Sumber Gambar: http://theyesfactor.wordpress.com

(Kegilaan dan Spiritualitas dalam Karya Hermann Hesse)

Bayangkan lukisan kucing khas Popo Iskandar, atau jajaran repetoar siprus dalam karya Van Gogh. Bayangkan pula barisan begundal di dataran Tortilla dan Cannery Row yang tidak cukup ditulis Steinbeck hanya dalam satu novel, bayangkan wajah malaikat yang kerap muncul dalam cerita pendek Danarto atau beragam wujud cinta yang tersirat dalam lagu-lagu Lenon. Wujud dan wajah yang muncul dalam pengulangan memberikan sebuah keasyikan tersendiri bagi penikmatnya dan menjadi penciri untuk mengenali karya seseorang. Sedangkan bagi pelukis/penulisnya sendiri, pengulangan muncul dalam dua kemungkinan: sebagai sebuah pencarian jawab atas persoalan yang belum selesai, atau sebagai bentuk kegilaan terhadap apa yang ia tuangkan dalam karyanya.

Tapi bagi Herman Hesse, sebuah pengulangan adalah pencarian sekaligus kegilaan. Dan di pintu masuk kedalam dunianya – yang terangkum dalam berbagai bentuk puisi, prosa, novel hingga esay –, ia memasang jelas-jelas sebuah tanda: ”Hanya untuk orang gila!”. Tanda ini memikat bagi siapa saja yang tertarik untuk memasuki sebuah teater absurd dengan jajaran wajah didalamnya: mulai dari anak muda naturalist, gembel borjuis, sosok setengah nabi setengah setan, setengah manusia setengah serigala – yang berbagi satu tujuan: mencari jalan menuju dirinya sendiri. Pencarian spiritual[1] kemudian menjadi ciri tersendiri bagi sastrawan yang memperoleh nobel sastra pada tahun 1946 ini. Namun, pencarian spritual yang dilakukan Hesse dari awal sudah menyimpang – sisi inilah yang menjadikan Hesse menarik, baik dari segi individu ataupun karya-karyanya. Pada setiap karakter yang ia bangun, kita tidak hanya menemu kegelisahan seorang manusia yang mencari “dirinya” (the Self) dalam berbagai versi pencarian spiritual, tapi juga disuguhkan pada lapis demi lapis psikoanalisis yang ia warnai dengan kegilaan.

Kegilaan dan spiritualitas nampaknya tidak pernah usai dibicarakan oleh Hesse. Ia yang dibesarkan dalam keluarga borjuis dihadapkan pada agama, seni dan ilmu pengetahuan sebagai patokan tertinggi kehidupan sejak usia dini. Ibunya menggambarkan Hesse kecil melalui sebuah frase “tyranical temperament and passionate turbulence”[2]. Kekuatan watak ini, ditambah dengan kegemarannya akan gagasan Nietzsche, menghantarkan Hesse pada pemberontakan terhadap nilai tatanan moralitas yang dianggapnya usang. Dan titik puncak pemberontakan Hesse muda dilakukan melalui percobaan bunuh diri pada usia 15 tahun yang menghantarkan Hesse pada perawatan kejiwaan pertamanya di Setten in Remtal – dengan diagnosa depresif yang akan seterusnya melekat pada dirinya.

Setelah insiden tersebut, kesulitan beradaptasi pada kehidupan sosial dan sisi pemberontak dalam diri Hesse membuatnya memutuskan berhenti dari bangku pendidikan dan mulai bekerja di sebuah toko buku sembari menulis kumpulan puisi pertamanya yang terbit pada tahun 1897 dengan judul Romantics Songs, dan menerbitkan kumpulan prosa One Hour after Midnight setahun kemudian. Karya-karya awal Hesse kurang mendapat perhatian publik hingga ia menerbitkan Peter Camenzind (1904) yang ditulis Hesse paska kematian sang ibu di tahun 1902. Peter Camenzind merupakan novel pertama Hesse sekaligus awal alegori pencarian diri dalam karya-karyanya. Di dalamnya, Hesse mengangkat tentang terkungkungnya kesadaran manusia atas ilusi keberpisahannya dengan alam. Sehingga pencarian spiritual Hesse dimulai melalui sosok Peter Camenzind yang berjalan menuju takdir butanya dituntun tidak lain oleh kekuatan alam – indah sekaligus menakutkan.

Peter Camenzind mendapat banyak pujian atas keberhasilan Hesse mengurai kesadaran dalam wujud yang sangat indah – setiap baris dalam dua ratus halamannya adalah sebuah untaian puisi panjang. Namun filosofi Hesse tentang alam bukanlah akhir dari pencariannya, dan melalui pendekatan lain, yaitu Theosophy, Hesse berjalan kearah spiritualitas yang ditawarkan kebudayaan lain: Budhisme. Ketertarikannya pada Budhisme membuat Hesse memutuskan untuk memulai perjalanan ke Burma dan Indonesia pada tahun 1911 – di Indonesia, ia melakukan perjalanan panjang di Kalimantan dan Sumatera[3]. Perjalanan ini memberikan kesan mendalam walaupun ketika kembali ke Jerman ia dihadapkan pada perceraian yang mengembalikan ketidakstabilan emosinya. Kondisi ini menghantarkannya kembali pada perawatan kejiwaan, dimana kali ini ia berada di bawah pengawasan Carl Gustav Jung. Pertemuannya dengan Jung memberikan pengaruh besar pada Hesse, sehingga lahirlah Demian, sebuah karya fenonemal Hesse yang ditulis dalam waktu tiga minggu ketika ia menjadi pasien Jung – membuat Demian syarat dengan pergulatan psikologis.

Demian ditulis dalam bentuk autobiography yang pada awalnya diterbitkan atas nama samaran Emil Sinclair – baru pada cetakan kesembilan, Hesse mencantumkan namanya. Serupa dengan tema yang telah ia mulai melalui Peter Camenzind, dalam Demian, Hesse melakukan pencarian spiritual – namun kali ini ia menemukannya bersentuhan dengan sisi gelap kehidupan dalam simbolisasi Dewa yang mewakili dunia hitam sekaligus putih: Abraxas. Interpretasi agama yang cukup liar dilakukan Hesse dalam novel ini: tentang sekte pengikut Kabil (Cainism), pembacaan ulang akan peristiwa penyaliban, sampai ritus meditasi pagan – sehingga hanya para spiritualist gila yang mampu memahami Demian tanpa memicingkan mata.

Secara keseluruhan, Hesse memainkan simbol yang mengacu langsung pada analisis Jung tentang proses individualisasi. Disini kita dihadapkan pada trauma masa kecil Sinclair – tidak lain merupakan cermin dari kehidupan borjuis Hesse sendiri – yang menemukan suara hatinya melalui sosok Demian. Demian, digambarkan sebagai seorang anak yang memiliki kebijaksanaan purba dan kesanalah Sinclair melangkah. Selain dari simbol Demian (the inner vioce), muncul simbol lain yang menjadi figur penentu dalam proses individualisasi, yaitu guru penunjuk arah (yang disimbolkan oleh sosok Pistorius), hasrat akan pencarian yang dinamai Beatrice, dan esensi kebenaran (yang disimbolkan dalam sosok Eva, Mother Eve). Namun berbeda dengan Peter Camenzind yang mencoba mencapai kesadaran tertinggi melalui pemasrahan diri, dalam Demian jalan spiritual begitu menyakitkan: ia layaknya seekor anak burung yang berjuang keluar dari cangkangnya – karena penemuan diri merupakan sebuah proses kelahiran (kembali) yang menyakitkan.

Demian diterbitkan saat perang dunia I baru saja usai, pada tahun 1919. Kegelisahan Hesse tentang proses kelahiran kembali ternyata bersentuhan dengan alam bawah sadar kolektif Eropa yang kala itu tengah bergulat dengan kegamangan diri – sebuah persinggungan yang kembali menempatkan Hesse di jajaran penulis papan atas Eropa. Tapi Hesse tidak berhenti pada jalan spiritulitas pagan, ia lantas menggarap intisari dari perjalanan spiritual yang ia lakukan sebelumnya dan terbitlah Siddhartha pada tahun 1922. Eropa lantas mengenalnya sebagai salah satu karya klasik yang berhasil merangkum makna Om sebagai puncak pencapaian spiritual Budishme. Dan ketika publik merasa Hesse telah berada di akhir pencarian melalui (penulisan) Siddhartha, ia menerbitkan Steppenwolf (1927) – sebuah karya setengah gila yang memaparkan secara mendetil kondisi psikologis Harry Haller, seseorang yang menggambarkan dirinya sebagai setengah manusia setengah serigala.

Dalam Steppenwolf – melalui tokoh anti-hero bernama Harry Haller – Hesse menemukan jalan kebebasan (spiritual) dengan memisahkan diri secara total dari masyarakat dan aturan-aturannya. Untuk mendukung tujuannya, Haller membangun sebuah kepercayaan mutlak bahwa ia selamanya adalah serigala padang rumput yang terpisah dari kawanannya. Teknik penulisan autobiography kembali digunakan Hesse, namun karena karakter Harry Haller yang cenderung rumit, alur penulisan Steppenwolf kurang dapat dipahami publik Eropa saat itu, padahal dalam Steppenwolf Hesse secara gamblang berhasil menyentuh sisi spiritualitas modern, yaitu: isolasi – dengan Harry Haller sebagai spiritualist modern, sang ubermensch ala Hesse.

Dalam Steppenwolflah kita bertemu teater absurd dengan tanda “Hanya untuk orang gila!” dipasang  dipintunya. Sebuah sisipan sarkasme tercium disini: bahwa hanya orang gilalah yang berpikir untuk melakukan pencarian spiritualitas. Publik yang kala itu tidak siap dengan sindiran sinis Hesse, menempatkan Steppenwolf dikalangan sastra pinggiran – namun empat puluh tahun kemudian ketika sebuah generasi menjadi gila secara bersamaan, teater absurd dalam Steppenwolf menemukan tempatnya. Ia disandingkan dengan penggunaan psychadelic sehingga (walaupun tidak bersinggungan) Hesse adalah nabi bagi para beatnik dan hippies, dan karya-karyanya menjadi bacaan wajib dalam pencarian spiritual.

Hesse menerbitkan tiga novel terakhirnya setelah Steppenwolf, yaitu Narcissus and Goldmund, Journey to the East, dan The Glass Bead Games. Namun, dapat dikatakan bahwa tokoh Harry Haller adalah puncak dari eksplorasi kegilaan Hesse dalam pencarian spiritualitasnya.  Harry Haller – yang jika disingkat H.H, inisialnya sendiri – adalah gambaran paling kuat bagi narasi individualisasi Hesse: setengah gila, dengan status gembel borjuis, intelektual tajam, insting yang kuat serta memiliki pemahaman terhadap “the Self”, adalah sesuatu yang ia coba gapai sejak kemunculan novel pertamanya Peter Camenzind. Melalui sebuah perjalanan panjang, Hesse sampai pada kesimpulan: bahwa ketakutan terbesar manusia terhadap penderitaan adalah hambatan menuju “diri”, dan untuk itulah seseorang membutuhkan kegilaan – kegilaan yang mampu mengubah siksaan menjadi hasrat surreal[4] untuk menuntun seseorang menuju sisi (spiritualitas) terdalamnya. Atas pembacaan ini, Hesse – seperti Nietzsche, sang idola – adalah segelintir yang diberkahi kegilaan hingga dapat mengubah narasi (spiritual) sejarah. Adapun bagi yang lain – kita (manusia pada umumnya) – dapat dengan nekat mengikuti jejak mareka, walaupun Hesse telah mengingatkan: bahwa jalan spiritual adalah teater absurd “hanya untuk orang gila!”.

Keterangan:
[1] Spiritualitas mengacu pada proses transformasi diri, walau terdapat definisi lain yang diterima secara luas
[2] Freedman, Ralph, 1978, Hermann Hesse: Pilgrim of Crisis: A Biography, Pantheon Books, New York
[3] perjalanannya Hesse di indonesia tidak banyak diurai, namun sumber terkait dapat ditemukan dalam buku Freedman, 1978 (ibid.)
[4] Alusi hasrat sureal muncul dalam Demian melalui penggambaran Beatrice

5 COMMENTS

  1. Kak, aku punya rencana buat angkat topik demian buat final project aku, kita2 terlalu berat ga ya kak? Dan adakah saran harusnya aku angkat topik ttg apa dr Demian? Theme or symbol kah? Thanks a lot.

  2. Halo Adya, saya rasa bisa dari sudut mana saja kok, Herman Hesse sangat punya banyak sisi menarik untuk diintrepretasikan 🙂

  3. Halo kak,
    Saya senang dan berterimakasih untuk tulisan kakak yang bermanfaat. Kalo boleh tau sumbernya darimana ya kak ? Karna saya butuh biografi Hesse yg lebih detail. Terimakasih.

  4. Halo kak,
    Terimakasih, tulisan kakak sangat bermanfaat. Kalau boleh tau sumbernya dari mana ya kak? Larna saya butuh biografi Hesse yang lrbih detail lagi. Terimakasih.

  5. Halo fajar, sumber saya cantumkan pada bagian keterangan…sisanya saya ngarang sendiri hehe

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?