Sebagai seorang yang tumbuh mendengarkan ansambel rock populer, jazz agak terlambat saya akrabi. Karena jujur saja, bagi yang terbiasa dengan ritme tegas blues dan standar nada teratur dalam rock, sinkopasi yang sering digunakan untuk memunculkan nada tak terduga dalam jazz, agak terasa janggal pada awalnya. Adapun perkenalan saya dengan genre musik ini terjadi ketika menemukan beberapa band yang menjadi playlist regular pada winamp saya, dinyatakan mengusung jazz-rock – band tersebut antara lain Greatful Dead, The Graham Bond Organization dan Blood, Sweat and Tears. Pengaruh jazz juga terasa dalam eksperimen musik krautrock, X-Hol Caravan misalnya, yang seringkali bermain-main dengan elemen ini. Namun, walaupun keempatnya menjadi contoh utama untuk band yang mengusung jazz-rock, musik mereka masih berpijak pada harmonisasi rock: psychadelic rock dalam kasus Greatful Dead, blues pada The Graham Bond Organization serta rock progresif untuk Blood, Sweat and Tears dan X-Hol Caravan – sedangkan jazz hanya digunakan sebagai sebuah metode dalam eksperimen rock mereka, sehingga nada-nada sinkopasi jazz tidak sepenuhnya hadir disana.

Alhasil, rasa penasaran untuk mendalami genre musik ini semakin menjadi-jadi, dan selama beberapa waktu saya berhasil menenggelamkan diri dalam album-album musisi jazz terkemuka diantaranya: Duke Ellington, Charles Parker, John Coltrane, Charles Mingus, Gil Evans, Herbie Hancock dan juga Miles Davis. Namun, musik adalah hasrat subjektif – jika tidak mau terlalu vulgar menyebutnya sebagai ego –, sehingga sejauh apapun pencarian, ada satu titik dimana genre musik tertentu selalu menarik kita untuk kembali, dan bagi saya personal, titik itu adalah psychadelic rock. Dari sinilah kemudian saya berhadapan dengan sebuah realita aneh: bahwa ternyata salah satu album psychadelic terbaik dalam sejarah musik modern, tidak dibuat oleh musisi rock atau oleh para pemabuk ulung di San-Francisco – tapi oleh seorang musisi Jazz kelas atas: Miles Davis. Ia berhasil merasuk kedalam jiwa rock psychadelic melalui gebrakan dobel album berjudul Bitches Brew.

Bitches Brew direkam pada tahun 1969 dan dirilis setahun kemudian. Dengan memajang lukisan Abdul Mati Klarwein pada covernya, album ini berhasil menerjemahkan gairah jaman: yaitu era dimana kebebasan eksperimen (kultural) adalah segalanya – dan Miles berada di baris terdepan. Pada akhirnya Bitches Brew bukan hanya dikenal sebagai eksperimen paling berani dari seorang Miles Davis, namun juga menjadi perluasan dari genre jazz sendiri melalui amplifikasi kasar yang diperagakan oleh Miles.

(Keterangan gambar dalam video: Bitches Brew, Abdul Mati Klarwein)

Jazz, belum pernah dimainkan seperti Miles memainkan Bitches Brew. Walaupun gitar elektrik telah digunakan bahkan oleh Duke Ellington di awal popularitas jazz tahun 1920, dan amplifikasi trumpet dengan pedal telah hadir di scene jazz sejak awal 60an, namun pendekatan amplifikasi kasar jazz adalah hal yang sama sekali baru saat itu. Melalui Bitches Brew, Miles mencerabut kesenduan anarkis yang selalu hadir dalam jazz dan menggantikannya dengan kebebasan liar. Jazz dengan rasa baru ini membuat kaget para pendengarnya, sebagian bahkan menganggapnya terlampau jauh dari standar Jazz dan menolak mengakui Bitches Brew sebagai album Jazz. Pendengar Jazz konservatif lantas meninggalkannya, namun pendengar yang sepakat dengan eksperimen Miles pun tidak sedikit jumlahnya.

Terhadap protes para pendengar Jazz tersebut, Miles tidak ambil pusing – ia lalu menjawab: “When you’re creating your own shit, man, even the sky ain’t the limit”. Sikap ini tergambar jelas ketika kita membandingkan karya-karya Miles sejak album Birth of the Cool yang dirilis pada tahun 1957 hingga Doo-Bop yang dirilis Columbia Record pada tahun 1992 – setahun setelah kematiannya. Tidak ada kata stagnant dalam jajaran karyanya, bahkan setelah ia dinobatkan sebagai salah satu peletak dasar cool-jazz melalui Birth of the Cool dan album fenomenal Kind of Blue (1959), Miles terus melampaui “langit”nya sendiri melalui berbagai eksplorasi musik – selain Bitches Brew, ia juga melakukan eksperimen ritme groove dalam On the Corner (1972), dan Miles berhasil membawa jazz ketempat lain melalui pendekatan space music yang dihasilkan pada rentang tahun 1970-1975 setelah ia mendalami komposisi dari Guru musik elektronik: Karlheinz Stockhausen.

Kelahiran Bitches Brew sendiri dipicu oleh keterpukauan Miles terhadap sang virtuoso gitar, Jimi Hendrix, – ditambah dengan sesi rekaman yang dilakukan lima jam setelah Hendrix “menghancurkan” The Star-Spangled Banner pada pagelaran Woodstock – menjadikan Bitches Brew kental dengan atmosfir rock. Penghormatan atas kepiawaian sang gitaris ditunjukkan pula melalui “Miles Runs The Voodoo Down” yang merupakan interpretasi Miles atas “Voodoo Chile” milik Hendrix – alih warna ini menunjukkan kepiawaian Miles dalam menterjemahkan ruh sebuah lagu.

Selain karena pengaruh Hendrix, Bitches Brew menjadi salah satu sample jazz-rock terbaik karena keterlibatan gitaris John McLaughlin yang juga dikenal melalui band rock progresif, Mahavishnu Orchestra. Petikan gitar McLaughlin memberikan dasar “melodi alternatif” terhadap tiupan trumpet Miles sehingga lahir sebuah ramuan musik baru – disini Miles seperti mempersiapkan sebuah sindiran dengan memberi judul pada albumnya Bitches Brew (ket: brew dapat diartikan ramuan), karena nampaknya sang peramu sadar pada dampak masif yang akan muncul setelahnya. Selain McLaughlin, terdapat jajaran musisi lain dalam penggarapan Bitches Brew, antara lain Joe Zawinul, Wayne Shorter, Herbie Hancock, Benni Maupin, Lenny White dan Chick Corea. Seluruhnya adalah musisi papan atas, sehingga wajar jika ramuan musik Miles hadir dalam dosis yang memabukkan. Adapun Bitches Brew bukan amplifikasi jazz pertama bagi Miles. Pada album sebelumnya, In a Silent Way (1969), Miles yang juga berkolaborasi dengan McLaughlin, telah melakukan eksperimen kearah tersebut. Namun nampaknya Miles belum puas sehingga eksperimen ia lakukan kembali dengan memasukkan ramuan tambahan yaitu: rock, dan barulah amplifikasi jazz yang ia kehendaki menemukan bentuk utuhnya. Genre ini kemudian dikenal dengan istilah fusi atau campuran, akan tetapi saya melihatnya dalam bentuk lain, karena dalam Bitches Brew, Miles tidak memainkan rock – ia memainkan Jazz. Titik. Lalu bagaimana dengan pengaruh Hendrix dalam album tersebut?.

Sebagai penjelas argumen, saya akan menggunakan sebuah analogi: bahwa Bitches Brew layaknya sebuah dialog yang dilakukan oleh Diyonisus dan Appolo. Kedua dewa Yunani tersebut memiliki pendekatan yang berbeda, Diyonisus yang kekanak-kanakan dan liar (personifikasi untuk Jazz) dan Appolo yang metodis serta baku (personifikasi untuk rock). Dalam mitos, ketika keduanya disandingkan dalam perdebatan maka hasilnya bukanlah kesepakatan, tapi menghadirkan sebuah dialog yang justru memperjelas kekuatan argumennya masing-masing. Yang satu tidak tunduk pada yang lain, begitupun sebaliknya. Pada bentuk inilah saya menemukan bahwa ketika Miles memilih memasukkan unsur rock kedalam Bitches Brew, tujuannya bukanlah mencampurkan (atau fusi) kedua genre musik tersebut, namun untuk menghadirkan jazz dalam bentuknya yang paling kuat – dengan kata lain, sebuah eksposisi. Atas sifat dasar yang saling bertentangan dari kedua genre tersebut, maka melalui Bitches Brew, Miles berhasil menampilkan eksposisi, bukan hanya pada karakter musik Jazz, tapi juga eksposisi dalam kapasitasnya sebagai musisi yang mampu memunculkan jazz dalam bentuknya yang paling liar. Namun ternyata Bitches Brew bukanlah rencana terakhir dalam eksperimen eksposisi Miles, karena setelahnya ia berencana melakukan kolaborasi dengan Hendrix sendiri. Tapi sejarah berkata lain dan kematian Hendrix membawa teka-teki besar – karena entah (eksposisi) musik seperti apa yang akan terwujud jika saja kolaborasi ini berhasil dilakukan, namun satu hal yang pasti: wajah musik jazz dan rock tidak akan sama lagi.

2 COMMENTS

  1. Jadi inget di QI, Gorky pernah nulis gini di tahun ’28 tentang Jazz: “The dry knock of an idiotic hammer penetrates the utter stillness. One, two, three, ten, 20 strikes, and afterwards, a wild whistling and squeaking, as if a ball of mud was falling into clear water. Then follows a rattling, howling and screaming, like the clamour of a metal pig, the cry of a donkey, or the amorous croaking of a monstrous frog. The offensive chaos of this insanity. Listen to this screaming for only a few minutes, and one involuntarily pictures an orchestra of sexually wound-up mad men, conducted by a stallion-like creature who is swinging his giant genitals.”
    Terutama sejak kemunculan “Harlem Renaissance” sekitar tahun 20’an jazz meskipun banyak disuka, tapi banyak juga penentangan. Hitler, Stalin dan Franco sangat benci Jazz. menurut mereka jazz itu murni “evil”, tapi kyk rock n’ roll di periode setelahnya, sering dianggap simbol pemberontakan terhadap status quo..

  2. hahaha yups, i’m not in to jazz that much either…but i do anything that evil huehehe, cheerrs ang 🙂

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?