Review Musik The Eclectic NEU!

The Eclectic NEU!

-

NEU! adalah band dengan mitosnya tersendiri, sebuah bank yang meletakan poda dasar ciri musik Krautrock. Ketika melakukan riset untuk tulisan ini, sejumlah media mengangungkan mereka dengan menyebut NEU! sebagai salah satu band paling berpengaruh. Jajaran nama kemudian hadir sebagai legion musisi yang kental dipengaruhi sound duo Dinger-Rother ini: mulai dari David Bowie, Hawkwind, Joy Divison, PIL, Sonic Youth, Porcupine Tree, Stereolab, Ultravox, Simple Mind, The Horrors, Electrelane, Radiohead, Primal Scream, Kasabian, Foals, Fujiya & Miyagi, hingga School of Seven Bells (Bruce, BBC Music, 2009). Namun, nama-nama ini menjadi tidak relevan untuk mengurai musikalitas NEU! – bahkan bagi saya pribadi, selain dari lima nama yang disebutkan di awal, sisanya sama sekali tidak masuk daftar layak dengar. Oleh karena itu, hanya ada satu cara untuk menelusur sisi eklektik NEU!: yaitu dengan mendengar secara seksama ketiga album fenomenalnya – dan menyaksikan bagaimana mereka mendekonstruksi estetika musik elektrik yang sebelumnya sangat terpengaruh oleh pola sekuensi musik klasik. Sebagai langkah pertama, simaklah karya mereka berjudul “Hallogallo”, lagu pembuka di album pertama mereka yang dirilis tahun 1972 (disclaimer: jika anda merasa kelelahan dengan pola repetitif yang mereka tawarkan, besar kemungkinan anda terlalu banyak mendengarkan Radiohead)


(NEU! – Hallogalo)

NEU! terbentuk ketika Klaus Dinger dan Michael Rother keluar dari Kraftwerk di awal tahun 1970an. Keduanya kemudian membentuk NEU!, sebuah band elektronik eksperimental – dengan dua kepribadian. Kepribadian ganda ini menjadi ciri tersendiri dalam album-album NEU!, karena ternyata kedua musisi saling memberikan ruang dalam eksplorasi subjektif musikalitas masing-masing, alhasil album NEU! selalu hadir dalam dua sisi: sisi ambient kontemplatif milik Rother dan agresivitas proto-punk milik Dinger. Namun, diantara dua kutub tersebut, terdapat lagu seperti “Hallogallo”: sebuah kompromi kreatif yang menjadikan NEU! seakan berada di garis batas – Tim Sommer (Observer, 2015) menggambarkannya sebagai “meditative but constantly teetering on the edge of punkish revolt”. Selain Hallogallo, paduan harmonisasi biner tertuang dalam “Negativland”, sebuah lagu berdurasi 9 menit yang memadukan melodi gitar dengan ambience menyayat sebagai latar.


(See Land, NEU! 75, Ambient ala Rother)


(E-Musik, NEU! 75, Proto-punk ala Dinger)

Namun sisi eklektik NEU! bukan terletak pada dual warna musikalitasnya, tapi pada perombakan struktur musik yang dilakukan Dinger/Rother dengan meniadakan sekuensi yang lazim digunakan dalam musik klasik: yaitu eksposisi, development dan improvisasi. Struktur musik klasik sendiri telah mapan digunakan dalam perkembangan musik elektronik – sejak perkembangan awal Musik Futurisme di Italia dan Rusia tahun 1910, Musik Concrete di Perancis dan Musik Space di German pada tahun 1950an, hingga eksperimen krautrock di akhir 1960an yang dipopulerkan oleh Kraftwerk, Faust, juga Tangerine Dream. Dinger/Rother yang sebelumnya merupakan personil Kraftwerk, menghilangkan pola struktur tersebut dan mendasarkan musik mereka hanya pada pola moderasi 4/4 – dengan pengulangan ketukan yang sama dari awal hingga akhir. Ketukan ini kemudian dikenal dengan istilah “Motorik”, sebuah perayaan sekaligus sindiran pada suara-suara mesin yang semakin menguasai kehidupan manusia – sehingga dengan menggunakan beat ini, musik muncul dalam bentuk “estetik-mekanik”.

Pola “motorik” pada akhirnya menjadi kekhasan Krautrock, karena selain NEU!, ia juga digunakan oleh Can (terutama dalam album Future Days dan Ege Bamayasi), Harmonia, Cluster, dan Kraftwerk (dalam Autobahn – album yang dirilis pada tahun 1974, dua tahun setelah Dinger/Rother meletakkan pijakan dekontruksi estetikanya melalui NEU!). Klaus Dinger yang mengisi drum pada NEU! menyebut ritme dasar tersebut sebagai “Apache Beat”, sebuah istilah yang menjadi trademark bagi NEU!. Karena walaupun beat motorik lajim digunakan oleh band krautrock lain, namun hentakan drumm Dinger dalam NEU! selalu dapat dibedakan: ia bukan hanya sebagai latar, namun menjadi komposisi utama – Dinger layaknya Max Roach dalam Krautrock, a one-man percussion orchestra. Musikalitas Dinger dipadukan dengan eksentrisme Rother yang multiinstrumentalist, menjadikan NEU! sebagai salah satu band paling populer dalam gelombang rock avant-garde jerman dengan sound yang memiliki ciri tersendiri – beberapa menyebutnya “organic sound”.


(NEU! – Hero)

Terdapat sisi eklektik lain dari duo Dinger/Rother yang bukan berasal dari segi musikalitas – yaitu pada artwork dan penamaan yang mereka gunakan. Penggunaan kata NEU! yang berarti “baru” bisa jadi terlampau sederhana untuk musisi sekelas Dinger dan Rother. Namun, kesederhanaan – menurut Dinger – adalah sesuatu yang mahal dalam masyarakat yang keranjingan makna. Begitu pula dengan artwork sederhana yang mereka gunakan pada ketiga albumnya. Dengan hanya menulisakan NEU!, Dinger/Rother mengusung gerakan Pop-art yang diinisiasi oleh Warhol – sebuah protes terhadap komuni krautrock saat itu yang bergerak menuju arah “avant-garde yang sama”. Dari pernyataan inilah kita dapat melihat kebulatan konsep NEU!: bahwa mereka memang eklektik sejak awal. Sehingga tidaklah mengherankan ketika David Bowie menjadikan NEU! sebagai inspirasi utama pada trilogi album Jermannya – Low, Heroes dan Lodger – dengan Dinger/Rother sebagai sosok “Heroes” yang sebenarnya: yaitu dua orang yang menyelamatkan krautrock dari bahaya “gerakan revolusi (musik) satu dimensi”.

Sumber:
Bruce, Sophie, 2009, You Can’t Imitate the Innovators, BBC Music Review,
Sommer, Tim, 2015, 8 Krautrock Artists You Need to Hear Right Now, Observer Music,

Previous articleIslam, Kejawen dan Relativisme
Next articleCome and See

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Los Tres Grandes: Tiga Pilar Gerakan Mural Meksiko

Dalam konteks pembentukan negara modern, mungkin hanya Meksiko yang secara eksplisit menuangkan gagasan nasionalismenya melalui guratan mural...

Cerpen Rudyard Kipling: Kisah-kisah Datar dari Perbukitan

Rudyard Kipling memulai karir sebagai penulis cerita pendek lewat kumpulan karya berjudul Plain Tales from the Hills yang saya...

Lainnya...

The Anti-Establishment (or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Irony)

Seperti kebanyakan orang, saya agak uring-uringan ketika melihat pemberitaan di berbagai media atas kemenangan mengejutkan Donald Trump. Tapi fase...

Come and See

And when he had opened the fourth seal, I heard the voice of the fourth beast say, Come and see!. And...

Kenangan Terakhir Bersama (Aki) Achdiat Karta Mihardja

Mungkin generasi muda sekarang tidak banyak yang mengenal siapa itu Achdiat Karta Mihardja (6 Maret 1911-8 Juli 2010). Aki,...

Islam, Kejawen dan Relativisme

Memasuki abad empat belas masehi, Islam mulai menyebar di tanah Jawa bersamaan dengan berlalunya “gara-gara” atau semacam kekacauan kosmologis...

Must read

The Boxer at Rest: Anomali Seni Hellenis

Bukan sejarah namanya jika tidak menawarkan teka-teki. Demikian pula...

Lukisan Apokaliptik El Greco

El Greco, adalah nama dengan catatan kaki. Ia kini...

You might also likeRELATED
Recommended to you