Emosi Telanjang (Lukisan Edvard Munch Bagian I)

Subjek lukisan Edvard Munch adalah emosi telanjang manusia – namun untuk sampai pada asumsi tersebut, entah sudah berapa banyak tulisan gagal berjejalan dalam folder-folder tak bernama. Adalah lukisan berjudul Jealousy yang kali ini ‘menggaggu’ segenap kesadaran: mentah, gelap, suram, tanpa harapan. Bagaimana bisa? ujar diri yang kebingungan setengah mati dihentak kanvas resolusi rendah dalam layar laptop seadanya. Bagaimana bisa, sebuah gambar dua dimensi tanpa banyak keterangan mampu menyampaikan pesan sang pelukis melankolik yang selalu berjalan dalam bayangan: “Disease and madness and death were the black angels standing over my cradle” (ngv, 2005). Karena tidak menemu jawab, atau mungkin karena tidak segala sesuatu harus terjawab, imaji tentang Jealousy saya letakkan di sudut ingatan paling aman – tepatnya di antara mimpi tak kesampaian dan puisi yang kehilangan kata-kata. Sejalan waktu yang berlalu acuh tak acuh, lukisan ini hadir kembali ketika tengah membaca artikel acak tanpa tujuan. Alhasil rasa penasaran hadir kembali dan lalu semakin membuncah dalam bentuk asumsi-asumsi kabur tentang sang maestro ‘realita kelu’ yang satu ini. Jealousy, seperti halnya lukisan Munch lain, memaksa sebuah perasaan campur aduk. Lihat saja Evening on Karl Johan Street, dimana Munch bermain-main dengan psikologi massa. Atau lukisan lain berjudul Anxiety, ketika Munch mendakwa dunia dengan tuduhan: memberikan mimpi buruk tak berujung – perasaan dibuat campur aduk karena sama sekali tidak ada ironi didalamnya, hanya gelombang rasa putus asa, yang jika dinikmati pada masa kurang tepat, dapat menyebabkan kondisi berbahaya. Juga tidak ada humor dalam karya Munch – sang maestro tidak tengah bercanda ketika berujar “Without fear and illness, I could never have accomplished all I have” (ngv, 2005). Dengan kata lain setiap kanvas Munch adalah lukisan telanjang emosi manusia. Jealousy adalah satu dari jajaran “emosi telanjang” ala Munch yang ia definisikan sebagai sebuah alienasi dalam pelukan (MoMA, 1979). Pada rentang waktu pembuatan lukisan ini, sebuah kisah yang tersebar adalah: Munch kerap mengunjungi tempat prostitusi hanya untuk sekedar berbincang, Mengapa demikian? Siapa yang tahu. Mungkin ia tengah mengamati rasa cemburu dalam berbagai bentuknya. Satu hal yang pasti: kita semua tahu rasa cemburu bisa menyergap sewaktu-waktu tanpa persiapan. Layaknya Adam yang tiba-tiba muncul dengan segenap keagungannya, memaksa segenap alam untuk tunduk padanya. “Tidak akan!” Ujar sebuah sosok yang lalu pergi terbakar cemburu di kala subuh. Dan ternyata, kisah inilah yang dituangkan Munch pada Jealousy I – cemburu paling hakiki yang tertuang dalam kitab suci. Tapi Munch ternyata belum usai. Ada sepuluh Jealousy lainnya yang ia tuangkan dalam kanvas. Beragam latar memberikan beragam kesan, namun cemburu dalam beragam alusi Munch tetap memiliki ekspresi sama: dingin, dengan segenap gemuruh yang memburu. Sebuah ekspresi yang dapat dengan mudah kita kenali, karena menurut Munch (ngv, 2005): “My art has allowed me to bare my soul”.

Jealousy dan beberapa lukisan Edvard Munch lainnya

Jealousy I
Lukisan Edvard Munch
Jealousy II
Jealousy IV
Ashes
Separation
Lukisan Edvard Munch
Vampire
Dance of Life

Sumber Gambar: Wikipedia commons

Sumber Bacaan:
Ngv. 2005. Edvard Munch. National Gallery of Victoria

MoMA, 1979. The Masterworks of Edvard Munch. Museum of Modern Art (New York)

Share on:

Leave a Comment