Henry Matisse, Harmony in Red, 1908

(Puisi-puisi naif Czeslaw Milosz)

Bagi siapapun yang pernah menulis, membuat judul yang baik bukan perkara mudah. Apalagi pada sebuah puisi, memilih judul bagi seorang penyair sama beratnya dengan seorang pesakitan yang memilih kata-kata terakhir sebelum dihukum mati. Judul pulalah yang membuat saya masuk ke alam puisi Czeslaw Milosz. Bagaimana tidak, frase Nyanyian tentang Hari Kiamat (A Song On The End Of The World) yang dipilih Milosz untuk baris puisinya, terlalu membuat penasaran. Melalui judul inilah saya menemu sebuah bentuk puisi kontekstual yang belum pernah saya temukan sebelumnya.

Pada hari kiamat
Seekor lebah mengitari sekumtum bunga,
Seorang nelayan menambal jalanya kemerlapan.
Lumba-lumba bahagia berloncatan di laut,
Sekawanan burung gereja bercanda di bekas hujan,
Dan ular bersisik keemasan sebagaimana mestinya.
Pada hari kiamat,
Ibu-ibu melintasi padang dengan payung di tangan,
Seorang pemabuk mengantuk di tepi rumputan,
Penjual sayur berteriak di sepanjang jalan,
Dan sebuah perahu layar-kuning menghampiri pulau,
Suara biola bergetar di udara tenang
Dan menyusup ke malam berbintang.
Dan mereka yang mengharapkan kilat dan guruh
Pasti kecewa.
Dan mereka yang mengharapkan perlambang dan terompet malaikat
Tak percaya apa yang terjadi kini.
Selama matahari dan bulan di atas sana,
Selama lebah menghampiri mawar,
Selama bayi-bayi sehat dilahirkan,
Tak ada yang mempercayai apa yang terjadi kini.
Hanya seorang lelaki berambut putih, yang mestinya rasul,
Namun bukan rasul–sebab ia terlampau sibuk bekerja.
Berkata berulang kali sambil mengikat tomat-tomatnya:
Tak akan ada hari kiamat lain,
Tak akan ada hari kiamat lain.

Puisi berjudul Nyanyian tentang Hari Kiamat di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Sapardi Djoko Damono dan terangkum dalam Antologi Puisi Nobel (Bentang, 2001). Milosz sendiri mendapatkan nobel sastra di tahun 1980, yang menyebabkan pemerintah Polandia semakin merasa terancam dan (kembali menegaskan) pelarangan edar puisi-puisinya di seantero Polandia. Tekanan rejim komunis menyebabkan Milosz beremigrasi ke Amerika dan baru kembali ke tanah airnya ketika pemerintah komunis telah runtuh di akhir era 1980an. Kondisi politik ini membuat saya memasukkan Milosz ke dalam kategori penyair pemberontak–sehingga reaksi saya ketika pertama kali mendengar tentang kiprah Milosz adalah: owh, satu lagi penyair terasing, wajar mendapatkan nobel. Namun diluar dugaan, pandangan tersebut sama sekali tidak tepat sasaran.

Tilikan keterasingan Milosz memang tidak salah–perasaan ini dicurahkannya dalam buku berjudul Notes on Exile yang diterbitkan pada 1976 ketika ia telah menjadi seorang pengajar bahasa Slavik di Universitas California. Nostalgia akan pedesaan tempat ia dilahirkan pun kerap hadir dalam puisinya. Tapi bukan keterasingan yang membuatnya menempati posisi bergengsi: Milosz mendapatkan nobel karena kepiawaiannya dalam meramu kenaifan menjadi alat kritik tajam untuk meluluhlantakkan realita. Salah satunya adalah karya berjudul Nyanyian tentang Hari Kiamat di atas. Puisi tersebut–jika dilihat sekilas–memiliki kesederhaan seorang mahasiswa tingkat dua yang masih percaya bahwa sebuah puisi dapat mengubah pandangan dunia. Tidak ada metafora rumit didalamnya, tidak pula ditemukan gerak eksistensialisme yang menabuh genderang perlawanan pada narasi keagamaan ataupun kemandegan sosial. Bahkan tidak terasa keterasingan di dalamnya. Dengan kata lain, Nyanyian tentang Hari Kiamat hampir menyerupai pandangan seorang kanak-kanak yang belum mengenal peperangan (juga belum kenal dunia). Lalu dimana letak kehebatan puisi-puisi nobel Czeslaw Milosz? Untuk menjelaskan perihal ini, ada baiknya saya menghela napas terlebih dahulu karena hingga tulisan ini di buat, keterhenyakan saya akan ketajaman puisi ‘naif’ Milosz, belum sepenuhnya hilang.

Pertama-tama kita harus membahas judul. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, judul-lah yang membuat saya tertarik untuk membaca puisi Milosz. Judul dalam puisi Milosz berfungsi layaknya jebakan: seperti bebauan yang disebarkan tanaman untuk menangkap serangga, lalu memakannya hidup-hidup. Melalui judul yang menarik kita dibuat penasaran. Namun apa yang kita dapatkan setelahnya adalah sesuatu yang tidak disangka-sangka. Puisi Nyanyian tentang Hari Kiamat adalah contohnya: tidak diragukan lagi bawah kiamat adalah salah satu persepsi kehancuran paling universal umat manusia, tapi Milosz menentangnya dengan cara yang tajam, namun begitu sederhana. Jarak antara judul dengan realita yang ditawarkan bait-bait puisi Milosz-lah yang menimbulkan efek keterkejutan disertai rasa jengkel (jengkel, karena lantas berpikir kok bisa-bisanya terpikir untuk menulis puisi seperti ini). Puisi-puisi Milosz lain pun memiliki elemen keterkejutan (naif) serupa. Dalam Puisi Akhir Abad, misalnya, ia berbicara tentang harapan akan tercapainya utopia. Atau Percakapan dengan Jeanne yang bercerita tentang pengorbanan untuk keselamatan seluruh umat manusia. Tidak ayal, melalui alusi naif tersebut, kita tahu bahwasanya Milosz menyasar pandangan tentang agama. Dan dalam kasus Milosz, semakin naif puisinya, semakin kita menaruh curiga.

Kecurigaan ini berujung pada pembahasan kedua, yaitu tentang kontekstualitas. Agak sedikit aneh memang membicarakan puisi dari sudut ini. Namun untuk memahami puisi-puisi naif Milosz, setiap kata dan bait harus diletakkan pada posisi seharusnya–dalam hal ini puisi Milosz harus diletakkan berhadapan dengan objek kritiknya. Sebagai contoh Nyanyian tentang Hari Kiamat. Di balik kesederhanaan metafora dan rima yang tidak dibuat-buat, Milosz menyasar kesadaran keagamaan yang menurutnya: kehilangan perspektif kebaruan. Milosz sendiri merupakan seorang Katolik yang taat, dan puisinya adalah perwujudan dari aspek tersebut. Pandangan lain tentang Katolisisme dituangkannya dalam puisi berjudul Kepada Robinson Jeffers dimana Milosz mengungkap realita pahit: bahwa jika dibandingkan dengan sejarah brutal umat manusia, kesinisan iblis tidak ada apa-apanya. Kritik lain atas ke(tidak)sadaran keagamaan dituang Milosz dalam Kepada Nyonya Profesor dalam Rangka Mempertahankan Kehormatan Kucing Saya, Milosz menyindir: jika pada setiap tikus dan burung yang tertindas dilakukan penyaliban (pada kucing), maka kita akan sulit berjalan karena seluruh permuka bumi akan terhalang oleh salib-salib kecil yang menghalangi jalan. Puisi-puisi bernafas agama Milosz kemudian diramu bersama Robert Haas dan dikenal sebagai A Theological Treatise. Bersama Haas, Milosz melakukan ekspedisi imajinatif pada berbagai era, mulai dari kejatuhan Gereja Katolik pada abad pertengahan, kemunculan reformasi Gereja, revolusi saintifik, hingga beragam pemaknaan keagamaan kontemporer. Nyanyian tentang Hari Kiamat adalah salah satu puisi kunci dalam pemahaman gagasan Milosz tentang Katolisisme, dan dalam membangun kritiknya, ia seakan memainkan mode kontras dalam kamera: bahwa persoalan yang dianggap terlalu ruwet dan sensitif–seperti halnya agama–akan terlihat lebih jelas bila didekati dengan cara yang naif dan kekanak-kanakkan.

Pendekatan puisi naif Milosz tentang keagamaan (jangan khawatir, ia tidak melulu berbicara agama kok), memunculkan pembahasan ketiga: yaitu ketika persepsi Milosz bersinggungan dengan realita sosial saat ini. Dengan menggunakan kontekstualitas objek tujuan kritik, rasanya puisi-puisi naif Milosz menemukan relevansinya pada kondisi masyarakat saat ini. Narasi tunggal dalam beragama yang dikritik melalui Nyanyian tentang Hari Kiamat, tercium semakin pekat di udara. Juga penyaliban (atau penghakiman) yang disindir melalui Kepada Nyonya Profesor dalam Rangka Mempertahankan Kehormatan Kucing Saya, adalah kejadian yang dapat ditemukan hampir setiap hari. Artur Sebastian Rosman dalam disertasinya yang berjudul The Catholic Imagination of Czeslaw Milosz (2014, University of Washington), mengungkapkan bahwa Milosz secara tajam telah memprediksi praktik keagamaan hiper-pluralistik yang terjadi pada era modernisme akhir ini. Hiper-pluralistik, menurut Rosman, adalah sumber segala kegaduhan beragama. Berbagai eksposisi batas tidak lagi memberikan ruang untuk imajinasi. Hasilnya adalah kebisingan tanpa makna dan minimnya penerimaan pada subjek lain. Oleh karena itu, daripada jengah mendengarkan yang tidak-tidak, mari kita baca puisi saja.

Sumber:
Antologi Puisi Nobel, 2001, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta
Rosman, Artur Sebastian, 2014, The Catholic Imagination of Czeslaw Milosz, Disertasi, University of Washington
Milosz, Czeslaw, 2001, A Treatise on Poetry, (Terj: Robert Hass dan Czeslaw Milosz), Ecco, New York
Milosz, Czeslaw dan Robert Hass, 2002, “A Theological Treatise” dalam Spiritus: A Journal of Christian Spirituality 2(2), hal. 193-204

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here