Strindberg (Bagian 1): Sastrawan Tanpa Eulogi

Terdapat tiga negara yang menempati posisi teratas dalam jumlah pemenang nobel kesusastraan, yaitu Perancis, Jerman, dan Swedia (Anderson, 2013). Terlepas dari politik serta seluk beluk dibalik penghargaan bergengsi tersebut, fakta bahwa rentang susastra Swedia telah memberi pengaruh besar pada perkembangan sastra dunia, adalah hal yang menggelitik untuk diulik. Sejumlah nama dapat diangkat: Selma Lagerlöf, Verner von Heidenstam, Erik Axel Karlfeldt, Tomas Tranströmer, Pär Lagerkvist, Eyvind Johnson–adalah kanon sastra Swedia sekaligus peraih nobel kesusastraan. Namun, ulasan kali ini akan mengulas secara khusus sastrawan disiden pionir sastra modern Swedia, August Strindberg, yang–terlepas dari nama besarnya–malah luput dari apresiasi para penggagas nobel.

Reputasi Strindberg tidaklah sembarangan: memiliki pengaruh setara Shakespeare dan Ibsen dalam segi dramaturgi; juga Swift dan Pope dalam segi satir. Namun, layaknya sastrawan besar pada umumnya, gagasannya kerap bersebrangan dengan tata norma dan nilai–alhasil, anggapan anarki melekat pada nama Strindberg, bersama tuduhan misogini yang digaungkan oleh otoritas Kerajaan Swedia saat itu. Atas dasar reputasi ugal-ugalannya, Strindberg [tentu saja] dicoret dari daftar nominasi nobel tahun 1909. Yang menarik kemudian adalah: massa di Swedia beramai-ramai mengumpulkan dana dan menganugerahi Strindberg dengan The People’s Anti-Nobel Award. Kini, nama Strindberg menjadi salah satu simbol atas pengakuan karya sastra ‘unrewarded’ (dalam istilah Anderson, 2013) yang luput dari podium seremonial penghargaan.

Satu abad setelah kematiannya, reputasi Strindberg tidak banyak berubah: sebagai pujangga besar, dengan noda misogini yang melekat pada namanya. Bagi pembaca yang terlalu mempedulikan latar belakang, reputasi buruk kerap dibesar-besarkan; namun bagi siapapun yang membaca lebih dari sekedar gosip selebritas dunia sastra, tentu akan sulit untuk mengerdilkan karya-karya Strindberg yang memang memiliki kelas tersendiri. Dalam biografi sang pujangga yang ditulis Prideaux (2012), Strindberg menulis enam puluh drama, tiga kumpulan puisi, delapan belas novel dan sembilan otobiografi. Sekitar sepuluh ribu korespondensi Strindberg dengan penulis, pelukis, dan intelektual terkemuka kini tersimpan rapi sebagai arsip pada Perpustakaan Kerajaan di Stockholm. Selain sebagai penulis, Strindberg juga dikenal sebagai seorang humoris dengan karya yang terangkum dalam The People of Hemsö, sebuah tabloid yang kini dikukuhkan sebagai mahakarya komik Skandinavia. Persinggungannya dengan para maestro lukisan abad 19 menjadikan Strindberg sebagai bagian dari gerakan Ekspresionisme Eropa dengan jajaran lukisan yang kini tersimpan di galeri nasional Swedia.

Adapun tulisan ini berfungsi hanya sebagai pembuka (atau teaser) dari penelusuran lebih lanjut tentang karya-karya Strindberg. Setidaknya dua bagian lanjutan akan disajikan: antara lain tentang (II) novel dan drama, dan (III) interaksinya dengan berbagai prominen intelektual abad 19 yang tidak kalah menarik untuk ditelusuri. Walaupun, jika harus jujur, pembagian tersebut tidaklah cukup untuk merangkum jejak sastrawan kelas dunia satu ini. Pengaruhnya terlampau luas: menjadi inspirasi penggalian psikologis bagi Kafka, hingga menjadi model dramaturgi bagi teater modern (seperti pada karya-karya Edward Albee: Who’s Afraid of Virginia Woolf?, juga pada The Dance of Death) dan sinematografi (diantaranya pengkarakteran dalam Streetcar named Desire karya Tennessee Williams yang mencontoh pengkarakteran The Stronger) (Prideaux, 2012).

Seán O’Casey, penulis drama kenamaan asal Irlandia, juga menyebut Strindberg sebagai inspirasinya. Ia memberikan gambaran menarik:”Strindberg,Strindberg, Strindberg, the greatest of them all . . . Barrie sits mumbling as he silvers his little model stars and gilds his little model suns, while Strindberg shakes flames from the living planets and the fixed stars. Ibsen can sit serenely in his Doll’s House, while Strindberg is battling with his heaven and hell.” Ungkapan O’Casey semakin memperkuat posisi Strindberg sebagai pujangga besar dengan karya-karya yang diakui secara luas. Dengan kata lain, maestro tetaplah maestro–walau tanpa Eulogi dan reputasi yang tidak selamanya mendapat puja-puji.

Edvard Munch Portrait of August Strindberg, 1892
A portrait of August Strindberg by Richard Bergh, 1905

 

Gambar Muka: Carl Eldh, The Titan (represents Strindberg as Prometheus), in Tegnérlunden, Stockholm
Sumber Gambar: Wikimedia commons

Sumber Bacaan:
Anderson, B. 2013. The Unrewarded. New Left Review, Vol. 80 (Maret-April)
Prideaux, Sue. 2012. Strindberg : A Life. New Haven: Yale University Press

Share on:

Leave a Comment