Here comes the warm jets dirilis pada tahun 1974 merupakan album solo pertama Brian Eno setelah ia memutuskan keluar dari Band yang mengorbitkan namanya: Roxy Music. Tiga puluh tahun kemudian, melalui sebuah film garapan Tod Hayness berjudul Velvet Goldmine, album ini membuat seorang mahasiswa meninggalkan buku pelajaran dan juga meninggalkan apa yang ia pegang teguh selama masa hidupnya (yang saat itu baru menginjak usia 21 tahun): yaitu sebuah kepercayaan naif bahwa musik rock hanya bisa hadir melalui distorsi kasar dan lirik umpatan. Saat itu adalah tahun 2004 – tahun dimana musik rock telah mati dan beristirahat dengan tenang bersama mendiang Kurt Cobain. Sisanya hanyalah gema yang disuarakan oleh jajaran musisi rock penghabisan di era 90an, dan memasuki tahun 2000, musik rock telah hilang sama sekali dari muka bumi. Mungkin dari kondisi inilah muncul istilah post-rock: sebuah konseptualisasi bawah sadar para musisi (seperti) rock di abad 21 yang berjalan semakin jauh dari akarnya. Dalam kondisi inilah – dengan geliat musik yang semakin tidak ia pahami – album Here comes the warm jets sampai ke tangan si mahasiswa tanpa sengaja. Dan hasilnya bukan saja pencerahan secara musikalitas, namun menjadi jalan bagi penelusuran gagasan dalam esensi musik rock itu sendiri.

Saat ini, nama Brian Eno lebih dikenal sebagai pionir musik ambience dan master musik elektronik daripada seorang glam-rocker. Namun, Eno adalah banyak hal – dengan keahliannya dalam memproduksi suara, ia bisa menjelma menjadi (musisi) apa saja. Karirnya dimulai bersama Roxy Music – sebuah band eksperimental yang lahir pada era glam. Tapi tepat disaat Roxy Music telah menapaki ketenaran, Eno merasa bosan dan keluar dari band tersebut. Bersama Roxy Music sendiri, Eno hanya memproduksi dua album: Roxy Music (1972) dan For Your Pleasure (1973). Tak ayal keduanya merupakan pijakan bagi Roxy Music, dengan pengaruh kental Eno didalamnya. Mungkin karena pengaruh jaman – atau bisa saja sebagai pembalasan dendam atas rival seterunya dalam Roxy Music, Bryan Ferry – album solo pertamanya lahir dengan nafas glam. Alhasil, hadirlah Here comes the warm jets, yang bagi saya merupakan album glam-rock terbaik yang pernah dibuat. Dalam segi musikalitas, Eno jauh mengalahkan T-Rex, Slade, Cockney Rebels dan musisi glam lain pada jamannya – bahkan secara teknik, ia melampaui pionir glam-rock, David Bowie, yang meletakkan estetika glam melalui The Rise and Fall of Ziggy Stardust pada tahun 1972. Setelah Here comes the warm jets, Eno melakukan berbagai bentuk eksperimental mulai dari proto-punk (simak Third Uncle dalam Taking Tiger Mountain), mengawal gejolak avant-garde Bowie dalam German Trilogynya (Heroes, Low dan Lodger), hingga mengangkasa bersama Robert Wyatt dari Soft Machine. Sisi eksperimental ini menjadikan Here comes the warm jets istimewa, karena bukan saja sebagai satu-satunya album glam yang pernah diproduksi secara solo oleh Brian Eno, tapi juga menjadi salah satu album papan atas glam-rock yang kemungkinan besar dibuat Eno atas dasar eksperimental (jika tidak mau menggunakan kata iseng).

Seperti halnya pengaruh glam yang telah lama ditinggalkan Eno, era glam-rock pun telah lama berlalu dan sisa-sisanya hanya mewujud dalam nostalgia keriaan make-up dan glitter tanpa makna yang dirayakan Lady Gaga. Sehingga bagi generasi yang lahir jauh setelahnya, kata glam-rock hanya menjadi sebuah gambaran genit dalam sejarah rock – dan bagi para pendengar rock yang kebanyakan memiliki maskulinitas kompleks, ide pembengkokan seksual sebagaimana yang ditawarkan oleh era glam, menjadi tabu dibicarakan. Pendengar punk – misalnya –, atau hardcore dan heavy metal di tahun 90an, kebanyakan akan menganggap bahwa glam adalah musik flamboyan keperempuan-perempuanan, tanpa menyadari bahwa eye-liner, black eye-shadow, serta celana ketat yang mereka gunakan, mendapat pengaruh dari era tersebut. Begitupun dalam konteks musik, glam-rock bagi sebagian orang adalah vokal mendayu-dayu ala Bryan Ferry atau Steve Harley, dengan melodi super catchy (sebagai contoh, simak salah satu lagu glam populer “All the young dudes” yang dibawakan oleh Mott the Hopple), sebuah paduan yang dianggap kurang sangar bagi musik rock. Di tahun 90an awal, terdapat dua band asal Inggris yang berbicara dalam bahasa glam (baca: pembengkokan seksualitas), yaitu Suede dan Placebo. Namun karena secara musikalitas kedua band tersebut tidak mengacu pada eksperimental glam (pop-rock bagi Suede, dan grunge pada konsep Placebo awal), esensi glam tidak pernah tergambar secara utuh – alhasil, pandangan bahwa “glam terlalu cengeng untuk dikategorikan sebagai rock” masih berlaku secara umum. Dan saya, si mahasiswa sok-sok pendengar rock pun berpikiran demikian – sampai suatu ketika saya mendengar lagu berjudul “Baby’s on Fire” karya Eno yang terangkum dalam album Here comes the warm jets.

Lagu ini merupakan salah satu konsep musik glam terbaik: ia flamboyan, penuh “glitter”, genit, namun ketika Robert Fripp (musisi yang digandeng Eno dalam produksi lagu ini) memainkan riff gitar solonya – semua pengolok-olok glam dibuat bungkam karenanya. Disini Fripp menghajar para gitaris heavy metal dengan distorsi mentahnya – sekaligus menghabisi para pecandu musik “keras” yang selalu menggangap glam adalah cengeng. Pada pendengaran pertama, saya pun terkesima: seketika hancurlah mitos bahwa rock adalah musik bising semata, karena ternyata ia bisa hadir dalam bentuk lain. Keterpukauan saya pada lagu ini mengantarkan pada dua jalan: pertama, menjadikan saya sebagai mahasiswa yang jauh dari standar teladan, karena sejak saat itu yang saya pedulikan tidak lain adalah musik. Kedua, sebuah pemahaman terhadap musik rock secara luas, karena ternyata yang dimaksud “rock” bukanlah berarti sekasar apa distrosi dimainkan, tapi mengacu pada musik yang mampu memberikan tamparan – atau dalam bahasa Bowie “music that might get you fucked”.

Glam-rock pada bentuk terbaiknya mampu memberikan tamparan tajam (karena glam-rock bisa begitu rendahan, misalnya saja musisi glam yang tidak tega saya sebut namanya tapi berinisial “GG”). Tamparan dalam glam-rock berasal dari kekuatan konsep yang menyeluruh, menjadikan beberapa musik glam dikategorikan art-rock. Eno, Roxy Music dan David Bowie adalah tiga diantaranya. Dalam karya dan penampilan mereka, kita disuguhkan sebuah kematangan musikalitas yang menyatukan tubuh dan pikiran. Di tangan para musisi ini, musik rock tampil begitu indah namun tanpa kehilangan daya gebraknya. Sisi estetika inilah yang kemudian menjadikan glam (lagi-lagi dalam bentuknya yang paling mumpuni), begitu puitis – seperti karya Baudilaire ataupun Rimbaud: bahwa mereka dengan lancangnya memberikan tamparan, namun dengan cara yang elegan. Tamparan dalam bentuk apapun, tetaplah tamparan – dan bagi saya, glam (sekali lagi, dalam bentuknya yang paling ideal) lebih menampar dari permainan gitar sangar manapun yang pernah dimainkan seorang musisi heavy metal.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?