Beberapa pekan lalu saya bersinggungan dengan buku berjudul antik: A Universal History of Infamy, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Sejarah Aib. Buku ini merupakan karya ‘eksperimental’ sastrawan kenamaan asal Argentina, Jorge Luis Borges–sebuah eksperimen yang ia lakukan dengan mengaburkan batas antara fiksi dan non-fiksi. Dengan mengandalkan fakta sekenanya (mengacu pada pernyataan Borges sendiri)–tentang penjual budak, penipu kacangan, perompak, hingga theologian yang berakhir tragis–Borges mengajak pembaca untuk ‘menikmati sejarah’ dengan semangat ala jaman baroq: bahwa sesuatu yang mencoba membuktikan diri terlalu keras, akan berakhir menjadi lelucon untuk dirinya sendiri. Sebagai gambaran, mari kita ulas satu per satu.
Kisah pertama, The Dread Redeemer Lazarus Morell, menampilkan Lazarus Morell sebagai penipu licik di Amerika Selatan abad ke-19. Ia memanfaatkan sistem perbudakan dengan menjanjikan kebebasan kepada para budak, hanya untuk kemudian menjual mereka kembali. Morell adalah karakter utama, namun Borges tidak lupa menambahkan karakter pendukung yang tidak kalah unik–seperti Bartolomé de las Casas dengan gagasan briliannya tentang perbudakan (dia menaruh kasihan pada orang Indian yang dipekerjakan paksa, lalu mencetuskan ide untuk memperbudak orang Afrika yang terlihat ‘lebih kuat’).
Selanjutnya dalam The Improbable Impostor Tom Castro, tokoh utamanya bernama Arthur Orton, seorang penipu amatir yang menyamar sebagai bangsawan hilang bernama Roger Tichborne. Dengan bantuan rekannya, Bogle, ia berhasil meyakinkan banyak orang tentang identitas palsunya – dengan cara yang absurd. Kisah The Widow Ching, Lady Pirate, mengisahkan seorang janda yang menjadi pemimpin bajak laut di Laut Cina. Janda Ching digambarkan sebagai figur ketat nan disiplin, mampu mengendalikan ribuan pengikut melalui hukum yang keras–walau dengan aturan mengada-ngada, namun jauh lebih efektif dari para penguasa manapun yang ditemui di negeri Cina.
Dalam Monk Eastman, Purveyor of Iniquities, Borges mengisahkan Monk Eastman, pemimpin geng di New York yang hidup dalam dunia kekerasan urban. Eastman adalah figur brutal yang kehilangan relevansi ketika dunia kriminal berubah menjadi penuh sopan santun ala bangsawan dengan baju perlente. Selanjutnya The Disinterested Killer Bill Harrigan menghadirkan Billy the Kid sebagai pembunuh muda yang tampak tanpa motif jelas selain dari pengalaman akan kekerasan itu sendiri–yang bagi Borges, merupakan alasan yang cukup kuat menarik pelatuk.
The Uncivil Master of Ceremonies Kotsuké no Suké mengangkat tokoh pejabat Jepang yang menjadi antagonis dalam kisah empat puluh tujuh ronin dan pandangan absurdnya tentang konsep kekuasaan. Sedangkan dalam The Masked Dyer, Hakim of Merv, Borges mengangkat Hakim, seorang pemimpin religius yang mengklaim memiliki sifat ilahi dengan menyembunyikan wajahnya di balik topeng–sebuah sindiran akan simbol fanatisme terlihat jelas dalam kisah ini. Selanjutnya, cerita tentang Man on Pink Corner, tokohnya bernama Rosendo Juárez, adalah jagoan lokal yang reputasinya runtuh ketika ia menolak duel. Terakhir, The Theologians menampilkan dua pemikir, Aurelian dan John of Pannonia, yang terlibat dalam konflik teologis. Ironisnya, perbedaan mereka pada akhirnya menjadi tidak berarti (spoiler alert)—karena keduanya ternyata adalah satu orang yang sama.
Dalam A Universal History of Infamy, tidak ada karakter yang lepas dari lelucon kehidupan; kebanyakan akibat salah perhitungan, yang lain karena terlalu percaya pada konsepsi diri yang ternyata hanya isapan jempol belaka. Lucunya, Borges menyelipkan kata ‘universal’ untuk menggambarkan sejarah aib para pembuat onar tersebut—sebuah sindiran jitu yang menyadarkan bahwa siapa saja bisa menjadi bahan lelucon: bisa anak sekolahan labil yang menyangka dirinya pahlawan, bisa ilmuwan yang mengira dirinya pemilik kunci pengetahuan, bisa juga presiden yang percaya pada definisi ‘damai adalah jeda antara dua perang’. Melalui karakter-karakter dalam ‘sejarah rekaan’ Borges, fakta dan cerita adalah dua sisi pada lembaran yang sama.
Gagasan bahwa sejarah juga adalah rekaan disampaikan oleh Borges tanpa tedeng aling-aling. Borges tidak menyembunyikan manipulasi yang ia lakukan terhadap fakta yang sampai di tangannya, malah justru menampilkannya sebagai bagian dari strategi estetik dalam penceritaan. Seperti yang dikemukakan oleh Franco (1981), karya-karya Borges meniru berbagai bentuk wacana, mulai dari sejarah, kritik, hingga filsafat, untuk kemudian membuka ‘rahasia’ di baliknya–bagaikan pesulap yang memperlihatkan cara memasukkan kelinci ke dalam topi. Bagi Borges, pengaburan sejarah dalam A Universal History of Infamy bukan sekadar tema atau pilihan genre (seperti pendefinisian realisme magis yang juga mengacu pada pengaburan batas antara fakta dan fiksi), melainkan sebuah metode, cara untuk mengguncang kepercayaan pembaca atas fakta yang tengah ia baca atau ketahui sebelumnya.
Lalu apa makna membaca Jorge Luis Borges hari ini, di kala fakta adalah utopia, dan sejarah hanyalah spion yang tanpa kaca? Dalam A Universal History of Infamy, Borges tidak hanya menulis kisah tentang para pembuat onar dari waktu ke waktu; ia seakan memberikan peringatan atas kenyataan pahit bahwa fabrikasi fakta dapat dilakukan dengan sangat mudah. Di abad ke-21, ketika informasi berlimpah dan batas antara fiksi dan non-fiksi semakin kabur, Borges mungkin saja tersenyum dalam kuburnya dan berkata: ‘Kaaan, saya bilang juga apa!’
Dunia yang ia sampaikan melalui A Universal History of Infamy–di mana realitas bercumbu dengan kebohongan dan kebohongan melahirkan realita baru–menjadi keseharian bagi manusia modern dengan mode digital saat ini. Ketika dibaca dari perspektif abad ke-21, ‘sejarah/karangan’ Borges menemukan resonansinya dalam sistem digital yang ada di depan mata. Algoritma dan arus informasi tak terbatas menciptakan realitas serupa: kolase fakta yang dirangkai sedemikian rupa, ditambah atau dihapus, saling tumpang dan saling tindih. Laiknya penokohan Borges, kita bergerak dalam labirin informasi yang tak terhitung jumlahnya. Dalam situasi ini, membaca Borges menjadi semacam latihan meditasi digital: dalam hiruk-pikuk data, anggaplah semua yang ada sebagai lelucon.
Pernyataan sikap ini–yang membuat segala hal menjadi lelucon–menjadi aspek pembeda antara Borges dengan banyak penulis Amerika Latin lain seperti Gabriel García Márquez atau Pablo Neruda. Ketika sastra Latin kerap digunakan sebagai alat untuk membangun kesadaran kolektif, Borges justru menekankan pengalaman individual yang sangat privat. Menurut Franco (1981) dan juga McMurray (1988), karya Borges mengarah pada bentuk askesis—sebuah latihan intelektual yang mendorong pembaca untuk menarik diri dari dunia sosial dan memasuki ruang refleksi soliter.
Satu abad kemudian (di abad 21), sikap Borges justru menjadi antidote–obat penangkal bagi dunia yang terfragmentasi tanpa refleksi. Setiap individu hidup dalam ruang feed yang berbeda, dalam realitas yang dipersonalisasi, dalam ‘pengalaman kolektif’ yang sebetulnya jauh dari makna kolektif. Borges, dengan skeptisisme terhadap komunitas dan penekanannya pada pengalaman individu, tampaknya telah mengantisipasi kondisi ini. Melalui jajaran karakter bejat dan busuk dalam A Universal History of Infamy, Borges menunjukkan absurditas narasi kolektif. At your own risk, termasuk untuk percaya pada kebenaran sejarah yang jauh lebih beresiko daripada menghisap segenggam ganja murahan. Jika tidak percaya, silahkan tanya sendiri pada Monk Eastman 😀
Sumber Lukisan: Pieter Brueghel the Younger, A Country Brawl (Wikimedia Commons)
Sumber Bacaan:
Borges, J. L. (1972). A Universal History of Infamy. New York: Dutton.
Franco, J. (1981). The Utopia of a Tired Man: Jorge Luis Borges. Social Text, (4), 52–78.
McMurray, G. R. (1988). Review of The Emperor’s Kites: A Morphology of Borges’ Tales. World Literature Today, 62(3), 442.

kontak via editor@antimateri.com





