GIG REVIEW: ‘REFUSED AREN’T FUCKING DEAD’

Front Cover Album Refused ‘Freedom’ (2015)

Saat itu saya terperanjat dari tempat tidur menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 7.49 malam. Saya langsung mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi membilas badan saya yang basah oleh keringat yang mengucur karena suhu panas kota Perth yang saat itu mencapai 42 derajat celcius. Setelah mandi dan berpakaian, saya bergegas berangkat ke klub malam Metropolis di Fremantle, tempat dimana band Hardcore punk dari Swedia Refused akan tampil malam itu. Menurut informasi dalam tiket, pintu gerbang dibuka kam 7.30 malam, tapi perasaan saya mengatakan lain ketika saya datang kesana pukul 8 lewat dikit. Tidak ada suara berisik apapun dari dalam klub. Saya tanya pihak sekuriti mengenai kapan Refused mulai maen.  Dalam bahasa Inggris dengan aksen Australia yang kental, personil sekuriti klub Metropolis bilang ke saya, ‘Biasanya bintang tamu utama main pukul 10 kurang seperempat. Refused ada kemungkinan main jam segitu. Tapi sebaiknya kamu masuk sekitar pukul 9. Akan sesak penuh dengan penonton kalo kamu datang lebih dari waktu itu.’ Sontak dalam hati saya bilang, ‘Mantap! Saya bisa menyantap makan malam dulu kalo begitu.’ Warung kebab Ali Baba yang terletak tidak jauh dari klub Metropolis nampak menyajikan sesuatu yang bisa mengisi kelaparan saya malam itu.

Setelah beres makan, saya bergegas kembali ke klub Metropolis. Tidak seperti yang saya duga, antrian masuk tidak panjang, bahkan hanya ada 3 orang di depan saya, dan 2 orang berdiri mengantri dibelakang saya. Personil sekuriti mengecek ID saya, untuk memastikan bahwa saya berumur lebih dari 18 tahun. Sebelum masuk, pihak klub mengambil foto setiap tamu yang masuk. Suasananya agak mirip dengan sistem keamanan di bandara. Entah kenapa, salah satu penjaganya menyuruh saya untuk langsung masuk memberikan tiket yang saya pegang ditangan tanpa perlu melalui proses foto tersebut. Puji Tuhan, saya tidak pernah suka dengan proses keamanan yang selalu menempatkan setiap pengunjung sebagai potensi teroris atau pengacau keamanan. Setelah lengan saya diberi cap di lengan, saya langsung masuk ke dalam klub. Dari kejauhan terdengar suara dentuman drum dan gitar hardcore yang supercepat. Diatas stage berukuran 10×7 meter, terlihat para personil Sick Of It All, band hardcore punk dari New York sedang melakukan aksinya.

Sekitar 150-an penonton berdiri membentuk lingkaran moshpit di tengah. Laki-laki dan perempuan, sekitar umur 20-an hingga 40-an, hadir di ruangan itu sambil memegang gelas bir dingin. Saya melihat lantai moshpit terlihat basah oleh tumpahan bir dari para penonton. Beberapa penonton sesekali jatuh tergelincir ketika melakukan moshing, namun tidak ada satupun diantara mereka yang menunjukkan rasa kesakitan; mereka malah tertawa dan berdiri kembali kemudian berteriak menyanyikan lagu yang berjudul “Free Spirit” yang sedang dibawakan Sick Of It All.

Karakter musik Sick Of It All (SOIA) selalu mengingatkan saya pada band-band hardcore Indonesia yang kurang lebih mendapatkan inspirasi musiknya dari band-band hardcore Amrik. Kebetulan malam itu, SOIA merayakan ulang tahunnya yang ke-30, terlihat dari kaos-kaos yang dipakai kru SOIA yang mengindikasikan perayaan ke-30 tahunnya. Meskipun sudah dikategorikan sebagai band punk veteran, karakter musik SOIA menurut saya tidak pernah menua. Atraksi panggungnya pun menunjukkan bahwa setiap personil masih sangat fit untuk berjingkrak di atas panggung. Dalam sebuah break lagu, Lou Keller, sang vokalis, memberikan pidato pendek mengenai pentingnya kebebasan berekspresi, yang langsung membuat saya teringat bagaimana punk rock di Indonesia menyajikan hal itu (kebebasan berkespresi) ketika negara pada masa Orde Baru (1966-98) justru sangat mengharamkannya.

Setelah itu, para penonton di klub kemudian beramai-ramai ikut bernyanyi ketika SOIA membawakan lagu “Step Down”, sebuah lagu yang menjadi salah satu anthem dan sering dimainkan band-band underground hampir di seluruh dunia. Sebagian penonton mengangkat gelas birnya ke udara, sambil berteriak menyanyikan setiap bait dari liriknya. Meskipun SOIA dikenal sebagai penemu “Wall of Death”, namun hingga akhir aksi mereka malam itu, tidak ada penonton yang melakukannya. Entah mengapa, mungkin jumlah penonton yang rela melakukannya tidak cukup banyak. Terlebih, kebanyakan yang hadir rata-rata orang yang sudah berumur 30 tahun keatas.

Lou Koller, vokalis band hardcore dari New York Sick Of It All sedang menyanyikan ‘Step Down’ di Metropolis, Fremantle pada Kamis, 26 Januari 2017

Ketika SOIA turun dari panggung, para kru panggung langsung sibuk mensetting panggung khusus untuk Refused. Baligo SOIA yang sebelumnya menggantung sebagai latar panggung pun langsung diturunkan. Di saat itu saya punya waktu untuk mengunjungi stand merchandise Refused di dekat pintu masuk. Album terbaru Refused Freedom yang dirilis tahun 2015, tidak lama setelah para personil Refused memutuskan untuk melanjutkan kembali band mereka yang sempat bubar, tergantung diatas papan display bersamaan dengan t-shirt Refused yang mereka jual seharga A$ 40. Untuk albumnya sendiri, dijual dengan harga A$ 25. Saya beli dua-duanya.

Setelah itu, saya langsung melangkah kembali ke tengah ruangan untuk mencari spot yang strategis untuk mendengarkan sound dan melihat atraksi Refused dengan nyaman. Tiba-tiba supervisor PhD saya, Ian Wilson, yang datang bersama Niall, salah seorang kawannya yang sejak tahun 1980-an aktif di skena hardcore punk di Perth menyapa saya. Kami berdiri di tengah ruangan, berada dalam posisi yang strategis untuk menikmati sound dan pemandangan atraksi dari Refused. Sekilas saya sempat khawatir ia akan menanyakan progres tesis saya yang sedang mandeg. Syukurlah pertanyaan itu tidak keluar dari mulutnya malam itu. Hehe..

Panggung dan instrumen musik nampak sudah beres disetting oleh kru Refused. Setting panggung didominasi oleh asap dan cahaya terang yang dipijarkan dari lantai panggung, menciptakan kesan dramatis untuk mencetak silhoutte para pemain ketika mereka berada diatas panggung. Saat itu suasana gelap di ruangan klub masih diramaikan oleh suara para penonton yang sedang mengobrol dengan kawan-kawannya. Dari dua speaker besar yang digantungkan di depan panggung, terdengar suara feedback gitar tanpa henti dan terus berlangsung sekitar 10 menitan. Hingga kemudian, para personil Refused satu persatu memasuki panggung. Mulai dari sang drummer, David Sandström, kemudian disusul oleh gitaris pertama, Kristofer Seen, sang basis, Magnus Flagge, gitaris additional (saya lupa namanya), dan terakhir, sang pencekik mikrophone, Dennis Lyxzén.

Tidak seperti band hardcore pada umumnya yang memakai pakaian standard hardcore (celana selutut, atasan seragam tim basket, kaos oblong, syal di kepala, dll.), para personil Refused memakai pakaian yang sangat rapih seperti mau ke ondangan: kemeja, jas, celana bahan, dan sepatu pantopel. Untuk sesaat saya sempat berpikir kalo saya salah masuk acara, karena lagu pertama yang dibawakan Refused sangat ‘funky’. Berbeda jauh dengan karakter lagu-lagu mereka dari album The Shape of Punk to Come (1998) yang biasa saya dengar di playlist saya. Sebuah lagu pembuka yang menarik, namun agak aneh ketika ia kontras dengan lagu-lagu yang dibawakan Sick Of It All sebelumnya. Penonton sekilas tampak bingung apakah harus berdansa ala funk atau headbanging ketika lagu pertama tersebut dibawakan.

Ketika masuk lagu kedua dan ketiga, barulah karakter musik Refused yang didefinisikan dalam album The Shape of Punk to Come mulai muncul. Ketika lagu ‘Worms of the Senses/Faculties of the Skull’ dibawakan, penonton seolah diberi pengumuman bahwa Refused telah kembali hadir setelah sekian lama menghilang. Dari situ saya dan supervisor saya sedikit demi sedikit mulai mengayunkan kepala ke depan dan kebelakang, menikmati setiap ketukan musik yang mereka bawakan.

Setelah itu, Dennis, yang dikenal vokal dengan isu-isu politik (dan dia kental dengan ideologi kiri progresif) kemudian memberikan komentar mengenai Australia Day yang sedang dirayakan oleh jutaan warga Australia pada malam itu. Tanpa basa-basi, dalam ceramah pendeknya, ia menyebut Australia Day yang dirayakan pada 26 Januari setiap tahunnya itu sebagai ‘Invasion Day’.

Di kalangan rakyat Australia sendiri terjadi perpecahan dalam menyikapi Australia Day yang dianggap sebagai hari lahir Australia. Di satu pihak, yang paling umum, kedatangan kapal-kapal imigran dari Inggris beserta pasukan yang dipimpin Kapten Arthur Phillip pada 26 Januari 1788 ke Port Jackson di New South Wales merupakan momentum sejarah penting lahirnya Australia. Di pihak lain, terutama warga Australia dari kalangan Aborigin dan warga kulit putih yang bersimpati pada mereka, mengingat tanggal tersebut sebagai momen sejarah yang menyedihkan karena kehadiran Kapten Arthur Phillip dan pasukannya menyebabkan orang-orang Aborigin mesti kehilangan tanah mereka. Maka dari itu, bagi orang-orang Aborigin, ‘Australia Day’ adalah ‘Invasion Day’. Ini salah satu highlight dari pesan politik yang disampaikan band hardcore punk asal Swedia tersebut malam itu. Ketika ia melanjutkan pidato singkatnya, salah seorang penonton yang berdiri tepat dibelakang saya menunjukkan ketidaksetujuannya dan berteriak ‘SHUT UP!’ meminta Dennis untuk menghentikan pidatonya. Meskipun, acara malam itu acara hadcore dimana band yang maen berhaluan politik kiri, toh tidak menghentikan orang-orang (yang barangkali) rasis dari sayap kanan untuk hadir pada malam itu.

Dennis Lyxzén di salah satu aksi khasnya di Metropolis, Fremantle pada hari Kamis, 26 Januari 2017

Setelah membawakan lagu ‘Rather be dead’, dimana Dennis turun dari panggung dan menyanyi serta berdansa bersama seorang penonton yang difabel duduk diatas kursi roda, ia melanjutkan pesan politiknya, dan mengatakan agar para penonton bisa mendefinisikan hidup mereka masing-masing sesuai dengan kehendak mereka, melawan sistem berpikir yang membentuk mereka untuk menjadi orang-orang yang pasif. Sistem berpikir yang intinya hendak membentuk manusia hanya sebagai konsumer belaka. Dennis kemudian bilang, ‘jika setiap diri kita berupaya untuk menentang pola pikir tersebut, orang akan memandang kita dengan rendah dan melihat kita seolah-olah seperti orang idiot… Beruntung…’, kata Dennis, ‘.. kita disini bisa berkumpul bersama [tidak sendirian melawan sistem tersebut]. ‘Itulah alasannya kita semua berkumpul disini malam ini, bukan di diskotik’, seru Dennis. Penonton pun bersorak setuju dengan yang dia ucapkan. Setelah itu, penonton langsung disajikan dengan lagu ‘Summer holiday vs. Punkroutine’. Dari tempat saya berdiri, terlihat silhoutte para penonton berjingkrak berbarengan dengan ketukan drum dan gitar yang sedang dimainkan.

Di tengah break lagu-lagu lama, Dennis kemudian bercerita bagaimana Refused selama 24 tahun menutupi rahasia yang memalukan. Kala itu, para personil band Refused yang masih berumur 16 tahun, pernah satu panggung dengan band Sick Of It All dalam sebuah festival indie rock di Swedia. Karena ngefans berat ama mereka, Dennis saat itu mencuri topi (beenie) milik personil Sick Of It All. Cerita ini sontak mengundang tawa para penonton. Bagi saya, itu sebuah kenakalan yang patut dibanggakan. Hahaha…

Dennis melontarkan lagi pesan politiknya. Kali ini pesan serius mengenai isu gender gender dan kekerasan terhadap perempuan:

Ketika saya masih kecil, kita sempat diajarkan bagaimana untuk bersikap sebagai seorang laki-laki. Kalian tahu apa yang saya maksud disini… dan menjadi ‘laki-laki’ itu adalah sebuah konstruksi. Ketika disajikan konsep laki-laki [dengan konsep umum], saya saat itu merasa bahwa.. saya tidak merasa harus menjadi laki-laki seperti konsep umum itu. Kita hidup di dunia dan budaya dimana perempuan dikondisikan harus takut kepada kita [laki-laki]. Perempuan dikondisikan takut untuk ada di tengah malam. Perempuan [dikondisikan] takut diperkosa, dipukuli… karena kita adalah laki-laki. Maka dari itu, kita harus mulai berpikir seperti ini: Daripada kita harus terus mereproduksi kekerasan laki-laki [terhadap perempuan], kita kaum laki-laki, harus bertindak memperbaiki kondisi ini….

Pidato pendek yang menekankan anti kekerasan terhadap perempuan ini kemudian disamber dengan lagu mumpuni mereka ‘New Noise’. Lagu yang sempat sering dibawakan band saya terakhir, Alone At Last, ketika manggung di sekitar tahun 2008-2009. Lagu lama yang dibawakan di tengah-tengah lagu-lagu dari album baru Refused ini sontak membuat para penonton kembali berjingkrak. Terus terang sulit bagi saya sulit untuk menjelaskan dengan detail bagaimana gila dan riuhnya suasana klub Metropolis pada malam itu ketika Refused melakukan aksi-aksi panggungnya. Refused is fuckin Refused, if I am allowed to replace the word ‘awesome’ with the band’s name. Bukan saja band ini mempunyai kualitas musik yang bagus dan berbeda dari band-band hardcore lain, ia juga mempunyai sikap politik yang jelas dan konsisten sejak dulu. Refused juga menurut saya, tidak lepas dari komposisi musik yang sederhana, sesuai dengan etos musik punk yang semestinya mudah untuk dimainkan oleh siapapun. Disini suara jeritan dan teriakan sang vokalis Dennis barangkali sebuah pengecualian.

Refused membawakan lagu ‘New Noise’ di Metropolis, Fremantle pada Kamis, 26 Januari 2017

Lagu New Noise menjadi penutup aksi mereka saat itu. Beberapa lagu dari album baru mereka Freedom (2015) seperti ‘Servants of Death’ dan ‘Francafrique’ sempat dimainkan, tapi yang paling sering membuat penonton terbakar malam itu adalah lagu-lagu lama mereka dari album The Shape of Punk to Come (1998). Overall, saya tidak menyesal hadir malam itu menyaksikan Refused manggung, dan Sick Of It All yang terakhir kali saya lihat di Canberra 10 tahun sebelumnya. Pertama, ini adalah salah satu band yang memberi influence yang kuat pada band saya khususnya di tahun 2007-2010. Kedua, entah kenapa musik rock dari Swedia (atau Skandinavia pada umumnya) mempunyai karakteristik musik rock yang sangat berbeda, tidak ‘standar’ seperti musik-musik rock dari Amrik yang kebanyakan menjadi influence utama band-band underground di Indonesia. Terlepas daripada itu, saya suka dengan karakter musik rock ini. Terutama ketika para musisinya lebih terbuka dengan pengaruh musik yang memperkaya karakteristik musik mereka (Coba dengarkan album Refused terbaru yang dirilis tahun 2015 ini, dan jelaskan perbedaannya!). Ketiga, Refused adalah salah satu diantara band-band yang mempunyai pesan politik yang jelas,  konsisten, dan progresif. Refused, beserta dengan karya-karyanya selama lebih dari 25 tahun ini, menunjukkan tafsir alternatif dari musik hardcore punk yang selama ini kita kenal: dinamis, progresif, namun tetap menyajikan noise yang galak dan tidak kenal ampun. Menghabiskan uang tabungan sebesar A$ 77 untuk tiket Refused malam itu, bukan sesuatu yang disesalkan.

Muncul kembalinya Refused setelah bubar sejak tahun 1998 (setelah lelah dan kecewa dengan tur mereka di Amerika Serikat), kemudian hidup kembali di tahun 2012, dan 2014, dan kini melakukan tur di Australia (Brisbane, Sydney, Adelaide, Melbourne, dan Fremantle/Perth), dilanjut lagi ke New Zealand dan Eropa, seolah memberi sinyal kontradiktif dengan film dokumenter yang pernah mereka buat yang berjudul ‘Refused Are Fuckin Dead’ (2006). If Refused is in fact now back to life, then Refused Are Not Fuckin Dead!

—————————————————————————————————

 

SHARE
Previous articleNeraka adalah–Orang Lain
Next articleYoshida Kenko: Essays in Idleness
Orang Bandung aseli yang gemar mendengar dan bermain musik, membaca dan hunting buku, menonton dan mengoleksi gambar bergerak. Kini sedang menimba ilmu di Ostrali.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?