Cabiria, seorang pelacur janggal dari pinggiran kota Roma diperankan dengan sangat baik oleh Giuletta Masina dalam film Le Notti di Cabiria (Nights of Cabiria (1957)). Film ini merupakan garapan Federico Fellini yang memenangkan Academy Award for Best Foreign Language Film setahun setelah film ini dibuat – Le Notti di Cabiria mengalahkan The Devil Came at Night (Jerman Barat),Gates of Paris (France), Mother India (India), dan Nine Lives (Norwegia) – semakin mengukuhkan gerakan neo-realisme khas italia sebagai salah satu teknik sinema paling jitu dalam mengangkat realita sosial ke dalam layar lebar. Dalam film ini, Cabiria adalah pahlawan, korban sekaligus antagonis yang babak belur melawan musuh terbesar dari realita: dirinya sendiri. Dan layaknya film neo-realism lain, Le Notti di Cabiria sama sekali tidak berakhir bahagia – tapi pada adegan terakhir, ketika Cabiria yang patah hati dan tertipu menangis tersedu diiringi musik ceria, sebuah perasaan aneh muncul: bahwa tragedi pada kenyataannya adalah hal yang biasa saja.

Le Notti di Cabiria: Prostitusi dan Letak Argumen Moral

Prostitute atau prostituta dalam bahasa latin memiliki arti menawarkan atau menjual secara terang-terangan. Kata tersebut – yang diserap menjadi prostitusi dalam tata (nilai) bahasa Indonesia – kemudian berkembang menjadi sebuah institusi tersendiri yang didalamnya terdapat hukum, aturan main, – dan yang terpenting, – memiliki letak (argumentasi) moral. Ia menjadi lawan dari institusi lain yang diagungkan oleh masyarakat, yaitu institusi perkawinan – yang diletakkan pada posisi moralitas tinggi – sehingga mau tidak mau, prostitusi berada pada tatanan moral paling bawah.

Seluruh bangun moralitas tersebutlah yang bersinggungan dengan Felini, sang sutradara, dalam penggarapan filmya – Ia kesulitan menemukan produser yang mau membiayai, karena siapa pun akan berpikir dua kali untuk membiayai sebuah film yang menampilkan seorang pelacur sebagai sosok pahlawan. Untuk alasan inilah kemudian ia menggandeng Pier Paolo Pasolini – penyair/sutradara/sosialist radikal – dalam pembuatan screenplay, dengan kesadaran penuh bahwa Pasolini dapat membuat tema pelacuran menjadi narasi pergulatan kelas tanpa menghilangkan keotentikannya. Kerjasama ini berakhir gemilang: mereka berhasil meyakinkan Dino De Laurentiis untuk membiayai filmnya dan mendapatkan Piala Oscar setahun kemudian.

Melalui kepiawaian Felini dan kekuaatan narasi Pasolini, kita disuguhi sebuah pertunjukan [realitas] para pelacur di pinggiran kota Roma. Setting ini didasarkan pada kenyataan bahwa Cabiria dan teman-temannya bukanlah pelacur kelas atas – karena untuk ‘beroperasi’ di Roma, diperlukan penampilan dengan biaya yang tidak murah – sehingga mereka kemudian hanya dapat berdiri di jalanan lengang sepanjang tepian sungai Tiber. Cabiria sendiri – seperti yang dikemukakan di muka – adalah seorang pelacur janggal baik dari segi karakter ataupun penampilan. Dari awal kita bisa langsung merasakan bahwa Cabiria adalah kontradiksi dari lingkungan dan profesinya – ia riang dan merasa terberkahi, religius dan penuh empati sosial – melalui penggambaran ini, Cabiria sama sekali tidak sesuai dengan nilai yang dilekatkan masyarakat pada diri seorang pelacur.   

Di luar seluk beluk moralitas dan ideologi, Le Notti di Cabiria merupakan sebuah satir ringan dengan humor yang tidak berlebihan. Dalam hal ini, Felini berkolaborasi dengan Giuletta Masina – istrinya sendiri – yang memerankan sosok Cabiria, dan berhasil membuat penonton tersenyum dengan tingkah polosnya. Cabiria begitu kampungan dengan cara yang sangat menggelikan – cara berjalan, pakaian dan tata rias dibuat untuk mendukung karakter tersebut – namun disaat yang sama bisa menjadi mirip santa yang penuh kebijaksanaan sekaligus. Rangkaian kekonyolan lantas menghantarkan Cabiria pada plot penuh penyangkalan ketika ia bertemu dengan sosok Oscar, pemuda yang memintanya untuk menikah – dan pada sepertiga akhir dari film, kita bisa melihat bagaimana Cabiria meyakinkan diri untuk tidak mempercayai Oscar dan menghindar dari kebaikannya, karena menurutnya lelaki yang mendekati seorang pelacur, hanya berniat mendapatkan uang – bukan menikahinya. Klimaks dari film ini adalah ketika Cabiria pada akhirnya menerima pinangan Oscar sebagai sebuah ‘kenyataan’, menjual rumahnya dan meninggalkan profesinya untuk selama-lamanya. Namun karena film ini adalah satir neo-realist italia, maka akhir cerita tidak lain dari potret kehidupan itu sendiri – kelam, tapi bukan berarti segalanya berakhir. Dan Oscar, pada akhirnya adalah apa yang ditakutkan oleh Cabiria, seseorang yang hanya mengincar uang dan menunggu waktu yang tepat untuk mendorongnya ke tepian jurang.

Pada akhir cerita, Cabiria tidak mati: [entah bagaimana] ia melanjutkan hidupnya. Melalui Le Notti di Cabiria, Felini seakan-akan membuat siklus realita itu sendiri, yaitu ketika sebuah lingkaran tragedi berakhir dan berlanjut ke lingkaran selanjutnya – menjadikan tragedi sebagai sesuatu yang biasa saja, bagian dari hidup yang bisa kita rayakan – asal kita tahu caranya.

Tendangan Jitu Felini

Le Notti di Cabiria adalah sebuah tendangan jitu Felini terhadap konstruksi bangun moral masyarakat – bersandingan dengan tendangan jitunya dalam dunia perfilman yang menghasilkan piala Oscar. Prostitusi yang diangkatnya tidak berada dalam ruang kosong – ia mengukuhkan argumen moral dan kritik sosial di dalamnya – karena jika saja film ini semata-mata hiburan belaka, maka Cabiria tidak akan [dibuat] terpakur khusyuk di depan Bunda Maria dan ia tidak akan [dibuat] berkeliaran malam hari membagikan makanan bagi para gelandangan di seantero Roma. Dalam hal ini, maka Le Notti di Cabiria telah memenuhi unsur utama neo-realisme Italia yaitu eksposisi kenyataan sosial yang mengarah pada komitmen politik [si pembuat film] dan gerakan progresif masyarakat. Dengan keahliannya dalam mengemas realitas sosial inilah, pada akhirnya Felini menjadi salah satu figur kunci gerakan neo-realisme italia bersama dengan Roberto Rossellini, Luchino Visconti, Vittorio De Sica, dan Giuseppe De Santis.

Adapun gagasan dari film ini menjadi tendangan jitu tersendiri bagi Pasolini – karena observasi tentang prostitusi yang dilakukannya dalam pembuatan screenplay, memberinya landasan awal bagi penggarapan film dokumenter Comizi D’Amore (Love Meetings) yang ia selesaikan pada tahun 1965. Film ini lantas menjadi dokumen penting dalam sejarah [seksualitas] Italia, karena didalamnya Pasolini berhasil memberikan eksplorasi menarik tentang pandangan dan perilaku seksualitas masyarakat italia yang dibedakan oleh garis kelas. Kesimpulan Pasolini dalam Comizi d’Amore, bersama dengan gambaran tragedi sosial dalam Le Notti di Cabiria, mengarah pada sebuah kesimpulan baru: bahwa tragedi dan ideologi adalah dua hal yang selalu berjalan beriringan – bahkan dalam kisah cinta sekalipun.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?