Lukisan Mark Rothko: Abstraksi Mitomorfosis

The romantics were prompted to seek exotic subjects and to travel to far off places. They failed to realize that, though the transcendental must involve the strange and unfamiliar, not everything strange or unfamiliar is transcendentalmerupakan ungkapan Mark Rothko[1] pada pembuka esainya yang berjudul The Romantics were Prompted (1947).  Dalam lukisan Mark Rothko sendiri, sisi transenden dapat ditemukan dalam perihal yang sangat familiar, yaitu: warna.

No.1, Royal Red and Blue
Blue and Grey, 1962

Melalui permainan warna inilah, seni lukis modern mengenal drama transenden tanpa bentuk yang tertuang dalam jajaran karya Mark Rothko. Selain transenden, kesan lain yang hadir dalam karya-karya Rothko adalah misteri (setidaknya bagi saya yang baru belakangan ini mampu mencerna abstraksi emosional Rothko). Teka-teki ada dimana-mana: pada manifesto seninya yang tak pernah ia selesaikan[2], pada lukisannya yang minus figural tapi penuh drama, pada reduksi judul yang hanya menyisakan angka, hingga pada insiden bunuh diri yang ia lakukan tanpa meninggalkan pesan. Dengan kata lain, hanya orang sekelas Rothko yang mampu menyajikan teka-teki dalam bentuk dan warna yang (kelihatannya) sederhana. Namun justru karena presentasi lukisan yang begitu sederhana, dapat dipastikan ada apa-apa dibelakangnya. Kecurigaan membawa pada penelusuran jejak lukisan Rothko. Dan apa yang ditemukan kemudian adalah keterpukauan sekaligus pencerahan atas karya-karyanya. Perkembangan gaya lukisan Rothko memberi petunjuk jelas tentang apa yang disebut para kritikus sebagai Mythomorphic Abstractionism.

Perkembangan Lukisan Mark Rothko

Sacrifice of Iphigenia, early painting
A Retrospective, later development
Yellow over Purple, abstractionism phase

Istilah mythomorphic abstractionism mengacu pada perkembangan fase lukisan Rothko. Awalnya ia sangat dipengaruhi oleh lukisan-lukisan mitologi. Namun, pemujaannya terhadap mitos tenggelam begitu saja ketika ia berhadapan dengan The Birth of Tragedy karya Nietzsche (1872), yang didalamnya terangkum gagasan bahwasanya: The images of the myth have to be the unnoticed omnipresent demonic guardians, under whose care the young soul grows to maturity and whose signs help the man to interpret his life and struggles. Pandangan Nietzsche memberi pengaruh besar pada gaya lukis Rothko kemudian, dengan mengeliminasi berbagai bentuk, lukisan Rothko menjelma menjadi “omnipresent myth”. Dalam The Romantics were Prompted, Rothko menjelaskan empat perihal dasar terkait abstraksi mitos pada lukisannya: (1) selalu terdapat elemen unik pada setiap situasi; (2) [setiap lukisan] merupakan sebuah organisme dengan kemauan dan hasrat penegasan diri; (3) [setiap lukisan] memiliki kebebasan internal tanpa harus menyesuaikan diri dengan dunia yang telah dikenal; dan (4) [setiap lukisan] tidak memiliki hubungan langsung dengan pengalaman yang nampak, namun didalamnya dapat dikenali sebuah hasrat yang senantiasa hidup (Rothko, 1947). Keempat prinsip abstraksi inilah yang menjadi kunci dasar dalam memahami abstraksi bentuk dalam lukisan Rothko yang mengacu pada sebuah gagasan universal, bahwa hanya dengan menghilangkan keterbatasan (figural, definisi dan judul), lukisannya menjadi tidak terbatas[3].

No. 61 (Rust and Blue)

Ketika mitos hilang, lalu apa gantinya? Pertanyaan ini hadir ketika mencoba lebih lanjut mengungkap misteri seputar lukisan Rothko. Jawaban atas hal ini hadir dalam esai berjudul “Emotional and Dramatic Expresion”. Ungkapnya: And in this endeavor light is the binder, for by its means he can not only make the appearances that stimulate him to participate in a general category of visual observation, but he can find within that category the means to symbolize his feelings about these appearances. For light makes it possible to substitute for the directness of the mythologist’s sensuality a new factor that we can call emotionality (Rothko, (ed.) 2004). Singkat kata, simbolisasi mitologi digantikan oleh “emosionality”, sebuah konsep abstrak yang mewakili suasana hati seseorang. Dalam musik, suasana ditentukan oleh mood[4], bagi penyair ditentukan oleh tema dan diksi, sedangkan bagi pelukis ditentukan oleh cahaya. Sedangkan warna tidak lain merupakan interpretasi dari cahaya. Pada titik inilah teka-teki pemainan warna dalam lukisan Rothko, sedikitnya dapat terungkap.

Namun, apa yang membedakan lukisan Rothko dengan lukisan plat warna lainnya (itu loh, yang menjadi pajangan populer pada gaya interior minimalis masa kini)?. Jawabannya sederhana saja: pijakan seni yang berbeda. Entah sejauh mana para pelukis abstrak (penganut gaya Rothko) menggali fondasi seninya, tapi bagi Rothko sendiri, pijakan ini mengacu pada tujuh aturan dasar – yang tentunya ia buat sendiri (Borchardt-Hume (ed.) 2008):

  • There must be a clear preoccupation with death—intimations of mortality … Tragic art, romantic art, etc., deals with the knowledge of death.
  • Our basis of being concrete about the world. It is a lustful relationship to things that exist.
  • Either conflict or curbed desire.
  • Irony, This is a modern ingredient—the self-effacement and examination by which a man for an instant can go on to something else.
  • Wit and play … for the human element.
  • The ephemeral and chance … for the human element.
  • 10% to make the tragic concept more endurable[5].

Menurut Rothko, ketujuh pijakan ini ia pegang teguh dalam menghasilkan lukisan-lukisannya. Sebuah usaha yang ketat untuk menjadi otentik dalam “sebuah proses yang plastik”[6] (Rothko, (ed) 2004). Pemilihan presisi warna menjadi faktor penting lainnya, Rothko nampaknya paham benar akan emosi yang tercermin dalam paduan warna. Baginya, warna adalah drama tanpa bentuk atau sebuah ritual transendental. Mungkin emosi jugalah yang menjadi alasan mengapa lukisan-lukisan terakhir Rothko begitu gelap. Namun bukan Rothko namanya jika tidak membangun misteri – I do not believe that there was ever a question of being abstract or representational. It is really a matter of ending this silence and solitude, of breathing and stretching one’s arms again.

Untitled, 1970

Sumber Bacaan:
Borchardt-Hume, A. (ed.). 2008. Rothko. Tate Gallery, London
Rothko, M. 1947. The Romantics were Prompted. Possibilities, I, New York
Rothko, C. & Rothko, K. (ed.). 2004. The Artist’s Reality: Philosophy of Art by Mark Rothko. Thames Printing Company, Inc.

Keterangan:
[1] Terlahir
dengan nama Markus Rothkowitz, pelukis asal Rusia keturunan Yahudi, bermigrasi ke Amerika pada 1913. Mulai aktif melukis tujuh tahun kemudian.
[2] Baru pada tahun 2004, Kate dan Christopher Rothko, membukukan tulisan ayah mereka dan diterbitkan dengan judul Artist’s Reality: Philosophies of Arts.  
[3] Walaupun jika mengacu pada dekonstruksi, keterbatasan jelas ada, terutama dalam bentuk keterbatasan interpretasi serta keterbatasan pengalaman subjek yang melihat lukisan.
[4] Ketukan ritme yang dibangun untuk memunculkan kesan bahagia, gembira, sedih atau depresi (Michale Nuzzolo, Music Mood Classification
[5] Tidak diterjemahkan dengan sengaja, untuk menghindari kesalahan interpretasi
[6] Terangkum dalam esay berjudul The Integrity of the Plastic Proses, ungkapnya “The practice of art in the large, that is, the aggregate production of all artists, is identical to the evolution of these laws. And the work of each artist is a different facet of each stage and functions as an accretion that serves as a corollary to the preceding stage. It is in the terms of these plastic laws alone that art preserves a continuous, logical, and explicable picture”

Share on:

2 thoughts on “Lukisan Mark Rothko: Abstraksi Mitomorfosis”

  1. udah ada yang nyoba kanvas putih yang cuma diliat 4:33 menit ga? yang penting dari lukisan bukan warna tapi ketiadaan warna, ada ruang kosong diantara warna yang sebenarnya kita nikmati..
    mungkin bisa lebih radikal dari lukisan roller ieu.. wkwk..

Leave a Comment