Muraqqa: Kumpulan Lukisan Miniatur Islam

Eskpresi seni dalam Islam tidak pernah habis untuk diulas. Kali ini, keindahan lukisan miniatur Islam akan diangkat tanpa berpajang lebar dengan mengacu pada tiga perkembangan utama: lukisan miniatur Persia, Turki dan Mughal. Ketiga aliran tersebut menjadi jejak kebesaran seni dalam Islam yang dipioniri oleh para artisan Persia demi memberikan padanan artistik untuk kumpulan syair yang lahir pada periode puncak kesusasteraan Persia di abad 12. Dengan kata lain, lukisan miniatur memberi ilustrasi pada imajinasi yang digubah para pujangga. Tiga karakter utama yang membentuk lukisan miniatur Persia adalah khatt (kaligrafi), tasvir (ilustrasi) and hashiya (bingkai). Dalam perkembangannya, bentuk lukisan ini melepaskan diri dari fungsi dekoratif dan menjadi aliran seni tersendiri. Persinggungan dengan budaya dimana sebuah lukisan miniatur dihasilkan semakin memberi penegasan akan kekayaan khasanah dalam seni Islam. Seni klasik Persia dengan esesi sufisme menjadikan lukisan miniaturnya lekat dengan karakteristik spiritual; persinggungannya kemudian dengan budaya Mongolia menambahankan fitur alam dalam ilustrasinya. Seni lukis miniatur Turki kaya akan pigmen karena persinggungan Turki dengan budaya Eropa dan Cina; bentuk lukisan miniatur Turki dikenal sebagai salah satu yang paling berkembang karena memadukan ilustrasi dengan teknik iluminasi dan gunting kertas; selain itu, lukisan miniatur Turki memiliki fungsi diplomatik karena lajim digunakan dalam surat-menyurat kejaraan Ottoman. Sedangkan lukisan miniatur Mughal merupakan persilangan antara seni Persia, India dan Indo-Eropa menjadi wajah Islam di jantung peradaban hindus. Kumpulan lukisan miniatur lantas dikenal dengan sebutan Muraqqa, atau album lukisan. Muraqqa-muraqqa awal pada umumnya tanpa nama – mengacu pada kebiasaan seorang artisan yang anonym. Jahangir, sang patron seni Mughal, mencurahkan rasa cintanya pada seni lukis miniatur melalui ungkapan sebagai berikut:

I derive such enjoyment from painting and have such expertise in judging it that, even without the artist’s name being mentioned, no work of past or present masters can be shown to me that I do not instantly recognize who did it. Even if it is a scene of several figures and each face is by a different master, I can tell who did which face. If in a single painting different persons have done the eyes and eyebrows, I can determine who drew the face and who made the eyes and eyebrows

Baru memasuki abad 16, terdapat beberapa artisan yang mengungkap diri didorong oleh meningkatnya patron yang tertarik dengan seni lukisan miniatur sehingga mengembangkan seni ini secara khusus. Diantara para seniman tersebut nama yang menjadi patokan: Riza Abbasi dan Mir Sayyid Ali dari Persia, Siyah Qalam (atau sang pena hitam) dari Turki, juga Abd as-Samad dan Jahangir, dua seniman lukis yang secara kuat menjejakkan pengaruh dalam tradisi Mughal. Tapi, terlepas dari kumpulan dalam bentuk muraqqa, lukisan miniatur tetap dapat ditemui dalam fungsi dekoratifnya. Salah satu yang paling umum kini dapat ditemukan pada halaman Al-Qur’an, membingkai ayat dengan sentuhan artistik yang khas – seni geomitrik dengan presisi tinggi. Namun, yang perlu dipersiapkan dalam menikmati muraqqa dari abad lampau adalah keluasan interpretasi dan konteks sejarah: karena lukisan figuratif yang kini ditabukan tabu dalam Islam, dalam muraqqa-muraqqa terkenal, malah dirayakan. Penelusuran atas penggunaan figur dalam muraqqa berujung pada beberapa simpulan: (1) dalam beberapa kasus, muraqqa dibuat atas permintaan khusus oleh patron tertentu dan bukan diperuntukkan kepada publik; (2) merupakan ilustrasi dari syair sehingga figur diperlukan untuk penegasan; dan (3) bentuk narasi ilustratif untuk menggambarkan figur atau kejadian tertentu. Dengan mengacu pada fungsi, posisinya dalam sejarah seni serta kedalaman nilai estetis, tidak ayal bahwa muraqqa merupakan warisan tak ternilai dalam khasanah peradaban Islam, juga dalam perkembangan seni dunia. 

Lukisan Miniatur – Muraqqa Gaya Persia, Turki dan Mughal

Gaya Persia – Miniature from Layla and Majnun (c. 1540)
Gaya Persia – The Shahnama (Book of Kings) of Shah Tahmasp (c. 1530-35)
Gaya Turki – Portrait of a painter during the reign of Mehmet II
Gaya Turki – Book of Celebration
Gaya Mughal – Emperor Jahangir receiving his two sons, an album-painting in gouache on paper, c. 1605-6
Gaya Mughal – Jahangir holding a globe, 1614-1618

 

Sumber Gambar: Wikimedia Commons
Sumber Bacaan:
Grabar, O. 2001. Mostly Miniatures: An Introduction to Persian Painting. Princeton University Press
Titley, N. M. 1983. Persian Miniature Painting, and Its Influence on the Art of Turkey and India: The British Library collections. University of Texas Press

Share on:

Leave a Comment