• Review
  • About Us
Review Musik Legion Blues Inggris: dari Idealist hingga Post-Impresionist

Legion Blues Inggris: dari Idealist hingga Post-Impresionist

-

Ketika Alexis Korner, musisi sekaligus penyiar BBC, mempopulerkan blues di klub-klub London dan radio tempatnya bekerja, ia tidak menyadari bahwa ia telah membuka kotak Pandora yang akan membuat dunia musik tidak pernah akan sama lagi. Saat itu adalah tahun 1961 ketika Korner membentuk Blues Incorporated bersama Cyril Davis, seorang pemain harmonika terbaik yang pernah dimiliki Inggris. Korner sendiri dinobatkan sebagai bapak dari band British Blues (legion band blues Inggris) karena bersama Blues Incorporated, ia menginspirasi puluhan musisi blues setelahnya – antara lain Jack Bruce, Jeff Beck, Keith Richard, Steve Winwood, Eric Clapton, Jimmy Page, hingga persinggungan Hendrix dengan scene blues Inggris – yang oleh tangan-tangan merekalah nasib musik dunia dikonstruksi ulang. Korner dan Blues Incorporated sendiri memilih untuk tetap berada pada jalur murni tanpa banyak mengubah struktur blues dari para dedengkotnya, bahkan dalam album maupun bootlegnya, Blues Incorporated kerap mengingatkan pendengarnya pada patokan blues standar ala Muddy Water hingga Leroy Carr. Namun, generasi sesudahnya, yang muncul dengan bakat (dan ego) membuncah, berjalan kearah yang berbeda.

Paduan bakat dan ego di kalangan legion band blues Inggris terbukti sangat berbahaya. Sebut saja diantaranya John Mayal and the Bluesbreaker, The Yardbirds, The Rolling Stone, Cream, Led Zeppelin, Spencer Davis Group hingga Fleetwood Mac, adalah musisi blues yang diperhitungkan. Bahkan salah satu personil Cream, Eric Clapton, dikenal sebagai “musisi kulit putih berhati hitam” karena idealismenya dalam menggali kemurnian blues. Idealisme jugalah yang membuatnya keluar dari The Yardbirs pada saat band tersebut mulai mendapatkan perhatian publik namun mulai keluar dari akar blues. Clapton kemudian bergabung dengan the Bluesbreaker dan setelahnya membentuk Cream bersama Jack Bruce dan Ginger Baker. Atas kepiawaian ketiganya, Cream menjelma menjadi salah satu band blues-rock-psychadelic paling berpengaruh hingga saat ini, sayangnya band legendaris ini tidak bertahan lama – mengingatkan kembali pada idiom akan bahaya paduan bakat dan ego yang sama kuat. Namun, walaupun tetap mengusung blues dalam bentuk aslinya, Clapton beserta para legion Blues Inggris lainnya mendefinisikan sebuah ciri sound dari British Blues: eksploitasi elektrik gitar dengan tempo yang lebih cepat – sebuah aliran yang kemudian berhasil diejawantahkan dengan sangat lugas oleh Keith Richard dan Rolling Stone,– membuat blues menjadi berwarna “putih”.

Namun perjalanan tidak berakhir disana, karena pada tahun 1969 lahir sebuah aliran baru band blues Inggris hasil perselingkuhan antara blues dengan entah apa – pada saat itu istilah heavy metal belum ditemukan. Led Zeppelin merupakan serpihan dari The Yardbirds yang bubar setahun sebelumnya (lagi-lagi karena kompetisi ego), bertransformasi menjadi sebuah band dengan kemampuan mendefinisikan ulang suara. Jimmy Page adalah biang keladinya, namun ketiga personil lainnya – Robert Plant, John Bonham dan John Paul Jones – juga adalah tersangka yang tidak kalah hebat. Album pertama mereka mengagetkan banyak pihak, karena siapa yang menyangka bahwa aransemen lirih Otis Rush (I Can’t Quit You Baby) bisa terdengar begitu “menusuk” lewat petikan gitar Page. Dalam album-album berikutnya pun mereka masih melakukan hal serupa, dengarkan saja gubahan ulang Zeppelin pada Travelling Riverside Blues milik Robert Johnson, Gallow Pole milik Francis James Chiled yang juga pernah dibawakan Leadbelly, dan yang paling fenomenal adalah aransemen ulang When the Levee Breaks karya Memphis Minnie. Dalam lagu-lagu tersebut dan juga karya lainnya, Led Zeppelin membuat persepsi baru dalam [musik] blues, sebuah persepsi post-impresionist (yang diambil dari nama sebuah aliran lukisan), bahwa blues bisa muncul melalui petikan tajam diselingi distorsi – yang hampir keluar batas struktur blues tapi ternyata tidak. Page  sang gitaris, layaknya Van Gogh yang menolak untuk tunduk kepada bentuk impressionist dan tetap memaksakan gayanya sendiri – sebuah dobrakan post-impresionist dengan teknik torehan yang kuat dipenuhi distorsi emosi. Aliran post-impresionist memang tidak pernah disandingkan dengan musik, tapi teknik yang sama dapat kita temukan dalam permainan Page, sebuah paduan persistensi ego dan distorsi emosional yang signifikan. Melalui pengaruh Led Zeppelin pada akhirnya kita mengenal heavy metal – sang anak bengal dari musik blues.

Yang menarik dari perkembangan band blues Inggris adalah bahwa Alexis Korner, sang Bapak dari Blues Inggris,  merekam hampir semua perkembangannya. Melalui sesi wawancara BBC ia memberikan waktu bagi para penerusnya untuk mengudara. Led Zeppelin diwawancarai tidak lama setelah album pertamanya keluar, begitu pula Cream, dan sesi khusus untuk Rolling Stone pada tahun 1973. Mungkin pada akhirnya Korner sadar akan kotak Pandora yang telah ia buka dan memilih untuk mengawal perkembangannya, bahkan hingga booming blues di Inggris telah lewat. Namun walaupun blues, khususnya di Inggris, semakin mengalami disorientasi ketika memasuki pertengahan 70-an, legion blues Inggris berisi para (super)ego didalamnya telah berhasil membentuk landasan bagi perkembangan musik di era selanjutnya – landasan idealist di satu sisi, dan post-impresionist di sisi lainnya.

Legion Blues Inggris: dari Idealist hingga Post-Impresionist 1 blues inggris,band blues,musisi blues,skena musik
Aliyuna Pratistihttps://antimateri.com
aliyunapratisti@antimateri.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Musik Minimalism: Repetisi, Transenden dan Teknologi

Ada kalanya, kami, para editor pada web antah berantah ini, sekilas mengkhawatirkan tentang arah pembahasan musik yang semakin menjauh...

Jean-Léon Gérôme: Melampaui Orientalisme

Di akhir abad ke-19, terdapat lonjakan permintaan atas lukisan orientalisme, terutama karya seorang pelukis akademia terkemuka, Jean-Léon Gérôme. Gegap...

#Selfie dan Kematian Alegori Diri

Hingga saat ini, saya masih saja belum dapat menerima kewajaran dari aktivitas memotret diri sendiri menggunakan teknologi telepon selular...

Menulis, Membaca, dan “Saya”

“Menulis buat saya seperti bernafas. Sebagaimana saya tidak bisa hidup tanpa bernafas, maka demikianlah makna menulis untuk saya”. Demikian kata...

Jejak Sajak A.S. Dharta

Pada mulanya tak banyak yang saya ketahui tentang A.S. Dharta, dibandingkan dengan pengarang Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) lainnya seperti...

Titik Mati dari Bumi yang Berputar

Jemaa al-Fna atau Assembly of the Dead merupakan jantung kebudayaan Marrakesh, sebuah kota tua di utara Maroko. Tempat tersebut...

Must read

Jejak Melquíades di Negeri tanpa Batas

Gabriel Garcia Marquez membuat sebuah lanskap magis bernama Macondo...

Minggu Pertama: “Be Kind and Rewind”

Hari Jumat tanggal 7 Maret kemarin, saya mengadakan diskusi...

You might also likeRELATED
Recommended to you