Syair Sufisme Farid ud-Din Attar: Musyawarah Burung

Dalam bentang estetika Islam, terdapat ekspresi yang menurut Seyyed Hosain Nasr “merupakan katalis utama penyebaran Islam[1]”. Seni tersebut adalah Syair Sufisme: sebuah ekspresi berbentuk rangkaian kata yang dihasilkan bukan dari makna, tapi dari cinta ilahiah. Nasr selanjutnya memberikan keterangan, bahwa ribuan syair juga musik yang digubah para darwis dan penyair-sufi pengembara, telah memberikan nafas seni khas yang menjadi pilar dunia Islam. Beberapa nama besar melekat pada seni klasik ini: mulai dari sufi-penyair kenamaan Persia Sham Tabrizi juga Jalaludin Rumi; Kabir sang legenda syair Bhakti dari tradisi Mughal, India; Lalla Ded yang menggubah syair mistis dari ketinggian dataran Kashmir; hingga Muhammad Ibn ‘Arabi dari Spanyol yang cintanya pada sang Ilahi bersinggungan dengan gerak budaya. Adapun ulasan kali ini akan secara khusus menyoroti seorang penyair-sufi, Farid ud-Din Attar. Karya besarnya berjudul Musyawarah Burung (the Conference of the Birds/Manṭiq-uṭ-Tayr) dikenal sebagai salah satu alegori spiritual terindah dalam pencarian kebenaran hakiki; dan namanya berada pada posisi tinggi dalam dunia sufime Persia, bersandingan dengan Jalaludin Rumi (Aveling, 2017).

At last one smaller Bird, of a rare kind,
Of modest Plume and unpresumptuous Mind,
Whisper’d ‘O Tajidar, we know indeed
How Thou both knowest, and would’st help our Need;
For thou art wise and holy, and hast been
Behind the Veil, and there The Presence seen.

Farid ud-Din Attar sendiri merupakan nama pena seorang penjual wewangian bernama Abu Hamid bin Abu Bakr Ibrahim (1145-1220). Berasal dari Nashipur (kota di timur laut Persia), Attar bersinggungan dengan dua sisi pada mata koin sejarah: Di satu sisi, ia beruntung karena berada di tengah lingkaran utama kesusastraan Persia warisan dari pujangga besar Omar Khayyam, yang juga berasal dari Nishapur. Selain dibesarkan dalam tradisi sastra, Attar juga mengenyam pendidikan teologi yang ia telusuri melalui perjalanan ke Mesir, Damaskus, Mekah, hingga India (Aveling, 2017). Yang menarik kemudian adalah kisah awal perjalanan teologi Attar yang hingga kini masih diperdebatkan. Kisahnya adalah sebagai berikut (dalam Nafahat al-uns, dikutip Aveling, 2017):

“A dervish was gazing at Attar’s shop, his eyes filled with tears, while letting out a sigh. ‘What are you gazing at? It would have been better for you to continue going your own way,’ said the apothecary. ‘My load does not weigh much,’ he said, ‘I do not have much else but these old clothes, but what are you doing with these bags and barrels filled with valuable medications? I can quickly leave this bazaar whenever I please, but how will you ever pass away?’ Attar replied: ‘The same way you will!’ Whereupon the dervish put his begging bowl on the ground, laid his head upon it, uttered the word ‘God’ and promptly died. Attar immediately closed his shop and began his search for Sufi masters.”

Di sisi lain, Nishapur berbagi akhir yang tragis bersama sang penyair. Kota tersebut menjadi pusat konflik berkepanjangan antara Kekaisaran Samanids dengan Seljuk (1037), juga dengan kekaisaran Turki (1153) hingga luluh lantak oleh pasukan Mongolia dibawah pimpinan Genghis Khan (1221). Attar sendiri dikabarkan tewas di tangan tentara Mongolia. Wolpe (2017) mengisahkan kembali tentang kematian Attar sebagai berikut: ketika ia ditawan, banyak yang menawarkan untuk menukar sang penyair dengan perak dan emas, namun Attar meyakinkan tentara penawannya untuk menunggu tawaran selanjutnya, didorong rasa tamak, tentara tersebut setuju. Hingga datanglah seseorang yang menawar Attar dengan harga sekarung jerami, lalu Attar berujar “ambillah, itu adalah harga nyawaku”. Si tentara yang marah lantas memenggal Attar dengan pedangnya. Namun, berbeda dengan kisah kehidupannya yang berakhir tragis (walau tidak dipungkiri ada sentuhan puisi heroik di sana), syair-syair Attar mampu melampaui kehancuran; dan juga melintasi waktu. Kini, ziarah Nishapur tidak lengkap tanpa mendatangi mausoleum Omar Khayyam dan monumen Attar sang sufi berbahasa burung.

Buku termasyur Musyawarah Burung ditulis pada 1177. Bagi Muslim di manapun, adalah keniscayaan untuk menyematkan syair tersebut pada sepenggal ayat dalam Surat An-Naml yang berkisah tentang pengetahuan ilahiah Nabi Sulaiman yang memahami bahasa burung. “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata” (Surat An-Naml Ayat 16). Tafsir harfiah ayat tersebut lantas menjadi pembuka bagi perjalanan spiritual para burung untuk mencari Simorgh, burung mitos Persia yang dikatakan memiliki rahasia semesta pengetahuan, juga representasi atas kematian dan kehidupan. Dipimpin oleh burung Hud Hud (sang pembawa pesan dalam kisah Nabi Sulaiman), ribuan burung terbang melewati tujuh lembah: lembah pencarian, lembah cinta kasih, lembah pengetahuan, lembah keterasingan, lembah penyatuan, lembah kekaguman, hingga lembah kemiskinan dan pemusnahan diri.

Secara keseluruhan, Musyarah Burung terdiri dari 4724 baris syair yang dapat dibagi kedalam sebelas bagian sebagai berikut (mengacu pada terjemahan Wolpe, 2017): (1) Prolog (baris 1-616) yang terdiri dari senandung pujian pada Tuhan, Nabi, para khalifah, juga figure besar lainnya seperti Bilal dan Rabi’ah. (2) Para burung berkumpul (baris 617-681), Attar menyebutkan beberapa jenis pada bagian ini, yaitu Hud Hud, merpati, kakaktua, burung puyuh, juga elang (beberapa jenis ditambahkan kemudian pada alusi perjalanan). (3) Perdebatan para burung (baris 682-1163) yang berisi kesediaan dan penolakan untuk mengikuti perjalanan. Penolakan didominasi oleh kecintaan duniawi, delusi keagamaan, hingga ambisi. (4) Persiapan perjalanan (baris 1164-1601) berisi keragu-raguan dan upaya meyakinkan diri. (5) Awal perjalanan (baris 1602-1743) mereka memilih Hud Hud sebagai pemimpin perjalanan karena dipandang memiliki pengetahuan dan rasional diantara para burung. (6) Dari celoteh hingga protes (baris 1744-2232), yang membuat Hud Hud pusing tujuh keliling. (7) Ketakutan para burung (baris 2233-2484) yang membuat banyak diantaranya mengurungkan perjalanan. (8) Burung berbagi kisah (baris 2485-3245) saling memberikan pengalaman dan membuka jalan bagi penerimaan. (9) Melintasi tujuh lembah (baris 3246-4158), dan (10) akhir perjalanan (baris 4159-4482) ketika pada akhirnya menemu Simorgh. Syair ditutup dengan (11) epilog (baris 4483-4724) berisi refleksi Attar tentang sifat pengetahuan sejati.

Dalam rangkuman di atas, jelas digambarkan bahwa perjalanan tidaklah sia-sia karena mereka menemu Simorgh, yang ternyata adalah refleksi diri dari sang pencari (Simorgh berarti tiga puluh burung dalam Bahasa Persia kuno). Pertemuan tersebut digambarkan oleh Attar sebagai berikut:

They were startled.
They were amazed
and still more astonished
as they advanced.
They saw how they themselves
Were the Great Simorgh,
All along, Simorgh was in fact,
Si, thirty, morgh, birds…

Simbolisasi Simorg beresonansi dengan pencapaian sipitual yang ditemukan oleh orang-orang suci dalam keheningan–mulai dari Petapa, Brahmana, Nabi juga Wali, dan tentu saja para Sufi: bahwa pengetahuan adalah cerminan diri, dan seseorang harus berjalan jauh untuk menemu refleksi yang hakiki. Namun, Musyawarah Burung menjadi tidak ada banding karena Attar mampu menyajikan pergulatan diri dalam bentuk syair yang mengalir, bahkan (dapat dibilang) lucu dan menggemaskan (Keshavarz, 2006). Simak saja tingkah laku dan kicauan burung yang menjadi kekuatan metafora Attar: sang pemimpin Hud Hud yang dipusingkan oleh celoteh teman-temannya, Sikatan Londo (Nightingale) yang selalu ragu-ragu, bebek yang selalu ikut arus tanpa tujuan, elang yang bergengsi tinggi dan agak ngambek karena ia tidak terpilih menjadi pemimpin perjalanan, juga kakaktua yang kekanak-kanakan. Ketika membaca syair Musyawarah Burung, kesan berada di dunia fabel tanpa beban pasti terlintas, walau sindirannya tidak kalah telak. Lihat saja kicauan sang Elang, “My eyes are hooded and I cannot see, /But I perch proudly on my sovereign’s wrist”, sebuah satir kekuasaan buta yang rasanya dekat dengan realita. Kekuatan narasi inilah yang menempatkan syair sufisme Attar pada posisi istimewa. Alegorinya tidak berat dan berpanjang lebar, tidak juga menggurui. Ia hanya berkicau[2].

He crooned: Throughout the darkest night my song
Resounds, and to my retinue belong
The sweet notes of the melancholy lute,
The plaintive wailing of the lovesick flute;
When love speaks in the soul my voice replies
In accents plangent as the ocean’s sighs.

Ilustrasi Syair Sufisme Musyawarah Burung

Syair Sufisme Musyawarah Burung karya Fariduddin Attar
Ilustrasi Muhammad ibn Muhammad Shakir Ruzmah-‘i Nathani 

 

Sumber Gambar: Wikipedia commons
Sumber Bacaan:
Aveling, H. 2017. A Pot Full of Ancient Mysteries”: An Australian Version of Attar’s The Conference of the Birds. Asiatic, 11(2): 79-91

Keshavarz, F. 2006. Flight of the Birds: The Poetic Animating the Spiritual in Attar’s Mantiq al-tayr. Attar and the Persian Sufi Tradition. Leonard Lewisohn dan Christopher Shackle (eds). London: Tauris, hal. 112-34.
Nasr, S.H. 2017. Islam Aesthetics. A Companion to World Philosophies. Eliot Deutsch dan Ron Bontekoe (eds.). New Jersey: Blackwell.
Wolpe, S. 2017. The Conference of the Birds (terj.) karya Farid ud-Din Attar. New York: Norton.

Keterangan:
[1] Dalam kata-kata Nasr: “Without Sufism, Islam would not have spread into two thirds of what we call the Islamic world”.
[2] Sekilas, gambaran anak muda masa kini dengan akun twitternya hinggap dikepala, yang secara ironi, merupakan pola pencarian kebenaran abad 21

Share on:

Leave a Comment