For each poem, Rimbaud paid a price in suffering, in jealousy, in misunderstanding[1]

Keterpukauan kerap kali menelan kata-kata. Dan karya Rimbaud adalah salah satu contoh dimana komentar, kritik, sanjungan, analisis, telaah – atau semua yang tertuang dalam bentuk kata-kata – menjadi upaya yang mendekati sia-sia karena tidak mampu merangkum seluruh elemen puitis si anak bengal tersebut, alhasil: kita dibuat tersenyum, tertawa, menangis atau tertegun, tanpa mampu berkata-kata. Hal lain yang menyulitkan interpretasi atas karya Rimbaud adalah karena sang penyair kemudian dikenal sebagai tonggak puisi modern Perancis – sebuah posisi dengan standar yang tidak sembarangan dan memiliki pengaruh luas, bukan hanya pada bangun sastra Perancis tapi juga pada bentuk penulisan puisi free verse[2]. Berhadapan dengan karya Rimbaud, siapapun akan berhadapan dengan pilihan sulit: menyerah secara pasif pada kekuatan ekletis sang penyair, atau memberanikan diri untuk menyingkap tabir metafora karya-karyanya – walau konsekuensi dibalik pembacaan mendalam terhadap metafora Rimbaud tidak hanya berakibat kehilangan kata-kata, tapi juga kehilangan kesadaran (baca: trance).

Arthur Rimbaud lahir di pedesaan Perancis bernama Charlevilla, Ardennes, pada 20 Oktober 1854. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Rimbaud untuk menunjukkan bakat menulisnya dan didorong oleh Pastur Ariste Lhéritier yang menyadari kejeniusan Rimbaud, maka pada 1870 publikasi puisi pertama Rimbaud berjudul “The Orphans New Year’s Gifts” dimuat dalam tabloid La Revue pour tous. Kemampuan menulisanya semakin diasah ketika ia bertemu Georges Izambard, seorang guru sekaligus mentornya dalam sastra dan kepenulisan. Izambard pulalah yang memperkenalkan Rimbaud pada Paul Verlaine, seorang figur terkemuka di kalangan penyair simbolis Perancis, melalui surat yang berisi rekomendasi dan beberapa puisi karya Rimbaud. Perkenalan inilah yang mengawali sepak terjang seorang pemuda tujuh belas tahun dalam misinya untuk mengubah tatanan nilai ideal, dalam puisi – dan juga dalam (persepsi) kehidupan.

Namun, bukan Verlaine yang membuat Rimbaud memberontak – juga bukan Izambard ataupun Pastur Ariste Lhéritier – tapi kenyataan bahwa pemberontakan adalah gen yang dibawa Rimbaud sejak lahir. Pemberontakan yang dilakukannya membutuhkan objek, sehingga dua hal yang paling dekat dengannya sejak kanak-kanak langsung menjadi sasaran aksinya, yaitu: nilai-nilai agama kristiani dan ibunya. Pemberontakan pada nilai-nilai kristiani hanya dilakukan Rimbaud dengan cara kekanak-kanakkan, dengan menulis “Mort à Dieu!” (Death to God) di bangku gereja dan menghardik setiap Pastur yang lewat. Sedangkan pemberontakan pada sang Ibu ia realisasikan melalui bentuk yang lebih canggih: metafora. Sang ibu, Vitalie Cuif Rimbaud, adalah seorang perempuan dengan bebannya sendiri – suaminya pergi ketika anak-anaknya masih kecil dan harus menopang kehidupan keluarganya seorang diri – namun bagi Rimbaud, ia merupakan manifestasi dari “Mouth of Shadows” – mulut kegelapan, dan yang keluar darinya hanyalah rangkaian aturan serta kasih sayang “formalitas”. Pada sosok inilah Rimbaud muda memberontak mati-matian – sebuah pemberontakan yang ia kobarkan melalui penghancuran atas segala bentuk kemapanan versi sang ibu, karena menurutnya: the ugly provide a refuge from “the ignoble game of the ideal”[3]. Persis ketika Rimbaud membutuhkan bentuk pemberontakan yang lebih “membabi-buta”, ia bertemu dengan Paul Verlaine dan memulai fase pemberontakannya yang paling terkenal.

Kisah cinta Rimbaud dan Verlaine adalah cerita getir manis yang asimetris. Bagi Verlaine, Rimbaud adalah pengorbanan (termasuk mengorbankan keluarga dan posisi terpandangnya di masyarakat), namun bagi Rimbaud, Verlaine adalah sosok yang menyediakan “the ugly” dalam skenario pemberontakannya – dengan cara hidup bohemian, keduanya menyelami “keburukan duniawi” untuk mencapai apa yang disebut Rimbaud sebagai kebebasan abadi. Dalam rentang petualangannya bersama Verlaine inilah, Rimbaud menghasil karya-karya terkemukanya, diantaranya: Le Batueu Ivre (The Drunken Boat, 1871), Proses Evangeliques (1872), Une Saison en Enfer (A Season in Hell, 1873) dan Illumination (1874). Melalui empat karyanya tersebut, kita bertemu dengan inti gagasan pemberontakan Rimbaud – karena apa yang dilakukannya bukanlah semata-mata ulah remaja seusianya yang gandrung dengan pemberontakan namun tanpa arah. Rimbaud memiliki letak konseptual (atau sebut saja ontologi) yang kuat: ia mencari makna keberadaannya (being) melalui metode “mirror-play of world”[4] – pembalikkan dunia, sebuah metode yang mengantarkannya pada berbagai bentuk pendobrakan tatanan nilai. Melalui puisi-puisinya kita menemu berbagai upaya Rimbaud untuk menguasai dan mengalahkan nilai, realita dan bahkan dirinya sendiri.

O my sentinel soul,

Let us always desire

The nothing of night

And the day on fire.

From the voice of the World

And the striving of Man

You must set yourself free;

You must fly as you can

(Eternity)

Kekuatan konsep inilah yang menjadikan puisi Rimbaud begitu sulit untuk dijinakkan. Puisinya merupakan penaklukan diri – yang hanya bisa dikalahkan oleh sang Jenius sendiri. Namun ternyata, puisi Rimbaud tidak muncul dalam bentuk pemberontakkan “garis depan” seperti yang ia praktekkan dalam gaya hidupnya – ia tidak berapi-api, juga tidak penuh ironi seperti penyair pendahulunya sekaligus idolanya, Charles Baudelaire –, puisi Rimbaud lebih terasa mengalir, bahkan cenderung mengarah pada bentuk kepasifan total. Namun, kepasifan yang diusung Rimbaud adalah bentuk kepasifan yang mengundang bahaya – ia menuliskannya dalam “The Drunken Boat”:

As I was going down impassive Rivers,

I no longer felt myself guided by haulers:

Yelping redskins had taken them as targets

And hal nailed them naked to colored stakes. 

I was indifferent to all crews,

The bearer of Flemish wheat of English cottons

When with my haulers this uproar stopped

The Rivers let me go where I wanted.

(The Drunken Boat)

Dalam puisi ini, Rimbaud “menenggelamkan” segenap eksistensinya – ia membiarkan segala bentuk kehidupan dan mengundang segala bentuk bahaya untuk memunculkan diri. Karena melalui proses inilah ia akan menemu kebaruan (atas eksistensinya). Gagasan inilah yang membedakan Rimbaud dari bentuk puisi pada zamannya yang kental dengan pengaruh simbolisme yang diusung Baudelaire, Mallarme atau Verlaine – jika puisi simbolisme cenderung mengikat makna kedalam simbol (dan kata-kata), maka puisi Rimbaud merupakan kebalikannya: ia memilih untuk membebaskan simbol demi mendapatkan visi pembaharuan atas makna (dan dirinya). Melalui gagasan idealnya tersebut dalam pemahaman keberadaan dan penguasaan eksistensi, Rimbaud seringkali disandingkan dengan filsuf pemberontak yaitu Nietzsche, yang menggubah Thus Spoke Zarathustra pada pijakan yang sama – sungguh tidak aneh mengapa “kesadaran” dunia terguncang saat itu, karena kedua pemberontak ini hidup pada masa yang sama.

Pada tahun 1875, Rimbaud menarik diri dari penulisan puisi sepenuhnya, saat itu ia berusia dua puluh satu tahun. Ia yang menyadari kejeniusannya, berhenti seketika melalui sebuah pernyataan: “tidak ada yang akan menyamai apa yang telah kutulis!”. Disini, sekali lagi sisi pemberontak Rimbaud muncul ke permukaan, ia memberontak pada kejeniusannya sendiri dengan mengonggokkannya begitu saja. Keputusan ini berbarengan dengan akhir kisah cinta “brutal”nya dengan Verlaine – yang ditandai dengan sebuah adegan dramatis ketika Verlaine yang histeris menembak tangan Rimbaud. Setelah insiden penembakan tersebut, ia kembali ke rumah ibunya di Ardennes, sang musuh utama sekaligus orang yang paling dikasihinya. Rimbaud yang kini menemukan (kejeniusan) dirinya sebagai objek pemberontakan, berdamai dengan sang Ibu dan menjadi penopang hidup keluarga dengan mengelola tanah keluarganya di Afrika. Namun, petualangannya tidak berakhir disini, karena ia kemudian berkelana, termasuk menginjakkan kaki di Jawa dan lari sebagai desertir.

Hingga kematiannya pada tahun 1891, Rimbaud menyangkal setiap kali dirinya diidentikkan dengan kalangan elit penyair Paris. Puisinya, seakan-akan mewujud atas apa yang ia tulis dalam “A Season in Hell”: a torn page from the diary of my damnation – neraka, bagi Rimbaud, berada dalam setiap detak jantung dan tetesan anggur, sehingga ia mencoba mengasingkan diri dari puisi-puisinya sejauh mungkin. Paska kematiannya, Verlainelah yang menerbitkan kumpulan lengkap puisi Rimbaud. Melalui penerbitan ini, wajah sastra Perancis tidak akan pernah sama – selamanya akan terekam kata-kata Rimbaud yang tengah “mabuk” menarikan kesadarannya. Sedangkan bagi dunia, puisi Rimbaud memberi jalan pada pengakuan akan standar puisi bebas, sehingga melahirkan jajaran penyair free verse lain mulai dari Allen Ginsberg hingga Jim Morrison. Namun, terlepas dari bangun keilmuan literasi, satu hal yang menjadikan puisi Rimbaud menjadi begitu monumental: bahwa puisi-puisinya senantiasa memberikan jalan menuju trance of existence.

Keterangan:

[1] Oxenhandler, Neal, 2009, Rimbaud: Cost of a Genius, The Ohio State University Press, Ohio, hal. 3

[2] Free Verse adalah bentuk puisi yang tidak menggunakan pola rima dan bait yang baku (http://literarydevices.net/free-verse/)

[3] Bonnefoy, Yves, 1994, Rimbaud (2nd ed.), Le Seuil, Paris, hal. 17

[4] Bersani, Leo, 1984, A Future for Astyanax: Character and Desire in Literature, Columbia University Press, hal. 254.

2 COMMENTS

  1. iya kak inayah…tentang Rimbaud di Jawa juga bisa dibaca dalam “Sejarah kecil Indonesia-Prancis 1800-2000 “(Petite histoire de l’Indonésie et de la France) karya Jean Rocher dan Iwan Santosa 🙂

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?