Fado: Senandung Rindu dalam Musik Portugis

Musik lahir dari berbagai Inspirasi, mulai yang terduga hingga yang tidak. Fado berada pada jajaran kedua, karena siapa bakal menyangka bahwa rindu dan ratapan sunyi para pelaut mampu menjelma menjadi senandung indah yang mendefinisikan identitas musik Portugis. Kata fado sendiri berasal dari Bahasa Latin, fatum[1], yang memiliki makna fate atau nasib (DK, 2013). Kata sarat beban ini lalu disematkan pada sebuah aliran musik folk asal Lisbon, Portugal, yang kita kenal dengan sebutan fado. Dalam ulasan singkat kali ini, musik fado akan diurai bersama sejarah dan mitos yang berkelindan dengan konstruksi identitas Portugis. Sebagai pembuka, mari kita simak elegi gubahan José Régio (dalam Holton, 2006) yang mengisahkan muassal musik Fado.

Fado was born one day
When the wind barely stirred
And the sky extended the sea
On the gunwhale of a boat
In the chest of a sailor
Who, full of sorrow, sang
Who, full of sorrow, sang
Oh, what monumental beauty
My mountain, my earth, my valley
Of leaves, flowers and golden fruit
See if you see Spanish lands
Portuguese sands
A look blinded by weeping.

Terdapat sebuah fakta yang telah menjadi pengetahuan umum–namun tetap kontroversial dan sensitif bagi beberapa kalangan[2]–bahwasanya musik fado memiliki akar yang melampaui batas bangsa dan negara. Puisi Régio di atas, contohnya, menyandingkan fado pada kerinduan para pelaut akan tanah Spanyol dan pantai-pantai di Portugal. Kisah lain menyandingkan asal musik fado dengan perjalanan bangsa Moor dari Arab dan troubadour dari Eropa bagian utara (Gray, 2013). Lalu terdapat pula penelusuran musikalitas yang menemukan kemiripan fado dengan ritme lundu dan fofa yang dibawa oleh imigran Brazil ke Portugal pada tahun 1800an. Sedangkan guitarra (gitar khas Portugis dengan dua belas senar) yang lajim digunakan untuk mengiringi Fado, berasal dari alat petik Afrika Utara yang masuk ke Portugal pada abad 15 (DK, 2013). Namun, walaupun memiliki beragam versi tentang muassalnya, fado merupakan ekspresi musik yang lahir di jalanan kota Lisbon, Portugal, dan berkembang menjadi soundscape[3] tersendiri. Gray (2013) mengutip pandangan masyarakat Lisbon sebagai berikut: “Fado berasal dari Lisbon; fado dinyanyikan dengan jiwa Portugis (alma); fado adalah milik kita dan tentang kerinduan (saudade), mengungkapkan apa yang hilang dan mungkin tidak akan pernah ditemukan”.

Adalah alma (jiwa) dan saudade (longing/kerinduan) yang membedakan fado dengan karakter musik lain. Keduanya hadir bersamaan dalam setiap nada dan nyanyian fado. Alma (jiwa) dalam ekspresi musik fado berasal dari cerita rakyat, kisah pribadi, hingga puisi–baik puisi tradisi ataupun puisi klasik Portugis seperti karya Luiz Vaz de Camoes; sedangkan karakter saudade dapat dikenali melalui melodi melankolis dalam senandung-senandungnya. Pada sebuah pertunjukkan fado, musik senantiasa tenggelam dalam kerinduan. Sehingga tidak aneh apabila seorang fadista akan bernyanyi sampai tenggorokannya sakit dengan suara yang menjejali ruang bersama isak tangis dan petikan guitarra. Gray (2013) menyebut fado sebagai pertemuan antara puisi, musik dan kehidupan–karena walaupun nyanyian fado bisa saja merupakan ekspresi subjektif seorang fadista, namun nuansa kerinduan membuatnya menjadi milik siapa pun.

Tapi narasi tentang fado tidak berhenti hanya pada senandung rindu–karena dalam perkembangannya, fado menjelma menjadi simbol identitas Portugis. Holton (2013) menggambarkan bagaimana alma dan saudadeyang notabene adalah karakteristik utama dalam fado–digunakan oleh para filsuf dan penyair untuk mengonstruksi sejarah melalui penarasian peristiwa-peristiwa simbolis. Konstruksi narasi identitas tersebut menguat pada tahun 1912 melalui gerakan Saudosismo yang digagas penyair Teixeira de Pascoas. Saudade, dalam pandangan de Pascoas merupakan esensi sejati dari jiwa Portugis yang dibangun atas perpaduan sempurna antara kesedihan dan harapan. Narasi saudade lantas diproyeksikan menjadi sejarah Portugis, yaitu sebagai kekuatan pendorong di belakang peristiwa bersejarah berdirinya kerajaan Portugal oleh Afonso Henriques, sekaligus menjadi kekuatan penggerak di belakang kemerdekaan Portugis dari Spanyol pada tahun 1640. Melalui gerakan Saudosismo, saudade yang semula hanya merupakan ekspresi kerinduan para pelaut, lantas didefinisikan ulang sebagai nasib kontradiktif bangsa Portugis di mana ingatan akan kepedihan dan harapan dibagi bersama. Dengan kata lain, fado menjadi jalan dalam kristalisasi saudade dalam psiko-kultural masyarakat Portugis.

Keberlanjutan fado sebagai narasi identitas masyarakat Portugis semakin mengemuka dengan berkembangnya industri radio dan rekaman pada tahun 1930-an yang berkontribusi pada meningkatnya posisi fado sebagai “lagu nasional” Portugis. Radio dan rekaman lantas menjadi sarana difusi saudade dalam konteks yang lebih luas–yaitu melalui penegasan fado sebagai identitas Portugis dalam konteks internasional. Sebut saja nama Amalia Rodrigues dan Carlos do Carmo, dua fadista yang mempopulerkan fado ke seantero dunia sekaligus memproklamirkan fado sebagai identitas Portugis; fado dalam konteks ini dimaknai sebagai “the catalysts of the modern Portuguese nation state and the inaugurators of outmigration as an extended national drama” (Brito dalam Holton, 2013). Namun, kuatnya konstruksi identitas dalam musik fado, membawa konsekuensi tersendiri: yaitu sensitivitas dan penyangkalan akan akar musik. Baru memasuki tahun 1980an, Rui Vieira Nery membuka kotak Pandora sebagai upaya pembebasan fado dari mitos-mitos sejarah sekaligus merangkul secara jujur akar musikalitas fado (Nery, 2012). Dalam perkembangannya, pro dan kontra terus mewarnai diskursus identitas [muasal] fado; namun, seakan tidak terganggu oleh politisasi musik, para fadista tetap bersenandung lirih menghantarkan kerinduan para pelaut akan rumah. Sebagaimana dinyatakan Gray (2013): bahwa fado menawarkan ingatan yang tak pernah lekang–dengan ataupun tanpa mitos yang dijejalkan padanya. Hingga kini, sesi pertunjukkan fado masih sama dengan sesi fado satu abad lampau: lampu akan diredupkan, dan setiap pendengar mengikuti aturan yang sama, yaitu silêncio–karena saudade akan segera disenandungkan.

Lisbon, chaste princess
Of the discoveries of so many deserted lands
Seven hills are your breasts of satin
Where the houses have gardens strewn with daisies
In your womb one day was created and sung by the
people dreaming, our Fado.
—Lisboa Casta Princesa (1930s)

Fado: Musik Portugis

Sumber Gambar: Wikimedia commons

Sumber Bacaan:
DK. 2013. Longing for Fado. Smithsonian Music: The Definitive Visual History. Dorling Kindersley Publishing, hal. 304.
Gray, L. E. 2013. Fado Resounding: Affective Politics and Urban Life. Duke University Press.
Holton, K. D. 2013. Fado Historiography: Old Myths and New Frontiers. Portuguese Cultural Studies, Winter, hal 1-17.
Nery, R.V. 2012. A History of Portuguese Fado (Terj). Imprensa Nacional-Casa da Moeda.

Keterangan:
[1] Fatum dapat pula berarti vates yang berarti menggubah lagu. Akar kata inilah yang kemudian mendasari konsep Fadista, sebutan untuk orang yang menyanyikan fado.
[2] Holton (2013) mengutip secara langsung seorang musisi fado yang berkeberatan atas pandangan ini dan menyatakan: “These are the ideas of pseudo-intellectuals. Don’t believe them! They are plain wrong. Fado is Portuguese. Fado was born in Portugal. Fado did not come from Brazil. If it ended up in Brazil, it is because we brought it there. Fado is ours.”
[3] Soundscape: musik dengan karakter khusus yang membentuk persepsi akustik tersendiri.

Share on:

Leave a Comment