Puisi dulu, Liturgi kemudian (Komposisi Ave Maria Gubahan Schubert)

Perpindahan seni sekuler menjadi fungsi keagamaan bukanlah sesuatu yang baru. Wollheim (dalam Howes, 1984: 331) berargumen bahwa dalam budaya apa pun, kita harus selalu memperhitungkan hubungan ikonisitas (seni) dengan pengguna atau penikmatnya. Menurut Wollheim, terkadang tanda-tanda menjadi objek yang ‘lebih penuh dan lebih bermakna’, tergantung pada referensi budaya yang dikonsumsi. Karena kecenderungan ini, tidak terhitung bentuk seni yang kemudian ‘dibaptis’, ‘ditasbihkan’, atau di-agama-isasi dalam bentuk lainnya. Tapi tentu, interaksi ini berlaku dalam bentuk timbal balik (Comaroff & Comaroff dalam Buaban, 2021: 301-302), karena budaya yang dikonsumsi adalah juga hasil persilangan dengan simbol-simbol agama yang berjejalan di depan mata.

Kondisi di atas memunculkan asumsi bahwa tidak ada seni yang sepenuhnya lepas dari [re]interpretasi. Untuk membahas lebih lanjut, komposisi terkenal Ave Maria (terj: Hail Mary) gubahan Frans Schubert akan diangkat sebagai contoh peralihan bentuk seni sekuler ke religi. Komposisi ini dipilih karena dua alasan: (1) memiliki bentuk peralihan yang tegas (dari puisi menjadi himne liturgi); dan (2) keterlibatan maestro besar seperti Franz Liszt yang membuat transisi komposisi ini menjadi semakin menarik perhatian. Uraian selanjutnya akan mengacu pada dua alasan tersebut ditambah trivial lain (untuk menambah unsur dramatis, hehe).

Schubert dan Puisi Rakyat

Franz Schubert adalah legenda yang pergi terlalu dini. Walaupun demikian, dalam rentang 31 tahun masa hidupnya (1779-1828), ia telah menggubah lebih dari 600 lagu (dengan vokal), tujuh komposisi simfoni, serta serangkaian music chamber. Namun, walaupun memiliki segudang karya, Schubert memiliki reputasi yang kurang mengenakkan: sebagai ikon musik ‘tanpa wajah’ (Horowitz, 1997: 419)–sebuah reputasi yang ia dapat akibat minimnya penampilan publik dan ketenaran yang terbatas (hanya sebatas lingkaran kecil artis di Wina, Austria). Baru ketika Franz Liszt, sang Rockstar dalam musik klasik, menggubah ulang karya-karyanya, nama Schubert akhirnya masuk kedalam orbit komposer legendaris Eropa. Dan diantara karyanya, satu yang hingga kini masih popular (dalam arti benar-benar populer hingga taraf ‘budaya pop’) adalah gubahan terkenal, Ave Maria. Komposisi ini menjadi magnum opus yang membawa nama Schubert menjadi maestro musik simfoni dan sonata.

Namun, komposisi Ave Maria yang dikenal publik saat ini ternyata memiliki lapisan kisah lain. Mari kita urai satu-persatu: Pertama, komposisi ini mulanya berjudul ‘Ellens dritter Gesang’ (Ellen’s Third Song; D. 839, Op. 52, No. 6, 1825). Kedua, Schubert menggubahnya dengan dasar inspirasi sebuah puisi rakyat berjudul ‘The Lady of the Lake’ karya pujangga Inggris, Walter Scott. Melalui komposisi ini, Schubert seakan membangun jembatan antara puisi dengan musik–‘he has enriched the art of music with his seven songs from the immortal poem by the Great Wizard of the North’ (F.G.E, 1901: 659). Ketiga, berbeda dari reputasinya sekarang, ‘Ellens dritter Gesang’ (atau Ave Maria), tidak ditujukan sebagai simfoni liturgi, tapi lebih pada ekspresi murni seorang komposer atas keindahan objek yang dihadapinya (dalam kasus Schubert, ia mengagumi keindahan pulau Ellen pada penghujung musim panas, dan viola!, hadirlah enam bagian komposisi ‘Ellens dritter Gesang’). Keempat, perubahan judul (populer) menjadi Ave Maria dikarenakan respons hangat publik atas lirik pembuka simfoni tersebut (yang diawali dengan doa lirih Ellen pada Bunda Maria). Dan kelima, perubahan bukan hanya pada fungsi tapi juga pada lirik. Sebagai penjelas berikut adalah lirik awal gubahan Schubert.

Ellens dritter Gesang (diambil dari bait ‘Hymn to the Virgin’ karya Walter Scott)

Ave Maria! maiden mild! (Ave Maria! Jungfrau mild)
Listen to a maiden’s prayer! (Erhöre einer Jungfrau Flehen)
Thou canst hear though from the wild; (Aus diesem Felsen starr und wild)
Thou canst save amid despair. (Soll mein Gebet zu dir hinwehen)
Safe may we sleep beneath thy care, (Wir schlafen sicher bis zum Morgen)
Though banish’d, outcast and reviled – (Ob Menschen noch so grausam sind)
Maiden! hear a maiden’s prayer; (O Jungfrau, sieh der Jungfrau Sorgen)
Mother, hear a suppliant child! (O Mutter, hör ein bittend Kind!)
Ave Maria! (Ave Maria!)

Ave Maria! undefiled! (Ave Maria! Unbefleckt!)
The flinty couch we now must share (Wenn wir auf diesen Fels hinsinken)
Shall seem with down of eider piled, (Zum Schlaf, und uns dein Schutz bedeckt,)
If thy protection hover there. (Wird weich der harte Fels uns dünken)
The murky cavern’s heavy air (Du lächelst, Rosendüfte wehen)
Shall breathe of balm if thou hast smiled; (In dieser dumpfen Felsenkluft)
Then, Maiden! hear a maiden’s prayer, (O Mutter, höre Kindes Flehen)
Mother, list a suppliant child! (O Jungfrau, eine Jungfrau ruft!)
Ave Maria! (Ave Maria!)

Ave Maria! stainless styled. (Ave Maria! Reine Magd!)
Foul demons of the earth and air, (Der Erde und der Luft Dämonen)
From this their wonted haunt exiled, (Von deines Auges Huld verjagt)
Shall flee before thy presence fair. (Sie können hier nicht bei uns wohnen)
We bow us to our lot of care, (Wir woll’n uns still dem Schicksal beugen)
Beneath thy guidance reconciled; (Da uns dein heil’ger Trost anweht)
Hear for a maid a maiden’s prayer, (Der Jungfrau wolle hold dich neigen)
And for a father hear a child! (Dem Kind, das für den Vater fleht)
Ave Maria! (Ave Maria!)

Puisi The Lady of the Lake sendiri berkisah tentang perang dan rekonsiliasi King James V dan James Douglas demi memperebutkan Skotlandia di awal abad 16.  Adapun lirik di atas diambil dari bagian tiga yang menggambarkan suara Ellen yang bernyanyi lirih diiringi petikan harpa, berdoa pada Bunda Maria untuk menurunkan rekonsiliasi dan perdamaian. Lagu ini, lalu menjadi sentral dari seluruh komposisi Schubert yang terdiri dari enam bagian.

Alih Fungsi menjadi Himne Liturgi

Adalah komposer ternama, Franz Liszt, yang pertama kali ‘mempopulerkan’ judul Ave Maria. Liszt seakan terobsesi–berkali-kali menggubah ulang, menambahkan melodi hingga ‘menyederhanakannya’ (walaupun kata ini jelas tidak dapat dipercaya begitu saja). Gubahan [Ave Maria] pertama Liszt ditulis pada tahun 1846, dan memperkenalkannya ke berbagai penjuru Eropa. Buja (2015) memperkirakan bahwa dalam kurun delapan tahun, Liszt membawakan Ave Maria “lebih dari seribu kali” dalam konser-konsernya–The work is for 8-part choir and organ with a setting that changes actively in its texture, moving from solo voices to full choir, culminating in the final meditative ‘Amen’ (Buja, 2015).

Adapun persinggungan dengan liturgi diperkirakan terjadi pada 1881 ketika Liszt menambahkan dua aransemen komposer lain, salah satunya versi Jacques Arcadelt, seorang komposer Renaisans yang juga seorang penyanyi dalam paduan suara kepausan (Buja, 2015). Walaupun sejak awal Liszt telah menambahkan ‘aksi’ meditasi yang menyerupai liturgi dalam setiap penampilan Ave Maria, namun versi Arcadelt-lah yang ‘membaptis’ karya Schubert ini menjadi bagian tak terpisahkan dari do’a-do’a pada Bunda Maria. Untuk memberi bandingan, berikut adalah lirik Ave Maria versi doa liturgi Katolik.

Ave Maria

Ave Maria, gratia plena, (Hail Mary, full of grace)
Maria, gratia plena, (Mary, full of grace)
Maria, gratia plena, (Mary, full of grace)
Ave, Ave, Dominus, (Hail, Hail, the Lord)
Dominus tecum. (The Lord is with thee.)
Benedicta tu in mulieribus, et benedictus, (Blessed art thou among women, and blessed)
Et benedictus fructus ventris (tui), (Blessed is the fruit of thy womb)
Ventris tui, Jesus. (Thy womb, Jesus)
Ave Maria! (Hail Mary!)

Sancta Maria, Mater Dei, (Holy Mary, Mother of God,)
Ora pro nobis peccatoribus, (Pray for us sinners)
Ora, ora pro nobis; (Pray, pray for us)
Ora, ora pro nobis peccatoribus, (Pray for us sinners)
Nunc et in hora mortis, (Now, and at the hour of our death,)
In hora mortis nostrae. (The hour of our death.)
In hora, hora mortis nostrae, (The hour, the hour of our death,)
In hora mortis nostrae. (The hour of our death)
Ave Maria! (Hail Mary!)

Epilog

Di akhir hayat, Schubert menderita sipilis yang merenggut nyawanya. Jika saja, versi doa liturgi ditujukan untuk menghormati Schubert, maka alih fungsi Ave Maria dapat menjadi epitaf bagi sang komposer. Tapi bisa jadi ini hanya angan-angan belaka karena tidak ada satu pun jejak referensi yang mengarah pada fakta tersebut. Alhasil, kita harus mengakui versi kebenaran di awal tulisan: bahwa kerap kali, sebuah karya difungsikan sesuai dengan kehendak masyarakat–termasuk ketika puisi yang menjadi kekuatan utama, terkubur jauh dalam tumpukan doa.

Gubahan Schubert – Ellens dritter Gesang (Ave Maria)

Gubahan Liszt – Ave Maria

Sumber Gambar: Edvard Munch, The Voice, Summer Night – Google Art Project

Sumber Bacaan:
Buaban, J. 2021. Transforming Rituals in Thai/Chinese Theravada of Indonesia. Thammasat Review, 24 (1): 300-316.

Buja, M. 2015. Liszt and the Ave Maria. Interlude
F. G. E. (betul-betul ditulis dalam inisial). 1901. Schubert and British Poets. The Musical Times and Singing Class Circular, 42 (704): 659-661.
Horowitz, J. 1997. Schubert at 200. The American Scholar, 66 (3): 419-422.
Howes, G. 1984. Religious Art and Religious Belief. New Blackfriars, 65 (769/770): 331-340.

Share on:

Leave a Comment