Musik Kuba: We Have Always Had the Drum

Semula, ketika bermaksud menulis tentang musik Kuba, saya membayangkan sesuatu yang senada dengan artikel terkenal Robert Palmer di majalah Spin pada kisaran 1988 dengan judul yang terasa seperti “film jejaring bawah tanah kartel marijuana”: The Cuba Connection. Memang, pada dasarnya, artikel tersebut dapat dikatakan ‘bersejarah’ karena: (1) Satu diantara artikel awal yang melirik pengaruh ritme Kuba pada perkembangan musik Jazz; dan (2) menyindir kebiasaan buruk industri musik yang hanya mengangkat “satu dimensi” dari luasnya lanskap tradisi musik dan memasukkannya secara paksa dalam kotak genre. Musik Kuba, menurut Palmer, berada di luar batas hitam dan putih (konotasi rasial dalam konteks musik), juga lebih luas dari sekedar etalase musik Harlem yang menjual eksotisme Havana. Palmer menyebut setidaknya dua nama besar: Chano Pozo, sang pionir Jazz Latin, dan Mario Bauza yang dengan berapi-api memaparkan superioritas musik Kuba (sebagai contoh: Salsa adalah musik Kuba dengan nama baru atau single terkenal Richard Berry “Louie Louie” yang diambil dari ritme Cha-cha-cha). Bauza menutup sesi wawancara dengan protes keras “No one is writing about this”.

Pernyataan Bauza ada benarnya juga – memang tulisan tentang musik Kuba terbilang minim jika dibanding musik latin lain seperti Samba, Salsa, atau Maricahi. Palmer mungkin satu-satunya nama yang berseliweran di majalah musik populer (Spin dan the Rolling Stones) yang mengangkat tentang musik Kuba. Satu lagi artikelnya tentang Hot Jazz dan musik Kuba terbit di the Rolling Stone pada 1976; namun mengingat gejolak politik regional saat itu, tujuannya menjadi kabur: apakah karena Kuba secara musikalitas memang menarik dan penting untuk diangkat? atau “Kuba” yang bermakna politik? sehingga dalam pernyataan pembuka perlu mencantumkan “Hot Jazz succeeds where diplomacy fails” (jangan lupa pemilihan judul The Cubans are coming! The Cubans are Coming! juga memberi indikasi propaganda khas perang dingin).

Bayangan saya akan musik kuba awalnya hanya sebatas “pengaruh musik” sebagaimana dikemukakan Palmer. Untungnya keisengan saya bergerak melampaui sumber-sumber populer (Spin dan the Rolling Stones, maksudnya) dan menemu sebuah uraian panjang tentang penelusuran musik Kuba yang berbicara tentang ‘dirinya sendiri’ – bukan sebagai “pengaruh” yang kesannya hanya komplementer. Adalah seorang Ned Sublette, musisi kelahiran Texas yang kemudian pindah ke Havana atas dorongan – tidak lain dan tidak bukan: musik. Bukunya yang berjudul Cuba and Its Music terbit tahun 2004 merupakan hasil penelusuran selama lebih dari sepuluh tahun. Ia mewawancara siapa saja “yang bisa duduk diam” dan menarik garis sejarah jauh kebelakang untuk membuat rasa khas musik Kuba yang kita kenal saat ini, menjadi “masuk akal”.

Buku ini layaknya “historical tripping” – Sublette, sang penulis, habis-habisan dalam berbagai penelusurannya: mulai dari pengamatan Herodotus tentang Afrika, sejarah penaklukan Islam di Spanyol, kolonialisme dan perbudakan, Santeria dan Voodoo, hingga satu-satunya revolusi yang tidak memandang musik sebagai oposisi. Sehingga, dua ulasan Palmer yang saya baca sebelumnya menjadi ‘sekedar permukaan’ saja karena jauh sebelum Chano memperkenalkan Hot Jazz, embrio musik Kuba sudah lahir ketika peradaban Spanyol (yang dipengangaruhi oleh tradisi musik Muslim) bertemu dengan migrasi paksa Afrika yang membawa tidak hanya sejarah kelam, tapi juga budaya, memori dan musik. Dalam pengantar bukunya, Sublette berujar: Music is so essential to the Cuban character that you can’t disentangle it from the history of the nation. The history of Cuban music is one of cultural collisions, of voluntary and forced migrations, of religions and revolutions. Benang merah dari keseluruhan aspek yang diuraikan Sublette terkait sejarah musik Kuba mengarah pada sebuah alat musik: Bongo – drum khas Kuba yang merupakan hasil perjumpaan budaya Afrika, dataran Iberia Spanyol dan beragam rasa budaya di dalamnya.

Musik Kuba - Bongo
Bongo Drum

Penelusuran lebih lanjut tentang musik Kuba, bersinggungan dengan aspek religi masyarakat Kuba. Sakralitas dalam tradisi musik Kuba dipaparkan oleh Katherine Hagedorn dalam buku berjudul Divine Utterance terbit pada tahun 2001. Uraian Hagedorn, lagi-lagi bersinggungan dengan drum, kali ini dikenal dengan sebutan Bata. Berbeda dengan Bongo yang memiliki campuran pengaruh dari berbagai belahan dunia, Bata merupakan alat musik tradisional etnis Yoruba dan Igbo (etnis asal Nigeria) yang menjejakkan kaki di Kuba bersama perbudakan. Bata lekat dengan ritual reliji etnis Yoruba yang dikenal dengan sebutan Santeria dan memiliki pengikut dalam jumlah cukup besar di Kuba.

Pada sisi sakralitas inilah Hagedorn melalukan penelusuran: musik yang bukan hanya bermakna profan tapi juga sakral. Bata adalah kompenen sentral dalam pemujaan Orichas, atau dewa dalam ritual Santeria. Dipimpin oleh seorang Ochun, pendeta wanita, Bata ditabuh dalam ritme tertentu untuk menghantarkan para pengikutnya mencapai trance dan mendekatkan diri dengan Orichas. Dalam Divine Utterance, Hagedorn berbicara lebih banyak tentang fungsi esoterik musik dalam tradisi Santeria, namun dengan meningkatkanya minat ethnomusikologi (kebanyakan dari Amerika Utara) untuk menggali tradisi musik Kuba, lambat laun Bata dikenal dan digunakan secara luas, terlepas dari fungsi ritualnya. 

Musik Kuba - Bata drums
Bata drums

Instrumen perkusi lain yang lekat dengan musik tradisi Kuba dikenal dengan sebutan Conga. Nolan Warden memaparkan sejarah dan perkembangan Conga dalam artikel berjudul A History of the Conga Drum terbit pada 2005. Seperti halnya Bata, Conga memiliki akar Afrika. Penamaan drum yang satu ini kerap disandingkan dengan daerah asalnya, yaitu Bantu (atau kini dikenal dengan Congo). Namun Warden memberikan peringatan bahwa asumsi ini merupakan penyederhanaan saja karena dalam bahasa Bantu terdapat kata “nkónga” yang memiliki arti “umbilical” (atau penghubung dengan pusat) – dan menurut pakar Afro-Cuban, Fernando Ortiz (dalam Warden, 2005) kata ini memberikan konotasi budaya yang lebih tepat karena drum Conga berkembang di wilayah solero (kumuh) yang dihuni diaspora Afrika asal Bantu.

Seperti laiknya kawasan solero di seluruh dunia, kehidupan berjalan tertatih-tatih. Walaupun perbudakan telah dihapuskan di Kuba pada tahun 1886, kemiskinan tetap menghimpit dan satu-satunya penghiburan adalah musik yang lekat dengan memori mereka tentang tanah leluhur (pusat kebudayaan). Alhasil, lahirlah dua bentuk musik: Conga (berasal dari instrumen drum Conga yang dimainkan) dan Rumba (mohon tidak tertukar dengan dansa rumba yang hadir jauh kemudian). Ketika drum Conga naik ke pentas populer (khususnya publik musik Amerika yang pada awal 1900an gandrung dengan musik perkusi Kuba), terdapat sebutan lain untuk instrumen tersebut yaitu: tumbadora diambil dari bahasa Spanyol “que tumba” yang artinya Drum. Uniknya, dalam bahasa Bantu, terdapat pula kata tumba yang berarti dansa atau ritual inisiasi. Varian dari drum Conga adalah Makuta, berupa drum benbentuk barel dengan ukuran lebih besar.

Musik Kuba - Conga Drum
Conga Drum
Musik Kuba - Makuta_drummers
Makuta drummers

Keempat drum: Bongo, Bata, Conga, dan Makuta dilarang keras selama masa kolonial Spanyol karena dianggap menyia-nyiakan sumber daya (dibuat menggunakan kayu utuh). Muncullah insting ‘survival’: drum lantas dibuat dari potongan-potongan kayu yang direkatkan namun tetap mempertahankan bentuk, metode tabuh dan nada dasarnya. Perubahan inilah yang membedakan drum Afro-Cuba dengan drum khas Afrika, namun sejalan dengan alat modern, proses perekatan kayu semakin disempurnakan dan hadirlah perkusi khas Kuba yang kita kenal sekarang. Gaya perkusi tradisional Kuba kemudian berkembang menjadi berbagai genre: habanera (pertengahan abad 19), son (dimulai pada 1920-an), mambo (akhir 1940-an hingga 1950-an), cha cha cha (1950-an), dan timba (1990-an). Beragam repertoar musik ini, meskipun berakar kuat di lanskap musik Kuba, telah dikenal secara sebagai musik transnasional yang memberikan pengaruh pada gaya musik di belahan dunia lain, termasuk Mbalax (Gambia) dan Salsa (Argentina). Dengan mengenal kuatnya tradisi perkusi di Kuba, setidaknya kita tidak asing lagi dengan seloroh paling terkenal di kalangan musisi Kuba: ‘Life and everything else can change, but we have always had the drum’.

 

Sumber Gambar: Wikimedia commons

Sumber Bacaan:
Hagedorn, K. J. 2001. Divine Utterances: The Performance of Afro-Cuban Santeria. Smithsonian Book.
Palmer, R. 1978. The Cubans are coming! The Cubans are Coming!. The Rolling Stone.
Palmer, R. 1988. The Cuban Connection. Spin Magazine, vol. 4, no. 8.
Sublette, N. 2004. Cuba and Its Music: From the First Drums to the Mambo. Chicago Review Press.
Warden, N. 2005. A History of the Conga Drum. Percussive Notes, 43 (1): 8–15.

Share on:

Leave a Comment