Bagi yang tidak asing dengan sejarah musik populer, penyebutan angka 67 memiliki bangun mitos tersendiri – ia menjadi angka sakral yang dikaitkan dengan sebuah era dimana musik populer [modern] mencapai kualitas­ terbaiknya: what a great era that envy us, music lovers, who born long after it!. Bayangkan saja, pada tahun ini beberapa masterpiece rekaman musik lahir – mulai dari genre pop, rock, progresif, hingga avant garde – menjadikan tahun 67 sebagai salah satu tahun terbaik dalam sejarah musik. Beberapa diantaranya: Sgt. Peppers Lonely Heart Club Band (The Beatles), Safe as Milk (Captain Beefheart and His Magic Band), dua album berturut-turut Da Capo dan Forever Change (Love), Hello and Goodbye (Tim Buckley), Disraeli Gears (Cream), The Piper at the Gates of Dawn (Pink Floyd), dua album fenomenal The Velvet Underground and Nico dan White Light/White Heat (The Velvet Underground), The Doors (The Doors), Sunshine Superman (Donovan), Younger than Yesterday (The Byrds), Sureallistic Pillow (Jefferson Airplane), dan yang juga dirilis pada 1967 adalah Are You Experienced yang keluar hampir berbarengan dengan Axis: Bold As Love  (The Jimi Hendrix Experience). Selain itu, pada tahun 1967 terbentuklah sebuah band paling fenomenal dari genre progresif, King Crimson, yang pada akhirnya memberi pengaruh luas pada perkembangan musik setelahnya. Dan bagaikan sebuah aliran listrik, keajaiban tidak hanya terjadi pada ranah musik, tetapi juga mengalir hampir ke semua elemen kreatif yang lahir di tahun itu– sebut saja seni lukis (dengan gaya acid art-nya), sinema (The Trip dan The Graduate, dua film yang menantang norma sosial dirilis pada tahun ini), dan juga dalam sastra (dengan Aldous Huxley sebagai salah satu figur utamanya). Bahkan pengaruh daya magis tahun 67 pun merangsek hingga ranah jurnalistik dengan terbitnya versi cetak Rolling Stone untuk pertama kalinya.

Rentetan catatan diataslah yang menjadikan 1967 menjadi tahun yang istimewa, khususnya untuk dunia musik, dan juga menjadi tahun dimana Monterey Pop Festival yang legendaris berlangsung. Dua hal tersebutlah yang senantiasa melekat pada mitos sakral 67 – terlebih ditambah satu fakta bahwa banyak dari album-album yang terlahir pada tahun 67 dengan sendirinya adalah masterpiece: ini menjadikan 67 layaknya orgasme massal bagi para musisi – sebuah pencapain puncak yang dirayakan bersama-sama, bahkan beberapa begitu berani dalam menantang pakem baku musik [populer]. Capaian puncak musik inilah yang menularkan gairah penuh warna generasi muda saat itu, sehingga memunculkan dobrakan budaya – yaitu dobrakan hippies yang dirangkum Hendrix dalam satu ekspresi: Bold as Love. Namun mitos kesakralan tahun 67 tidak terbentuk dalam waktu semalam, ia lahir dari rangkaian sejarah panjang yang didalamnya terdapat jejak berbagai budaya – yang bersinggungan dengan cara yang kurang menyenangkan: melalui perang, kolonialisme dan perbudakan.

Konteks Sosial: Mendorbrak Status Qou

Ketika kami mendalami berbagai aspek yang menjadi pengaruh bagi kesakralan tahun 67, kami berhadapan dengan kondisi yang mengerogoti masyarakat Amerika sejak permulaan dekade 60, yaitu perang Vietnam. Perang ini merupakan kelanjutan dari perang kolonial indo-china paska kedudukan Perancis yang beralih fungsi menjadi bentuk perang proxy khas kancah perang dingin –sebuah konteks sejarah yang menjadikan Amerika semakin larut dalam perang. Pada tataran masyarakat sendiri, gerakan anti perang (yang dikenal luas dengan istilah pacifism) telah mengemuka sejak awal 60an, namun memasuki puncaknya pada tahun 1967 ketika berbagai kelompok masyarakat – mulai dari aktivis politik, pelajar, organisasi relijius, dan gerakan sipil lainnya – semakin kuat melakukan penggalangan massa dalam bentuk protes-protes damai. Beberapa diantaranya menapakkan jejak dalam sejarah karena jumlah demonstran yang begitu masif atau karena pidato yang menggetarkan (salah satunya protes damai 21 Oktober 1967 di Washington), namun beberapa diantaranya menjadi terkenang karena kekerasan yang muncul, salah satunya penembakkan siswa dalam protes damai di Ohio (Ken State Shooting). Selain aspek sosial-politiknya, aksi damai juga dikenal karena keterlibatan beberapa musisi yang memberi dukungannya melalui bentuk lagu yang pada akhirnya dikenang sebagai salah satu lagu pacifism paling kuat sepanjang massa, diantaranya muncul nama Bob Dylan, Joan Baez, John Lennon, Janis Joplin hingga Donovan yang menjadi icon pergerakan kaum muda dimasanya.

Namun, apa yang terjadi pada dekade 60an (dan memuncak pada tahun 67), merupakan akumulasi dari kekacauan sejarah lebih besar yang terjadi sebelumnya – yaitu perang dunia II. Setidaknya terdapat dua pengaruh [kekacauan] perang dunia II yang pada akhirnya membuncah pada dekade 60. Pertama, status qou (atau tidak adanya perubahan) dalam alur pemikiran – dapat kita bayangkan bahwa yang duduk di pemerintahan pada era 60an adalah sisa-sisa generasi yang sangat lekat dengan logika perang dan konservatisme norma. Status qou memunculkan kondisi stagnant yang pada akhirnya berbenturan dengan pengaruh kedua yang muncul paska perang dunia II, yaitu Baby Boomer. Ledakan kelahiran bayi yang muncul pada tahun 1946 bermetamorfosis menjadi sebuah gerakan generasi muda yang menuntut perubahan sosial – generasi Baby Boomer berusia 20-21 pada tahun 1967 menjadi penggerak utama revolusi sosial ala hippies yang bertekad meninggalkan tatanan nilai-nilai lama peninggalan orang tuanya, tanpa kompromi sedikitpun.

Dalam pengaruh atmosfer revolusi nilai inilah maka musik yang lahir pada tahun 1967 jauh dari [aturan] biasa – beberapa diantaranya bahkan mengubah tatanan musik modern. Namun revolusi musik tahun 67, tidak akan berhasil tanpa adanya alternatif pemikiran – karena ternyata tidak semua perang memunculkan revolusi musik yang dahsyat – sehingga, kami menemukan bahwa revolusi [sakral] seperti yang terjadi pada 1967 hanya dapat muncul ketika dobrakan berasal dari dua sisi sekaligus: yaitu revolusi dalam konteks sosial dan juga musikal, yang berasal dari perluasan referensi diluar pengaruh Anglo-Amerika – khususnya dari budaya Afrika dan India.

Alternatif dalam Musik dan Budaya

Generasi baby boomer, adalah generasi yang terpenuhi gizinya secara musikalitas. Mereka adalah generasi yang tumbuh mendengarkan Little Richard, Leadbelly,Otis Rush, Robert Johnson, John Lee Hooker, Blind Wille Johnson, Memphis Minnie, Otis Redding, Ray Charles dan sederet musisi blues lain yang pada era 40an hingga akhir 50an menjadi musik yang mendapat tempat luas di masyarakat. Sebuah ironi kemudian muncul, mengingat blues berasal suara protes afrika melawan perbudakan yang di-deradikalisasi melalui perusahaan rekaman – sehingga pada akhirnya masyarakat menerima blues hanya sebagai aliran musik semata, nir-kritik sosial. Namun, telepas dari konteks perbudakan dan rasialisme, pengaruh blues pada generasi 60 sangatlah kentara, beberapa band terbaik pada era tersebut menjadikan blues sebagai landasan musiknya, beberapa diantaranya adalah Cream, The Who, The Yardbirds, Grateful Dead, The Stones hingga The Beatles. Melalui kenyataan ini harus diakui bahwa salah satu pembentuk mitos dan kesakralan 67 adalah persentuhan budaya Afrika dengan musik populer – dan tanpa kita sadari, ritme afrika terangkum hampir dalam setiap ritme rock yang ada dalam sejarah musik.

Kekentalan blues bukan satu-satunya pengaruh yang muncul di era 60an. Disaat yang bersamaan, spiritualitas timur – khususnya India – mengemuka di kalangan generasi muda sebagai salah satu alternatif pemikiran. Generasi muda [satu itu] yang telah muak pada alur pemikiran [barat] dengan beban kapitalism dan nilai-nilai kemapanan yang dipertahankan oleh generasi sebelumnya, berpaling pada pencerahan spiritualitas timur yang membebaskan. Kondisi ini memunculkan sebuah bentuk eskapisme yang mendefinikan diri sebagai hippies – yaitu sebuah counter-culture dengan landasan pacifism, anti-materialism, dan pendalaman spiritual (-yang memodifikasi jalan spiritualitasnya melalui penggunaan berbagai zat adiktif; LSD, Marijuanana, Magic Mushroom dan sarana “trance” lainnya). Selain mendorong perubahan sosial, spiritualisme India juga memberi pengaruh luas pada musik, terutama pada musik yang lahir pada akhir tahun 60an. Pada periode tersebutlah musik India menemukan tempatnya dalam musik populer Anglo-Amerika melalui musisi mesiahnya: Ravi Shankar.

Ravi Shankar – dan musik klasik India – kemudian menjadi magnet bagi para musisi hebat saat itu, salah satunya adalah gitaris The Beatles, George Harrison, yang memasukan beberapa elemen musik India dalam beberapa album The Bealtles dan juga pada solo albumnya. Selain The Beatles beberapa musisi yang terpengaruh elemen India adalah Donovan dan sederet musisi lain pada akhirnya yang ramai-ramai belajar memainkan sitar. Alasan mengapa pengaruh India cepat meluas di kalangan remaja saat itu– bahkan mempengaruhi proses pencarian identitas “baru”yang populer dengan istilah Hippies– adalah karena band-band tersebut (yang terpengaruhi/memasukan unsur India ke dalam karyanya) merupakan musisi-musisi iconic kaum muda di saat itu. Melalui pemujaan luar biasa yang diterima oleh para role model inilah(sebut saja The Beatles, Donovan  hingga Joplin) maka budaya India begitu mudah meresap di kalangan kaum muda. Pengaruh elemen musik India dalam musik populer memunculkan sebuah genre yang kita kenal sebagai Raga Rock – sebuah eksplorasi unik yang memadukan budaya India dengan identitas barat, sehingga memunculkan musik khas yang dapat kita temukan dalam karya-larya Incredible String Band dan Quintessence.

Dari pengaruh yang diberikannya, tidak dapat dipungkiri bahwa mitos kesakrakan musik 67 tidak mungkin terbangun tanpa dua budaya yang menyangganya: yaitu afrika dan india. Afrikalah yang memberikan ritme dasar rock sebagaimana yang kita kenal saat ini. Sedangkan India memberikan warna, bukan hanya pada musik, tapi juga pada budaya –  melalui warna-warni mencolok psychadelic yang menjadi simbol pergerakan sosial generasi muda saat itu. Hal inilah yang tidak kita temui pada konteks perkembangan musik sebelum era 60an – atau bahkan setelahnya: sebuah revolusi sosial dibarengi revolusi musikal yang pada akhirnya membentuk mitosnya tersendiri.

Perayaan Keberagaman: Monterey International Pop Festival

Puncak dari mitos 67 adalah digelarnya Monterey International Pop Festival. Sebuah festival musik yang digagas oleh Lou Alder, John Philips (The Mamas & Papas), Alan Pariser, dan Derek Taylor ini  belangsung selama tiga hari (16-18 Juni 1967) di Monterey Country Fairground, Monterey, California. Musik yang tampil pada festival ini berasal dari lintas genre, seperti: The Who, Jefferson Airplane, Ravi Shankar, The Mamas & Papas, Janis Joplin, Otis Redding, dan semakin sempurnalah perayaan keberagaman dengan tampilnya sang maestro The Jimi Hendrix Experience untuk pertama kalinya dihadapan publik Amerika (- disinilah kita menyaksikan pertunjukan spektakuler Hendrix: dengan membanting-banting gitarnya selama tujuh kali, sebelum pada akhirnya gitar tersebut dibakarnya di atas panggung). Selain kehebatan musisi yang tampil, Monterey Pop International Festival menjadi istimewa karena festival ini adalah pernyataan tentang penerimaan keberagaman dalam genre musikal dan [lebih jauhnya] kultural – suatu hal yang tabu bagi generasi sebelumnya yang selalu menekankan superioritas Anglo-Amerika, termasuk dalam segi musik.

Perayaan Monterey Festival ternyata tidak hanya berlangsung di atas panggung – perayaannya meluas hampir di seluruh jalanan San Francisco. Monterey festival sendiri merupakan titik awal dari fenonema sosial yang kemudian dikenal dengan istilah Summer of Love. Fenomena sosial ini ditandai dengan turunnya para kaum muda Hippies ke jalan-jalan kota San Fransisico – dengan mengenakan atribut Hippie lengkap, mereka tumpah ruah,  bersama-sama merayakan kebebasan dari semua peraturan yang mengikat mereka pada musim panas itu – dan juga pada seluruh hidupnya. Layaknya anak kecil, mereka merayakan kegembiraan – menari, bernyanyi, tertawa – bagaikan tidak ada yang dapat menghentikan mereka: sebuah kebebasan yang pada akhirnya bertemu dengan konsekuensinya sendiri – karena Summer of Love ternyata hanya berlangsung singkat, ia memudar ketika memasuk tahun 1969.

Melalui dua fenomena di ataslah, – yaitu Monterey Pop Festival dan Summer of Love -, tahun 67 memulai perjalanan sakralnya. Kesakralan yang muncul dari sebuah endapan bawah sadar suatu generasi yang menyerap segala – musik, pemikiran alternatif, dan nilai-nilai spiritual – yang lalu mendobrak dalam waktu yang relatif singkat untuk menentang imaji kekerasan dan kungkungan norma yang mengikat mereka – dengan musik sebagai katalisnya. Dan pada landasan diataslah kami meletakkan mitos dan sakralitas musik yang lahir pada era 67. Ia menjadi sakral karena terlahir dari nafas perubahan sebuah generasi dan menjadi mitos karena pengaruh yang diberikan pada perkembangan musik setelahnya – mitos yang terbentuk melalui sebuah perayaan keberagaman dalam penciptaan musik dan perubahan budaya. 

Sumber Gambar: http://montereypopfestival.tumblr.com/

3 COMMENTS

  1. wah iya the zodiac kurang terdengar karena kalah pamor dengan the doors yang lebih diusung elektra record, but overall musiknya bagus..:)

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?