Gambar Muka: Canestra di frutta, Caravaggio, c. 1599
Jika ada yang mampu merangkum segenap imaji kebusukan dalam sekeranjang buah, maka Caravaggio-lah orangnya. Tersebutlah lukisan bertajuk Canestra di frutta (Basket of Fruits), dilukis oleh sang maestro pada kisaran 1599, kini menjadi salah satu lukisan still-life paling populer: nampak sederhana, tapi…tidak juga. Genre satu ini, yang pada kisaran abad ke-16 berhasil menggeser dominasi alusi biblikal dari kanvas, digunakan oleh Caravaggio sebagai gugatan akan busuknya masyarakat, beserta ragam institusi di dalamnya.
Tidak seperti lukisan lain sang maestro yang terkenal menyajikan gaya teatrikal-religius sarat figur–mulai dari para malaikat dan santo, hingga penjudi dan bromcorah–dalam Canestra di frutta, Caravaggio hanya menawarkan sekeranjang buah-buahan, tidak lebih. Canestra di frutta bukanlah lukisan yang menghadirkan tatapan tajam–karena memang tidak ada sepasang mata pun di sana–, ia juga tidak mengarahkan makna dengan gestur dramatik. Sebaliknya, Canestra di frutta justru diam, hanya sebuah keranjang yang duduk di tepi bidang kanvas, menunggu waktu untuk membusuk bersamanya.
Para sejarawan seni lantas menyebut Canestra di frutta sebagai salah satu still-life pertama dalam sejarah seni Barat. Pada kisaran ini, Caravaggio mengamini para pelukis Flemish yang telah lebih dulu mendalami objek diam. Namun siapapun tahu: diam, tidak sama dengan ruang kosong. Mari kita simak apa yang disajikan Caravaggio. Buah-buahan dalam lukisan ini jauh dari kondisi segar yang memikat: apel mulai rusak, anggur tampak terlalu matang, beberapa daun mulai mengerut, isyarat pembusukan ada dimana-mana. Canestra di frutta bukanlah sebuah perayaan, melainkan potret ambang kehancuran. Momen sebelum segala sesuatu berubah menjadi tak bermakna.
Tapi justru karena Canestra di frutta memilih untuk diam dan tidak memberikan cerita, maka publik seni kala itu memberikan pembacaan versinya sendiri. Salah satunya mengacu pada kritik Caravaggio akan dominasi usang gereja di abad 16. Canestra di frutta disandingkan dengan keranjang buah “persembahan” dalam arti yang hampir religius–sebagaimana ditampilkan dalam alusi Caravaggio dalam The Supper at Emmaus. Namun kali ini, persembahan tidak lagi sakral, ia membusuk di tepian altar.
Selain itu, Canestra di frutta juga dipandang sebagai simbol kritik terhadap kemerosotan konsep keindahan; untuk pembacaan satu ini, para kritikus seni membandingkannya pada lukisan Caravaggio berjudul Boy with a Basket of Fruit, yang dilukis enam tahun sebelumnya. Keranjang yang sama, namun dengan tanda-tanda kebusukan dimana-mana.


Mari kita kembali ke kanvas Canestra di frutta. Posisi keranjang buah yang diletakkan terlalu dekat dengan tepi meja memunculkan simbolisme tersendiri. Secara visual, keranjang seakan-akan ditempatkan sebagai ancaman atas keseimbangan; sedikit saja dorongan, dan semuanya akan jatuh berantakan. Komposisi ini tentu saja bukan kebetulan, Spike (2001) bahkan mencatat kesaksian para pengamat seni yang menyatakan bahwa Caravaggio secara sadar menciptakan rasa tidak aman, sebuah ketegangan sublim yang membuat mata kita senantiasa waspada. Adapun pembacaan ikonografis (Potter, 2003) mengaitkan keranjang buah dengan simbol kebusukan moral yang eksplisit.
Dalam tradisi lukisan still-life sebelum Caravaggio, bentuk kerusakan semacam ini sering disamarkan. Swarzenski (1954) menjelaskan bahwa pada abad 16, genre still-life berada di persimpangan jalan: mencoba memisahkan diri dari gaya naturalisme saintifik ala Da Vinci dan Albrecht Dürer, dengan mengangkat keindahan ideal dari benda-benda natural. Buah-buahan, atau benda apapun yang ditampilkan, akan hadir dalam eksistensi yang ideal. Namun, Caravaggio melakukan sebaliknya. Ia tidak memperindah apapun, melukis sealamiah mungkin, laiknya kejujuran kejam yang menyingkap semua rahasia. Tentu saja kejujuran ini bukan tanpa risiko. Dalam konteks Roma akhir abad ke-16, ketidakidealan bisa dibaca sebagai kegagalan artistik, atau lebih buruk: ketidaksopanan. Dan memang, lukisan still-life Caravaggio kerap dipandang sebelah mata, genre murahan yang tak layak di pajang di rumah-rumah seni para patron kenamaan.
Pandangan di atas sejalan dengan gagasan tentang still-life Caravaggio yang sering dianggap sekunder dibanding karya religiusnya. Canestra di frutta seringkali dibaca sebagai latihan teknis semata, eksperimen awal, atau selingan. Namun anggapan ini mengabaikan dua poin penting. Pertama, terkait pernyataan sang maestro tentang versi lukisan terbaiknya (Baglione dalam Swarzenski, 1954): “kendi bunga berisi air di mana pantulan jendela dan bagian lain ruangan digambarkan dengan sangat baik dan tetesan embun pada bunga-bunga ditiru dengan sangat realistis dengan ketelitian yang luar biasa. Dan ini [Caravaggio] katakan adalah karya terbaik yang pernah ia buat“. Melalui karya still-lifenya, Caravaggio berhasil mengangkat genre ini ke tingkat yang lebih tinggi dan menciptakan tradisi dalam mengeksplorasi “kehidupan rahasia berbagai objek” (secret lives of objects) (Potter, 2003).
Kedua, Caravaggio adalah maestro dalam mengungkap kondisi alamiah manusia. Kondisi yang dapat hadir secara nyata baik dalam bentuk lukisan dengan alur tertentu, dramatisasi gelap dan cahaya, still-life, atau bahkan dalam bentuk coretan sekenanya. Poin kedua ini–tentang sifat alamiah manusia–memberikan sudut pandang dalam membaca lukisan still-life Caravaggio: bahwa realitas fisik dari objek (layaknya keranjang buah atau bunga pada lukisan Poppies in a Wine Flask) mengada dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, tidak berlebihan jika menyatakan bahwa lukisan still-life Caravaggio adalah alegori sifat manusia ketika ia mengada untuk dirinya sendiri, jujur dan telanjang–yang terkadang menyingkap cacat dan kebusukan.
L’esempio davanti del naturale. Lukisan terbaik hadir dihadapan kondisi yang paling alami.

Sumber Lukisan: Wikimedia Commons
Sumber Bacaan:
Swarzenski, H. (1954). Caravaggio and still life painting: Notes on a recent acquisition. Bulletin of the Museum of Fine Arts, 52(288), 22–38.
Spike, J. T. (2001). Caravaggio. New York: Abbeville Press.
Potter, P. (2003). Michelangelo Merisi da Caravaggio (1571–1610). Basket of Fruit (1596): Emerging Infectious Diseases, 9(12)

kontak via editor@antimateri.com





