(Oleh: Imam M)

Georges Méliès – yang memiliki nama lengkap Maries Georges Jean Méliès – merupakan nama dengan trademark tersendiri dalam dunia perfilman – ia adalah sinematografer, sutradara sekaligus perintis berbagai teknik baru dalam pengembangan film. Méliès lahir pada tanggal 8 December 1861 di kota Paris, jantung kebudayaan Perancis dari seorang pengusaha kaya dalam bidang perusahaan sepatu. Keluarganya memang tidak bersentuhan langsung dengan dunia seni, khususnya perfilman, namun perjalanan Méliès menuju karir sinematografinya mulai terbangun ketika ia menjadi seorang kartunis dalam jurnal satir La Griffe, setelah ia menuntaskan masa wajib militernya selama tiga tahun pada awal 1880. Pada tahun 1884, orang tuanya mengirimkan Méliès ke London untuk belajar tentang bahasa dan sastra Inggris. Dan disinilah ia menemukan hasrat dan minat terbesarnya dalam dunia pertunjukan sulap – karena selain belajar, ia kerap mengunjungi teater-teater atau tempat pertunjukan sulap London diantaranya Maskelyne and Cooke’s dan The Egyptian Hall, dengan Jhon Nevil Maskelyne, seorang pesulap asal Inggris, yang menjadi idolanya. Diawali dengan hasrat dan kekagumannya terhadap sulaplah, akhirnya kita bertemu Méliès, sang sineas yang “menyulap” film, menjadi sebuah karya seni yang mengangumkan.

Méliès membuat film pertamanya pada tahun 1896, saat itu ia berusia 34 tahun. Melalui karyanya, ia mengembangkan teknik-teknik khusus dan alur cerita kuat yang sangat berpengaruh pada awal era perfilman. Teknik yang sangat khas dan sering Méliès gunakan dalam film-filmnya adalah teknik stop motion, yaitu penghentian suatu gambar untuk memungkinkan perubahan, atau menghadirkan/menghilangkan sebuah objek, dalam sekejap mata. Selain itu, diperkenalkannya pula teknik multiple exposures, sebuah teknik penggabungan dua gambar atau lebih dalam satu frame yang kerap digunakan dalam film-filmnya. Melalui teknik-tekniknya tersebut, dengan sekejap mata Méliès mampu mengubah suatu realitas [dalam film] menjadi hal lain yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya – dengan kekuatan teknik, alur cerita dan kekuatan “sulapnya”, Méliès mencoba menampilkan alternatif berbeda pada sebuah bangun film yang saat itu berkiblat pada alur realis dan naturalis.

Untuk mendobrak alur cerita populer yang ada saat itu – realis dan naturalis –, Méliès melakukan banyak sekali eksplorasi ide cerita, hal ini dapat dilihat dari beragamnya tema yang diangkat Méliès melalui filmnya: mulai dari kegiatan sehari-hari hingga aksi sulap di panggung. Film-film awal Méliès, diantaranya Partie De Cartes (Card Parties, 1896), menceritakan cerita yang sederhana tentang tiga orang laki-laki yang sedang bermain kartu di sebuah halaman rumah ditambah seorang pembantu perempuan yang mengantarkan minuman disela-sela permainan kartu mereka. Film yang berdurasi sekitar satu menit tersebut hanya menampilkan kejadian itu saja, namun memberikan sudut pandang baru dalam teknik perfilman. Film Partie De Cartes (1896) karya Méliès, bersama La Sortie de l’usine (Workers Leaving the Lumière Factory, 1895) karya Louis Lumiere menjadi pionir dalam teknik pengambilan gambar satu sudut.

Jenis film yang menjadi ciri khas Méliès adalah film yang menampilkan aksi seorang aktor diatas panggung lengkap dengan semua dekorasi yang ada. Aktor tersebut melakukan aksi sulap atau ilusi yang rumit, contohnya dalam filmnya yang berjudul Un Homme de têtes (The Four Troublesome Heads, 1898) ketika seseorang beraksi dengan memisahkan kepalanya dan menaruhnya di atas meja. Namun, walaupun adegan yang ditampilkan cukup mengerikan (untuk ukuran saat itu), nuansa yang dibangun Méliès dalam film-filmnya tetap merupakan komedi – hal tersebut dapat dilihat dari musik pengiring yang dipilih serta mimik yang dibangun oleh para aktor. Melalui teknik panggung inilah, maka dikenal jenis film stage performance, dimana aktor yang bermain terlihat melakukan aksi diatas panggung, berinteraksi dengan kamera yang seakan-akan kamera tersebut adalah para penontonnya.

 

Méliès, Fantasi dan Bulan

Fantasi Méliès dalam film-filmnya terlihat sangat menembus batas rasio saat itu. Dalam filmnya yang cukup terkenal berjudul A Trip to The Moon (1902), Méliès mencoba mengungkapkan pandangannya melalui film bahwa bulan adalah sebuah tempat yang bisa ditinggali oleh manusia – ada oksigen untuk bernafas dengan berbagai mahluk lain yang tinggal disana. Sebelum film A Trip To The Moon (1902), Méliès membuat film berjudul La Lune A Un Metre (The Astronomer’s Dream, 1898). Ide utama dalam film ini masih bertemakan tentang bulan. Dalam film ini bulan memiliki mata dan mulut layaknya kepala manusia,  sang Astronom tampak kewalahan untuk mempertahankan dirinya dari serangan bulan yang melahap barang-barang di ruangannya. Dengan imanijasinya tersebut, layaklah kiranya jika Méliès dinyatakan sebagai sutradara pertama genre film Science Fiction.

Dalam film-film lainnya pun fantasi seorang Méliès tetap liar. Seperti dalam Le Cauchemar (A Nightmare, 1896), film tersebut menceritakan tentang seseorang yang bermimpi buruk, yang ditengah mimpinya ia diolok-olok, lagi-lagi oleh bulan.

Film lainnya L’Auberge Ensorcellée (The Bewitched Inn, 1897) menceritakan seorang pria yang menginap disebuah kamar penginapan. Banyak kejadian aneh yang ia alami ketika baru saja masuk ke dalam ruangan kamar tersebut, mulai dari barang-barangnya yang hilang secara seketikadan juga benda-benda yang bergerak dan terbang dengan sendirinya. Puncaknya adalah ketika ia pasrah melihat pakaian yang digantungnya melayang terbang dan ia pun memilih berbaring di kasurnya, namun seketika itu kasurnya menghilang dan ia terjatuh. Melalui film-film fantasinya inilah, pada akhirnya Méliès menapakkan kepiawaiannya sebagai seorang sineas ulung.

Méliès dan Film Rekonstruksi Sejarah

Pada tahun 1898, Méliès membuat film berjudul Panorama Pris D’un Train En Marche (Panorama from Top of a Moving Train), film ini menurut saya memiliki gagasan yang cukup sederhana, namun untuk memproduksi film ini bukanlah perkara mudah. Dalam film ini Méliès memperlihatkan pemandangan sebuah kota yang dilalui oleh kereta api, namun kekuatan (sudut) kamera yang merekam panorama alam daru atas atap kereta yang berjalanlah yang memberikan kesan tersendiri bagi saya.

Satu tahun berselang, Méliès membuat film tentang kisah penangkapan Alfred Dreyfus, film ini pada akhirnya memberi pengaruh karena kekuatannya merekonstruksi sejarah. Alfred Dreyfus merupakan seorang Perwira Prancis yang ditahan karena tuduhan pengkhianatan oleh komandannya. Méliès mengisahkan bagaimana Dreyfus  ditangkap, ditahan, hingga bertemu dengan istrinya di Rennes. Saat pemutaran film, perkelahian pun terjadi antara orang-orang yang berbeda pandangan sehingga pada akhirnya Polisi melarang pemutaran bagian akhir dari film seri Dreyfus tersebut yang berjudul Dreyfus allant du lycée de Rennes à la prison (Dreyfus Leaving the Lycée for Jail).

Perlawanan Méliès

Walaupun memiliki pengaruh yang sangat luas, karier Méliès yang gemilang ternyata tidak berlangsung selamanya – konflik dengan Motion Picture Patents Company membuat ia harus terasing dari rekan-rekannya di dunia perfilman. Ia menyatakan diri keluar dari lembaga tersebut karena dinilai cukup merugikan dirinya. Motion Picture Patents Company sendiri digagas oleh Thomas Edison pada tahun 1908, yaitu sebuah lembaga yang berfungsi untuk mengontrol perindustrian film di Amerika Serikat dan Eropa. Perusahaan-perusahaan yang bergabung dengan lembaga ini diantaranya adalah, Edison, Biograph, Vitagraph, Essanay, Selig, Lubin, Kalem, American Pathe dan Méliès Star Film Company. Edison berperan sebagai Presiden kolektif dari lembaga ini. Ada kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh anggota lembaga ini, dan Méliès tidak menyukai hal itu, karena ia beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Edison adalah tindakan monopoli.

Pada tahun 1909 Méliès memimpin sebuah kongres perfilman di Paris yang dikenal dengan International Filmmakers Congress. Dalam kongres tersebut secara jelas Méliès menyatakan perlawanan terhadap lembaga yang dipimpin oleh Edison dengan menyatakan kesepakatan untuk tidak menjual film kepada lembaga, – film hanya dapat disewakan saja untuk para anggota organisasi tersebut selama beberapa waktu. Dalam kongres ini pula Méliès menyatakan: “I am not a corporation, I am an independent producer”. International Filmmakers Congress bukanlah akhir dari karir seorang Méliès namun merupakan awal dari perlawanan panjang nan berliku yang ditempuh Méliès hingga akhir karir nya – sebuah perlawanan yang membawa seorang maestro film menjadi seorang pedagang permen di pojok Stasiun Montparnasse, Paris. Méliès dan perjalanan berlikunya inilah yang akan saya sampaikan pada tulisan selanjutnya (bersambung).

Sumber :

  1. Wakeman, John, World Film Directors : Volume 1, 1890-1945, New York : The H.W. Wilson Company
  2. Historical Dictionary of French – Dayna Oscherwitz& Maryellen Higgins

Sumber Gambar: http://www.npr.org/2011/11/18/142508464/cabret

*Tulisan ini diedit seperlunya oleh tim redaksi tanpa mengubah konten

 

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?