwater
The Last Word on First Blues 1 puisi ginsberg,kolaborasi ginsberg dan dylan,musik dan puisi,the last word on first blues,first blues ginsberg
Aliyuna Pratistihttps://antimateri.com
aliyunapratisti@antimateri.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Musik Minimalism: Repetisi, Transenden dan Teknologi

Ada kalanya, kami, para editor pada web antah berantah ini, sekilas mengkhawatirkan tentang arah pembahasan musik yang semakin menjauh...

Jean-Léon Gérôme: Melampaui Orientalisme

Di akhir abad ke-19, terdapat lonjakan permintaan atas lukisan orientalisme, terutama karya seorang pelukis akademia terkemuka, Jean-Léon Gérôme. Gegap...

Puisi Bisu dan Multikulturalisme

(*Puisi bisu: puisi yang tidak menjelaskan dirinya secara gamblang; puisi yang kurang mampu dipahami pembaca)  Rumah-rumah Muumbi I dinding rumah-rumah muumbi pucat...

#Selfie dan Kematian Alegori Diri

Hingga saat ini, saya masih saja belum dapat menerima kewajaran dari aktivitas memotret diri sendiri menggunakan teknologi telepon selular...

Islam, Kejawen dan Relativisme

Memasuki abad empat belas masehi, Islam mulai menyebar di tanah Jawa bersamaan dengan berlalunya “gara-gara” atau semacam kekacauan kosmologis...

Pencarian Literatur Tertua Dunia

Medio 2010, sebuah Essay yang berjudul, On the Origin of Language dari Johann Gottfried Herder (1722/1966), memantik penelusuran saya...

Must read

Liberasi Musik Edgard Varèse

Di Indonesia, musik Edgard Varèse mungkin hanya dikenal oleh...

Study on Darkness

"Oh! I thought you had learned to use the...

You might also likeRELATED
Recommended to you