Peder Balke, Northern Lights over Coastal Landscape (1870)

Northern Lights over Coastal Landscape adalah salah satu lukisan karya Peder Balke, pelukis Norwegia yang terkenal akan lukisan bentang alamnya. Namun, tidak banyak yang saya tahu tentang sang pelukis kecuali pesona teatrikal dari lukisan-lukisannya. Kesulitan dalam mencari sumber literatur (berbahasa inggris) merupakan salah satu sebab sulitnya mendalami Balke secara terstruktur–salah satu penggambaran paling lengkap diantara sedikit sumber yang tersedia adalah katalog berjudul Masters of Modernism: Balke, Munch & Kirkeby (2015) yang disusun untuk mendukung pameran seni lukis modern di London dan New York. Alhasil, interpretasi saya tentang Balke hanya mengandalkan insting (yang tidak seberapa dalam), juga beberapa plat dan lukisan yang tersimpan secara digital dari berbagai sumber. Insting pulalah (atau sebut saja pilihan subejektif) yang membawa saya berhadapan dengan teater bentang alam Peder Balke. Saya ingat betul ketika pertama kali saya melihat lukisan Balke, yaitu ketika saya tengah menikmati beragam lukisan aliran romantisisme Eropa di era 1800an yang meletakkan naturalisme sebagai pijakan gaya lukisnya. Monumen kejayaan romantisisme terangkum dalam karya maestro sekelas J.M.W. Turner, Johan Christian Dahl, juga Carl Johan Fahlcrantz yang menjadi pakem bagi lukisan romantisisme setelahnya. Nama Peder Balke berada diantara salah satunya–ia memulai karir sebagai murid langsung dari Johan Chistian Dahl, dan satu dari segelintir pelukis Norwegia (era tersebut), yang dapat melihat secara langsung karya-karya Turner di London. Namun ketika melihat lukisan bentang alam Balke, terdapat kesan bahwa ia tidak berbicara dalam bahasa yang sama dengan alur lukisan naturalisme para pendahulunya. Alih-alih keterpukauan yang membius (seperti yang dihadirkan Turner atau Dahl), lukisan Balke terasa lebih mencekam: dingin dan tanpa mimpi. Kesan itu tidak hilang setiap kali saya melihat karya Balke. Baru ketika saya menemukan interpretasi Per Kikerby tentang sang pelukis, teka-teki mulai sedikit terkuak. Dalam pandangan Kikerby, Balke adalah seorang yang murtad–ia melakukan apa yang tidak boleh dilakukan para pelukis romantik. Interpretasi ini dituangkan dalam ungkapannya yang terkenal: “These [Balke’s panting] were paintings that were authentic in their romantic sensibility, but their effects were achieved by dishonest means, using a wide range of ‘dirty tricks’ worthy of any sham painter”. Namun jangan anggap ungkapan diatas sebagai kritikan. Kikerby layaknya seorang remaja yang berujar “kurang ajar!” ketika mengetahui kehebatan tokoh favorit yang tidak ia sangka-sangka. Dalam kasus Balke, tipuan licik (dirty tricks) berhasil dilakukan sang pelukis dalam proses pembuatan dan juga dalam pembentukkan gagasan ekletik tentang naturalisme. Kikerby menyatakan bahwa titik awal untuk menjawab mengapa lukisan bentang alam Balke begitu tidak wajar dapat ditelusur pada awal karir sang pelukis–yaitu seorang pelukis dekorasi. Sudut pandang ini, ditambah dengan proses pembuatan lukisan alam yang diluar aturan main, membuat Balke berdiri diluar arus romantik-naturalist pada jamannya. Salah satu ciri utama lukisan Balke adalah permainan kuas kasar dan cat basah yang sangat dihindari oleh para pelukis bentang alam alla prima. Sisi eksperimen ini tidak banyak ditemukan pada aliran naturalist, sehingga gagasan lukisan Balke kerap dikategorikan sebagai seni lukis modern, dan bukan naturalisme. Yang perlu di catat kemudian adalah bahwa lukisan bentang alam Balke dibuat berdasarkan ingatan–bukan “pengalaman dan pengetahuan mata” sebagaimana lukisan naturalis di ajarkan di sekolah-sekolah. Ingatan akan perjalanannya ke berbagai wilayah Eropa, termasuk ujung utara Norwegia yang menjadi sasaran objek lukis utamanya, baru ia tuangkan ke sebuah kanvas bertahun-tahun kemudian. Mungkin, karena lahir dari ingatan, kita menemukan ilusi jarak dalam lukisan Balke (Stetind in Fog dan From Nordland adalah dua dari contohnya). Beberapa menyandingkan Balke dengan Hokusai yang juga mampu membuat ilusi jarak walau dengan teknik yang berbeda karena Hokusai menggunakan pelapisan dalam woodcut sedangkan Balke bermain pada kanvas dan cardboard. Proses ‘teknik-lukis-ingatan’ ini mengingatkan pada dokumenter Monet yang melukis Water Lilly di sebuah ruang tertutup. Monet melakukannya di penghujung abad 19 dan berhasil melahirkan ekspresionisme, sedangkan Balke berkiprah beberapa dekade sebelumnya, sekedar bereksperimen untuk melepaskan kebiasaan doktrin romantik yang meletakkan narasi estetika pada kebebasan alam, dan bukan pada produksi kerangka gagasan manusia. Kedua paduan diatas–yaitu sudut pandang dekoratif dan proses teknik-lukis-ingatan–adalah “tipuan kotor” ala Balke. Kikerby menyebutnya sebagai versi “melebih-lebihkan” dari apa yang seharusnya. Sehingga, ketika melihat lukisan Balke, yang kita hadapi bukanlah sebuah lukisan alam, melainkan teater eksistansialisme dengan alam dan manusia sebagai pemainnya. Alam, dalam lukisan Balke, tidaklah bisu: kita dapat mendengarnya bersiul atau bergemuruh. Dan ketika alam bersuara sedemikian rupa, manusia menemukan dirinya hanya dapat membisu.

Peder Balke, Stetind in Fog (1864)
Peder Balke, Samii with Raindeer under Midnight Sun (1850)
Peder Balke, The Tempest (1862)
Peder Balke, From Nordland (c 1860-69)
Peder Balke, From North Cape (c 1860)
Peder Balke, Moonlit View of Trondheim (c 1840-49)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here