Sumber Gambar: http://infinitejukeboxeclecticstash.blogspot.com/

Kelahiran Krautrock kerap disandingkan dengan klub bawah tanah Berlin legendaris bernama  Zodiak Free Arts Lab. Dari tempat ini mucul eksperimen musik dalam berbagai bentuk: mulai dari avant-garde, electronik, free-jazz juga psychadelic melalui sederet band berpengaruh antara lain Amon Duull, Can, Ash Ra Tempel, Popol Vuh, Cluster, Tangerine Dream, Klaus Schulze, Neu!, hingga Kraftwerk. Atas gema musikalitas para musisinya, Berlin dinobatkan sebagai salah satu kiblat musik (eksperimen) dunia, dan krautrock menjadi embrio bagi berbagai genre musik yang lahir setelahnya. Namun, napas eksperimen musik di Jerman tidak hanya bergeliat di Berlin, karena ternyata terdapat kota lain, yaitu Hamburg, yang menawarkan sebuah eksperimen musikalitas dengan gaung yang tidak kalah kencang. Sebuah ekperimen yang lahir di sebuah jalan bernama Reeperbanh – jalan ini memiliki reputasi menarik: ia dikenal sebagai jalanan paling berdosa di Jerman.

Kuatnya atmosfir musik di Hamburg – yang terkonsentrasi di Reeperbanh – terbentuk setidaknya atas dua pengaruh: Pertama, melejitnya perekonomian Hamburg paska perang dunia II atas skema bantuan dana Marshall Plan, membuat kota ini diberkahi kesejahteraan melimpah sekaligus gaya hidup hedonis – sederatan klub mentereng kemudian hadir: The Kaiserkeller, Top Ten, Star-Club, Beer-Shop, Mambo, Holle, dan Wagabond (dibaca vagabond dalam bahasa Jerman). Selain kemapanan ekonomi, terdapat pengaruh unik lain yang menjadikan Hamburg begitu istimewa, dan pengaruh kedua inilah yang menjadikan  Reeperbanh memiliki mitos tersendiri: yaitu jalanan dimana The Beatles mulai mengorbit. Pada awal 1960-an, nama The Beatles tidak begitu memiliki arti di Hamburg, namun ketika band ini melejit di seantero dunia, klub-klub dimana mereka sempat bermain menjadi begitu hidup dan hingar-bingar – menjadikan Hamburg surga para hedonist yang riuh dengan musik populer.

Sisi hedonis inilah yang menjadi pembeda utama dari scene musik di Hamburg dengan gerakan musik di Berlin: jika kelahiran Zodiak Free Arts Lab terasa kental dengan nuansa politik karena diprakarsai oleh sebuah komuni radikal bagian dari Red Army Faction, maka scene musik di Hamburg murni hiburan semata yang didorong oleh para pebisnis hotel dan klub malam. Namun, terpisahnya Hamburg dari lingkaran politik, bukan berarti tanpa perlawanan (musik) sama sekali, karena di kota yang hingar-bingar dengan musik populer (ala Amerika dan Inggris) ini, terlahir band yang menjadi salah satu tonggak musik eksperimen Jerman: Faust. Perlawanan Faust bersandingan dengan band eksperimen lain yang muncul dalam jajaran nama Harmonia, Atlantis, Alcatraz, Bruhwarm, Cornucopia, Frumpy, Ikarus, Kravetz, Rattles, hingga Lucifer’s Friend – yang pada akhirnya ikut mendefinisikan ulang musik Jerman. Namun, dibalik kemunculan gerakan estetika musik di Hamburg, terdapat sebuah band yang mengubah arah musik kota ini: The City Preachers. Band ini terlahir sebagai anti-tesis kebengalan dan kebisingan jalanan Reeperbanh – menurut para personilnya, justru ditengah hiruk pikuk kehidupan malam, mereka menemukan campuran suara yang melandasi eksperimen musik The City Preachers. Dan sejak kemunculannya tahun 1965, The City Preachers terus menyuarakan suara perubahan musik dari satu klub ke klub lainnya di Reeperbanh.

Eksperimen musik yang diusung The City Preachers mengacu pada penggabungan berbagai elemen musik folk dari berbagai negara – mulai flamenco dari Spanyol, blues dari Amerika, musik folk Irlandia dan musik gipsi, musil spiritual India, bouzouki dari Yunani, lagu-lagu dari Balkan hingga lagu tradisi Jerman. Reeperbanh yang menjadi pusat hiburan malam di Jerman pada awal 1960-an, memudahkan mereka untuk mendapat berbagai referensi musik, terlebih John O’Brien-Dokcer yang berasal dari London ikut memberikan andil dalam ketersediaan berbagai macam sound yang melandasi eksperimen mereka. Campuran ini menjadikan The City Preachers memiliki karakter musik yang khas. Dengan didukung para musisi multi-instrument di dalamnya, tidak membutuhkan waktu lama bagi The City Preachers untuk menemukan bentuk musiknya.

Dalam formasi awalnya, The City Preacher menelurkan lima album: Folklore (1966), Die City Preachers (1966), Warum (1966), Cool Water (1967) dan Der Kürbis, die Traumtänzer und das Transportproblem (1968). Memasuki tahun 1969, band ini terpecah karena para personilnya berjalan kearah yang berlainan, namun mereka bergabung dalam produksi album pada tahun 1971 berjudul Back to the City – untuk bubar kembali setelahnya. Dan perjalanan paska perpecahan band inilah yang kemudian menarik untuk kita telusuri.

The City Preachers menjadi begitu istimewa karena melalui band ini muncul sejumlah musisi kenamaan, diantaranya: John O’Brien-Docker, Inga Rumpf, Sibylle Kynast, Karl-Heinz Schott, Dagmar Krause, Alexandra, Eckart Kahlhofer, Jean-Jaques Kravetz dan Udo Lindenber. Setiap personilnya memiliki karir musik mentereng masing-masing, diantaranya berbagai proyek musik John O’Brien-Docker dan Udo Lindenber serta karir solo Sibylle Kynast. Selain itu, dari pecahan The City Preachers muncul dua band Krautrock ternama yaitu Atlantis dan Frumpy, yang keduanya dibentuk oleh Inga Rumpf, Karl-Heinz Schott dan Jean-Jaques Kravetz.

Namun, pengaruh dari The City Preachers tidak berhenti disana, karena band ini kemudian memberi keberanian bagi dua vokalisnya – Inga Rumpf dan Dagmar Krause – untuk menggali sisi eksperimen musikalitas mereka lebih jauh, sehingga muncullah album I.D Company (1970). Hasil dari penggalian eksperimental ini adalah karya fenomenal dari keduanya, namun minim apresiasi karena musik idealist yang sulit diterima pasar. I.D Company sendiri merupakan album dengan konsep menarik: tiga lagu pertama merupakan eksperimen psychadelic Inga Rumpf, sedangkan empat lagu selanjutnya diisi oleh gagasan avant-garde Dagmar Krause. Konsep dalam I.D Company meletakkan arah musikalitas bagi keduanya – melalui album ini, Inga dinobatkan sebagai pengaruh awal psychadelic di Jerman bersandingan Psychadelic Underground karya Amon Duull, sedangkan Dagmar Krause mendapatkan perhatian internasional dan berkolaborasi dengan band avant-garde asal Inggris, Slapp Happy dan Henry Cow (dengan gitaris Fred Frith didalamnya).

(Inga Rumpf, I.D Company – Baghavad Gita)

(I.D Company – Full Album)

Dari rentang pengaruh yang diberikan, dapatlah kita sandingkan The City Preachers sebagai band proto-krautrock. “Proto-krautrock” sendiri merupakan istilah yang dipinjam dari “proto-punk” yang kerap digunakan bagi musik atau musisi yang keberadaannya memberi pengaruh pada berbagai eksperimen musik punk. Melalui gambaran ini, The City Preachers merupakan band proto-krautrock dengan beberapa landasan: kehadirannya mendahului gelombang psychadelic yang di usung Amon Duull di Berlin pada tahun 1969 bahkan empat tahun lebih awal , juga memberi jalan bagi eksperimen musik yang lebih canggih seperti yang diusung Faust. Selain dari sisi musikalitas, pengaruhnya pun dapat dirunut melalui serentetan musisi dan band yang terlahir darinya, sehingga The City Preachers layak memiliki tempat tersendiri.

Sedangkan pengaruh Hamburg sebagai kota kelahirannya tidak dapat diremehkan – karena atmosfir kota inilah maka The City Preachers menemu katalis bagi landasan eksperimennya – sehingga walaupun kalah gaung dari gerakan musik bawah tanah Berlin, namun Hamburg, memberikan spektrum tersendiri bagi musik Jerman. Satu hal lagi yang menjadikan kota ini memiliki pengaruh penting dalam sejarah Krautrock, adalah karena majalah musik pertama yang merekam perkembangan musik Jerman era 1960an – Riebes Faclblatt – terlahir di scene musik Reeperbanh melalui tangan seorang roadie bernama Hans Riebesehl. Oleh karenanya, majalah Riebes Faclblatt – berdampingan dengan The City Preachersadalah perekam sekaligus penyebar pesan eksperimen dalam perjalanan musik Jerman pada dekade awal Krautrock. Dan seperti yang dikatakan Lennon tentang awal mula The Beatlesit’s all happen in Hamburg.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here