Dis(placing): Seni Jalanan Bagian 1

Keberadaan Seni Jalanan atau Street Art tentu bukan hal baru dalam ensiklopedi seni modern, bahkan jenis seni ini memiliki katalog tersendiri yang diisi jajaran artis kenamaan: mulai Jean-Michel Basquiat hingga (bomber yang terlampau sering disebut-sebut) Banksy. Sebagai sebuah gerakan, Seni Jalanan senantiasa melakukan gerilya guna “merobohkan” tembok-tembok galeri dan menempatkan seni di tengah-tengah masyarakat–atau dalam konsepsi metaruang Tim Cresswell (1992): dis(placing) galleries. Bersandingan dengan esensi tersebut, beberapa sifat lain melekat pada Seni Jalanan antara lain (Blanché, 2015): (1) tidak terikat permintaan (commission) ataupun ijin otoritas (self-authorized); (2) multi-performa (di dalamnya termasuk seni lukis, musik, instalasi, juga seni pertunjukkan); (3) sebagai bentuk seni ataupun anti-seni (anti-seni/anti-art: tindakan sporadis tanpa tujuan seni, namun [kemudian] dimaknai sebagai seni); (4) anti-konsumen (tidak ditujukan untuk diperjual belikan); dan (5) memiliki konteks lokasi (seni jalanan akan kehilangan konteksnya apabila dipindah tempatkan). Dalam segi pengistilahan, Reineke (dalam Blanché, 2015) menyebut Seni Jalanan sebagai Post-Graffiti untuk membedakannya dengan seni Graffiti yang menitikberatkan pada penggunaan kata dan tulisan. Mengacu pada sifat-sifat di atas dan posisi krusial Seni Jalanan sebagai salah satu representasi geografis budaya (ditambah preferensi dan keisengan penulis), maka beberapa tulisan ke depan akan didedikasikan untuk mengulas karya para seniman jalanan dan berbagai aspek diseputarnya. Seni Jalanan sendiri mulai mengemuka di era 1970-1980an paska booming graffiti yang melanda New York satu dekade sebelumnya–walaupun demikian, embrionya dapat ditelusur hingga gerakan Dadaisme dan Futurisme di awal abad 20. Di antara jajaran awal seniman yang mengusung kebebasan radikal, terdapat seorang Keith Haring, sang epitome seni bawah tanah New York. Sepak terjangnya dijadikan pembuka (seri bertema Seni Jalanan ini) dengan dua alasan utama: (1) iconology dua kutub (primitif dan modern) membuat karya Haring senantiasa melekat dalam ingatan; dan (2) kekuatan narasi “bahasa visual” (visual language) yang berbicara tanpa kata dan tulisan. Selain itu, positioning atau penempatan karya juga menjadi faktor penentu sebagaimana Haring mengubah papan-papan iklan di jalur kereta bawah tanah (subway) New York menjadi kanvas kreativitas tanpa sekat hanya dengan latar hitam dan sebatang kapur. Aktivitas seni illegal yang dilakukan pada awal karirnya ini (kisaran 1980-1981) telah menghantarkan Haring menjadi seniman terkemuka sekaligus buronan dengan tuduhan subversivisme dan vandalisme. Posisi pertama menempatkan Haring sejajar dengan seniman Pop Art juga Urban Art seperti Andy Warhol atau Richard Hamilton. Adapun posisi kedua memberinya tempat istimewa sebagai seniman yang merajai pinggiran rel kehidupan urban: senantiasa berjejalan di antara himpitan gedung dan lorong, mencoba menarik perhatian publik melalui bombardir coretan artistik dengan eksposisi yang menantang indra–atau dikenal dengan istilah discourse of disorder (diskursus gangguan). Alhasil, walaupun telah memiliki karya mentereng yang dipajang di berbagai galeri di seantero dunia, visi kesenimanan Haring tetap berada pada barisan seniman jalanan. Dalam jurnalnya, Haring mengungkap: “Art is for everybody. To think that they—the public—do not appreciate art because they don’t understand it, and to continue to make art that they don’t understand and therefore become alienated from, may mean that the artist is the”. Ide ini secara konsisten disuarakan oleh Haring sepanjang kariernya dan menjadi semacam manifesto bagi Seni Jalanan yang berkembang setelahnya. Tanpa panjang lebar, mari kita nikmati saja karya Haring: sebuah percobaan sang seniman dengan jalanan sebagai laboratoriumnya dan bahasa visual sebagai ramuannya.

This is my message.
The medium is unimportant.
It is art as I know it.
It is life as I know it.

Seni Jalanan Keith Haring



Sumber Gambar: Haring, K. 1984. Art in Transit. Harmony Books.
Sumber Bacaan:
Blanché, U. 2015. Street Art and Related Terms–Discussion and Working Definition. SAUC – Journal Vol. 1, No. 1, hal: 32-39.
Creswell, T. 1992. The Crucial ‘Where’ of Graffiti: A Geographical Analysis of Reactions to Graffiti in New York. Environment and Planning D: Society and Space, Vol. 10, hal: 329-344.
Haring, K. 2010. Keith Haring Journals. Penguins.

Share on:

Leave a Comment