Salome: Drama Tragedi Satu Babak

Salome: “Give me the head of Jokanaan” – Oscar Wilde, 1891

Sulit untuk membayangkan Oscar Wilde, pujangga kenamaan nan flamboyan era Victoria, menuliskan sebuah drama tragedi. Asumsi ini didasarkan pada jajaran karya Wilde yang lekat dengan imaji genit aristrokat Inggris, gaya hidup bohemian lingkaran elit seni, atau permainan humor ‘witty’ penuh kontroversi. Simak saja daftar karyanya: The Canterville Ghost (1887), The Happy Prince and Other Tales (1888), The Picture of Dorian Gray (1890), A House of Pomegranates (1891), Lord Arthur Savile’s Crime (1891); juga drama Vera, or the Nihilists (1880), The Duchess of Padua (1883), Lady Windermere’s Fan (1892), A Florentine Tragedy (1893), A Woman of No Importance (1893), An Ideal Husband (1895), hingga drama terkenalnya, The Importance of Being Earnest (1895). Oleh karenanya, tidak sekalipun terbersit bahwa Wilde pernah menulis drama tragedi. Namun, pada tahun 1891, Wilde menggemparkan dunia teater melalui lakon berjudul Salome: A Tragedy in One Act.

Dalam perkembangannya, drama satu babak ini menjadi begitu terkenal karena (setidaknya) dua hal. Pertama, atas kontroversi dan kritik bertubi-tubi terhadap drama tersebut (salah satunya berbunyi: Wilde menyadur Salome sebagian besar dari alkitab, dan sisanya dari Flaubert), juga sensor ketat atas naskah yang berasal dari alkitab (untuk menghidari sensor ketat Inggris, Wilde menulis Salome dalam bahasa Perancis dan menampilkannya pada satu-satunya teater yang berani ambil resiko, yaitu Le Palace Theatre di Paris). Kedua, karena Wilde melakukan perombakkan besar-besaran atas kisah dalam alkitab dan mengubahnya menjadi plot erotis dengan karakter khas aliran seni dekadensi. Perihal pertama tidaklah asing – karena nama besar Wilde berbanding lurus dengan maraknya kontroversi di seputar sang pujangga. Namun untuk memahami perihal kedua – yaitu terkait perubahan kisah biblikal – sebuah upaya perbandingan perlu dilakukan.

Penelusuran tentang kisah Salome membawa kita pada dua Injil (gospel): Injil Matius (Gosple of Matthew, 14: 3–11) dan Injil Markus (Gospel of Mark, 6: 17–28). Pada dua sumber tersebut, Herod dan Herodia (raja dan ratu kerajaan Judea) merupakan tokoh utama – sedangkan nama Salome sama sekali tidak disebutkan dan perannya hanya menjadi boneka bagi sang Ibu, ratu Herodia. Bahkan ketika Salome bersikeras meminta kepala Jokanaan (yang juga dikenal sebagai John the Baptist), tindakan tersebut semata-mata hasil manipulasi Herodia untuk melampiaskan kekesalannya pada sang Nabi. Struktur narasi tersebut dipertahankan pada saduran Flaubert berjudul Hérodias (Trois Contes, 1877) juga dalam narasi puisi simbolis Malarme. Namun, walaupun menjadi sosok yang tidak berbicara banyak dalam teks, Salome mendapatkan perhatian dalam seni lukis karena imajinasi liar yang muncul dari adegan klimaks kisah tersebut (bayangkan saja, seorang perempuan muda mencium kepala tanpa badan yang disodorkan dalam piring perak) – namun, walaupun Salome menggugah imajinasi visual, ia tetap berada di bawah bayang-bayang Herodia.

Selama berabad-abad lamanya, narasi seputaran Salome tidak banyak berubah. Hingga Wilde mengubah sang gadis polos menjadi putri pemberontak yang kerap melarikan diri dari pesta istana untuk mencari sensasi. Kecantikannya bukan lagi milik sang Ibu, tapi miliknya sendiri. Dan ia, dengan segenap kesadaran akan keindahan yang dimilikinya, memaksa siapa saja memenuhi keinginannya.

SALOME: Let me kiss thy mouth, Jokanaan.

JOKANAAN: Art thou not afraid, daughter of Herodias? Did I not tell thee that I had heard in the palace the beatings of the wings of the angel of death, and hath he not come, the angel of death?

SALOME: Let me kiss thy mouth.

JOKANAAN: Daughter of adultery, there is but one who can save thee, it is He of whom I spake. Go seek Him. He is in a boat on the sea of Galilee, and He talketh with His disciples. Kneel down on the shore of the sea, and call unto Him by His name. When He cometh to thee (and to all who call on Him He cometh), bow thyself at His feet and ask of Him the remission of thy sins.

SALOME: Let me kiss thy mouth.

JOKANAAN: Cursed be thou! daughter of an incestuous mother, be thou accursed!

SALOME: I will kiss thy mouth, Jokanaan

Dalam karya Wilde, Salome menjadi figur utama dan memaksa siapapun, apapun, kapanpun untuk memenuhi keinginannya. Alhasil, Salome menjadi salah satu karakter paling terkenal dalam dunia teater dan menjadi simbol kepribadian Obsessive Compulsive – apa yang diinginkan harus didapat. Dalam kisah alkitab, karakter ini disandingkan dengan sang Ibu, Herodia. Namun Wilde mengadopsinya sebagai pengkarakteran utama Salome dan menghantarkannya pada adegan klimaks: “Give me the head of Jokanaan” “Give me the head of Jokanaan” .

Adegan klimaks ini mampu menampilkan seribu makna karena motif Salome meminta kepala Jokanaan tidak pernah diungkap secara gamblang. Ia tidak memiliki dendam, pun tidak mabuk kepayang – dua motif yang mampu mendorong siapapun untuk melakukan hal gila. Ia pun tidak digerakkan atas kehendak sang Ibu sebagaimana digambarkan dalam alkitab atau dalam cerita pendek Flaubert. Minimnya motif menyadikan sebuah kengerian: Salome menginginan kepala Jokanan, hanya karena ia menginginkannya.

Klimaks ini berawal ketika Raja Herod meminta sang putri untuk menari demi menghibur utusan dari Romawi. Dan tentu saja, mengingat Salome karya Wilde bukanlah Salome yang sama dalam alkitab, ia menolak permintaan tersebut tanpa ragu. Herod bersikeras dan menawarkan apapun yang ia inginkan. Mendengar janji tersebut, Salome pun menarikan sebuah tarian – the dance of the seven veil –, sebuah tarian yang berujung malapetaka. Dalam perkembangannya, entah berapa banyak interpretasi seni telah dihasilkan dari tarian Salome tersebut. Namun, sajian utama bukanlah tarian, tapi apa yang terjadi setelahnya.

HEROD: Ah! wonderful! wonderful! You see that she has danced for me, your daughter. Come near, Salomé, come near, that I may give you your reward. Ah! I pay the dancers well. I will pay thee royally. I will give thee whatsoever thy soul desireth. What wouldst thou have? Speak.

SALOME: I would that they presently bring me in a silver charger….

HEROD: In a silver charger? Surely yes, in a silver charger. She is charming, is she not? What is it you would have in a silver charger, O sweet and fair Salomé, you who are fairer than all the daughters of Judæa? What would you have them bring thee in a silver charger? Tell me. Whatsoever it may be, they shall give it you. My treasures belong to thee. What is it, Salomé?

SALOMÉ: The head of Jokanaan.

HEROD: No, no! I have sworn by my gods. I know it well. But I pray you, Salomé, ask of me something else. Ask of me the half of my kingdom, and I will give it you. But ask not of me what you have asked.

SALOME: I ask of you the head of Jokanaan.

Tragedi satu babak Wilde berujung kematian; malapetaka bukan hanya menimpa Jokanaan, tapi juga sang tokoh utama, Salome. Gambaran ini tentu tidak ditemukan secara gamblang dalam alkitab mengingat Salome dalam gospel tidak mendapatkan banyak “panggung”. Perubahan drastis pada plot dan karakter ini semakin mengundang kritik. Wilde dinyatakan gagal dalam memahami sejarah dan menghilangkan esensi narasi alkitab. Bersandingan dengan kritik, terdapat berbagai analisis yang membela posisi Wilde dengan menyatakan bahwa ia bisa saja melakukan pengabaian secara sengaja mengingat fungsi esensial drama adalah penyajian berbagai “model” manusia, dan sama sekali bukan pengenalan figur sejarah. Kini, setelah lebih dari satu abad, Salome karya Wilde diterima sebagai salah satu drama paling iconic dan mempengaruhi jajaran seni setelah. Namun kekuatan utama dari drama ini tentu adalah Salome: femme fatale yang membunuh nabi – hanya karena ingin saja. Dalam ungkapan Coulardeau (2010) “No female character, more than Salome, carries in herself so much power to debunk and rebut any establishment”.

 

Sumber Bacaan:
Burns, E. 1994. Salomé: Wilde’s Radical Tragedy. dalam Sandulescu, G. Rediscovering Oscar Wilde. Gerrards Cross: Colin Smythe Ltd.
Coulardeau, J. 2010. Salome, an Obsessive Compulsive Myth, from Oscar Wilde to Richard Strauss. Studies in the Theatre of Oscar Wilde, hal. 131-146
Wilde, O. 2013. Salome: A Tragedy in One Act. Project Gutenberg 

Share on:

Leave a Comment