Review Bebal Sejarah

Bebal Sejarah

-

Sebagai individu yang menikmati sejarah sebagai hiburan pergulatan antar bangsa dan tumbuh-matinya suatu kebudayaan semata, saya pernah dibenturkan dengan suatu pertanyaan mendasar dari diri saya sendiri berupa “Untuk apa sih belajar sejarah?”. Hal, ini cukup lama mengganggu tidur nyenyak pikiran saya, karena saya sering berinteraksi di lingkungan sains alam yang cenderung praktis dan simplisitis dalam analisis. Namun, kegunaan mempelajari sejarah akhirnya berhasil disingkapkan oleh dua penulis yaitu satiris asal inggris George Orwell yang terkenal dengan “ramalan” fenomenalnya 1984 dan seorang pakar sejarah lingkungan Jared Diamond melalui bukunya Collapse.

Dalam imaji distopia Orwell, 1984, berlatar negara Oceania pada tahun 1984 yang dikuasai partai Sosing (Sosialisme Inggris) dan dipimpin seorang diktator represif bernama Bung Besar. Cerita berpusat pada kehidupan figur utama bernama Winston sebagai anggota partai sekaligus pemberontak (yang gagal). Dalam novel ini dikisahkan bagaimana negara berkuasa mutlak atas rakyatnya, sehingga privasi hanyalah mitos belaka karena rakyat diawasi 24 jam oleh negara – dan negara dapat menulis ulang sejarah juga propaganda melalui “Kementerian Kebenaran”. Sebagai contoh, ketika Bung Besar membuat suatu prediksi, yang kemudian meleset, Kementerian Kebenaran merevisi prediksi Bung Besar dalam propagandanya dan membuatnya diterima oleh masyarakat. Sisi paling kejam dari imaji dystopia Orwell adalah jika ada individu yang menolak propaganda tersebut secara terang-terangan atau bergelagat menentang partai, individu tersebut akan “diuapkan” (dihilangkan dalam artian ia tidak pernah ada dalam sejarah).

Lain dengan Orwell, yang menceritakan “penghilangan” manusia dalam sejarah, Collapse karya Jared Diamond menceritakan tentang hilangnya peradaban manusia dalam sejarah – sebagai hasil dari konflik, baik konflik antar ras ataupun konflik antara manusia dengan alam. Dalam salah satu bagian bukunya yang berjudul Akhir Nors di Tanah Hijau, Diamond menceritakan bagaimana bangsa Nors yang merupakan imigran dari Norwegia musnah di Tanah Hijau (Greenland) yang diakibatkan oleh lima faktor utama: (1) Pengaruh orang-orang Nors terhadap lingkungan seperti banyaknya pohon yang ditebang, (2) iklim Tanah Hijau yang berubah yang mempengaruhi pertumbuhan jerami untuk pakan ternak, (3) menurunnya kontak bersahabat dengan Norwegia sebagai negara asal, (4) permusuhan dengan orang-orang Inuit yang secara teknologi lebih baik, dan (5) pandangan orang-orang Nors yang konservatif seperti eropasentrik dalam budaya berpakaian yang kurang cocok dengan iklim Tanah Hijau juga memiliki  komunalitas yang dibarengi sifat kejam sehingga menyebabkan saling membunuh. Alhasil, sejarah menyaksikan hilangnya sebuah peradaban.

Lalu, apa yang dapat diperoleh dari kedua penulis tersebut tentang Sejarah? Dalam karya Orwell, kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa suatu masyarakat yang hanya menerima doktrin dan kurang kritis terhadap sejarah akan menjadi budak golongan penindas, yang disimbolkan oleh Partai Sosing. Sedangkan dalam karya Jared Diamond, kita dibenturkan dalam suatu peradaban yang hilang akibat perilaku mereka sendiri dan lingkungan eksternal yang merusak peradaban tersebut.

Ironinya, kedua hal di atas justru kembali terulang bahkan ruang kerusakan dan penindasan semakin membesar dengan adanya dunia maya yang memperluas penyebarannya, sehingga pernyataan nothing new under the sun cukup relevan untuk mewakili kebebalan (manusia) terhadap sejarah.

Referensi :
Diamond, Jared. 2014. Collapse (terj.). Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).
Orwell, George. 2014. 1984 (terj.). Yogyakarta : Bentang Pustaka.

Sumber gambarusvsth3m

Bebal Sejarah 1 kegunaan mempelajari sejarah
Alfy Taufiq
Ikan Salmon Hipster dan Pecandu Buku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Cerpen Rudyard Kipling: Kisah-kisah Datar dari Perbukitan

Rudyard Kipling memulai karir sebagai penulis cerita pendek lewat kumpulan karya berjudul Plain Tales from the Hills yang saya...

Repertoire Nina Simone: Mr. Backlash, Just Who Do You Think I am?

I never really got over that jolt of racism–Nina Simone Penolakan Curtis Institute of Music, Philadelphia atas aplikasi Eunice Kathleen...

Dokumentasi Kebudayaan Nusantara: Trance in Bali

Aneh. Namun pada suatu titik, keanehan berubah menjadi sebuah hal yang lumrah karena terulang secara konstan dan tidak ada...

Antara Vredens Dag dan Perfilman Indonesia (Negative Exceptionalism Part.II)

Tulisan ini merupakan sambungan dari apa yang telah dimulai beberapa waktu sebelumnya tentang pola penerimaan negatif yang seringkali dipertahankan...

Jejak Melquíades di Negeri tanpa Batas

Gabriel Garcia Marquez membuat sebuah lanskap magis bernama Macondo dalam novel terbaiknya: One Hundred Years of Solitude. Novel...

Dokumen(s) Hukum Tertua Dunia

Dekrit urukagina atau sering disebut sebagai Teks Reformasi Urukagina adalah sebuah dokumen hukum tertua dunia—setelah dekrit enmetena. Urukagina sendiri...

Must read

Migrasi Musik Gypsy

To not sleep twice in a same place, to...

Satir Jenius Swift dan Perjalanan Gulliver

Jonathan Swift adalah salah satu maestro satir paling jenius...

You might also likeRELATED
Recommended to you