Manet dan Para Filsuf Jalanan

Share on:

Tidak ada pelukis yang mampu membuat geram kalangan artsi-intelek Paris layaknya Edouard Manet. Perihal sepak terjang Manet bukan hal baru yang diangkat webzine ini; dan mengingat luasnya pengaruh sang pionir seni lukis modern, tidak terhitung tema yang dapat diangkat sebagai upaya untuk memahami karakter eksentrik, baik dari segi sosok pelukis juga lukisannya. Artikel berjudul (Narasi) tanpa Narasi yang terbit beberapa waktu lalu, memaparkan kekuatan alusi Manet (Le Suicide) yang dengan lantang meneriakkan sisi dingin dan atomisme modernitas. Adapun ulasan kali ini akan menghadirkan interpretasi Manet tentang filsuf dan segmentasi sosial. Namun, berbeda dengan perlawanan subversif Carravaggio terhadap otoritas gereja (lihat Esse in Anima), kritik sosial Goya yang menohok (lihat Tingkah Polah Manusia!) atau semangat pembaharu seni layaknya Kadinsky (dalam Black Lines I), lukisan filsuf Manet menyuguhkan teka-teki – yang menurut Nochlin (2018): “formally distanced, almost set in quotation marks”. Alhasil, kita hanya dapat menerka-nerka dan membuat asumsi dari berbagai kejadian yang mendorong kelahiran seri lukisan filsuf Manet.

Asumsi pertama dapat ditelusur pada kunjungan Manet bersama karibnya, Antonin Proust, ke galeri pelukis romantik kenamaan: Eugene Delacroix. Disana keduanya disuguhkan saran (dengan nada sedikit memaksa) dari sang maestro romantik, berbunyi: Be Like Ruben! (lebih tepatnya: “look at Rubens, draw inspiration from Rubens, copy Rubens. Rubens was God”) (Tinterow, 2007). Delacroix dapat dikatakan maniak dalam segala hal terkait Ruben – termasuk gaya lukis yang diadopsinya. Kunjungan ini terjadi pada tahun 1856, dan pada tahun 1872, Manet menghasilkan seri lukisan berjudul “Four Philosophers” – judul yang juga digunakan oleh Ruben. Namun, alusi Manet tentang empat filsuf, sangat jauh dari gambaran filsuf dalam lukisan Ruben – bahkan mungkin jauh diluar bayangan Delacroix ketika ia menyarankan Be Like Ruben!. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah Four Philosophers (1611) karya Ruben yang merupakan potret diri Ruben bersama saudaranya, Philip; pemikir humanist Justus Lipsius; dan seorang pengacara bermana Joannes Woverius.

Peter Paul Ruben, The Four Philosophers, 1611

 

Siapapun akan sepakat, jika bukan karena kesamaan judul, hampir tidak ada jejak pengaruh Ruben dalam seri lukisan filsuf karya Manet (lihat pada gambar di bawah). Latar gelap dan penggambaran posturnya lebih menyerupai gaya pelukis Spanyol, Velazquez, yang memang menjadi salah satu referensi utama bagi Manet. Sebagai pembanding, berikut empat seri lukisan filsuf Manet Four Philosophers (1872):

Edouard Manet, The Absinthe Drinker (Four Philosophers Series), 1859

 

Edouard Manet, Beggar with a Duffle Coat (Four Philosophers Series), 1865-7

 

Edouard Manet, Beggar with Oyster (Four Philosophers Series), 1865-7

 

Edouard Manet, The Ragpicker (Four Philosophers Series), 1865-70

 

Melihat sekilas objek di atas, maka asumsi kedua sebagai upaya memahami interpretasi para filsuf karya Manet dapat diletakkan pada latar sosial Perancis kala itu. Gambaran Emile Zola nampaknya dapat membantu kita membangun imaji: “Old folk, in a like way, are good for nothing, and are only a source of expense, so the sooner they are out of the way the better. He himself had wished for his father’s death; and now if his children, in their turn, impatiently awaited his own, it neither surprised nor hurt him”. (The Soil, 1888).  Perancis pada abad 19 dihadapkan pada dua kondisi: era mabuk masal (great binge) dan masyarakat yang menua (aging society – bahkan Perancis kala itu dikenal sebagai negara ‘tertua’ di Eropa). Tiga dari para filsuf Manet dengan jelas mengindikasikan usia senja; sedangkan seorang lainnya berbagi bingkai dengan botol absinthe. Walaupun Napolein III berhasil menjadikan Paris kaya raya dari sistem kolonial dan modernisasi di berbagai bidang, pada kenyataannya tidak semua kalangan tersentuh kemewahan tersebut. Bahkan, Gottlieb (2019) menyatakan bahwa abad 19 adalah era keemasan bagi para pemulung (ragpicker) – salah satu objek dalam lukisan Manet – karena Paris dan kota besar lainnya dibanjiri (untuk pertama kalinya) produk makanan dan pakaian dari sumber yang jauh; konsekuensinya adalah banjir sampah berupa kemasan dan barang bekas tidak terpakai karena trend berubah dengan cepat. Satu simbol kemewahan tidak luput ditambahkan, yaitu tiram (oyster) yang berbagi bingkai dengan seorang pengemis. Tanpa harus mengeluarkan pernyataan secara eksplisit, siapapun dapat merasakan kemiskinan hadir disana.

Namun, alangkah naifnya kita jika meletakkan pembacaan perbedaan kelas ini melalui satu sumber semata (baca: perlawanan kelas). Karena nyatanya, Perancis abad 19 memiliki pandangan unik terkait kemiskinan: bahwa dari kemiskinan lahirlah kebijaksanaan. Konteks ini menjadi asumsi ketiga untuk pembacaan seri lukisan filsuf Manet. Jika memang Manet mendasarkan interpretasinya pada konteks ini (dan besar kemungkinannya, karena Velazquez–maestro yang menjadi referensi utama Manet–pun menganut pandangan serupa), maka bukan kebetulan bahwa pemulung, pemabuk, dan pengemis adalah representasi filsuf stoic era modern. Dengan kata lain, Manet memang mengikuti saran Delacroix untuk mengambil inspirasi dari Ruben–tapi ia lakukan dengan mengubah sudut pandang dan menghasilkan gambaran empat filsuf jalanan yang sesuai konteks jaman. Sehingga hadirlah para pemungut kebenaran yang menebar kebijakan diantara dua tegukan anggur.

 

Sumber Gambar: Wikipedia Commons
Sumber Bacaan:
Gottlieb, S. (2019). Ageing and Urban Refuse in Édouard Manet’s The Ragpicker. Nineteen Century Art Worldwide: Journal of Visual Culture, Vol. 18, Issue 2. 
Nochlin, L. (2018). Misère: The Visual Representation of Misery in the 19th Century. London: Thames and Hudson.
Tinterow, G. et al. (2007). Masterpieces of European Painting, 1800–1920, in the Metropolitan Museum of Art. New York: Metropolitan Museum of Art.

Leave a Comment