Tulisan ini merupakan sambungan dari apa yang telah dimulai beberapa waktu sebelumnya tentang pola penerimaan negatif yang seringkali dipertahankan oleh masyarakat Indonesia – sehingga pada akhirnya pola ini berakhir pada pemakluman atas berbagai standar di bawah rata-rata, salah satunya terlihat jelas dalam (industri) film Indonesia.

Dengan mengacu pada kondisi ini, jangan salahkan apabila segelintir masyarakat – termasuk saya didalamnya – memilih untuk tidak menonton film karya negeri sendiri. Keputusan ini muncul karena dalam pemilihan sebuah film terdapat prasyarat tertentu – logika dasar yang kita gunakan ketika memilih sebuah film. Pertama-tama, film harus dipahami bukan hanya sebagai sebuah tontonan hiburan, tetapi lebih dari itu: sebagai sebuah alat untuk memperkuat rasa dan pengetahuan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi disekitar kita. Film – atau bahkan seni secara keseluruhan – merupakan sarana yang dapat membawa kita ke titik ekstrim (pseudo)realitas.

Tahap selanjutnya dalam pemilihan film tentunya akan berlanjut pada beberapa persoalan lain, seperti: siapa sutradara film tersebut? bagaimana kualitas sinematografinya? dan apakah didalamnya melekat atribut yang bisa memasukannya sebagai sebuah karya seni adiluhung? dan berbagai pertanyaan lainnya. Atas pertimbangan inilah, maka saya tidak akan memilih sebuah film yang – katakanlah – ringan, baik dalam penyutradaan, kedalaman cerita, ataupun kualitas sinematografinya. Sebagai contoh hasil pertimbangan diatas, saya pilihkan sebuah film hitam putih berjudul Vredens Dag (Day of Wrath) yang dibuat tahun 1943 karya salah satu sutradara besar skandinavia, Carl Theodore Dreyer.

Untuk menjelaskan kenapa Vredens Dag memenuhi persyaratan di atas, saya akan menjelaskannya melalui sebuah proposisi sederhana: bahwa sebuah karya seni setidaknya harus memiliki dua hal untuk bisa dikategorikan sebagai sebuah seni adiluhung. Pertama, karya itu harus baik dengan sendirinya (dalam segi kualitas), dan kedua, memiliki resonansi yang kuat antara emosional dan intelektual. Dan Vredens Dag sebagai sebuah film, memenuhi kedua kategori diatas. Sebuah karya film dengan kualitas yang baik, memiliki unsur atau atribut yang sering dipakai dalam membicarakan standar nilai sebuah film, diantaranya: penceritaan (storytelling), pengkarakteran, teknik sinematografi, tata suara, dan penyutradaraan – uraian penjelasan selanjutnya akan kembali saya sandingkan dengan Film Vredens Dag.

Atribut Kualitas Film

[Penceriteraan] Vredens Dag berkisah tentang sebuah konflik di rumah Tuhan yang muncul ketika Anne Pedersdotter, istri seorang pendeta tua jatuh cinta pada anak angkatnya yang lebih muda. Secara halus, Dreyer mampu mengungkapkan kebobrokan dan kemunafikan yang terjadi didalamnya. Narasi tersusun secara rapi dengan script yang mantap tentang cinta segitiga fatalistis yang digarap dengan sempurna semakin menguatkan anggapan umum bahwa kisah cinta terbaik muncul dalam bentuk tragedi.

[Pengkarakter] Jika anda menyukai novel-novel karya Dostoevsky, anda pasti menyukai setiap penggambaran karakter dalam film ini. Setiap karakternya dipenuhi dengan ambiguitas sikap dan pendirian. Sang Pendeta bergelut dengan permasalahan keimanan dan perasaannya yang mendalam tentang kematian dan penderitaan – serta perlindungannya terhadap Anne, yang dipicu oleh kematian Herlof Marte, nenek tua tetangganya yang dituduh sebagai seorang penyihir dan dibakar oleh pengadilan Inquisisi. Anne sang Istri, seorang feminis yang terbangun dari kesadaran seksualitasnya dan mencoba memberontak dari kultur religius yang didominasi oleh pria, tapi kemudian menghadapi kebingungan ketika berhadapan dengan pilihan antara cinta dan tradisi.

Martin bergulat antara rasa cintanya pada Anne dan rasa hormat pada Ayahnya – ditambah dengan tekanan lingkungan kristen dimana ia dibesarkan, membuatnya harus berhadapan dengan pertanyaan tentang ada tidaknya sihir itu sendiri. Ketiganya berhadapan dengan situasi yang sulit dan hanya bisa memutuskan berdasarkan pilihan yang juga sulit dan terbatas. Satu karakter lagi yang patut menjadi perhatian adalah Merete, ibunda sang pendeta, digambarkan sebagai wanita yang licik dan culas. Layaknya Catherine de Medici, ia adalah perempuan yang mampu meraih kekuasaan di dunia yang dipenuhi oleh laki-laki, dengan kecerdikannya ia mampu mengontrol dan menghancurkan setiap orang yang menentangnya.

[Sinematografi] Gaya Sinematografi Dreyer sebenarnya sangatlah kaku dan sederhana, namun paduan kontras realitas-idealitas yang terpadu dalam setiap adegannya sangatlah efektif dalam mengombang-ambing emosi para penontonnya. Setting dalam ruangan yang dibalut dengan warna hitam pekat memberikan kesan ironi bahwa semua rumah yang seharusnya merupakan tempat yang penuh kehangatan – simbol perlindungan dan keluarga – digambarkan menjadi sebuah tempat penuh tekanan yang dipenuhi dengan ketakutan dan saling ketidak-percayaan. Rumah tidak lagi menjadi “rumah”, tetapi menjadi institusi yang menghancurkan setiap individu yang berada didalamnya.

Sedangkan setting luar ruangan yang diberi cahaya silhouette dan gambar remang-remang yang indah – terlihat pada gambaran air, tanaman jagung dan kanoe – merupakan gambaran kisah cinta amoral (yang menentang tradisi dan agama) diantara sang Ibu tiri dan anaknya, Martin. Gerak kamera lambat memberikan kesan artistik yang dipadukan dengan busana sederhana yang dikenakan oleh setiap karakter di film ini. Apabila kita membandingkan film Dreyer yang lain, seperti Gertrud (1964), Passion (1928) dan Ordet (1955), rentang waktu sepertinya bukan masalah yang besar bagi dia, perbedaan busana yang dipakai tidak terlalu berbeda walaupun ada perbedaan waktu diantara mereka. Preferensi estetika sang sutradara sepertinya menjadi pertimbangan utama dan bukan karena keterbatasan dana akibat perang yang melanda Eropa pada saat itu.

[Tata Suara] Suara berubah menjadi sesuatu yang menakjubkan dalam karya Dreyer. Nyanyian di awal film, setiap jeritan, bahkan ketika adegan tanpa suarapun memberikan semacam visualisasi yang memperkuat gema bagi setiap niatan yang ingin diutarakan oleh sang sutradara. Sebagai sutradara yang telah berkutat dalam perfilman bisu sebelumnya, ia tidak hanya menambah suara terhadap gambar-gambar yang ia tampilkan, namun mampu membentuk suara menjadi seni tersendiri. Dengan penataan suara yang begitu apik, maka film Dreyer bukan hanya seni visual, tapi juga seni suara.

[Penyutradaraan] Carl Theodor Dreyer pada awalnya merupakan sutradara biasa-biasa saja, namun kepindahnya ke Perancis dan pertemuannya dengan Jean Hugo dan Jacques Cousteau,  membuatnya mampu mengeluarkan potensi estetik yang ia miliki. Maurice Drouzy dalam biografi Dreyer yang diterbitkan tahun 1982 menyebutkan bahwa keseluruhan karya Dreyer memfokuskan pada pengorbanan seorang wanita dalam dunia pria. Ini merupakan sebuah penghargaan Dreyer pada ibunya yang melakukan bunuh diri dengan meminum racun akibat berbagai tekanan sosial disekitarnya – membuat perasaan isolasi dan alienasi perempuan sangatlah kental dalam setiap karyanya. Dan Vredens Dag merupakan salah satu narasi terbaiknya yang mengangkat tentang perempuan sebagai [salah satu] titik tolak kekuatan ceritanya.

Ditengah okupasi Nazi di Denmark, Dreyer sanggup melahirkan sebuah karya yang tidak hanya jempolan, namun memberikan kritik secara implisit akan gambaran kehidupan dibawah sebuah rejim otoriter yang penuh tekanan – baik dalam segi agama, negara, keluarga ataupun lingkungan sosial. Atas kiprahnya tersebut, Dreyer dipandang sebagai salah satu sutradara besar perfilman yang bisa desejajarkan dengan sutradara besar lain yang mampu memberikan kita tontonan berkualitas seperti Bergman, Godard, Ozu, dan Ford.

Resonansi Emosional dan Intelektual

Selain dari berbagai atribut yang harus diperhatikan dalam kualitasnya, film sebagai sarana komunikasi populer, harus pula dilengkapi dengan berbagai kosakata, metafora, synecdoche, kategori dan metode yang bisa kita pakai untuk memberikan sebuah ruang untuk berdiskusi dan merenung – atau dengan kata lain, sebuah film harus memberikan resonansi baik dalam sisi emosional dan juga intelektual. Dalam Vredens Dag, keduanya tergambar dalam uraian berikut.

[Emotional] Diangkat dari novel Hans Wiers-Jenssens, Vredens Dag (1943) karya Carl Theodor Dreyer dapat dikatakan sebagai salah satu film yang meninggalkan resonansi emosional mendalam. Dreyer tidak menunggu lama untuk menyentak [emosi] para pemirsanya. Misa kematian Thomas Celano yang mengiringi pembukaan film ini, seakan mewanti-wanti bahwa apa yang disajikan bukanlah cerita yang akan membuat para penontonya terhibur. Sesuatu yang mengenaskan mengendap-ngendap dan menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan malapetaka bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Melalui pembukaan seperti itu, penyataan Dreyer begitu jelas: bahwa seseorang seharusnya mati. Hal ini berbeda dengan rangkaian kematian dalam film Final Destinations yang kita perlakukan tanpa perasaan, tapi dalam film Dreyer, setiap kematian meninggalkan bekas yang cukup mendalam. Kesedihan, ketertindasan, ketidakadilan, rasa bersalah, kemarahan, yang menimpa para karakter, sepertinya mengikat secara kuat terhadap orang-orang yang menyimak dengan seksama kisah ini.

[Intelectual] dalam Vredens Dag, sesuatu yang menarik adalah bagaimana sebuah dogma menghancurkan berbagai macam orang dalam cara yang berbeda-beda. Ini dilakukan bukan untuk menghilangkan keberadaan sebuah tindakan keji (contohnya seperti yang dilakukan teroris) yang menyebabkan penderitaan dan trauma – namun lebih difokuskan kepada bagaimana dogma sebuah otoritas masuk kedalam setiap kepentingan dan kekuatan yang mengatasnamakan diri untuk kepentingan bersama. Dalam hal ini, wacana yang ada dapat dipakai menjadi alat manipulasi untuk melegitimasikan penggunaan kekerasan. Setiap masa mempunyai penyihirnya tersendiri, dan setiap zaman mempunyai teori pengabsahan bahkan terkadang hukumlah yang mengkonfirmasikan bahwa terdapat orang-orang yang layak dan berhak untuk disingkirkan. Teori ini biasanya berdasar pada pandangan bahwa tindakan atau pandangan seseorang dianggap berbahaya bagi kebijakan dan nilai dasar sebuah komunitas, terutama jika berbenturan dengan kepentingan kaum mayoritas.

Terkait dengan awal ceritera Vredens Dag, tahun 1623 sendiri merupakan tahun yang diungkapkan pada permulaan film ini, yaitu ketika Absalom menandatangani penangkapan Merte untuk di bawa ke pengadilan Inquisisi. Perburuan penyihir sendiri melanda di Eropa mulai abad 13 sampai awal abad 19. Dimulai dari keputusan Paus Alexander IV yang memperbolehkan perburuan atas orang-orang yang dicurigai sebagai penyihir di tahun 1258 sampai pada pengadilan Ana Barberi tahun 1818 di Sevila, Spanyol. Alhasil, terpisah dari ada-tidaknya penyihir itu atau benar-tidaknya tuduhan yang dilontarkan, sekitar 60 ribu lebih orang meninggal akibat ditelanjangi, disiksa, ditenggelamkan dan dibakar karena dituduh sebagai penyihir – dan 90% diantaranya adalah perempuan.

Pada awalnya prosekusi para penyihir dilakukan serampangan, sporadis, dan secara langsung oleh masyarakat setempat, namun dengan adanya semangat Renaissance berbagai praktek prosekusi itu dikodifikasikan kedalam sebuah kitab manual. Terbitnya Malleus Maleficarum tahun 1486 karangan Heinrich Kramer dan James Sprenger yang kedudukannya bisa dibilang hanya sedikit dibawah Bible, diabsahkan oleh Paus sendiri dan dilegalkan oleh seluruh Raja dan pangeran di Eropa. Kitab ini merupakan manual resmi yang bisa dipakai untuk pengadilan Inquisisi di seluruh penjuru Eropa.

Berbeda dengan pengadilan akusasional, dalam pengadilan Inquisisi seorang terdakwa tidak bisa berhadapan dengan penuduhnya, oleh karena itu yang ada pengadilan ini pada intinya pembuktian ketidak bersalahan, atau dengan kata lain, sang tertuduh adalah bersalah kecuali kalau bisa membuktikan sebaliknya. Yang menarik dari witch hunt ini ternyata metode yang sama masih tetap dipakai sampai jaman sekarang – di Indonesia kerap terjadi tuduh-menuduh yang diakhiri penghakiman massal tanpa pengadilan terhadap kelompok tertentu. Dan dengan memenuhi aspek resonansi emosional dan intelektual, kita berhadapan dengan salah satu kekuatan dari film, yang mengubah realita menjadi begitu nyata – sebuah pseudo-realita.

Penutup: Tentang Perfilman Indonesia

Dengan mengacu pada kriteria diatas, saya kira pembaca sekalian dapat menyandingkan perbedaan mendasar antara atribut kualitas ideal sebuah film dengan kondisi nyata perfilman di Indonesia. Kurang tergalinya aspek penceritaan (storytelling), pengkarakteran, teknik sinematografi, tata suara, dan penyutradaraan secara maksimal membuat film Indonesia terasa hambar dalam berbagai sisi – apalagi ditambah penceriteraan yang disesuaikan dengan selera pasar, membuat kebanyakan ceritanya tidak berkesan,  sedangkan aspek lain, harus diakui masih tertinggal jauh.

Dalam sejarah perfilman Indonesia sendiri, tercatat beberapa sutradara yang memberikan perhatian terhadap kualitas sebuah karya film, diantaranya Teguh Karya, Sjuman Djaya, Slamet Rahardjo dan Eros Djarot, yang walaupun masih belum sepenuhnya bisa disandingkan dengan sutradara kenamaan seperti Ozu ataupun Dreyer, namun mereka telah meletakkan dasar visi ideal tentang film Indonesia, yang sayangnya semakin hari semakin terkikis. Bagi penikmat film, kondisi ini memunculkan sebuah kegelisahan tersendiri, terlebih pada penerimaan (atau permakluman) atas minimnya selera, tata emosional dan intelektualitas yang dikembangkan dalam karya film, menjadikan film – dalam konteks perfilman Indonesia – tercerabut dari kegunaannya sebagai alat refleksi dan tereduksi menjadi hanya alat hiburan yang menghasilkan keuntungan semata. Sehingga, kenyataan bahwa perfilman kita jauh dari sempurna, harus kita akui terlebih dahulu, dan memperbaiki diri adalah langkah yang harus diambil kemudian – baik oleh para sineas, ataupun para penonton – agar film [Indoneia] sebagai resonansi realita, dapat kita nikmati dengan kualitas yang lebih layak.

 

Keterangan:

Tulisan ini diedit seperlunya oleh tim redaksi tanpa mengubah konten

Sumber gambar: http://www.fotos.org/galeria/showphoto.php/photo/125870

5 COMMENTS

  1. Suka dengan kritik konstruktif dan ide yang dipaparkan secara terstruktur oleh penulis mengenai sineas Indonesia dalam esai ini. Aang menggunakan film Vreden Dag karya Carl Theodor Dreyer sebagai contoh film yang ‘memenuhi’ kualifikasi ‘baik’, yaitu ia mampu ‘menggugah’ perasaan (emosi) dan nalar (intelektual) serta mampu menghasilkan resonansi yang membekas di para penonton. Meskipun, tentunya penilaian Aang ini masih terhitung relatif. Bagi sebagian orang (bahkan kebanyakan, kecuali para pecinta estetik sejati), barangkali, film hitam putih bisa dimaknai atau dirasakan mati secara emosional (karena tidak berwarna).

    Saya yakin banyak para penikmat film yang biasanya menikmati film-film “hiburan” atau “komersil” akan berpendapat seperti diatas, terlepas si film hitam putih tersebut memuat khasanah intelektual yang mendalam serta reflektif khususnya dalam menggambarkan kebodohan manusia dalam sejarah.

    Secara substantif saya setuju dengan kritik Aang. Terus terang ini yang muncul dalam benak saya pas nonton film Indonesia (contoh: The Raid 1 & 2) yg banyak diagung-agungkan orang Indonesia karena memuat banyak para pemain Indonesia sebagai jagoan (meskipun sebagian pemain utamanya Indo=setengah indonesia setengah bule) dan adegannya berlokasi di Indonesia (meskipun ada salju tebal di tengah kota jakarta). Terlepas dari aksi mantap dalam film tersebut, mana sisi intelektualismenya? dan dramanya? lalu, outcome setelah nonton film tersebut?

  2. Oh, kalo itu saya mengerti dengan sudut pandang Hikmawan.. It could go both ways, namun ada satu hal yang sangat mengganggu dengan ketika kita menganggap seni secara keseluruhan sebagai cermin dari identitas dan kehidupan sosial kita.. Saya yakin di samping film2 bermutu seperti neorealisme ataupun new wave, negara2 lain juga memproduksi film2 yang absurd juga, seperti jenis eurotrash dan giallo. satu pertanyaan yang muncul adalah ketika film2 (di) Indonesia akhir2 ini ditujukan untuk hiburan saja, apakah kita rela ketika identitas kita diidentikan dengan kebodohan film semacam itu?
    Poin selanjutnya adalah penggunaan media hitam putih yang menurut Hikmawan mati secara emosional. Untuk itu saya ingin meletakkan sejarah Sinema secara keseluruhan misal katakanlah dari mulai potongan2 pendek orang2 yang keluar dari pabrik yang dilakukan oleh Lumiere,
    sampai film2 berwarna sekarang ini. dalam jangka 100 tahun lebih setidaknya sejarah sinema manusia sekitar setengahnya menggunakan media hitam putih, dan jika kita menganggap
    setengah dari semua itu mati, Ada pertanyaan yang muncul ketika media hitam putih dikatakan mati secara emosional, misalnya kenapa para fotografer masih banyak
    menggunakan media tersebut, ataupun sutradara sekarang seperti Kaurismaki, Bella Tarr, dll yang meskipun warna telah ada masih tetap hitam putih?
    Sejujurnya jika dikatakan saya seorang pencinta estetik sejati, saya sangat keberatan, selama ini saya menikmati sinema seperti layaknya popcorn, tanpa perasaan apapun, rutinitas dan cukup santai saja.
    Saya juga setuju bahwa resonansi emosional dan nalar seseorang sangatlah berbeda per individu, oleh karenanya penilaian baik buruknya
    sebuah sinema sangatlah relatif, tetapi menurut saya atribut dari karya itu sendiri memiliki nilai yang bisa menentukan baik buruknya sebuah film.
    Poin selanjutnya yang belum tersentuh adalah penggunaan media hitam putih yang menurut Hikmawan mati secara emosional. Untuk itu saya ingin meletakkan sejarah Sinema secara keseluruhan misal katakanlah dari mulai potongan2 pendek orang2 yang keluar dari pabrik yang dilakukan oleh Lumiere,
    sampai film2 berwarna sekarang ini. dalam jangka 100 tahun lebih setidaknya sejarah sinema manusia sekitar setengahnya menggunakan media hitam putih, dan jika kita menganggap setengah dari semua itu mati, well, i dont know what to say.. Ada pertanyaan yang muncul ketika media hitam putih dikatakan mati secara emosional, misalnya kenapa para fotografer masih banyak
    menggunakan media tersebut, ataupun sutradara sekarang seperti Kaurismaki, Bella Tarr, dll yang meskipun warna telah ada masih tetap hitam putih?
    seorang pencinta estetik sejati saya bukan, selama ini saya menikmati sinema seperti layaknya popcorn, tanpa perasaan apapun, rutinitas dan cukup santai saja. Saya setuju bahwa resonansi emosional dan nalar seseorang sangatlah berbeda per individu, oleh karenanya penilaian baik buruknya sebuah sinema sangatlah relatif, tetapi menurut saya atribut dari karya itu sendiri memiliki nilai yang bisa menentukan baik buruknya sebuah film. misal dari segi pengkarakteran, dengan film ini kita bisa secara mudah mengasosiasikan diri kedalam tokoh2 didalamnya; jika anda seorang yang taat beragama bisa dengan si pendeta, jika anda sedang jatuh cinta bisa pada martin ataupun anne, jika anda seorang feminis atau orang dari golongan tertindas kita bisa melihat anne..

  3. apakah film sebagai kontruksi audio visual memiliki nilai objektifitas?
    apa sih pengertian keindahan?
    apakah seorang Robert Bresson “lebih besar” dari Tjut Jalil?
    bukankah setiap orang memiliki pengalamannya sendiri dalam mencerap dunia luar?

  4. wow, banyak sekali pertanyaannya… sebenarnya saya tidak ingin merampok anda dari keindahan menemukan jawabannya sendiri, namun sebagai bahan pembanding saya ingin menambahkan beberapa kata mengenai hal diatas. Harap diingat bahwa tulisan diatas hanyalah satu opini yang tentu saja bisa dibantah oleh opini lain dan saya mengharap para pembaca yang terganggu dengan opini tersebut untuk membagi pandangan mereka yang berbeda.
    untuk pertanyaan pertama sebagai seorang skeptis yang banyak menemukan sesuatu yang di cari melalui media internet yang chaotic saya berpendapat bahwa semua pengetahuan dan seni bahkan sesuatu yang sering disebut sebagai sains (baik sosial maupun natural) sedikit banyak memasukan sesuatu yang bersifat subjektif. 100 % objektif menurut saya mustahil dicapai. Media yang dipergunakan manusia untuk berkomunikasi baik dari bahasa ataupun media lain, mengandung persentasi kebohongan tertentu. Ada sesuatu yang mengganggu mengenai grammar pertanyaan pertama, ketika anda mengatakan “apakah film sebagai kontruksi audio visual memiliki nilai objektifitas?” apakah memang maksud anda menjadikan media (film sebagai kontruksi audio visual) sebagai subjek yang memiliki fungsi dan aksi untuk melakukan sesuatu (tindakan objektif), ataukah kesalahan grammar saja, yang sebenarnya bermaksud apakah seorang subjek bisa melakukan penilaian objektif terhadap film? jika hal yang terjadi adalah kesalahan grammar, maka opini saya sudah saya utarakan, namun jika tidak ada kesalahan grammar–dan itu dimungkinkan maka ada beberapa orang yang melakukan hal tersebut menggunakan media sebagai subjek untuk menerangkan fenomena yang ada didunia, sebagai contoh deleuze (the fold: leibniz and the baroque) yang menempatkan seni Baroque dijadikan theoretical tool (subjek pasif?) dalam menganalisa kondisi kontemporer dan berbagai hasil karya seni yang dihasilkannya.
    Pertanyaan kedua berupa pertanyaan metafisik. pertanyaan satu kata (what is) selalu menyulitkan karena seringkali terikat dengan basis dari ontologis dan sekaligus epistemologis jawabannya. jika anda seorang empirisis maka observasi indrawi bisa dijadikan patokan untuk menjawab “what is beauty” sebagai contoh da vinci’s vetruvian man mengklaim bahwa manusia ideal adalah manusia proporsional, ia menggunakan pengukuran matematik terhadap bagian tubuh manusia, tangan, kaki, wajah, dsb. ini tentu saja bertentangan pandangan yang abstrak, yang lebih menekankan ituisi dan tidak mengindahkan observasi sama sekali. selain itu pertimbangan waktu dan tempat juga mempengaruhi pandangan seseorang tentang keindahan, sebagai contoh dewi sri sering digambarkan sebagai seseorang yang berbadan gemuk sebagai sosok ideal wanita impian di Indonesia jaman dahulu. setiap pembenaran atas definisi (epistemic justification) selalu terkait kepercayaan yang di pegang sang pembuat definisi. pertanyaan yang muncul kemudian adalah saya tidak tahu apakah pertanyaan kedua ini merupakan lanjutan dari pertanyaan pertama. dengan kata lain bahwa apakah seorang subjek bisa menilai keindahan dari sebuah film secara objektif? jika kenyataannya demikian, saya ingin mengingatkan bahwa tidak semua film, atau bahkan karya seni lainnya bertujuan semata2 untuk mencapai keindahan atau hiburan sebagai contoh “Penderecki’s threnody for the victims of hiroshima” sama sekali tidak indah. musik ini sama sekali bertolak belakang misalkan dengan Bach’s chaconne namun itu tidak mencegahnya sebagai karya yang unggulan. begitupula dengan sifatnya dengan film.
    Apakah seorang Robert Bresson “lebih besar” dari Tjut Jalil? ukuran badannnya iya, rata2 orang eropa memang “lebih besar” dari orang Indonesia. Sangat berat untuk mengatakan iya. saya tidak tahu siapa anda, kenapa memilih tjut djalil? dua diantara filmnya yaitu mystic in Bali (leak) dan lady terminator serta film ackyl anwari virgins from hell merupakan tiga film Indonesia favorit dan saya menempatkannya diatas sutradara usmar ismail ataupun teguh karya, dengan catatan setidaknya saya bisa ketawa, daripada film yang serius tapi teu puguh. film-film diatas memang tergolong film cult indotrash yang sempat di restorasi oleh mondo macabro, tetapi menampilkan beberapa fitur masyarakat indonesia seperti pandangan irasional, penuh tahayul, dengan kostum penuh warna mencolok, wanita cantik berbaju minim, dan akting yang benar2 berakting. ada semacam resep bagi artis untuk dikenang jika anda tidak bisa bagus menghasilkan karya maka hal bisa dilakukan adalah membuat karya sejelek2nya, tidak ada tempat bagi kaum medioker (saya jadi teringat adegan mengeluarkan peluru dari paha menggunakan ular). mere mediocrity is soon forgotten, full awfulness endures. salah satu hal yang bisa menjustifikasi kebesaran seorang bresson adalah perhatian terhadap atribut film yang sangat detail terhadap karyanya, sebagai contoh dalam film “Un condamné à mort s’est échappé ou Le vent souffle où il veut” proses kabur dari penjara, dari mulai membuat tali, membuat lubang di pintu, mengawasi pergerakan penjaga penjara, dll di utarakan secara jelas dan detail, tentu saja hal lain seperti skrip yang bagus, pergerakan kamera yang dinamis membantu, para aktor cabutan yang digunakan oleh Bresson. meskipun pergerakan tubuh mereka kaku, setidaknya mukanya lebih representatif menggambarkan harapan idealisme sang sutradara. sebagai gambaran sulitnya menjadi aktor adalah muka manusia yang tersusun oleh 44 otot dan 2 buah tulang penyangga bisa mengungkapkan lebih dari 7000 ekspresi manusia yang berbeda, oleh karenanya pekerjaan seorang aktor sangatlah tidak mudah. itu baru ekspresi muka saja, bagian tubuh lainnya perlu diperhatikan juga.
    bukankah setiap orang memiliki pengalamannya sendiri dalam mencerap dunia luar? ya benar, namun poin yang diperlukan artis bukan hanya menyerap tapi mengeluarkannya, mengartikulasikan dengan baik rasa kedalam karyanya. tidak jarang great artist sudah mengeluarkan karyana di usisa muda. ada ungkapan “Le bon Dieu est dans le détail” (the good God is in the detail). inilah yang menurut saya membedakan sebuah artis besar dengan kacangan, atau melakukan sebaliknya, wkkkwk.. Dunia art memang dipenuhi oleh kebenaran dan sekaligus kebohongan, tata dan/atau chaos. art is a truth, art is a lie. art is order, art gives the chaos to the world an order that doesn’t exist. ini adalah dunia yang membosankan diisi oleh orang2 yang kebanyakan membosankan, apapun pendapat anda tentang satu art, setidaknya anda mempunyai pendapat, dan ada baiknya jika disertai pembenarannya.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?