Pablo Picasso, Les Demoiselles d'Avignon (1907)

Tidak banyak yang saya tahu tentang Afrika. Benua itu terasa begitu jauh walaupun saya tinggal di Bandung – sebuah kota yang digadang-gadang sebagai ibukota bagi gerakan “Konferensi Asia-Afrika” yang bersejarah. Alhasil, ketika pertama kali diajak kawan baik saya, Hikmawan Saefullah, untuk ikut membantu dalam mata kuliah kajian Afrika yang ia ampu, kesan pertama saya adalah: astaga, saya harus ngomong apa di depan kelas nanti?. Dengan berbekal kenekatan dan sedikit literatur yang saya punya, dimulailah hari-hari saya membantu dalam pengembangan kajian Afrika di kampus tempat saya mengajar. Tanpa disangka-sangka, buku teks tentang Afrika (dari mulai politik, ekonomi, filsafat hingga estetika) sangat banyak jumlahnya. Dari sanalah kemudian saya perlahan mengenal benua tersebut, bukan hanya dari sudut ruang geografis, sisi politis ataupun sejarahnya, tapi juga dalam gerak budaya dan tradisi yang menghidupkannya. Lambat laun, Afrika bukan lagi sepenggal ucapan dalam kartu pos dari ujung dunia, tapi menjelma layaknya puisi dari seorang kawan – akrab dan banyak bercerita.

Namun, untuk mengatakan bahwa saya sepenuhnya telah memahami berbagai konteks terkait benua tersebut adalah mustahil. Menginjakkan kaki saja disana belum pernah apalagi mampu menguasai bebagai bahasa asli penduduk disana (karena bagaimanapun saya percaya bahasa adalah kunci utama bagi pemahaman budaya). Untuk menjembatani jarak budaya ini, saya hanya bisa mengandalkan senjata rahasia penstudi manapun yang memiliki keterasingan dari objek kajinya, yaitu: imajinasi. Terdapat sebuah tips dalam membangun imajinasi ini. Saya mendapatkannya ketika tengah membaca karya Ufl Hannerz (2006) berjudul Two Face of Cosmopolitanism: Cultural and Politics. Ia menyatakan bahwa mustahil seseorang mampu mendalami secara utuh sebuah budaya di luar dirinya – seperti gambaran Betrand Russel tentang citarasa keju yang akan berbeda dalam setiap penterjemahan bahasa, begitu pula dengan budaya dan tradisi yang pada dasarnya membentuk kerangkeng imajiner dalam setiap kepala manusia. Sehingga, untuk sedikitnya meminimalisir hambatan pemahaman tersebut, Hannerz menyarankan dua bentuk upaya interpretasi budaya: yaitu penyerahan diri (surrender) dan penguasaan (mastery). Budaya lain selalu menghadirkan keterasingan, sehingga seorang pengkaji budaya harus menyerah pada budaya yang dikaji dan menghilangkan keangkuhan budaya asalnya. Tapi di saat yang sama, ia juga harus memiliki keahlian untuk menguasai budaya baru tersebut untuk mampu memahami gerak pikir masyarakat setempat. Tanpa dua karakter ini, seseorang akan semakin terasing dari budaya yang ia geluti.

Lucunya, pemahaman tentang bagaimana seseorang berhasil melakukan penyerahan diri (surrender) dan penguasaan (mastery) terhadap seni dan budaya Afrika, tidak saya temui dalam bentuk kajian akademis, melainkan tergambar ketika melihat dua lukisan terkenal karya maestro dunia: “Les Demoiselles d’Avignon” (1907) karya Pablo Picasso dan “Flexible” (1984) karya Jean-Michel Basquiat. Picasso adalah seorang eropa tulen, sedangkan Basquiat walaupun memiliki akar leluhur dari Pantai Gading, namun ia lahir dan dibesarkan di New York. Alasan keduanya berpaling pada seni tribal Afrika sangat jauh berbeda. Picasso berjalan mengikuti muse yang hadir dalam bentuk seni patung Afrika, yang pada awal abad 20 mulai banyak dipajang di museum-museum seantero Perancis. Selama dua tahun (antara 1907 hingga 1909), Picasso menggeluti seni Afrika hingga hadirlah perspektif baru yang dikenal dengan istilah kubisme. Lukisan Les Demoiselles d’Avignon kemudian dikenal sebagai karya awal dari fase kubisme Picasso. Melalui penyerahan diri pada dua muse berwujud perempuan Africa di sebelah kanan lukisan (lihat gambar muka), lukisan Picasso disebut-sebut sebagai jembatan yang meghubungkan antara seni tribalisme dengan gagasan modern.

Sedangkan Basquiat menggeluti seni Africa dari sisi yang lebih erat dengan pergerakkan politik. Melalui lukisan-lukisannya yang kerap menampilkan interpretasi tentang seni Afrika, ia membuat pernyataan penting tentang pergulatan identitas diaspora yang menolak untuk tunduk pada amnesia akar budaya. Bersandingan dengan lukisannya, Basquiat membuat kolase dan film dokumenter tentang sejarah dan budaya Afrika yang ia tampilkan di berbagai ruang pameran New York dengan nama “SAMO” (salah satunya adalah film dokumenter berjudul Repel to Ghost yang dibuat dua tahun sebelum ia meninggal). Melalui penguasaan Basquiat akan katalog estetika Afrika, seni tribal menjadi salah satu pengaruh kuat dalam lukisan kontemporer, sekaligus menjadi juru bicara bagi identitas yang memiliki suara samar dalam etalase hegemoni budaya.

Jean-Michel Basquiat, Flexible (1984)
Jean-Michel Basquiat, King Alphonso (1983)

Metode lain untuk mengembangkan imajinasi saya tentang Afrika adalah melalui kajian estetika dari sudut literatur – karena bagaimanapun, estetika adalah kanal yang kita telusur untuk mengenali emosi sebuah bangsa atau budaya. Untuk itu, saya mengakrabkan diri dengan brbagai literatur sebagai jalan dalam memahami khasanah budaya Afrika. Untungnya hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil mengingat Afrika memiliki banyak afrikanist[1] yang berasal dari kalangan Afrika sendiri yang memberi sumbangsih luas pada sejarah, filsafat, psikologi sosial, kesusastraan hingga pendidikan. Hal ini nyata-nyata bersebrangan dengan pandangan umum bahwa Afrika adalah kumpulan negara terbelakang. Melalui kekayaan literasi, Afrika berbicara dengan suaranya sendiri – dan bukan suara sumbang yang datang dari luar.

Franz Fanon adalah salah satu afrikanist paling berpengaruh yang mendobrak gagasan tentang inferioritas ras negroid dan salah satu peletak kajian awal tentang post-kolonial. Fanon merupakan seorang psikolog yang aktif dalam gerakan pan-afrikanisme[2]. Ia menguraikan dampak psikologi sosial dalam konstruksi rassisme yang dituangkan dalam Black Skin, White Mask (1952), juga menentang logika kekerasan negara kolonial yang menghancurkan peradaban manusia melalui bukunya The Wretched of the Earth (1961). Pemikiran tajam Fanon tentang kekerasan dan rasisme berhasil mendobrak batasan ras, sehingga dukungan atas kemerdekaan Afrika bukan hanya disuarakan oleh masyarakat Afrika, tapi juga kalangan intelektual Barat yang kemudian memberikan dukungan nyata bagi gerakan anti-kolonial. Jean Paul Sartre, sang filsuf Perancis termashur adalah salah satu tokoh yang mendukung gagasan-gagasam Fanon. Ia bahkan menulis kata pengantar untuk The Wretched of the Earth, menyebabkan buku tersebut semakin dikenal luas dikalangan intelektual dan publik Barat saat itu. Suara kritis Fanon tentang kolonialisme menjadi salah satu referensi untuk memahami rasisme dari sudut pandang Afrika. Melalui buku-bukunya, kita dapat melihat bahwa Afrika bukanlah bangsa yang pasif dalam menghadapi penjajahan – dan kemarahan Fanon mewakili suara bangsa yang diperlakukan secara sewenang-wenang di bawah kolonialisme.

Bersandingan dengan Fanon, kita menemukan Okot p’Bitek – seorang  penyair asal Uganda – yang juga memendam kemarahan meluap-luap terhadap kolonialisme. Pandangan-pandangan p’Bitek terangkum dalam berbagai antologi puisi (salah satu yang terkenal adalah Song of Lawino[3]) yang secara mendalam menyoroti bagaimana kolonialisme telah merusak tatanan sosial di Afrika. Sikap kritis Afrika terhadap pendidikan Barat tergambar dalam bait puisi berjudul Rumah Suamiku adalah Hutan Buku yang Seram sebagai berikut (p’Bitek, 1988: 123):

Suamiku telah membaca banyak

Bacaannya luas dan dalam,

Ia dikenal di kalangan kulit putih

Dan ia pandai seperti kulit putih,

Dan bacaan itu

Telah membunuh lelakiku,

Dalam adat rakyatnya,

Ia telah menjadi tunggul kayu.

Penggalan puisi di atas menggambarkan sebuah kesadaran budaya yang mendalam. Memang benar bahwa kolonialisme melalui berbagai cara berupaya membungkam ketajaman berpikir masyarakat Afrika (terutama dengan memberi pendidikan yang hanya terbatas pada keterampilan pertukangan) – namun budaya Afrika, dengan caranya sendiri mampu memberikan resistensi yang kuat. Contoh lain tercantum dalam antologi Song of Ocol, melalui puisi berjudul “Tak Ada Waktu yang Tertentu untuk Menyusui” (1988: 47-61), p’Bitek menggambarkan perbedaan mendasar tentang waktu dengan konsepsi waktu. Hal ini menjawab pandangan binner negara Barat yang memandang bahwa Afrika terpuruk karena malas. p’Bitek mengungkapkan melalui puisinya: ketika matahari terbit, ada tanda-tanda keracunan dari sengatannya yang menyakitkan bagi punggung lelaki yang sedang mencangkul dan wanita yang mencabut benih. Dalam konteks ini, masyarakat Afrika tidak mengenal waktu kerja yang ajeg sebagaimana masyarakat Eropa yang memandang waktu secara sistematis – masyarakat Afrika bekerja “bergantian dengan matahari”, sebuah bentuk adaptasi alamiah yang memunculkan kebiasaan. Namun, ketika pada Afrikanist dari dataran Eropa datang (dengan beban etnosentrisme di kepalanya), mereka lantas menulis bahwa bangsa Afrika adalah bangsa yang malas dan tidak berkemauan. Melalui ketajaman puisi-puisinya, Okot p’Bitek mampu memberikan pemahaman atas kondisi sosial kultural Afrika. Puisi p’Bitek menjadi penting karena melalui pemahaman sosial kultural inilah, seorang pengkaji Afrika dapat menjalin dialog terbuka dengan kajiannya.

Afrikanist lain yang tidak kalah kuat dalam membangun pengetahuan tentang Afrika adalah Chinua Achebe. Ia dikenal sebagai Father of African Literature atas kualitas estetika karyanya dan juga pengaruhnya pada sastra Afrika dan dunia. Achebe berasal dari Nigeria, namun kepiawaiannya dalam tata bahasa telah mengantarkannya sebagai Professor Bahasa dan Sastra di Bard College, New York. Things Fall Apart (1957), No Longer at Ease (1960) dan Arrow of God (1964) adalah karya monumental Achebe tentang kritik terhadap kolonialisme. Karya Achebe lainnya, yaitu Anthill of the Savannah (1987), memberikan gambaran kondisi Afrika paska dekolonialisasi yang menjadi referensi tentang konflik politik yang terjadi di Afrika. Novel ini menekankan pada keterhubungan sejarah politik Afrika (sebelum, selama dan setelah masa kelonialisme). Di dalamnya Achebe mengangkat berbagai mitos, yang pada masyarakat Afrika memiliki fungsi vital dalam pembentukkan realita sosial politik. Berikut salah satu kutipan dalam Anthill of the Savannah (Achebe, 1987: 75):

“…only the story can continue beyond the war and the warrior. It is the story that outlives the sound of war-drums and the exploits of brave fighters. It is the story…that saves our progeny from blundering like blind beggars into the spikes of the cactus fence. The story is our escort; without it, we are blind. Does the blind man own his escort? No, neither do we the story; rather it is the story that owns us and directs us.”  

Bagi Achebe, transisi Afrika kedalam dunia modern paska kolonial, seharusnya tidak meninggalkan sejarah – karena sejauh apapun waktu melaju, ia adalah anak dari masa lalu. Dan sebagaimana digambarkan dalam Anthill of the Savannah, salah satu cara untuk tetap berhubungan dalam masa lalu adalah melalui cerita yang diturunkan dari masa ke masa. Pandangan ini menjadi jawaban Achebe atas upaya Afrika untuk menemukan kembali identitasnya setelah mendapatkan kemerdekaan. Ketika sebagian politisi berpaling pada ideologi asing, maka Achebe mengusung pemaknaan kembali identitas nasional dan kultural dengan menggali berbagai tradisi tua Afrika. Pemikiran ini kemudian menjadi dasar gerakan pan-afrikanisme paska kolonial dan menjadi semangat yang dijaga dalam pembentukan identitas regional melalui Uni Afrika – sekaligus menjawab pesimisme kajian Afrika yang menyebutkan bahwa identitas Afrika paska kemerdekaan adalah identitas tanpa arah.

Achebe, p’Bitek dan Fanon adalah patron literatur Afrika yang dapat mengusir pandangan pesimisme dan kekakuan pembahasan tentang Afrika. Selain melalui literatur dan karya lukis yang dikemukakan di atas, keterbukaan interpretasi juga dapat dilakukan melalui pendalaman tentang musik yang menjadi bagian penting bagi masyarakat Afrika. Miriam Makeba adalah salah satu musisi Afrika yang berhasil mencuri pandangan dunia melalui lagu dan liriknya, selain itu juga terdapat Fela Kuti (Nigeria) dan Youssou N’Dour (Senegal) yang mampu menembus pasar musik Eropa dan mewakili suara Afrika. Juga tidak lupa kajian tentang musik Blues yang lahir dari (rintihan) perbudakan. Dengan terbukanya ruang budaya Afrika melalui sastra dan musik, masyarakat luas akan mampu melihat Afrika melampaui berbagai batasan imajiner yang ada. Karena bagaimanapun, kekuatan Afrika terletak pada kekayaan budaya, filsafat dan sastranya. Sehingga apabila kajian hanya didasarkan pada penelitian empirik semata, maka sebanyak apapun angka disajikan, tidak akan mampu menyentuh imajinasi akan kedalaman dimensi budaya Afrika.

Keterangan 

[1] Istilah untuk pengkaji Afrika

[2] Solidaritas antar sesama keturunan Afrika

[3] Diterjemahkan kedalam bahasa indonesia menjadi “Afrika yang Resah” ( Yayasan Obor, 1988)

Sumber

Achebe, Chinua, 1987. Anthills of the Savannah. London: Heinemann

Fanon, Franz. 1952. Black Skin, White Mask. New York: Grove Press

___________.1961. The Wretched of the Earth. New York: Grove Press

Hannerz, Ulf. 2006. Two Face of Cosmopolitanism: Cultural and Politics. Barcelona: Dinámicas Interculturales

p’Bitek, Okot. 1988. Afrika yang Resah: Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?