Terdapat dua maestro seni cetak dan lukisan yang mengangkat genre ukiyo-e hingga lapisan awan kesembilan. Kedua seniman tersebut adalah Hokusai dan Hiroshige, sedangkan istilah ukiyo-e mengacu pada gerakan seni di Jepang yang berkembang pada era Tokugawa. Secara harfiah ukiyo-e memiliki arti “dunia mengambang” (floating world), sebuah istilah Buddhism tentang pelepasan ikatan kesedihan manusia dari lingkaran hidup dan mati. Tapi bukan Jepang namanya jika menyerah begitu saja pada tafsir, termasuk tafsir Buddhism ukiyo-e yang akhirnya memiliki nafas baru – sehingga alih-alih mengungkap pelepasan ketakutan akan kematian secara spiritual, ukiyo-e di tangan para seniman Jepang mewujud dalam bentuk dunia hedonis yang dipenuhi oleh kedai minum dan pertunjukan kabuki. Bentuk kesenangan paripurna inilah yang kemudian menjadi ciri utama ukiyo-e di Jepang, seakan-akan terdapat kesepakatan bersama: hidup ini singkat, nikmatilah!. Sisi hedonisme Ukiyo-e lahir dari gairah kemapanan ekonomi Kota Edo yang berkembang secara massal dan menyebar ke Osaka ataupun Kyoto. Produksi massal atas lukisan dan seni cetak ukiyo-e serupa dengan posisi sentral manga di masyarakat Jepang saat ini yang menempati sepertiga dari produksi literasi. Namun, walaupun dapat dikatakan sebagai cermin masyarakat Edo di awal perkembangannya, terdapat satu aspek sosial yang hilang dalam lukisan-lukisan ukiyo-e: yaitu politik – karena pemerintahan Tokugawa secara ketat melakukan sensor terhadap pemikiran politik yang berkembang di masyarakat.

(Utagawa Kinishida III, A Scene from a Kabuki Theater Performance)

Selain hedonisme, terdapat sisi lain dari genre ukiyo-e yaitu lukisan bentang alam (landscape). Disisi inilah dua raksasa lukisan Jepang bersemayam: Hokusai sang Pelukis Ombak dan Hiroshige sang Penyair Hujan, Salju dan Kabut. Lukisan berjudul The Great Wave of Kanagawa karya Hokusai telah menjadi simbol seni Jepang di mata dunia. Sedangkan lukisan-lukisan hujan Hiroshige membanjiri galeri-galeri terkemuka di berbagai belahan dunia. Tidak sulit untuk memberikan pengakuan pada dua maestro ini.  Melihat sekilas saja, teknik pewarnaan keduanya memiliki kualitas jauh di atas rata-rata lukisan ukiyo-e, ditambah teknik lukis cetak blok kayu yang mampu menciptakan efek atmospheric dalam lukisan bentang alam. Melalui perspektif Hokusai dan Hiroshige, kenikmatan ukiyo-e bertemu dengan estetika Jepang yang berpijak pada naturalisme. Ketika seniman ukiyo-e lain sibuk dengan hedonisme urban, maka Hokusai dan Hiroshige mengalihkan pandangannya pada bentang alam: seakan menyatakan bahwa kenikmatan tertinggi terletak pada keindahan alam. Karena kehebatan teknik dua pelukis inilah, maka ukiyo-e terbebas dari label seni masal murahan. Baik Hokusai ataupun Hiroshige menyumbang jumlah yang berlimpah dalam produksi lukisan bentang alam dalam genre ukiyo-e, terlebih dengan berkembangnya teknik cetak sehingga lukisan dapat diproduksi ulang. Jumlah lukisan yang melimpah ini pada akhirnya menemukan jalan menuju dunia luar ketika Komodor Perry menembus kebijakan isolasi Tokugawa di tahun 1853. Dan dimulailah era Japonisme, yaitu masa dimana Eropa dan Amerika keranjingan segala hal tentang Jepang.

Terdapat sebuah fakta menarik terkait Japonisme, khususnya terhadap karya-karya Hiroshige. Beberapa pelukis Eropa yang terkena wabah Japonisme, diantaranya Pierre Bonnard, Paul Gauguin, Van Gogh dan Toulouse-Lautrec, menyatakan bahwa karya Hiroshige masuk kedalam genre impresionism. Tentu saja hal ini agak sedikit memaksa, karena bagaimanapun impresionisme yang lahir di Eropa merupakan sebuah dialektika sejarah perspektif seni lukis yang hadir karena pengaruh atau kritik dari perspektif sebelumnya. Memang agak sedikit janggal jika menyatakan lukisan ukiyo-e Hiroshige adalah impresionisme, karena nyata-nyata lukisan Hiroshige kuat dipengaruhi oleh gaya Kano yang telah berkembang sejak abad 13 di Jepang (dengan pusat di Kyoto). Kano adalah gaya lukis bentang alam yang memiliki kedekatan dengan gaya lukis Li Shi dari China – dengan penekanan pada penggunaan kuas dan bukan pada pigmen. Pengaruh Kano (dan bukan impresionisme) terlihat jelas dalam pembentukkan bentang alam Hiroshige, tapi ia kemudian mengubah pakem pewarnaannya dengan penggunaan pigmen, sehingga hadirlah warna-warna natural yang menjadi kekuatan narasi lukisan Hiroshige. Namun, temuan menarik tidak berhenti disana – karena walaupun agak sedikit menggelikan ketika Lautrec dan kawan-kawannya bersikukuh tentang pengaruh impresionisme terhadap karya Hiroshige (mengingat kebijakan isolasi Jepang saat itu), ternyata mereka ada benarnya juga: bahwa pengaruh perspektif barat ada dalam lukisan Hiroshige. Alur pengaruh ini hadir secara tidak langsung melalui pionir pelukis alam Jepang, Utagawa Toyoharu. Utagawa memberikan kontribusi besar dalam meletakkan perspektif barat pada seni lukis Jepang, yaitu dengan menempatkan figur manusia dalam lukisan bentang alam – sesuatu yang tidak ditemukan secara eksplisit dalam aliran Kano. Inovasi inilah yang menjadi batu pijakan utama bagi Hiroshige dan Hokusai dalam mengembangkan interaksi manusia dengan alam – dan salah satu puncaknya terangkum dalam seri lukisan berjudul The Fifty-three Stations of the Tōkaidō karya Hiroshige.

(Ando Hiroshige – The Fifty-Three Stations of the Tokaido – Futagawa)

Di anatara pelukis Eropa, Van Gogh adalah salah satu yang terjangkit Japonisme akut. Didukung oleh koleksi keluarganya dan koneksi adiknya yang seorang kurator, Van Gogh dapat bersinggungan dengan banyak referensi seni Jepang (dan tentu saja Hiroshige ada dalam daftar favoritnya). Banyak dari lukisannya yang memiliki nafas Japonisme, mulai dari tema hingga pemilihan warna. Ia juga melakukan interpretasi lukisan, sebagaimana karyanya yang berjudul Brigde in the Rain (1887), yang merupakan interpretasi dari lukisan Hiroshige berjudul Evening Shower at Shin Osashi Bridge and Atake (1856). Ia bahkan menggunduli rambutnya sebagai salah satu ekspresi terhadap Buddhisme yang melekat dalam estetika Jepang – kemungkinan ia pun mengetahui bahwa pada akhir hidupnya Hiroshige mengabdikan diri sebagai Biksu Buddhist. Van Gogh meninggal tiga tahun setelah ia melakukan berbagai eksperimen tentang seni Jepang, sehingga Japonisme merupakan salah sudut sanctuari bagi Van Gogh di tahun akhir masa hidupnya.

Pengaruh Hiroshige berlangsung bahkan hingga memasuki abad 21. Salah satu interpretasi terbaru atas karyanya dihasilkan oleh Ginette Callaway, seorang pelukis bentang alam yang mengusung Nouveau Impression Art. Ketika tiga lukisan ini disandingkan (bukan pada kualitas teknik, karena ketiganya berbicara dalam teknik yang tentu saja berbeda), terdapat sebuah gambaran tentang bingkai budaya yang mampu mengubah narasi tentang makna. Hujan dalam ketiga bingkai memiliki narasi yang berbeda. Dalam lukisannya, Hiroshige memang melukis tentang hujan (bukan bentang alam yang kebetulan sedang hujan). Seperti layaknya pendeta Zen, ia seakan mampu memaknai bahasa hujan. Sudut pandang inilah yang tidak dimiliki bingkai budaya barat. Dalam lukisan Van Gogh dan Ginette (juga lukisan yang lahir dari perspektif fine arts Eropa lainnya) perspektif adalah segalanya. Objek yang dihadapi terpenjara oleh kerangka perspektif sehingga kita tidak lagi melihat hujan, namun melihat perspektif tentang hujan. Tapi sekali lagi, persandingan ini bukanlah untuk menentukan mana yang lebih mumpuni – karena ketiganya memang berbicara tentang hujan dalam bahasa yang berbeda. Japonisme disatu sisi memang memperkaya tema dan pandangan dunia seni lukis di Eropa, namun ia tidak mampu mengubah estetika seni Eropa yang berpijak pada kekuatan perspektif. Sebaliknya, pengaruh Eropa pada seni Timur (karya Hiroshige salah satunya) memiliki sumbangan besar dalam memperkaya perspektif, namun perspektif tersebut harus tunduk pada pijakan filsafat yang telah mengakar. Hiroshige pernah berujar bahwa ia akan melangkah jauh dengan lukisannya. Dan memang terbukti – saat ini kajian seni komparatif lintas budaya di berbagai belahan dunia menjadikan karya Hiroshige sebagai salah satu contoh bagaimana pengaruh dalam karya seni merupakan sebuah siklus yang tidak terputus. Bersama Hokusai, ia menjadi representasi era ukiyo-e: sebagai penanda sejarah, pijakan perubahan sebuah bangsa, penjaga pilar estetika, dan yang terpenting sebagai meditasi visual. Sebuah eskapis manis untuk mata yang terlampau jenuh dengan jejalan perspektif dalam dunia lukis.

Referensi:

Trede, Melanie, 2015, Hiroshige: One Hundred Famous Views of Edo, Taschen: Mul edition

Marks, Andreas, 2010, Japanese Woodblocks Print, Tuttle Publishing: Singapore

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?