www.lombardiabeniculturali.it

Hukuman adalah sebuah mekanisme perbaikan. Dalam sejarah manusia, hukuman berkembang sejalan dengan norma yang berkembang – bentuknya selalu berubah dari masa ke masa. Dan saat ini, ketika sejarah telah memberikan manusia terlalu banyak kekerasan, – diantaranya dua perang dunia dan beragam varian kekerasan lainnya – penghormatan bagi hak asasi manusia, terutama hak untuk terbebas dari kekerasan, menjadi salah satu yang diusung tinggi-tinggi, yang juga berimbas pada mekanisme hukuman. Foucault, sang jenius abad dua puluh menjelaskan secara gamblang tentang perubahan struktur hukuman dalam Discipline and Punishment[1]. Dalam bukunya tersebut, Foucault memaparkan tentang awal mula terbentuknya penjara yang menjadi sistem hukuman paling rasional abad ini, yaitu ketika sebuah hukuman tidak ditujukan secara langsung untuk menumbuhkan rasa sakit pada tubuh, namun tubuh dibuat tidak berdaya dengan sistem pengekangan sedemikian rupa atau dikenal dengan panopticism.

Namun, bentuk hukuman tidak selamanya manusiawi. Pada halaman pertama Discipline and Punishment, kita disuguhi kekejian hukuman yang dijatuhkan pada Damiens the Regicide di suatu pagi bulan Maret 1757. Atas kesalahannya yang dianggap melecehkan Gereja, ia dijatuhi hukuman berupa: dikuliti, dibakar lilin, direbus hidup-hidup, kemudian badannya ditarik keempat penjuru arah mata angin sampai mati tercerai berai. Saat itu, hukuman dalam bentuk ini adalah rasional, memiliki legalitas (baik raja ataupun gereja) dan disaksikan banyak orang sebagai bentuk pencegahan tindakan serupa terulang di masyarakat. Untunglah pola ini bergeser sejalan dengan rasionalitas yang juga bergeser, sehingga hukuman siksa (the condemned of the body) saat ini dianggap tidak lagi sesuai dengan norma dan rasionalitas jaman. Namun, ketika seluruh logika berpikir manusia terhadap manusia lainnya – termasuk pada para pesakitan – berkembang menjadi lebih manusiawi, mengapa manusia tidak dapat melakukan hal yang sama pada bumi?.

Kiamat dalam Sajak Salvatore Quasimodo

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berbagai analogi dalam memahami hubungan manusia dengan bumi telah diuraikan sejak Lucretius pada jaman Yunani Kuno dan Hun Tze di Cina pada abad 3 Sebelum Masehi. Perkembangan modern jauh lebih beragam, namun mengacu pada satu permasalahan: bumi yang tidak bersalah dijatuhi hukum picis oleh umat manusia, bahkan tanpa proses pengadilan sedikitpun – hukum picis adalah bentuk hukuman dengan melukai sedikit demi sedikit sampai mati kehabisan darah. Dan hukuman picis ini bahkan lebih parah dari waktu ke waktu. Alih-alih semakin menghargai bumi, manusia sibuk melubangi, menggerogoti, meludahi, membakar, hampir dalam setiap hitungan detik. Bumi yang tidak bersalah telah menjalani masa hukuman, bahkan ketika para pembelanya – ekologist dan environmentalist – masih sibuk mencari jawaban: mengapa dialektika manusia pada alam terhenti pada taraf eksploitasi?. Sayangnya jawaban yang ditemukan selalu menjadi klise ketika dihadapkan pada rasionalitas [mandeg] manusia modern.

Ya, teori selalu mengundang klise, untuk itulah kita memerlukan sajak. Salah satu sajak yang dapat kita gunakan sebagai pintu masuk adalah sajak Salvatore Quasimodo[2] berjudul Gitar-gitar Mati[3], karena dari sajak inilah pertanyaan tentang interaksi manusia dan bumi kembali bergejolak dalam pikiran saya. Dalam akhir baitnya, penyair Sisilia ini meratap:

Ini cara dunia kiamat

Ini cara dunia kiamat

Ini cara dunia kiamat,

Tidak dengan ledakan tapi rintihan.

Repetisi tersebut mau tidak mau membuat kita merinding karena sisipan kebenaran yang terselip diantara kata-katanya. Tanpa perlu memberikan penjelasan berlebih, kita tahu maksudnya: bahwa kiamat telah dimulai sejak pisau pertama umat manusia menembus perut bumi. Lalu mengapa manusia tetap melakukannya berabad kemudian?. Sajak, termasuk sajak Gitar-gitar Mati gubahan Quasimodo tidak pernah bertujuan memberikan jawaban secara langsung. Sajak membiarkan kata-kata mengendap menjadi sebuah pemahaman yang terkadang tidak mampu diungkapkan rasionalitas. Ia membangun jembatan dengan rasa, sebuah konsep abstrak yang membuat manusia menjadi manusiawi. Dan dalam Gitar-gitar Mati, Quasimodo mencoba membangun rasa antara manusia dengan bumi.

Hubungan (Utopis) Manusia dan Alam

Negeriku di sungai-sungai dan menjorok ke laut,

Tak ada tempat lain punya suara tak kunjung hilang

Tempat langkah-langkah kakiku mengembara

Di antara keramaian yang terbebani siput.

Memang, ini musim gugur: pada angin, sebentar-sebentar

gitar-gitar mati menyentil dawai

yang di mulut hitam dan tangan menggerakkan api.

Demikian bait awal pada sajak Gitar-gitar Mati. Di dalamnya kita menemu mimpi Salvatore Quasimodo tentang keindahan alam negerinya, yang walau di musim gugur tak berangin, gitar mati masih bisa bernyanyi. Pada bait ini kita menemukan kerinduan: kapan manusia dapat mencintai bumi seperti itu? Sebuah cinta tulus yang mengarah keluar dari lingkaran egoisme antroposentris. Sebuah cinta yang saat ini cenderung utopis – dan Quasimodo sadar betul akan hal itu, sehingga setelah menguraikan bait lirih tadi, ia membangun sebuah kesadaran bahwa pada kenyataannya manusia begitu kejam membiarkan bumi merintih. Pada akhirnya, kita semua menyaksikan bahwa gugatan Quasimodo dalam sajaknya (dan ekologist dengan teorinya) timbul tenggelam dalam gegap gempita modernitas. Namun setidaknya kita (masih) bisa menyaksikan mimpi Quasiomodo menggantung di langit – sebuah mimpi utopis, yaitu ketika manusia meninggalkan kerusakan di bumi, hanya sebatas jejak kaki, tidak lebih.

Keterangan dan Sumber:

[1] Foucault, Michel, 1977, Discipline and Punishment: the Birth of the Prison (terj: Alan Sheridan), Gallimard, Paris

[2] Salvatore Quasimodo, penyair asal Sisilia, Itali, lahir pada tahun 1901, mendapatkan hadian nobel kesusastraan pada 1959 dan meninggal pada tahun 1968

[3] Quasimodo, Salvatore, “Gitar-gitar Mati”, diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dalam Antologi Puisi Nobel, 2001, Bentang, Yogyakarta

2 COMMENTS

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?