Karya Auguste Rodin (I): Ekstase Wujud

Jika harus mencari ekspresi untuk menggabarkan karya-karya Auguste Rodin, maka frase “ekstase wujud” rasanya bisa sedikit mengena. Seni patung yang menjadi media sang seniman, kerap menghadirkan puncak sensasi indrawi sebagai alusi gagasannya–alhasil, kita pun dibuat menerka-nerka ekstase macam apa yang dirasakan Rodin untuk menghadiran wujud sedemikian rupa. Adapun nama besar pematung satu ini sebetulnya tidak perlu diperkenalkan lagi mengingat pengaruh luas karyanya pada lingkup seni patung modern. Namun untuk alasan subjektif (bahwa hal trivial seputar karya seorang maestro sama mengasyikannya dengan karya itu sendiri), maka sekilas latar dibalik kelahiran karya enigmatik Rodin, akan menjadi prolog yang tepat untuk berkelana dalam dunia soliter Auguste Rodin. Ia adalah seorang penyendiri akut yang lebih sering menghabiskan waktu di dalam studionya dibanding bersosialitet bersama seniman Paris lain.

Baru setelah karyanya lambat laun dikenal dan diapresiasi, ia membuka diri pada komunitas seni (yang lebih terasa sebagai pengikut dibanding kawan sesama seniman, diantaranya: penulis Octave Mirbeau, Oscar Wilde, dan Joris-Karl Huysmans). Namun penerimaan publik pada patungnya merupakan perjalanan panjang. Karya pertamanya (dan banyak karya setelahnya), berjudul “The Man with a Broken Nose” ditolak mentah-mentah oleh Salon (elit seniman Paris). Alasan penolakan karya Rodin adalah hal yang berulang dan terjadi pada para seniman yang berada di luar tradisi umum. Dan “The Man with a Broken Nose” adalah kebalikan dari standar ideal neo-klasik kala itu: alih-alih menggambarkan dewa-dewi tanpa cela sebagai model, Rodin mengundang tetangganya, seorang pengrajin tanah liat tua yang pekat dengan berbagai luka duniawi, termasuk hidung patah.

Pembeda mencolok lain antara karya Rodin dan tradisi neo-klasik adalah penggunaan tubuh sebagai bahasa. Pada narasi klasik dan neo-klasik, tubuh terkubur di bawah lapis demi lapis “pakaian” kisah mitos atau biblikal, sehingga tubuh tidak pernah bercerita untuk dirinya sendiri. Begitupun wajah manusia yang terengah-engah yang hanya menjadi penting sebagai pelengkap narasi. Gagasan Rodin bergerak keluar dari balutan kisah dan menjadikan tubuh menjadi bahasanya sendiri. Tubuh bercerita untuk dirinya sendiri, dan dengan membiarkan tubuh berbicara, Rodin mengungkap bahwa tubuh memiliki ribuan ekspresi yang baru dan tak bernama. Layaknya hutan yang masih belum dijamah: ia berekspresi dalam wujudnya sendiri.

Rodin’s most distinctive work began with this discovery. It was only then that traditional notions of sculpture became worthless for him. There was no longer any pose, group, or composition. Now there was only an endless variety of living planes, there was only life and the means of expression he would find to take him to its source. Now it became a matter of mastering life in all its fullness. Rodin seized upon life as he saw it all around him. He observed it, cleaved to it, and laid hold of its most seemingly minor manifestations. (Rilke, 2011)

Rainer Maria Rilke, penyair kawakan Austria, adalah salah satu pengamat sekaligus penikmat karya Rodin yang mengikuti perkembangan gerak kreasi Rodin dari dekat (Rilke menjadi penulis monograph atas karya-karya Rodin pada kisaran 1905-1906). Oleh karenanya, penggunaan monograph Rilke sebagai referensi utama prolog ini sangat membantu untuk “menyamakan frekuensi” mengingat intensitas Rodin yang menurut Rilke: “He raised his world above us in an immense arc, and made it a part of nature”. Sulit menyangkal ungkapan Rilke ketika berhadapan dengan karya-karya Rodin yang memang menjadikan alam (nature) sebagai inspirasi utama bagi Rodin. Ia menanggalkan pandangan neo-klasik yang mendasarkan gagasannya pada ayat bliblikal atau metafora mitos dan menghadirkan wujud kehidupan dalam bentuknya yang paling “hidup”. Bentuk lain yang membedakan Rodin dengan aliran neo-klasik adalah subjek studi yang berbeda: jika neo-klasik berfokus pada bentuk, maka bagi Rodin, cahaya adalah segalanya. Ilusi gerak dihasilkan oleh posisi cahaya yang bersentuhan dengan permukaan patung – sebuah gebrakan radikal yang menggunakan pendekatan cahaya pada lukisan pada patung.

Auguste Rodin adalah banyak hal. Prolog kali ini hanya terbatas pada pembahasan posisi Rodin dalam khasanah seni modern. Dalam uraian selanjutnya, akan dibahas pula karya-karya utama Rodin yang bukan hanya mendobrak arus utama, tapi juga memberi gambaran tentang ekstase yang senantiasa harus ada dalam setiap proses penciptaan seni: There was stone that seemed in no way mortal, and other stone that seemed in motion, gestures that remained entirely fresh, as if they were preserved here only to be given one day to a passing child. And this vitality was not limited to the famous works, to those visible to all.

Contoh Eksposisi Tubuh dalam Karya Auguste Rodin

Fugitive Love (Rodin, 1886)
Fugitive Love, 1886
Man with Broken Nose, 1864
The Falling Man, 1882
The Falling Man, 1882
The Cathedral, 1908

 

 

Sumber Gambar: Wikimedia Commons
Sumber Referensi
Rilke, R.M. 2011. Auguste Rodin. Parkstone International Press.
Corbett, R. 2016. You Must Change Your Life: the Story of Rainer Maria Rilke and Auguste Rodin. W.W. Norton and Company

Share on:

Leave a Comment