American Novelist, William Burroughs (1914-1997). Image Source: http://www.collectortribune.com/wp-content/uploads/2012/03/william-burroughs.jpg

(Vina Adriany)

“Menulis buat saya seperti bernafas. Sebagaimana saya tidak bisa hidup tanpa bernafas, maka demikianlah makna menulis untuk saya”.

Demikian kata seorang Profesor Filsafat yang juga merupakan salah seorang sahabat baik saya pada saat saya kuliah S2. Barangkali benar, bagi beberapa orang, menulis merupakan kebutuhan primer. Banyak yang merasa hidupnya belum optimal ketika dia belum selesai menulis. Profesor saya barangkali salah satu diantaranya.

Menulis juga bisa bermakna proses eksistansialis. Ada hal yang unik ketika kita menulis. Meskipun menulis seringkali bercerita tentang orang lain, tapi setiap tulisan pada dasarnya senantiasa bersifat autobiography. Setiap tulisan pada dasarnya senantiasa bercerita tentang diri kita sendiri, tentang sejarah yang pernah kita miliki dan mimpi yang barangkali ingin atau belum kita raih.

Saya bukan seorang penulis produktif, apalagi sebagai penulis populer. Tapi ketika saya menulis, saya senantiasa merasakan diri saya berada pada sebuah lorong waktu yang memungkinkan saya untuk kembali ke masa lalu saya. Saat saya menulis, saya bertanya tentang siapa saya, memori mana yang merupakan fakta dan memori mana yang merupakan fiksi. Dan ini saya rasakan bahkan ketika saya saat ini sedang menulis sebuah disertasi. Saya merasa saya tengah melakukan dialog dengan masa lalu saya, beberapa hal diantaranya indah untuk dikenang, beberapa diantaranya ingin saya kritisi. Tapi terlepas dari itu semua, menulis memungkinkan saya untuk lebih memahami siapa saya sebetulnya.

Lalu siapa kah saya ini sesungguhnya? Pertanyaan yang sulit atau tidak mudah untuk dijawab. Descartes mengatakan “I think therefore I am”. Saya adalah makhluk yang dapat berfikir. Kalau saya adalah makhluk yang dapat berfikir, maka sungguh kapasitas berfikir bukan sesuatu yang ingin saya banggakan. Nuklir, bom atom, perang, semua produk kekerasan yang lahir dari kemampuan berfikir sungguh membuat saya menjadi malu menjadi seorang “I”.  Kemudian, Maslow mengatakan saya adalah individu yang dapat memenuhi self-actualization. Jujur saya akui, saya pun seringkali terjebak dengan candu nya humanisme. Tapi pertanyaannya, siapa manusia yang bisa sepenuhnya memenuhi aktualisasi dirinya. Mudah barangkali bagi mereka yang lahir dari keluarga menengah ke atas,  masuk kedalam golongan mayoritas dengan seperangkat kemudahan yang mereka peroleh. Tapi untuk mereka yang dilahirkan dengan segala keterbatasannya, slogan self-actualization hanya sekedar mimpi di siang hari, halusinasi ditengah segala ketidakadilan struktural di sekitar kita. Kenyataan paling sederhana, kita tidak pernah bisa memilih dimana dan dari siapa kita dilahirkan? Dua hal sederhana yang sangat mempengaruhi cara kita berfikir dan memandang dunia. Kalau saja kita tidak dilahirkan sebagai orang Indonesia, masih kah kita memandang dunia seperti cara kita memandangnya sekarang ini?

Barangkali kebingungan kita akan konsep “saya” ini seringkali muncul karena kita cenderung menilai “saya” sebagai seseorang yang memiliki identitas tunggal, tetap dan tidak pernah berubah sepanjang masa. Padahal kenyataan menunjukkan “saya” lebih sering merupakan sosok yang memiliki identitas jamak. Dalam banyak hal identitas yang kita miliki kadang-kadang berlawanan satu sama lainnya. Pagi ini saya ibu rumah tangga, siang harinya saya pelajar, sore hari saya seorang teman, malam harinya saya seorang istri. Di satu tempat saya menjadi minoritas, di tempat lain saya menjadi mayoritas. Benar barangkali apa yang dikatakan Ivanich, bahwa …” One or more of these identities may be foregrounded at different times, they are sometimes contradictory, sometimes interrelated; people’s diverse identities constitute the richness and dilemmas of their sense of self “. Identitas yang berlawanan yang kita miliki, memperkaya sekaligus menjadi dilemma dari konstruksi kita akan “saya”.

Tulisan-tulisan yang saya baca dalam antologi ini barangkali semakin mengukuhkan pendapat Ivanich ini. Begitu beragamnya tulisan yang ada dalam antologi ini dari mulai pertanyaan tentang takdir, yang barangkali bisa juga menunjukkan kritik terhadap konsep free –will yang seringkali diagung-agungkan pengikut humanisme, kontemplasi tentang pilihan hidup dan konsekuensi dalam menjalaninya, semuanya mengerucut kepada pertanyaan mendasar tentang diri dan hidup ini.

Tulisan-tulisan dalam antologi ini juga menunjukkan betapa “saya” tidak lah hidup sendiri. Refleksi-refleksi mengenai mimpi anak jalanan, pekerja wanita di luar negri, sampai kegelisahan seorang sahabat menunjukkan apa yang dikatakan Heidegger dalam magnum opusnya “Being and Time” tentang bagaimana manusia, kita, “saya” senantiasa terikat oleh ruang dan waktu dimana kita berada. Saya adalah tergantung pada ruang dan waktu dimana saya berada. Sehingga, refleksi para penulis terhadap situasi sekitar barangkali menunjukkan keterikatan yang mendasar dengan lingkungan dimana mereka berada dan bagaimana lingkungan tersebut menjadi bagian dari kegelisahan dan mimpi mereka juga. Lalu kalau “saya” ternyata terikat ruang dan waktu, maka masihkah saya memiliki “free-will” dalam hidup ini? Ketika kita kemudian mempertanyakan kebebasan yang kita miliki, maka disinilah kita percaya dengan adanya “invisible hand” yang menggerakkan hidup kita.  Para penulis dalam antologi ini menunjukkan bagaimana keyakinan mereka akan adanya “invisible hand” menuntun mereka untuk menuliskan sesuatu tentang Tuhan, beberapa diantaranya menunjukkan bagaimana keyakinan yang mereka miliki menjadi bagian yang paling mendasar dalam menjalani kehidupan ini.

Terakhir, saya hanya bisa mengatakan sebagaimana menulis merupakan proses berdialog dengan diri sendiri, maka membaca pun saya yakin memiliki makna yang kurang lebih sama. Membaca karya para penulis muda dalam antologi ini memfasilitasi saya untuk melakukan percakapan dengan diri sendiri. Beberapa tulisan dalam antologi ini rasanya membuat saya makin mengerti siapa “saya” dan apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Beberapa tulisan lain, menyisakan pertanyaan yang semakin besar akan hakikat eksistensi saya di muka bumi ini. Tapi barangkali itulah kita, manusia yang setiap saat senantiasa berada dalam proses menegosiasikan identitas dan jati dirinya.

Lancaster, 6 Maret 2011

5 COMMENTS

  1. Salam mbak Vina, menarik sekali tulisannya, salam buat profesor mbak yang mengatakan bahwa menulis adalah bernafas, karena dalam arti yang dangkal, saya pun (merasa) demikian hehe. Oya, sekilas melihat judul tulisan ini saya jadi teringat otobiografinya Sartre berjudul “Kata-kata”, namun sedikit perbedaan: dalam buku tersebut Sartre membalik prosesnya, membaca dulu baru menulis (yang saya rasa mbak juga sudah membacanya, menarik betul ya bagaimana proses otensitas berfikir seseorang, yang menurut Sartre, tidak pernah berdiri sendiri tapi merupakan rangkaian dari apa yang sudah ia baca, baik teks tertulis ataupun teks berupa realita sosial). Disini Sartre rasanya menyindir Descartes yang menyatakan untuk menemu “Saya” maka saya harus berfikir, tapi berfikir yang bagaimana itu persoalan lain – yang apabila kembali mengacu pada Sartre, maka berfikir yang otentiklah sekiranya jawabannya. Maka dari itu mbak, ijinkan saya curcol :D, karena dalam proses menulis (otentik), saya berkali-kali membakar tulisan saya, mencoba berdialog dengan otensitas yang dalam kehadirannya kerap membuahkan pertanyaan alih-alih eksistensi. Maka dalam proses berkelanjutan ini, saya – dengan s kecil – menemu bahwa “Saya” tidak lagi menjadi penting, karena “Saya” hanya bersifat temporal, sebelum kembali dibakar pertanyaan lain, karena ternyata keotentikan memerlukan beribu upacara pembakaran “Saya”. Ah, maaf jadi kepanjangan curhatnya ni mbak hihi…

    Trims sudah sumbang pemikiran di web kami mbak, gagasan-gagasan lainnya sangat kami tunggu 🙂

  2. jadi menurut bu ali pada akhirnya dalam proses menulis, ‘saya’ tidak lg penting? dan pertanyaan selanjutnya adalah jika konsep individu socratian yang tertata dan rasional tadi tidak penting, apakah setiap upaya pencarian jati diri adalah upaya sia-sia? nah ini jika diteruskan apakah konsep soul, spirit, geist atau apapun kita menyebutnya, sebagai BS belaka? hahaha.. jadi nyambung ke obrolan kita ma firman n john…

  3. gkgkgk yang udah sehat langsung komen :p, jawaban pertanyaan pertama mengacu kembali ke komen saya di atas ang, plus yang tertata itu musuh besar si “Saya” sedang yang rasional musuh bagi jiwa huehehe #Komen irasional 😀

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?