
“Hanya untuk Orang Gila!”
(Kegilaan dan Spiritualitas dalam Karya Hermann Hesse) Bayangkan lukisan kucing khas Popo Iskandar, atau jajaran repetoar siprus dalam karya Van

(Kegilaan dan Spiritualitas dalam Karya Hermann Hesse) Bayangkan lukisan kucing khas Popo Iskandar, atau jajaran repetoar siprus dalam karya Van

Rendra dikenal sebagai penyair pamflet – sajak-sajaknya menjadi nafas yang menghidupi oposisi bagi kemandegan rejim politik selama masa orde baru

For each poem, Rimbaud paid a price in suffering, in jealousy, in misunderstanding[1] Keterpukauan kerap kali menelan kata-kata. Dan karya

Aku tulis pamflet ini karena pamflet bukan tabu bagi penyair (Aku Tulis Pamflet Ini, Rendra) Kumpulan puisi Rendra berjudul Potret

Tulisan ini pada dasarnya merupakan sebuah resistensi – atau lebih tepatnya eskapisme – dari kungkungan kegilaan yang semakin menjadi-jadi menjelang

“Oh, Federico Garcia, call the civil guard!” Dalam penggalan baris puisinya yang berjudul “Kematian Antonito el Camborio” (Muerte de Antonito

Membaca puisi-puisi Afrizal Malna adalah membaca korespondensi benda-benda. Puisi-puisinya yang melawan bentuk itu, seolah-olah mengajak kita berdialog dengan benda mati

Sebuah bangsa memilih tragedinya sendiri, merupakan kalimat pengantar dalam memahami bagaimana kita – bangsa Indonesia – memberi perhatian lebih pada

God is a concept by which we meansure our pain —John Lennon (1940-1980) Saya mencoba menerka, kira-kira apa yang sedang

Epos Ramayana tidak perlu diuraikan terlalu panjang karena siapapun telah mengenal kisah ini – tidak terhitung berapa ratus ribu kali