king crimson

Robert Fripp adalah salah satu figur anomali dalam dunia musik – ia tidak seperti musisi legendaris kebanyakan yang tenggelam dalam gaya hidup bohemian penuh ketenaran atau disingkat dalam tiga kata: sex, drugs, and rock n’ roll. Fripp tidak minum ataupun menggunakan substance, menghindari wawancara dan publikasi, tidak tertarik membuat skandal sex, ataupun sekedar menarik perhatian dengan melakukan tindakan vandalism – seperti mengacak-ngacak kamar hotel – sebagaimana superstar pada umumnya. Fripp berpenampilan tidak mencolok, menggunakan kacamata dan introvert: dia lebih terlihat sebagai profesor musikologi daripada musisi rock avant-garde, musik yang ia  gawangi, bersama band fenomenalnya, King Crimson.

Masa kecil dan permulaan karir Fripp biasa-biasa saja, bahkan terlalu biasa untuk seorang musisi sekelasnya. Ia bukanlah anak yang diberkahi secara musik: sejak pertama kali bersentuhan dengan gitar di usia sebelas, perlu tujuh tahun bagi Fripp untuk mendapatkan pengakuan dari guru musiknya bahwa “ada kemajuan” dalam permainannya. Fripp yang menyadari kekurangan bakatnya – secara ironi ia sering menyandingkan diri dengan Hendrix yang seringkali melakukan aksi akrobatik di panggung agar terdengar “normal” – memutuskan untuk melakukan apa yang bisa dilakukan manusia ketika tangan Tuhan tidak menyentuhnya: ia belajar teori musik.

Alhasil, Fripp yang awalnya buta nada mampu menjabarkan secara gamblang tentang transposisi nada dalam berbagai bentuknya, mulai dari skala dasar (mayor, minor, dan pentatonik), hingga pengembangannya dalam skala sintetis (Super Locrian, Oriental, Double Harmonic, Hungarian Minor, Overtone, Enigmatic, Eight-Tone Spanish, and dan lain sebagainya) juga skala simetris (kromatik ataupun oktatonik). Dari pengetahuan mendasarnya tentang musik inilah pada akhirnya dunia mengenal “Fripp Sang Profesor”: musisi enigmatik penuh teka-teki karena menempatkan musik layaknya sebuah eksperimen, menemukan kemungkinan-kemungkinan (musik) baru dan memberi jalan bagi persepsi musik yang lebih luas – eksperimen yang membuat para pendengar terkagum-kagum setiap kali mendengarkan “kuliah-kuliah”nya.

Namun hal yang menarik dari Robert Fripp tidaklah terletak pada pengetahuan mendalamnya tentang struktur dan teknik musik, karena ternyata pandangannya terhadap musik lebih cenderung metafisik daripada sistematis, menurutnya: “saya tidak begitu tertarik dengan musik, musik hanya cara untuk menciptakan keajaiban”. Dari pernyataan tersebut, sebuah interpretasi muncul: bahwa bagi Fripp, bentuk, gaya, struktur, bahkan estetika (musik) hanyalah bagian permukaan dari tujuan bermusik itu sendiri. Dalam biografinya “Robert Fripp: From King Crimson to Crafty Master” yang ditulis oleh Eric Tamm, Fripp menyatakan bahwa bermusik adalah membuat kontak dengan musik itu sendiri, sebuah kontak yang merangkum berbagai proses individual, sosial, budaya hingga politik. Lebih mendalam Fripp menjelaskan bahwa bermusik harus memiliki bobot yang sama dengan menulis atau berpikir – musik adalah “kualitas dari nada yang terorganisir”, yang terlahir sebagai sebuah media bahasa, dengan kelebihan dan batasan-batasannya sendiri[1].

Pandangan Fripp tentang musik juga terangkum dalam wawancara yang dilakukan oleh berbagai media. Namun melakukan wawancara dengan seorang Fripp tidak pernah mudah. Kesulitan bukan terletak pada kepribadiannya, ia digambar sangat ramah dan terbuka, tapi jawaban yang diberikannya tidak pernah sederhana. Salah satu kebingungan bahkan datang dari seorang jurnalis musik sekelas Cameron Crowe ketika mewawancarai Fripp untuk Rolling Stone tahun 1973[2]:

Crowe: You often say that you feel King Crimson is a way of doing things.
Fripp: I gave that to you as your key. That’s your key to the core of the band. King Crimson, you see, is a magical act.
Crowe: In what way?
Fripp: Every act or thought is a magical act.
Crowe: You seem to tell many interviewers that King Crimson is a way of doing things … what?
Fripp: Being.
Crowe: Then why don’t you simply say that King Crimson is a way of being?
Fripp: It’s that as well. I’m not interested in being pegged down with narrow definitions … As soon as one defines, one limits. I don’t want to define what King Crimson is. I’d rather let you do the thinking. 

Atas jawaban-jawabannya yang cenderung filosofis, media menyebutnya “the world most rational rock star”, sedangkan sang musisi memiliki cara yang unik dalam menggambarkan dirinya: “I have a very modest lifestyle, I don’t have a string of fast cars or fast women, and I don’t take any drugs at all, not even aspirin. My party is: me and books. Me and books and a cup of coffee is an orgy”[3]. Sehingga sangatlah jelas bahwa sang profesor punya cara tersendiri dalam menikmati ketenarannya sebagai seorang musisi – gaya antiknya ini lantas menjadikam Fripp semacam orang suci diantara jajaran musisi saat itu. Fripp menunjukkan bahwa kondisi kesadaran total – tanpa pengaruh substansi apapun mampu memunculkan efek yang sama mencengangkannya dengan efek psychadelic yang umum muncul pada akhir 1960-an. Menurutnya, musik harus bersentuhan dengan kehidupan – dan sebagaimana kita ketahui bersama, kehidupan terkadang dapat muncul dalam bentuk yang begitu menyeramkan.

Penamaan King Crimson yang diambil dari puisi Milton, Paradise Lost, dan lirik gelap dalam lagu-lagunya seringkali memberikan kesan “menyeramkan” pada band tersebut – bahkan pada awal kemunculannya kerap disandingkan dengan satanisme. Namun sejalan dengan lebih dikenalnya King Crimson, publik lalu sepakat bahwa kata menyeramkan tidaklah tepat jika disandingkan dengan penamaan – yang menurut Seinfield muncul karena desakan waktu – tapi pada konsep musikalitas yang mereka usung.  Dan bukti betapa “menyeramkan”nya konsep musik King Crimson terangkum dalam sebuah pergulatan pemikiran yang dimulai sejak tahun 1967 dan tidak pernah berhenti sejak saat itu. Atas kondisi ini, King Crimson lebih menyerupai aliran pemikiran (school of thought) daripada sebuah band. Asumsi ini didasarkan pada dua fakta: Pertama, setiap musisi yang tergabung (atau pernah tergabung) dalam King Crimson bukanlah musisi dengan kemampuan basa-basi. Selain Fripp yang gila dengan caranya sendiri (gitar), kita juga menemukan Michael Giles (drum), Peter Giles (bass), Greg Lake (vokal), Ian McDonald (vibes), Pete Sinfield (lirik, synthesizer), Mel Collins (saxophone, flute, mellotron), Boz Burrell (bass, vokal), Ian Wallace (drum, vokal), Bill Bruford (drum), John Wetton (bass, vokals), David Cross (biola, mellotron) dan Jamie Muir (percussion). Dari jajaran tersebut kita bertemu dengan Greg Lake yang setelah keluar dari King Crimson mengusung Emerson, Lake and Palmer, band progresif rock yang disegani. Selain itu terdapat Peter Seinfield (salah satu penulis lirik terbaik dalam dunia rock), Bill Bruford yang membelot dari Yes sedangkan Wetton membelot dari Family, Michael Giles sang drummer eksentrik, David Cross dengan permainan biola “kasarnya”, juga Wallace, Collins, Giles dan Muir yang memiliki kapasitas musik di atas rata-rata. Atas gabungan bakat-bakat di atas, maka King Crimson adalah sebuah perpaduan ide dan visi musik ideal dari setiap anggotanya.

Namun, layaknya sebuah aliran pemikiran, musik King Crimson berdiri diatas kontestasi gagasan para anggotanya. Hal ini memunculkan fakta kedua: bahwa dalam King Crimson – alih-alih menemukan upaya-upaya sinkronisasi dan harmonisasi layaknya band pada umumnya – pendengar akan disuguhi berbagai pergulatan akan visi ideal setiap musisinya. Sebuah pergulatan yang pada akhirnya memunculkan “nouveau conceptual”, konsep baru yang muncul dari jukstaposisi berbagai pengaruh musik yang diusung para anggotanya – dan atas sandingan inilah muncul King Crimson: band yang mendobrak pakem musik populer melalui penggunaan struktur musik klasik (eksposisi, development, dan improvisasi) dalam pertunjukan livenya, dengan pengaruh kental jazz, folk, psychadelic, dan rock, juga menggunakan intrument eksperimental mulai synthizer hingga gamelan. Atas konsep musik antah berantah ini, publik Inggris tahun 1969 kebingungan untuk mengkategorikannya kedalam satu genre musik, sehingga album debut mereka “In the Court of the Crimson King” – khususnya lagu pembuka berjudul “21st Century Schiziod Man” – (untuk gampangnya) digambarkan publik sebagai “bleeding orchestra”[4]. Namun, sandingan berbagai visi dalam King Crimson memunculkan efek negatif: kuatnya gagasan satu dan yang lain menjadikan kompromi mendekati kata mustahil, sebuah kondisi yang pada akhirnya menjadikan King Crimson tidak stabil karena anggotanya yang datang dan pergi – tapi satu orang tetap bertahan dalam pergulatan tanpa akhir tersebut: ialah Robert Fripp.

Pergulatan konsep (pemikiran) musik antar personil King Crimson pertama kali terjadi tidak lama setelah “In the Court of the Crimson King” dirilis. Saat itu Fripp berselisih paham dengan dua anggota lainnya: Fripp berjalan kearah eksperimen yang lebih gelap, sedangkan Giles dan Mcdonald lebih mengacu pada konsep musik romantic dengan sentuhan emosi yang lebih ringan. Perseteruan ini diakhiri dengan keluarnya Giles dan Mcdonald. Seperti halnya Giles dan Mcdonald, musisi yang pada akhirnya meninggalkan King Crimson, berpijak pada alasan profesional, yaitu perbedaan konsep – salah satu perbedaan konsep yang ramai diperbincangkan media adalah gambaran Fripp tentang permainan David Cross yang berkembang menjadi “lemparan batu” – Cross sendiri, yang memilih mempertahankan gaya over-amplifikasi permainan biolanya, keluar tepat sebelum King Crimson melakukan tour di Eropa dan Amerika tahun 1974. Atas perbedaan tajam konseptual musik yang kerap terjadi, Fripp sendiri berulang kali berniat meninggalkan King Crimson. Bahkan tepat sebelum pengerjaan Red (yang dirilis tahun 1974), Fripp mengusulkan pada manajemen saat itu untuk mempertimbangkan “Free-Fripp King Crimson” – King Crimson yang bebas dari pengaruh Fripp dengan memberikan kendali musik sepenuhnya pada Bill Bruford. Namun atas kesadaran bahwa konsep Fripplah yang selama ini menjadi kekuatan utama King Crimson, maka ia diminta untuk tetap berada didalamnya.

Walaupun King Crimson tidak pernah sepenuhnya berada dalam kondisi stabil – musik yang mereka ciptakan memunculkan keseimbangan tersendiri, jauh dari disharmoni. Profesionalitas para personilnya berhasil mengesampingkan berbagai perbedaan yang ada, sehingga sejak debut pertamanya pada 1969, King Crimson telah berhasil merilis 11 album lainnya, yaitu: In the Wake of Poseidon (1970), Lizard (1970), Island (1971), Larks Tongues in Aspic (1973), Starless and Bible Back (1974), Red (1974), Discipline (1981), Beat (1982), Three of a Perfect Pair (1984), THRAK (1995), The Construction of Light (2000), dan The Power to Believe (2003). Hingga album terakhir yang dikeluarkan pada tahun 2003 – melalui pengawasan Fripp – King Crimson selalu muncul dengan konsep baru yang mengambil pengaruh dari perkembangan musik, misalnya dalam instrumen ataupun gaya, yang kemudian muncul dalam interpretasi “intelek” khas King Crimson – salah satu perubahan bentuk interpretasi ini jelas terlihat pasca hiatus pertama mereka (1975-1980) dimana rock psychadelic dan jazz yang menjadi dasar album-album sebelumnya semakin memudar, digantikan new wave, melalui eksplorasi electronic yang meminta perhatian. Fripp dan personil lain yang banyak membantu proyek musik di luar King Crimson, pada akhirnya ikut berperan dalam menetapkan standar tinggi musik yang mereka bantu ciptakan – diantaranya Fripp terlibat dalam pembuatan musik Brian Eno, David Byrne dan David Bowie.

Atas keliaran musik King Crimson (dan pengaruh gagasan para personilnya), media lantas secara paksa menyandingkan King Crimson dengan genre progresif. Setiap anggota King Crimson sendiri setuju bahwa musik mereka bukanlah apa yang orang-orang pikir sebagai progresif – terlebih ketika stigma progresif kemudian diartikan semata-mata dengan gaya perpanjangan musik tanpa visi yang jelas. Atas pengkotakkan ini Fripp hanya menjawab bahwa King Crimson “way of doing things” – dengan arah pencapaian yang berbeda bagi setiap individu didalamnya, sebuah kebebasan eksperimen yang dipertahankan demi munculnya gagasan-gagasan (musik) baru. Atas dasar kekuatan visi inilah, King Crimson meletakkan pengaruhnya dalam perkembangan musik: yaitu musik yang berfungsi layaknya teori dalam ilmu sosial atau rumus dalam ilmu alam, yang muncul melalui pertarungan berbagai konsep ideal, menjadikannya dobrakan sekaligus landasan bagi pengembangan musik selanjutnya. Dan seluruh keliaran gerak gagasan King Crimson, yang selama tiga dekade berada pada garis depan perubahan musik, diawasi oleh seorang profesor musik kawakan, dewa gitar, sekaligus aktivist avant-garde, Robert Fripp – the schizoid man himself.

Keterangan:
[1] Tamm, Eric, 1990, Robert Fripp: From King Crimson to Crafty Master, Papperback: London
[2]  Crowe, Cameron, December 6, 1973, Rolling Stone #149
[3] opcit.
[4] the marquee club

Keterangan Gambar: In the Court of the Crimson King Album Cover

3 COMMENTS

  1. wahaha!! Keren artikel Robert Frippnya. Cuman sayang, tiap ada yang keluar, mereka ga begitu meninggalkan kesan baik terhadap Robert Fripp.

    mungkin lebih enak disebut “tuli nada” daripada “buta nada” karena berkaitan dengan pendengaran, hehehehe…..

  2. wahaha!! Keren artikel Robert Frippnya!

    Cuman sayang tiap personilnya pada keluar, mereka ga begitu meninggalkan kesan baik terhadap Robert Fripp.

    Menurut saya kejayaan King Crimson itu ketika personilnya Belew, Levin, Bruford, dan Fripp dan ngeluarin albun Discipline..

    Mungkin lebih enak kalo disebut “tuli nada” dibandingin “buta nada”, karena berkaitan dengan pendengaran. hehehehehe…

  3. hehe iya tuli nada bisa juga kak konceptnoir, walo terkadang ketidakmampuan membaca not/partitur dikenal dengan istilah tadi itu 🙂

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?