The minimum definition of science, therefore, implies invariably the existence of general laws” – Bronislaw Malinowski, A Minimum Definition of Science for the Humanist

Entah apa yang membuat Bronislaw Malinowski berpaling dari Matematika dan Ilmu Fisika pada Antropologi dan Ilmu Humaniora. Cairns (1960) dalam pengantar untuk kumpulan esai Malinowski, menyebut bahwa tulisan-tulisan Wilhelm Wundt–sang Bapak Psikologi-lah–yang pertama kali menumbuhkan ketertarikan Malinowski dalam studi tentang manusia (Study of Man), walau terdapat sumber lain yang menyatakan bahwa buku antropologi pertama yang dibacanya adalah The Golden Bough: A Study in Comparative Religion karya James Frazer. Studi-studi yang kemudian dilakukan oleh Malinowski memungkinkan lahirnya metode penelitian antropologi yang dikenal dengan istilah “Off the Verandah” (1985) yang bukan hanya mengharuskan setiap antropolog untuk mengenal secara mendalam makna budaya dari masyarakat yang ditelitinya (istilah penelitian jaman sekarang: observasi partisipatoris), tapi juga menginventarisir dan membuat interpretasi berdasarkan data empiris. Dengan kata lain, Malinowski mempraktekan sebuah fusi antara ilmu humaniora dengan ilmu pasti. Penelitiannya yang terkenal adalah etnografi Papua Nugini dan Melanesia Barat Daya (khususnya masyarakat kepulauan Trobriand). Ia juga memberikan perhatian pada masyarakat Hipo di Arizona, Bemba dan Chagga di Afrika Timur serta masyarakat Zapotec di Meksiko (Gaillard, 2004). Namun, tanpa mengurangi minat terhadap pembacaan karya-karya etnografinya, tulisan ini akan mengulas pandangan Malinowski tentang bagaimana ilmu humaniora terjerumus pada ruang yang kaku dan sumpek.

Untuk sampai pada pandangan tersebut, panjang ceritanya. Dalam esai berjudul A Minimum Definition of Science for the Humanist (1960), Malinowski memaparkan tentang mengapa kita membutuhkan teori (juga mengapa kita tidak membutuhkan teori). Esai ini dimulai dengan pandangan kritis Malinowski tentang Ilmu Pengetahuan (baca: definisi, konsep, teori, metode, dan lain sebagainya). Sebagai seseorang yang berdiri pada dua dunia, yaitu humaniora dan eksakta, Malinowski sadar betul bahwa pendekatan saintifik bukan satu-satunya cara untuk memahami sebuah kebudayaan. Moral dan pandangan filsafat, serta inspirasi estetis adalah bagian tidak terpisahkan dalam upaya memahami sebuah gerak budaya. Konteks pernyataan ini rupanya ia tujukan pada para pengkaji ilmu sosial yang ketika esai ini dibuat (tahun 1960, dan–sialnya–masih relevan juga hingga saat ini), begitu keranjingan dengan angka, tabel, dan berbagai fakta empiris lainnya. Nampaknya sang pakar antropologi ini begitu khawatir hingga memberi pernyataan bahwa walaupun keberadaan  metode dan pendekatan tidak dapat dipisahkan dari bangun keilmuan, namun keberadannya “hanyalah alat”, dan bukan segalanya. Wabah keranjingan data empiris masih terus berlangsung tanpa mengindahkan peringatan Malinowski–alhasil ilmu humaniora saat ini begitu kering dan kurang asyik. Lambat laun para pengkajinya kekurangan daya interpretasi karena sibuk berkutat pada angka-angka tanpa jiwa.

Ternyata tidak hanya para pecandu data empirik yang menjadi perhatian esai ini, karena Malinowski juga menyasar aliran keilmuan yang bergerak hanya atas dasar penafsiran. Kelompok ini bersebrangan dengan pecandu data empirik dan cenderung “melawan sains”, kebanyakan penganutnya adalah antropolog dan sejarawan (di era 1960 sih, tapi–sialnya–masih juga relevan hingga saat ini). Kritik Malinowski terhadap kecenderungan ini diungkap sebagai berikut: “The typical historian and many anthropologists spend most of their theoretical energy and epistemological leisure hours in refuting the concept of scientific law in cultural process, in erecting watertight compartments for humanism as against science”–pengetahuan, dalam pandangan mereka, hadir dari interpretasi pengalaman yang telah terjadi di masa lampau atau intuisi humanis. Para pengkajinya lebih mempercayai bakat yang diberikan oleh Tuhan daripada penerapan metode yang sistematis. Sains, menurut mereka, hanya membatasi ruang intuisi dan interpretasi (dalam esai ini Malinowski tidak memberikan komentar spesifik atau mengejar kelemahan dari gagasannya kaum interpretatif garis depan ini, tapi saya membayangkan ia hanya akan mengernyitkan dahi lalu meninggalkan mereka begitu saja). Selain dua model pengkaji di atas, Malinowski mengemukakan kecenderungan ketiga, yaitu para fanatik teori. Bentuk ketiga ini menjadi berbahaya karena dua hal: Pertama, pengusung fanatik sebuah teori akan kehilangan makna atas mana yang relevan dan mana yang tidak karena mereka terisolasi dalam–istilah Malinowski–menara kedap air. Kedua, mereka akan berjalan dalam siklus tak berujung, “A theory which fails must be amended by discovering why it has failed”. Pengkaji ilmu humaniora, dimanapun, tentu sangat rentan terjerumus kedalam model “menara kedap air” ini, karena kemampuan ajaib teori yang begitu menggiurkan, yaitu mengaburkan realita.

Lalu, jika demikian, adakah formulasi yang tepat untuk meletakkan pengetahuan secara proporsional? Dalam esai pendeknya Malinowski tidak memberikan jawaban langsung (jawaban bentuk ini biasanya hanya ada di ruang-ruang perkuliahan ketika dosen sedang malas mengurai topik secara mendalam). Ia justru mengajak kita memahami proporsi pengetahuan melalui salah satu kreasi pertama umat manusia, yaitu kemampuan membuat api.

Teknik membuat api sebagai salah satu kreasi paling primitif dalam sejarah manusia dipandang mampu untuk menjelaskan berbagai sisi dari pengetahuan. Malinowski memilihnya bukan tanpa sebab, karena hanya beberapa kreasi dalam sejarah manusia yang telah berkembang dan dikerjakan turun-temurun namun tetap berada pada fondasinya, yaitu seni membuat api, penggunaan alat dari kayu dan batu, serta membuat tempat berteduh (shelter). Ketiganya kemudian terikat tradisi dan pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan dari ketiganya pula, kreasi membuat api adalah bentuk yang paling sederhana. Malinowski menggambarkan dua proporsi pengetahuan yang melekat dalam pembuatan api. Pertama yaitu perilaku saintifik yang meresap pada semua teknologi primitif (baik pengetahuan dalam praktik membuat api ataupun pada pengorganisasian ekonomi yang menjadi dasar perkembangan sejarah umat manusia). Melalui pandangan ini, Malinowski menyatakan bahwa gagasan saintifik telah hadir sejak awal perkembangan sejarah manusia dan bukan semata-mata milik Copernicus, Galileo, Newton, atau Faraday. Proporsi kedua tentang pengetahuan mengacu pada teori yang menurut Malinowski merupakan realita dan relevansi yang terwujud melalui pengamatan terhadap perilaku saintifik. Keduanya saling tarik menarik dan menjadi cermin skeptis satu sama lain–perilaku saintifik hadir dari hasil pengamatan yang menghasilkan teori, namun pengamatan teoritis seringkali berubah menjadi manipulasi realita dan menghilangkan substansi pengetahuan. Dalam ungkapan Malinowski: “Science really begins when general principles have to be put to the test of fact, and when practical problems and theoretical relations of relevant factors are used to manipulate reality in human action”. Melalui relasi ambivalen inilah Malinowski secara tidak langsung menggambarkan proporsi seimbang antara sains dan teori, sehingga ungkapan “tidak perlu definisi dan teori jika prinsip universal terpenuhi”, dapat dipahami konteksnya.

Dalam penutup esainya, Malinowski seakan memprediksi arah bangun keilmuan humaniora yang “semakin kehilangan kepercayaan dan penghormatan akan dirinya sendiri” atau singkatnya: the constant impotence of social engineering. Untuk tetap dipandang sebagai sebuah bangun keilmuan, para pengkajinya berbondong-bondong mengadopsi pendekatan saintifik tanpa mengindahkan berbagai kaidah ilmu humaniora. Kosekuensinya sangat fatal, ilmu humaniora menjadi sangat pragmatis dan kehilangan fungsi utamanya dalam merawat kewarasan. Atas kondisi ini Malinowski menyarankan para pengkaji ilmu humaniora untuk mengurangi “penggunaan definisi” dan memahami proporsi pendekatan serta teori dalam kajian-kajiannya–This, of course, implies that every theoretical principle must always be translatable into a method of observation, and again, that in observation we follow carefully the lines of our conceptual analysis. Namun hingga ulasan ini dibuat, rasanya tiga penyakit utama para intelektual yang di deteksi oleh Malinowski (keranjingan sains, penafsir tanpa data, dan para teori fanatis) masih banyak terjangkit dan belum ditemukan obatnya. Dan sisi humanist dari ilmu humaniora semakin samar saja wujudnya.

Sumber:
Cairns, Huntington, 1960, “Preface” A Scientific Theory of Culture and Other Essays, Oxford University Press, New York
Films Media Group, 1985, Bronislaw Malinowski: Off the Veranda, 52 minutes
Gaillard, Gérald, 2004, The Routledge Dictionary of Anthropologists (Terj. Peter James Bowman, Routledge, London dan New York
Malinowski, Bronislaw, 1960, “A Minimum Definition of Sciences for the Humanist”, A Scientific Theory of Culture and Other Essays, Oxford University Press, New York


4 COMMENTS

  1. ktaa sya mah kaat maaff tidk seprlunya diutrakan krena keslhan penlisan aplagi tren pnulsna kta, tlisan mh cma media, selama pesan tidak berubah, fuk media.. kita berkumpul disnni kan bukana utk menybrakan ejyaan ktomperer atwa pun idyolog tretententu kan? hanya kbresma an en kbragamna..

  2. teu, cm asa merendahkan intelejensi manusia pisan untuk menangkap maksud kata, kalo minta maaf gara2 typo esai dari esay, ato lu xun dari lu hsun, aksara mah cm mnemonic device hungkul.. jgnkan typo, kan ada penelitian bbrapa tahun yang lalu klo manusia mampu menangkap atau membaca kata yang aksaranya random, selama akhir dan awal aksara tersebut benar.. tuh kan malah jd debat ku perkara teu penting kieu, bzzzz…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here