Musik balada sering disalahpahami. Dalam kasus kesalahpahaman ekstrem, kata ‘cengeng’ kerap melekat pada genre musik ini, terlebih mengingat liriknya kerap merangkum gugatan akan kehidupan yang bagi sebagian disalahartikan sebagai keputusasaan. Melalui tulisan singkat ini, gugatan balik akan dilontarkan guna memposisikan musik balada pada tempatnya; bukan sekadar melankolia dangkal, melainkan ruang artikulasi pengalaman manusia yang mempertemukan kekecewaan, kegilaan, hingga keterpesonaan pada kehidupan yang kerap muncul dalam bentuk absurd. Dua sumber utama digunakan sebagai landasan konseptual: Hamilton (2008) tentang Violent Arts dan McAdams (2015) dalam Music, Madness, and Disenchantment. Meski keduanya tidak secara eksplisit membatasi diri pada pembahasan musik balada, terdapat pemahaman kunci yang dapat membuka kemungkinan pembacaan bahwa musik balada, terutama gagasan tentang narasi dan intensitas afektif yang hadir dalam genre musik tersebut. Singkat kata, mari kita kupas lapisan demi lapisan.
Balada, dalam pengertian historis, berakar pada tradisi lisan Eropa abad pertengahan berupa rangkuman tentang kisah cinta yang gagal, kesedihan akibat peperangan, pengkhianatan, kematian, hingga perpisahan. Tradisi lisan ini muncul dalam bentuk sonata, dinyanyikan dengan melodi repetitif agar mudah diingat Hamilton (2008). Namun, dalam lanskap musik modern, musik balada berubah dari sekadar kisah menjadi arsip emosional kolektif (McAdams, 2015). Musik balada, dalam banyak contoh, menyimpan jejak trauma sosial ataupun personal dalam struktur musikal yang tampak sederhana dan melankolis, namun penuh gemuruh emosi lirih. Mungkin itulah mengapa–walaupun ini hanya perkiraan semata–para musisi balada memiliki suara parau; karena mereka mencoba bernyanyi sekaligus menahan bucahan emosi yang hampir membuat sesak.
Hamilton (2008) dalam artikelnya yang membahas lugas tentang hubungan antara seni dan kekerasan, menyatakan bahwa musik (khususnya sonata atau balada dalam bentuk yang lebih populer) memiliki dimensi kekerasan simbolik yang kasat mata. Menurutnya, musik balada mampu memengaruhi tubuh dan pikiran secara intens, membangkitkan kemarahan, kesedihan, bahkan memunculkan trauma. Hamilton lalu menyoroti satu paradoks dalam musik balada: tempo lambat dan lirik naratifnya sering diasosiasikan dengan kelembutan, namun justru kelembutan tersebut sering menjadi medium paling efektif untuk menghadirkan kehancuran [batin]. Ambil contoh lagu berjudul To Ramona yang dibawakan Bob Dylan–kisah perempuan kulit hitam yang mengalami banyak luka akibat peradaban yang tidak berpihak padanya–memiliki daya dobrak yang sama dengan teriakan protes lantang di jalanan. Bedanya, alih-alih muncul dalam kemarahan, musik balada menyusup secara halus ke dalam kesadaran.
Adapun McAdams (2015) memberikan gagasan tentang posisi Balada dalam konteks musik modern, yang menurutnya menjelma menjadi semacam ritual sekuler. Genre ini memungkinkan pendengar untuk mengalami katarsis tanpa harus meninggalkan pengalaman dan realita keseharian. Kehancuran, menurutnya, tidak perlu hadir secara kolosal–tidak perlu perang atau revolusi untuk menemu kekecawaan dan kesedihan (McAdams, 2015), karena ia dapat hadir dalam percakapan seorang remaja lugu yang kehilangan pacar, atau penjaja gulali yang dikhianati kehidupan hingga gulalinya terasa pahit di lidah. Musik balada bisa berbicara untuk mereka, ritual kebersamaan yang hadir untuk para jemaat yang tersesat.
McAdams menambahkan bahwa di tengah bisingnya kehidupan, musik balada mengembalikan dimensi naratif yang personal. Balada seakan membuka tabir, bahwa di balik hiruk pikuk kehidupan, terdapat cerita individu. Dalam pengertian ini, musik balada adalah humanisasi dari pengalaman manusia itu sendiri. Namun, humanisasi bukan tanpa risiko. Dalam cengkeraman industrialisasi, bahkan kesedihan dapat menjadi komoditas. Musik balada terjebak dalam formula khas industri musik yang cenderung mereproduksi tema-tema patah hati, karena jujur saja, tema inilah yang terbukti laku diserbu pasar yang kehilangan selera. Komodifikasi, menurut McAdams, adalah bentuk kekerasan simbolik yang muncul dalam bentuk lain: emosi direduksi menjadi produk, pengalaman diubah menjadi komoditas. Musik balada yang semula menjadi ruang ekspresi autentik dapat berubah menjadi pola yang diproduksi secara massal.
Meskipun demikian, kekuatan balada tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh industri. Ada sesuatu yang tetap liar dalam pengalaman musikal, sesuatu yang melampaui niat pencipta dan strategi pasar. Ketika seorang pendengar menemukan makna personal dalam sebuah lagu, makna itu tidak dapat sepenuhnya diprediksi. Musik selalu membuka kemungkinan interpretasi yang tak terbatas. Hal ini sejalan dengan gagasan bahwa musik balada merupakan saluran intensifikasi pengalaman (Hamilton, 2008). Pada pengertian ini, musik balada bukan sekadar ekspresi kesedihan, melainkan suara universal yang merepresentasikan kesedihan. Balada menciptakan sebuah dunia emosional yang pada satu titik berfungsi sebagai mekanisme penenang–valium bagi sebagian. Struktur harmoninya yang repetitif, progresi kord yang dapat diprediksi, dan ritme yang stabil dipandang dapat menciptakan rasa aman. Namun justru karena bentuknya yang lirih dan repetitif itulah, musik balada menjelma menjadi “arsip kekerasan”, memelihara sang Iblis bernama realita yang memang pada dasarnya menolak dan enggan untuk beranjak.
Di sinilah musik balada bersinggungan dengan gagasan tentang “fungsi estetika dalam seni”, bahwa musik balada tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi mentransformasikan pengalaman menjadi bentuk yang dapat dibagikan. Dalam kerangka gagasannya, Hamilton (2008) mengungkap bahwa estetika bukanlah upaya untuk menutupi kesedihan dan kegilaan, melainkan medium yang memungkinkan kesedihan dan kegilaan tampil tanpa menghancurkan subjek. Musik balada mengolah kesedihan dan kegilaan ini dengan bentuk struktur musikal yang teratur: harmoni, repetisi, dan klimaks. McAdam (2015) punya pandangan menarik untuk itu: bahwa balada adalah transformasi kekerasan dan kegilaan menjadi seni. Dalam musik balada, pendengar dihadapkan pada sisi rapuh dirinya sendiri. Namun, justru melalui eksposisi pada kekerasan itulah muncul kemungkinan pemulihan.
Kekerasan yang dimaksud bukanlah ajakan untuk melukai, melainkan kemampuan seni untuk mengguncang. Balada yang baik adalah balada yang mengguncang, yang membuat pendengarnya berhenti sejenak, mengingat sesuatu yang ingin dilupakan, atau menghadapi perasaan yang selama ini dihindari. Musik balada menjadi cermin yang tidak selalu ramah; ia memantulkan bayangan-bayangan rapuh dari relung ingatan paling dalam. Dalam konteks sosial, balada juga dapat dibaca sebagai bentuk resistensi. Ketika dunia dipenuhi dengan suara-suara keras–retorika politik, propaganda, kebisingan media–balada menawarkan suara sublime: tidak berteriak, tetapi berbisik. Melalui bisikan tersebut, hadirlah solidaritas emosional bertebaran dalam sejarah.
Tradisi balada sebagai medium protes menemukan bentuk yang nyata dan monohok dalam karya-karya Bob Dylan, terutama melalui lagu seperti Blowin’ in the Wind, To Ramona (yang sudah diungkap sekilas pada paragraf sebelumnya), atau The Lonesome Death of Hattie Carroll. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa dalam lagu-lagu tersebut terangkum narasi kritik sosial yang tajam. Di ranah folk Indonesia, Iwan Fals–pada masanya–berada di garda depan gerakan kritik rejim otoriter Orde Baru. Di Chile, Víctor Jara dan Violeta Parra menjadikan balada sebagai perlawanan terhadap represi politik. Sementara itu, Leonard Cohen menghadirkan balada reflektif yang memadukan spiritualitas, kritik modernitas, dan kegelisahan eksistensial.
Dengan contoh-contoh di atas, lazimlah kiranya untuk memposisikan musik balada lebih dari sekadar buncahan emosi personal semata, namun musik yang kerap berada pada persimpangan sejarah: dari protes perang hingga penggulingan rezim. Kekuatan lirihnya mampu mengumpulkan siapa saja yang pernah mengalami kekecewaan dan kesedihan–yang artinya, banyak dari kita.
Sumber Gambar: Stanczyk (The Sad Joker) by Jan Matejko, Wikimedia Commons
Sumber Bacaan:
Hamilton, J. T. (2008). The most violent of the arts. dalam Music, madness, and the unworking of language. Columbia University Press.
McAdams, C. (2015). Music, madness, and disenchantment: Roderick Usher and the ballad “The Mad Trist.” The Edgar Allan Poe Review, 16(1), 54–69. Penn State University Press.

kontak via editor@antimateri.com





