• Review
  • About Us
Review Musik Repertoar Malam sang Penyair

Repertoar Malam sang Penyair

-

Bagi para pendengar Leonard Cohen yang telah mengenal karya-karyanya, akan sependapat kiranya bahwa kekuatan karya Cohen terletak pada prosa dan puisi – dengan tidak menihilkan folk sederhana yang semakin memperkuat alusi-alusinya. Beragam tema ia suguhkan, dari cinta hingga revolusi, dari Suzane, Marianne hingga Nancy, dari balada orang asing, wanita malam, hingga burung-burung di atas kabel yang bertengger lewat jam malam. Lirik atau katakan saja, puisinya, memiliki rentangan luas, namun ada satu benang merah yang terjalin antara satu puisi ke puisi lain, yaitu repertoar malam lagu Leonard Cohen nampaknya tak pernah usai.

I lit a thin green candle, to make you jealous of me.
But the room just filled up with mosquitos,
they heard that my body was free.
Then I took the dust of a long sleepless night
and I put it in your little shoe.
And then I confess that I tortured the dress
that you wore for the world to look through.
(One of us Cannot Be Wrong, Leonard Cohen)

Cohen, mulanya dikenal sebagai penyair yang berasal dari Montreal, Kanada, dengan beberapa antologinya yang dikenal luas, diantaranya berjudul Let Us Compare Mythologies (1956) dan The Spice-Box of Earth (1961). Bagi saya, Cohen selamanya adalah seorang penyair, tapi ketika tahun 1967 ia mulai menyanyikan puisinya, maka atribut seorang penyanyi melekat pada dirinya (bahkan melekat pula label folk-rock di belakang namanya). Semanjak itu Cohen lebih dikenal sebagai penyanyi, hingga saat ini ia telah mengeluarkan belasan album, baik rekaman ataupun pertunjukan langsung. Ia yang juga populer dengan sebutan Field Commander Cohen (kemudian dijadikan judul konsernya pada tahun 1979), merupakan seorang penyair/penyanyi proletar, – mengingatkan kita pada Baez, juga Dylan dan Lennon serta aktivist-aktivist lain yang menyuarakan ide politiknya melalui nyanyian. Dalam lagu-lagunya Cohen konsisten dengan kritik sosial.

Aktivisme Cohen terasa sangat kental pada album Song From A Room (1969) yang didalamnya terdapat lagu seperti The Old Revolution, A Bunch of Lonesome Heroes, The Butcher dan gubahan ulang The Partisan, sebuah lagu anthem resistensi di Perancis tahun 1943. Album ini kemudian menjadikannya kerap diundang ke konvensi-konvensi komunis di berbagai negara. Beruntung ada satu hal yang menyelamatkannya – menyelamatkan dari sekedar menjadi penulis puisi/lirik pamphlet politik – yaitu kecintaannya pada keindahan yang secara metafora (atau bisa saja memiliki makna harfiah, siapa tahu),  ia ekspresikan dalam karakter-karakter wanita di liriknya. Pengkarakteran ini semakin diperjelas dengan munculnya album berjudul Death of a Ladies Man – sebuah usaha ngeles yang tentu saja sia-sia.

Terlepas dari politik dan imej flamboyan khas penyair dalam dirinya, lagu-lagu Cohen memiliki tempat dalam sejarah permusikan dunia. Salah satu yang kemudian banyak digubah ulang adalah lagu Hallelujah dari album Various Positions (1984), atau lagu-lagu lain, seperti So Long, Marianne (Songs of Leonard Cohen, 1968), Lady Midnight (Songs from A Room, 1969) dan Avalanche (Songs Of Love And Hate, 1971) yang begitu memaksa untuk tetap ada di ingatan. Namun, dari keseluruhan lagu yang dibuatnya, Cohen memiliki ikatan yang cukup kuat dengan lagu berjudul Bird on a Wire. Lagu ini selalu ada dalam setiap pertunjukkannya, baik pembuka atau penutup, tapi jelas bahwa lagu ini memiliki tempatnya tersendiri.

Like a bird on the wire,
Like a drunk in a midnight choir
I have tried in my way to be free.
Like a worm on a hook,
Like a knight from some old fashioned book
I have saved all my ribbons for thee.
If I, if I have been unkind,
I hope that you can just let it go by.
If I, if I have been untrue
I hope you know it was never to you.
(Bird on a Wire, Leonard Cohen)

Walaupun Cohen memilih musik sebagai media berpuisi, jelas ia tidak pernah kehilangan substansinya sebagai seorang penyair. Lirik-liriknya memiliki kelas tersendiri yang kerap menantang apresiasi atau bahkan interpretasi dari para pendengarnya. Susan Sontag dalam Against Interpretation (1964) pernah mengatakan bahwa melakukan penggalian secara agresif atas makna sebuah teks akan menjadikan teks tersebut menjadi bebal dan kehilangan sisi artistiknya. Namun, lirik Cohen agak sedikit berbeda, melakukan interpretasi pada karya-karyanya, akan menjadikan teks tersebut tenggelam dalam sentimentalia sebuah repertoar malam yang tak pernah usai.

Repertoar Malam sang Penyair 1 leonard cohen,musik leonard cohen,lirik leonard cohen,tema lagu leonard cohen,musisi folk barat
Aliyuna Pratistihttps://antimateri.com
aliyunapratisti@antimateri.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Musik Minimalism: Repetisi, Transenden dan Teknologi

Ada kalanya, kami, para editor pada web antah berantah ini, sekilas mengkhawatirkan tentang arah pembahasan musik yang semakin menjauh...

Jean-Léon Gérôme: Melampaui Orientalisme

Di akhir abad ke-19, terdapat lonjakan permintaan atas lukisan orientalisme, terutama karya seorang pelukis akademia terkemuka, Jean-Léon Gérôme. Gegap...

Pantomim(ikri) di Layar Televisi

“In the theatre the audience want to be surprised - but by things that they expect.” -Tristan Bernard- Begitupun dengan pertunjukkan...

Ethnopolitico

Terdapat kecenderungan aneh belakangan ini di masyarakat Indonesia – tapi tidak aneh juga sih sebenarnya, karena sejarah merupakan pengulangan...

Pencarian Literatur Tertua Dunia

Medio 2010, sebuah Essay yang berjudul, On the Origin of Language dari Johann Gottfried Herder (1722/1966), memantik penelusuran saya...

Pseudo Nationalism dan Kisah Tentang Joao Soares

Namanya Joao Manuel Soares. Saat ini ia tinggal di Bandung bersama istri dan anak-anaknya. Ia dilahirkan di Maubisse Villa,...

Must read

Pisang dan Ironi Kemasan Kaleng

Ironi, tidak pernah dikonsumsi massal sebelum Andy Warhol, sang...

Komedi Politik Lu Hsun: Badai di Sebuah Cangkir Teh

Ketika Lu Hsun memutuskan untuk menerima tawaran menulis pada...

You might also likeRELATED
Recommended to you