László Krasznahorkai memenangkan nobel sastra tahun ini. Tidak ada kontroversi, tidak ada sanggahan, tidak ada protes politik, seperti halnya penolakan Jean-Paul Sartre, atau penganugrahan sarat beban politik pada Peter Handke. Kemenangan Krasznahorkai mencerminkan karakter tulisannya: narasi sublim yang hampir tak tertangkap mata jika kita tidak memperhatikan dengan seksama. Jika kini kita mengenal istilah populer ‘slow burn’ untuk setiap penggambaran lambat atas plot yang disajikan, maka narasi dalam novel Krasznahorkai adalah ‘slow burn tingkat dewa’ yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental.
Cerita Krasznahorkai ‘membakar’ bukan karena sensasi plot twist atau kepuasan satu menit terakhir sebelum kredit ditayangkan, tapi lebih karena ketidakhadiran keduanya (baik plot twist ataupun kepuasan sesaat). Pola ini menjadi karakteristik utama karya-karyanya, yang bahkan sejak kalimat pertama, Krasznahorkai tidak menawarkan apa-apa kecuali refleksi akan kehancuran yang sudah kita kenal dengan teramat baik–yang bisa hadir di setiap tikungan jalan, pada teriakan alarm weker pagi hari, di tengah antrian pembelian tiket, hingga pada keciprak genangan air sisa hujan tadi malam.
Ya, kehancuran familiar, yang setengah mati kita coba singkirkan, namun tetap ada di sana dan tidak pergi kemana-mana.
Jika ingin mencicipi rasa kehancuran yang dihadirkan Krasznahorkai, silahkan simak dua karya fenomenal yang menjadi tonggak sastra sang pemenang nobel: Sátántangó (Satan’s Tango) dan Az Ellenállás Melankóliája (The Melancholy of Resistance).
Sátántangó ditulis Krasznahorkai pada tahun 1985. Namun jangan terkecoh dengan judulnya, dalam novel ini tidak ada langkah riang tarian tango, bahkan hanya untuk sekilas hentakan kaki pun jangan berharap. Tango digunakan Krasznahorkai sebagai sebuah metafora untuk tarian yang tidak pernah selesai, sekaligus gambaran akan struktur cerita kompleks yang mengikuti pakem dansa tango: enam langkah maju, enam langkah mundur. Narasi dibuat sedemikian rupa, sehingga tanpa sadar, kita seakan berjalan namun berakhir pada pada tempat yang sama.
Novel ini lantas disadur dalam bentuk film oleh sutradara Béla Tarr. Dan untuk menggambarkan tarian tango yang menjelma ‘lingkaran kesia-siaan’, Tarr membutuhkan durasi tujuh jam untuk merampungkan seluruh cerita dalam Sátántangó. Dalam rentang durasi film (bukan serial) yang sedemikian panjang, waktu hadir laiknya fatamorgana dan pembabakan serta plot cerita hanyalah ilusi.
Narasi ‘a very very long and slow burn’ dari Sátántangó hadir dalam guyuran hujan tak henti; menjadikan tokoh-tokoh didalamnya senantiasa basah, lengket, dan penuh noda lumpur jalanan. Dalam novel ini kita diperkenalkan dengan karakter Futaki, Schmidt, Kráner, dan yang paling penting diantara segenap karakter adalah kehadiran kembali Irimiás, sang ‘penyelamat’ sekaligus merangkap nabi palsu.
Kehadiran Irimiás bisa saja menjadi kritik atas tatanan sosial, baik agama atau norma. Tapi karena Sátántangó bukan Candide dan Krasznahorkai bukan Voltaire, maka Irimiás dibiarkan kembali menghilang, pergi bersama harapan sekaligus omong kosong yang ia tawarkan kepada para penduduk desa. Akhir dari novel Sátántangó adalah juga awal dari kehancuran panjang yang berulang. Dengan gaya prosa khasnya, Krasznahorkai membawa pembaca mengakrabi kehancuran, dengan kepasrahan absurd yang hanya bisa dipahami oleh masyarakat limbung yang tak punya apa-apa lagi selain hujan dan cipratan lumpur.
Karya Krasznahorkai lainnya yang menggambarkan kehancuran yang nyaris nostaljik adalah novel berjudul The Melancholy of Resistance. Novel ini ditulis pada tahun 1989, berselang empat tahun dari perilisan Sátántangó. Metafora yang disajikan dalam novel ini sama sekali berbeda dengan pendahulunya. Kini Krasznahorkai mengajak pembaca masuk kedalam dunia sirkus yang menghadirkan ragam kejanggalan.
Kehancuran dalam The Melancholy of Resistance hadir ketika para karakter didalamnya berjibaku untuk mempertahankan kewarasan dan menentang segala ketidakpastian yang datang bersama rombongan sirkus. ‘Wabah kejanggalan’ menjadi metafora dari ketakutan massa dan kekuatan retorika yang dapat memutarbalikkan struktur sosial.
Namun, seperti halnya pada Sátántangó, alusi kehancuran dalam The Melancholy of Resistance tidak hadir secara membabi buta. Yang mengoyak struktur sosial bukan revolusi atau perang, tapi pertanyaan tentang ketidakpastian. Kehancuran, dalam satu titik, adalah sebuah jawaban. Dan ketika jawaban dalam bentuk yang paling surampun tidak hadir, maka masyarakat hanya mampu bertahan dalam melankoli kronis yang menggantung di udara bersama gema musik komedi putar yang telah lama berlalu.
Lalu apa hubungannya dengan tahun 2025?
Sebuah kebetulan nyaris sempurna hadir di tahun ini, karena 2025 adalah tahun dengan plot khas novel-novel Krasznahorkai, lengkap dengan kehancuran nostaljik yang begitu familiar.
Tidak perlu penjelasan untuk yang satu ini, karena kita semua ada didalamnya. 2025 bergerak layaknya halaman dalam cerita Krasznahorkai: panjang, tanpa titik, dengan pesimisme intens yang ada di setiap jeda. Dengan demikian, kehancuran menjadi sangat familiar–kita belajar hidup dan mengakrabinya seperti kawan seperjalanan yang tidak diinginkan.
Ada nostalgia yang aneh kita rasakan sepanjang 2025, nostalgia akan optimisme yang tak pernah benar-benar datang. Kita merindukan sesuatu yang bahkan belum sempat kita miliki, namun lalu tarian tango mengajak kembali ke belakang. Alhasil, sebuah pemahaman hadir. Laiknya dalam kisah-kisah Krasznahorkai, kita tidak sedang menuju kehancuran, karena kita tengah hidup di dalamnya. Kehancuran memanjang, berulang, dan akhirnya kita terima. Dan justru di situlah tragedinya: kehancuran yang tidak lagi mengejutkan, tetapi dikenali…terlalu dikenali, hingga nyaris terasa sebagai bayangan sendiri; kita tak lagi bertanya “mengapa?”, sebab jawabannya sudah kita hafal di luar kepala.
Sumber Gambar: J. M. W. Turner, Mer de Glace, in the Valley of Chamouni, Switzerland, 1803. Image via Wikimedia Commons.
Sumber Bacaan:
Krasznahorkai, L. (1985). Sátántangó. Trans. George Szirtes (2013). New York: New Directions.
Krasznahorkai, L.(1989). The Melancholy of Resistance. Trans. George Szirtes (1994). New York: New Directions.
Catatan Editor:
Artikel ini tidak sepenuhnya merefleksikan opini editor ataupun direksi antimateri. Penulis dapat dihubungi melalui email: aliyunapratisti@gmail.com

kontak via editor@antimateri.com





