Oh, Federico Garcia, call the civil guard!

Dalam penggalan baris puisinya yang berjudul “Kematian Antonito el Camborio” (Muerte de Antonito el Camborio), Lorca memanggil dirinya sendiri. Antonito – sang tokoh dalam puisi – lantas mati ditangan eksekutor yang menembakkan tiga peluru tajam menembus tubuhnya, dan Lorca – yang memasukkan diri kedalam puisi – menyaksikan percikan darah pada koin kehidupan yang seketika berhenti berputar: three spurt of blood and he died in profile[1]. Bait mencekam tersebut terangkum dalam kumpulan puisi Lorca yang paling terkenal, Romansa Gitana (Romancero Gitano), memberikan kejutan bagi para pembaca yang tidak asing dengan karya dan riwayat kehidupan Lorca – sebuah keterkejutan yang berasal dari satu hal: bahwa melalui bait penutup puisi tersebut, Lorca seakan menuliskan kematiannyan sendiri – mati tertembus peluru di tangan pasukan nasionalist.

Paska kematiannya, rejim Jenderal Franco menempatkan nama Lorca dalam pusaran politik dengan mengubur karya-karyanya selama rejim tersebut berdiri dan baru dapat beredar kembali paska kematian Franco tahun 1975. Selain itu, terdapat upaya pengerdilan terhadap Lorca – namanya lantas diidentikkan sebagai penyair oposisi usang yang kalah perang. Namun semua upaya tersebut menghadapi kegagalan total karena karya-karya Lorca yang monumental berbicara lebih lantang daripada rejim yang merepresinya, sehingga walaupun dilarang beredar di Spanyol, puisi dan dramanya dipelajari di berbagai negeri, dan Lorca bahkan diakui sebagai salah satu penyair yang mengangkat kembali gaya puisi ritmis spanyol.

Penyair yang memiliki nama lengkap Federico del Sagrado Corazon de Jesus Garcia Lorca, lahir di Granada – sebuah kota yang menjadi pertemuan budaya spanyol, arab dan gipsi, menjadikan Granada memiliki kekuatan magis yang menanamkan gairah akan keindahan dalam diri Lorca. Selain berkah dari kota kelahirannya, Lorca yang terlahir dari sebuah keluarga kaya mendapatkan pendidikan terbaik, termasuk seni, yang didapatkannya kemudian ketika ia dikirim untuk belajar di Madrid – disini, ia bergabung dengan Residencia de Estudientes yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya seniman terkemuka Spanyol diantaranya Luis Bunuel, Salvador Dali, Miguel de Unamuno, Alfonso Reyes, juga Juan Ramon Jimenez.

Residencia de Estudientes sendiri kemudian dikenal sebagai pusat kebudayaan yang melahirkan Generation of 27, yaitu sebuah gerakan kebudayaan, yang walaupun terdiri dari seniman lintas genre, namun berpijak pada visi yang sama: membangun jembatan antara budaya folklore Spanyol dengan tradisi avant-garde Eropa – sebuah upaya yang pada akhirnya menghasilkan campuran khas yang ditemukan pada seni Spanyol kontemporer. Lorca adalah salah satu figur utama dalam Generation of 27, disini ia mendapatkan guru dan kawan yang sangat mendukung dalam mengeluarkan bakat seninya, baik dalam musik ataupun puisi – namun, karena pertemanan (semi erotis) yang berakhir tragis dengan Salvador Dali, Lorca kemudian menyangkal pengaruh dari lingkaran elit Madrid ini, dan menyatakan bahwa guru terbaiknya dalam musik dan puisi adalah para Gipsy di jalanan Granada[2].

Mungkin apa yang dinyatakan oleh Lorca adalah benar, karena kemudian dunia mengenalnya sebagai salah satu penyair gipsy terbaik melalui Romancero Gitano – kumpulan puisi yang diterbitkan pada 1928 ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi Gypsy Ballads. 

Dalam antologi ini Lorca berhasil merangkum sejarah Gipsy dalam alur-alur baitnya yang magis. Dalam antologi ini Lorca seolah terlahir kembali sebagai Gipsy yang bernyanyi, lalu setelahnya – menangis.

The moon goes through the sky

holding a child’s hand.

Inside the forge the shouting

gypsies weep.

The air maintains its watch,

watching, watching..

(Ballad of the Moon, the Moon)

Seperti Ballad of the Moon, the Moon, Lorca dalam Romancero Gitano banyak berbicara tentang rembulan – rembulan berwajah kekanakan yang emosional, seakan terlalu banyak menyaksikan tragedi bagi usianya yang belum seberapa. Namun kisah tragis yang diuraikan Lorca memiliki bentuk yang unik – karena dalam Romancero Gitano, Lorca menggunakan ritme lagu rakyat Granada yang menjadikan puisinya: puisi yang bernyayi, sebuah kondisi yang menjadikan penerjemahan puisi Lorca kedalam bahasa apapun mendekati upaya yang sia-sia. Kekuatan bentuk inilah yang mengukuhkan Lorca sebagai penyair paling ritmis di Spanyol.

Namun, adalah sebuah kegagalan apabila Lorca hanya dikenali dari satu sisi. Kemapanannya sebagai penyair tidak lantas membuatnya puas dengan sebutan: penyair gipsy – lagi-lagi ia menyangkal sebutan yang di”hadiah”kan khalayak bagi dirinya. Didorong oleh kekecewaannya terhadap respon publik dan kegagalan kisah cintanya, tahun 1929 Lorca memutuskan untuk pergi ke Amerika dan disanalah Lorca menghasilkan sebuah karya yang merupakan “kebalikan” dari Romancero Gitano – sebuah kumpulan sajak berjudul Poets in New York. Dalam antologi ini puisinya tidak bernyanyi, tapi tersesak diantara himpitan tembok-tembok pencakar langit. Walaupun secara sosial Lorca diterima baik di kalangan seniman dan sastrawan New York, ia tetap merasa sendirian – dan emosi inilah yang ia tumpahkan dalam kumpulan puisinya. Selain melalui puisi, upaya lain untuk mengusir kerinduannya akan Granada ia salurkan melalui eksplorasi musik “kulit hitam” yang ia sandingkan dengan musik Gipsy di Andalusia.

Setahun kemudian, kerinduan tersebut terbayar ketika ia kembali ke Spanyol dan ditunjuk sebagai Direktur Teater Rakyat oleh Pemerintahan Republik yang baru berdiri – teater bukanlah hal baru bagi Lorca karena selain musik dan puisi, bakat lainnya adalah membuat naskah drama. Dibekali dengan berkah alamiah dan visi ideal, dunia teater di Spanyol mengalami perkembangan pesat di bawah komando Lorca. Melalui kelompok teaternya – La Barraca – Lorca berniat untuk mengembalikan selera [seni] yang telah hilang dari mata dan telinga rakyat Spanyol[3], dan hadirlah beberapa drama paling terkenal gubahan Lorca: Asi que pasen cinco anos (When Five Years Pass, 1931), Bodas de Sangre (Blood Wedding, 1934), Yerma (1934), dan Dona Rosita la Soltera (Dona Rosita the Spinster, 1935). Hal menarik dari naskah drama yang dihasilkannya adalah: Lorca seakan memberontak terhadap kelasnya sendiri – borjuis konservatis yang berpendidikan tinggi – dan lebih banyak berbicara atas nama petani dan buruh tentang beban ekonomi dan norma sosial yang cenderung mengada-ngada. Sehingga melalui naskahnya tersebut, Lorca berhasil menjadikan drama kembali diterima oleh masyarakat luas, sebagai sebuah suara yang mewakili rakyat – dan bukan hanya santapan mewah kalangan elit.

Periode ini menjadi salah satu periode paling produktif bagi Lorca – diluar periode Residencia de Estudientes. Selain naskah drama, Lorca menghasilkan sejumlah kumpulan puisi yaitu: The Tamarit Divan (1931-1934), Seis Poemas Gallegos (Six Gicilian Poems, 1935) Llianto por Ignacio Sanchez Mejias (Lament for Ignacio Sanchez Mejias, 1935) dan kumpulan puisi terakhirnya Sonetos del Amor Oscuro (Sonnets of Dark Love, 1936). Puisi-puisi yang ditulis Lorca dalam kurun waktu ini menjadi begitu gelap – Tamarit Divan penuh dengan tragedi, sedangkan Sonnets of Dark Love secara implisit berbicara tentang sisi homoseksualitasnya yang berulang kali harus ia tempatnya jauh di sudut gelap ruangan. Begitu juga dalam Lament for Ignacio Sanchez Mejias, Lorca menyajikan gambaran kematian yang begitu nyata: at five in the afternoon, after that death and only death, at five in the afternoon. Namun walaupun ia telah meninggalkan nyanyian gipsynya jauh dibelakang, puisi-puisi (gelap) Lorca tetap memiliki tempat tersendiri dalam bangun sastra Spanyol – dan dunia –, bersama dengan pengakuan tinggi terhadap naskah-naskah dramanya.

Keberhasilan Lorca dalam mengawal teater rakyat, beriringan dengan kekuasaan rejim republik yang memberinya ruang – dan ketika memasuki tahun 1936, perang sipil yang membayangi Spanyol terpaksa mengakhiri karir Lorca dan kelompok teaternya. Mendung politik ini kemudian menyeret Lorca kedalam posisi yang kurang menguntungkan, namanya menjadi erat dikaitkan dengan rejim Republik, dan Lorca tahu: ketika Nasionalist di bawah Franco menang, ia harus mencari perlindungan. Pada pertengahan Agutus 1936, Lorca lantas kembali ke tanah kelahirannya, Granada. Dan dari sini, kisah tentang Lorca harus kita tarik kembali delapan tahun kebelakang – kedalam bait puisi yang ia tulis tentang kematian seorang bocah tidak bersalah – Antonito el Camborio. Lorca – yang bebas dalam visi ideal seorang seniman – ditangkap atas tuduhan sebagai antek republik pada suatu sore di sebuah rumah milik kawannya, Luis Rosales seorang Falange, yang diharapkan dapat memberikan perlindungan. Tapi tak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi kematian – termasuk pengaruh politik seorang kawan, sehingga Lorca yang apolitik ditarik keluar dan tiga hari kemudian ia menghadapi eksekutornya yang memberinya tiga butir peluru – persis seperti yang diterima Antonito.

A jaunty angel

lays his head on a cushion.

Others, weak blushes of colour,

light a lamp.

And when the four cousins

reach Benamejí

voices of death went silent

by the Guadalquivir.    

Hingga saat ini kubur Lorca tidak pernah ditemukan – kematiannya hanya berasal dari keterangan rejim nasionalist yang telah mengeksekusi Lorca dan menangkap penulis lain yang masuk kedalam golongan “martir republik” – diantaranya Rafael Alberti, Jose Bergamin, León Felipe, Luis Cernuda, Pedro Salinas, Juan Ramón Jiménez, dan Bacarisse. Pembunuhan terhadap para figur seniman ini menjadi salah satu kesalahan terbesar Franco karena dunia kemudian menghujatnya habis-habisan. Namun diluar penghilangan dan kematian Lorca yang tetap misteri, ingatan tentangnya selalu muncul kembali ketika puisi-puisinya dibacakan – puisi yang akan selalu bergema di langit Granada. Sedang kekerasan yang dialaminya – sebagaimana yang ia tuliskan dalam sajaknya – biarlah mengalir senyap di aliran sungai Guadalquivir. Dan kita, walaupun tenggelam dalam duka berkepanjangan atas tragedi yang menimpa sang pujangga – akan senantiasa mengenangnya pada setiap balada indah tentang rembulan dan gitar.

 

Keterangan:

[1] Lorca, Federico Garcia, 1928, Death of Antonito el Camborio: Romancero Gitano

[2] Lorca, Federico Garcia, 2007, Selected Poem, Translated: Martin Sorrel, Oxford: New York

[3] Mayhew, Jonathan, 2009, Apocryphal Lorca: Translation, Parody, Kitsch, University of Chicago Press

Keterangan Gambar: Mask and Music, Sketch by Federico Garcia Lorca

 

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?