Lukisan: Heri Dono – Supersemar

Epik Mahabharata bukanlah sebuah relik budaya, ia nyata saat ini dalam kehidupan kita, terangkum dalam pemberitaan Televisi maupun Surat Kabar. Pelakunya memang bukan Arjuna yang bersanggul dan menyandang panah pasopati, atau Bima dengan kuku Pancanakanya, tetapi ksatria-ksatia modern yang diinstitusikan dan diberi senjata mujarab berupa akal pikiran.

Kitab Mahabharata menyuguhkan berbagai bentuk kegagahan para ksatria, kesaktian tiada tara, adu siasat, dan perang tanding nan gegap gempita, serta dalam pagelaran wayang di Indonesia, tidak pernah ketinggalan lelucon segar para Punakawan. Sentral dari Mahabharata adalah kelima anak Pandu yang disebut Pandawa yang memiliki takdir sebagai penegak kebenaran dengan jalan mengalahkan para Kurawa. Dalam babad politik Indonesia modern, kita menemukan hal serupa, terutama adu siasat yang dilakukan untuk mencapai kepentingan, namun karena siasat tersebut terlalu gampang dibaca, maka seringkali berakhir sebagai sebuah guyonan. Yang berbeda, punakawannya bukanlah Anak Ki Semar, tapi seluruh rakyat Indonesia yang sudah paham betul bahwa tidak ada yang serius dalam kancah politik negeri ini.

Lakon Mahabharata memang begitu dekat dengan panggung politik kita. Menurut Franz-Magnis Suseno, alasan mengapa wayang begitu dekat dengan kehidupan nyata karena dalam wayang kita bertemu dengan model-model tentang hidup dan kelakuan manusia[1]. Atas pemodelan ini, banyak kemudian yang melabelkan diri sebagai ksatria putih tanpa cela. Disinilah letak salah kaprahnya, mungkin karena banyak yang kurang concern terhadap fashion dunia pewayangan, bahwa dalam wayang, warna adiluhung tidak hanya putih bersih, tapi juga mengandung hitam, kuning, dan merah dalam kuantitas yang sama. Jika tidak percaya, silahkan cek sarung kotak-kotak Ki Semar yang didaulat sebagai fashion paling keren dalam jagat pewayangan.

Fashion Adiluhung: Sarung Ki Semar

Sarung kotak hitam-putih-merah-kuning tidak bisa dipakai sembarang orang – keramat, titik, tidak bisa diganggu gugat. Dalam dunia pewayangan cuma empat tokoh yang berhak mengenakan sarung ini, yaitu Ki Semar sendiri, Sang Hyang Bayu, Bima dan Hanoman. Untuk Semar, jangan ditanya, dia adalah dewa yang memanusia, jadi hak pemakaian sarung kotak hitam-putih-merah-kuning datang bersamaan dengan sifat kedewaannya, begitu pula dengan Sang Hyang Bayu, Dewa Angin. Sedangkan dua lainnya, Bima dan Hanuman– yang satu berwujud manusia dan yang satunya berwujud Kera putih – walaupun setengah dewa dan sebagai penanda hubungan darah dengan Sang Hyang Bayu mereka diberi sarung magis tersebut, namun tetap harus bersusah payah hingga layak memakainya.

Bima yang gagah besar, harus menyebrangi beribu lautan tapi ujian akhirnya masuk ke telinga Dewa Ruci yang sekecil kelingking, mengarungi kasunyatan, dan keluar mengenakan sarung sakti tersebut. Setelah pertemuaannya dengan Dewa Ruci, yang tak lain adalah jiwa murninya sendiri, Bima tidak menginginkan keduniawian lagi[2]. Demikian pula dengan Hanuman sang Kera filsuf, walau ia tidak bertemu dengan Dewa Ruci versinya sendiri, tapi ia bisa merangkum alam semesta dalam dirinya. Dengan mengenakan sarung tersebut, keduanya menjadi simbol penakluk nafsu keduniawian, – penaklukan disini dapat diartikan sebagai kendali, dan bukan menghilangkannya seratus persen – saya rasa disinilah letak kejeniusan fashion pewayangan, bahwa untuk menjadi in, cukup dengan sarung yang sederhana, murah meriah, tapi very limited edition. Perlu ditambahkan, dalam beberapa penggambaran, penyederhanaan simbol kerap dilakukan dengan hanya menggunakan pola hitam dan putih, biasanya terkait dengan media atau selera pembuat wayang.

Semar, Bima dan Hanuman memiliki kesamaan lain selain daripada gaya bersarung. Dua diantaranya, yaitu Bima dan Hanuman adalah ksatria jagoan yang jadi benteng bagi pihak yang dibelanya. Baik dalam Kitab Mahabharata ataupun Ramayana, menyatakan bahwa keduanya adalah ksatria yang berperang tanpa membawa dendam pribadi[3]. Mereka membunuh, memporak-porandakan, dan membinasakan lawan, tanpa amarah. Perang adalah tugas kenegaraan yang harus diemban – sebuah darma. Lalu Semar, siapa yang tidak tahu bahwa ia adalah seorang abdi bagi Arjuna. Semar patuh dan setia terhadap darmanya. Ia tidak memiliki pamrih apapun pada Arjuna, dan nampaknya asyik betul menikmati statusnya sebagai rakyat kebanyakan. Tapi jangan salah, pelayan yang satu ini bukan sembarangan, ia memakai sarung yang bahkan ndoronya pun tidak berhak mengenakannya, dan kalau sampai ia marah, ia akan mengeluarkan kentut membahana yang akan memporakporandakan dunia dan swargaloka.

Ksatria Carangan dalam Lakon yang juga Carangan

Masalahnya, sekarang ini jaman modern, bahkan ada yang bilang post-modern. Perihal pola sarung tidak lagi jadi soal. Tinggal pesan, pabrik siap mencetak dalam skala massif, jadilah Sarung Ki Semar produk masal. Untuk disebut sebagai ksatria modern saat ini tidak usah susah payah bertapa menyeimbangkan pikiran dan jiwa seperti Bima dan Hanuman, setia menjalankan tugas seperti Ki Semar, tinggal pergi ke Pasar – atau mall, untuk ksatria elit – tawar harga sesuai, lalu tinggal pakai untuk berpose baik di depan kamera foto ataupun kamera tivi. Atau bisa jadi bukan cuma sarung, tapi juga senyum mendem, gaya jalan, bahkan kentutnya pun diproduksi massal. Jadilah mereka ksatria carangan kesemar-semaran – yang bergaya menjadi abdi negara. Sering pula memerankan lakon carangan[4] dengan muncul di medan perang[-perangan], bukan untuk melindungi rakyat, tapi untuk konsumsi hiburan. Well, selamat datang di era post-modern Ki Semar, relakanlah style kerakyatanmu jadi alat pencitraan. Mungkin karena malas sarungnya dijadikan produk massal, Ki Semar dalam Lukisan Heri Dono, alih wujud jadi supersemar, terbang mengangkasa pinjam jubahnya Mas Superman.   

Referensi:

[1] Magnis-Suseno, Frans, 1991, Wayang dan Panggilan Manusia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

[2] Anderson, Benedict, 2000, Mitos dan Toleransi Orang Jawa, Qalam, Yogyakarta

[3] Zoetmulder, P.J., 1994, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Djambatan, Jakarta

[4] Lakon carangan dimunculkan untuk menghibur para penonton. Lakon carangan seringkali bercerita tentang Pandawa yang berhasil mengalahkan Buto Cakil saat mereka mengembara di Hutan. Lakon-lakon ini ada untuk mengalihkan cerita dari trajik Mahabharata yang sarat dengan pengorbanan.

2 COMMENTS

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?